Tampilkan postingan dengan label Mangrove. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mangrove. Tampilkan semua postingan

03 Februari, 2021

Hutan Mangrove Pasuruan Benteng Pencegah Abrasi Pantai

JAKARTA (01/02) – Kabupaten Pasuruan kini memiliki kebun bibit (nursery) mangrove untuk memenuhi ketersedian bibit mangrove guna keperluan pembibitan, persemaian, penanaman, dan rehabilitasi mangrove.

 Kebun Bibit Mangrove ini dibangun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) menggunakan Anggaran Biaya Tambahan (ABT) Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Tahun Anggaran 2020. Luas area pembibitan seluas 3.093 m2 dan jumlah bibit sebanyak 500.000 batang dari jenis Rhizophora sp.

 Mukarim pengelola Kawasan wisata mangrove dan kebun bibit mangrove di Desa Penunggul, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan mengungkapkan sejak 34 tahun silam, jutaan pohon mangrove berhasil ditanamnya.

 Ia pun menegaskan bahwa mangrove yang tumbuh berjajar menjadi benteng pencegah abrasi atau pengikisan pantai oleh gelombang air laut. Meskipun air laut pasang hingga gelombang laut utara sangat tinggi, jutaan pohon mangrove lah yang menahan dan menyelamatkan perkampungan dari abrasi.

 “Sangat aman, warga tak perlu takut dengan abrasi atau banjir rob, karena hutan mangrove di sini sangat banyak, akar dan batang pohon mangrove berfungsi untuk melindungi wilayah pesisir dari abrasi,” kata Mukarim, Sang Pahlawan Mangrove.

 

Selain tanaman mangrove, Makarim menjelaskan terdapat 14 spesies hewan khas pantai yang bisa dilihat, yaitu bandeng, belanak, glodok, keong, tiram, kerang hijau, kadal, biawak, ular, burung kuntul putih, kepiting bakau, udang putih, rajungan, dan capung.

 “Nelayan sekitar memperoleh keuntungan dari mangrove yang kian lestari ini, karena mereka menangkap ikan tidak jauh dari pantai dan bisa menjual hasil tangkapan mereka kepada para pengunjung,” kata peraih penghargaan Kalpataru dan penghargaan Satya Lencana pembangunan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo tersebut.

 Melihat keberhasilan ini, Dirjen PRL TB. Haeru Rahayu menyampaikan apresiasi kepada Mukarim atas usaha kerasnya melakukan penanaman dan pelestarian mangrove di Desa Penunggul, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan.

 Tebe juga menyampaikan program Mangrove Center of Excellent untuk pembibitan mangrove sebanyak 100 juta bibit yang dapat digunakan untuk penyediaan bibit pada program penanaman mangrove di Indonesia.

 “Ekosistem mangrove punyai peran penting bagi kehidupan di wilayah pesisir, saya sangat menghargai kerja keras pak Mukarim dalam menanam dan menjaga ekosistem mangrove untuk kesejahteraan masyarakat sekitar. Teruskan semangatnya dan harus ada penerus usaha ini,” ujar Tebe saat bertemu Mukarim pada pertengahan Januari lalu di Pasuruan.

 Tebe menegaskan, pihaknya siap memberikan dukungan kepada Mukarim dan masyarakat lain untuk mengembangkan ekowisata mangrove yang lestari, dan tetap menjaga kebersihan pantai dari sampah.

 “Program pembibitan mangrove harus dapat memberdayakan masyarakat sekitar untuk bekerja dalam pembibitan mangrove, karena program ini merupakan program padat karya dalam rangka penanggulangan dampak pandemic COVID-19,” tegasnya.

 HUMAS DITJEN PENGELOLAAN RUANG LAUT

https://kkp.go.id/artikel/26848-hutan-mangrove-pasuruan-benteng-pencegah-abrasi-pantai 

 




Pegawai Pelabuhan Perikanan




 
Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempatnya




 



Berminat Hub 081342791003 
  Menyediakan Batik Motif IKan
Untuk Melihat Klik
Yang Berminat Hub 081342791003



Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di 





Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.

Berminat Hub 081342791003

 

 

 

READ MORE - Hutan Mangrove Pasuruan Benteng Pencegah Abrasi Pantai

20 Juli, 2019

1.000 Pohon Mangrove Ditanam di Pantai Kwangko


Penanaman Mangrove di Kawasan Pantai Kwangko, Rabu (17/7)
Dompu, Lensa Pos NTB - Untuk mencegah terjadinya abrasi pantai, Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu (SKIPM) dan Keamanan Hasil Perikanan Bima bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Dompu pada 
Rabu (17/7) melaksanakan  penanaman mangrove.
Kegiatan tersebut dilaksanakan  di kawasan pantai Desa Kwangko Kecamatan Manggelewa Kabupaten Dompu NTB. Mangrove yang ditanam berjumlah 1.000 batang pohon jenis Rhizopora Mucronata.
Penanaman Mangrove dihadiri oleh personil Sat Polair Polres Dompu, Sekcam Manggalewa, Aparat Desa Kwangko serta murid sekolah dasar di Desa Kwangko.
Kepala Desa Kwangko, Nursalam  mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah peduli terhadap kelangsungan hutan mangrove di desa tersebut. "Penanaman mangrove sangat bermanfaat untuk menahan bencana terutama abrasi," ujarnya.
Nursalam berkomitmen akan senantiasa memberikan imbauan kepada masyarakat setempat agar menjaga dan merawat pepohonan mangrove yang telah ditanam.

Sementara itu, Kepala SKIPM Bima, Ridwan S. ST. Pi dalam sambutannya mengatakan hutan mangrove di Kabupaten Dompu dalam kondisi yang sungguh memprihatinkan akibat penebangan yang berlangsung secara terus - menerus. Padahal keberadaan hutan mangrove sangat penting bagi kelangsungan ekosistem. Karena itu upaya merehabilitasi hutan mangrove termasuk melakukan penanaman merupakan langkah tepat untuk mengembalikan kondisi hutan mangrove.
Ia menyebutkan manfaat hutan mangrove antara lain mencegah terjadinya erosi dan abrasi pantai dan sebagai tempat hidup dan sumber makanan bagi berbagai jenis satwa dan biota laut. 
"Mangrove itu daerah asuhan bagi ikan-ikan kecil. Anakan ikan akan berlindung dan mencari makan di daerah mangrove yang sering juga disebut nursery ground dan feeding ground. Mangrove juga dapat berfungsi melindungi dari bahaya tsunami," jelasnya.
Ridwan kemudian menegaskan bahwa merusak hutan mangrove merupakan tindakan yang melanggar undang – undang yang dapat berakibat pelakunya dikenai sanksi pidana.
"Kami berpesan kepada masyarakat dan aparat desa Kwangko untuk menjaga kelestarian mangrove yang ditanam, sehingga fungsi – fungsi mangrove di atas terjaga," tandasnya.
Mewakili Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Dompu, Kabid Perikanan Tangkap Pesisir dan Pulau - Pulau Kecil, Nurkumala, S. Pi menerangkan penanaman mangrove melibatkan anak - anak sekolah dasar dengan maksud untuk memberikan edukasi sejak dini kepada anak – anak tentang penting dan manfaat mangrove. "Mereka diedukasi sejak dini agar mencintai lingkungan sehingga diharapkan dapat menjaganya," ucapnya.
Agus Priyantoro, Kasubseksi Wasdalin SKIPM Bima mengatakan penanaman mangrove ini merupakan kegiatan dalam rangka Bulan Bakti Karantina Ikan dan Mutu dan juga dalam rangka Hari Mangrove Sedunia yang jatuh pada tanggal 26 Juli. (AMIN)
 

Untuk kebutuhan Air Minum yang menyehatkan  coba konsumsi Air Izaura Air yang terbukti dapat membantu proses penyembuhan Kegemukan, Migran, Alergi, Sakit Maag, ASam Urat, Nyeri Sendi, Sambelit, Sakit Pinggang, Osteiporosis, Reumatk, Kanker, Vertigo, Ashma, Brinchitis, Darah Tinggi, Kencing Batu, Kolestrol, DIABetes, Jantung, Darah Rendah, Jerawat', WAsir dan Batu Ginzal. Dan menghilangkan racun dalam tubuh.
Mau Sehat dan Menyehatkan Minum Air Izaura
 Mau Meraih Penghasilan Besar, Membantu Kesehatan Semua Orang dan Memiliki Bisnis Yang Mudah Anda Jalankan dengan Modal 350 ribu s.d 500 ribu.
Berminat Hub Mukhtar, A.Pi  HP. 081342791003 
Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempat 
 Kos Putri Salsabilla Kendari
 Hub 081342791003
Menerima pesanan Kanopi, Pagar Besi, Jendela
 dengan Harga Murah dengan Sistim Panggilan.
Berminat Hub 081342791003 
Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di 
GRIYA GODO PERMAI
Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.
Berminat Hub 081342791003 
READ MORE - 1.000 Pohon Mangrove Ditanam di Pantai Kwangko

23 Juli, 2018

Menyambut Hari Mangrove Bu Susi Ajak Masyarakan Pulau Pari Tanam Mangrove

Ibu Susi Pudjiastuti Menteri Kelautan dan Perikanan dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia pada tanggal 26 Juli 2018! dan sekaligus sebagai penegasan pentingnya mangrove dalam pelestarian Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Menteri menanam mangrove di Pulau Pari, Jakarta Selatan pada hari Minggu tanggal 22 Juli 2018.
 
Ikut serta dalam acara penanaman mangrove ini Bapak BRAHMANTYA SATYAMURTI POERWADI.S.T.  Dirjen PRL dan Rifky Effendi Hardijanto Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan.

Usai menanam mangrove, Menteri Susi bersama Dirjen PRL , Dirjen PDSPKP , Direktur Nur Hidayati, serta beberapa tokoh masyarakat lainnya berdialog dengan masyarakat Pulau Pari tentang peran mangrove bagi daerah pesisir.

Dalam Perjalanan Pulang Sambil membeli udang, Menteri menyarankan agar mereka dpt mengajak nelayan yg lain untuk tdk menggunakan alat tangkap yg tidak ramah lingkungan spt cantrang, agar udang di Cirebon dapat kembali melimpah, dan tentunya berdoa sebelum melempar jaring.
 Dalam Perjalanan Pulang beliau berdialog dengan nelayan yang didampingin oleh Bapak Pung Nugroho Kepala Pangkalan PSDKP Jakarta
 
Saat akan masuk Muara Baru dari Pulau Pari, Menteri bertemu dgn nelayan Cirebon yg menangkap ikan di Jakarta. Nelayan tsb bercerita bahwa udang di sana sudah ngga ada lagi. Menteri Susi pun berbicang lebih lanjut dengan mereka.



 Pengawalan Kunjungan IBu Menteri Kelautan dan Perikanan di Pulau Pari oleh Pengawas Perikanan Pangkalan PSDKP Jakarta




Kos Putri Salsabilla Kendari

BATIK MOTIF IKAN


READ MORE - Menyambut Hari Mangrove Bu Susi Ajak Masyarakan Pulau Pari Tanam Mangrove

20 Mei, 2018

Kunjungi Banggai Laut, Menteri Susi Ajak Warga Jaga Mangrove Dan Terumbu Karang

BANGGAI LAUT (15/5) - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah, Selasa (15/5). Dalam kegiatan tersebut, Menteri Susi didampingi oleh Bupati Banggai Laut Wenny Bukamo, Wakil Bupati Banggai Laut Tuty Hamid, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Brahmantya Satyamurti Poerwadi, dan Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rina.
Kedatangan Menteri Susi di Pelabuhan Banggai Laut disambut dengan tarian Balatindak dari masyarakat sekitar. Selanjutnya di pelantaran Dermaga Menteri Susi dianugerahi gelar kehormatan adat Boine Doi Ndalangon Kapitan Laut (Wanita Tangguh Penguasa Laut).
Pada kunjungan tersebut, Menteri Susi bersama rombongan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga menyambangi Balai Benih Ikan Payau (BBIP) Dusun Paisubatango milik Dinas Perikanan dan Kelautan Banggai Laut. Di sana dilakukan pendederan benih ikan kerapu macan dan kerapu tikus untuk dibudidayakan masyarakat.

Selanjutnya, Menteri Susi melakukan dialog dengan Nelayan Desa Bone Baru yang dipandu langsung oleh Bupati Banggai Laut Wenny Bukamo. Kepada masyarakat Menteri Susi berpesan agar masyarakat menjaga pohon bakau dengan tidak melakukan penebangan.
"Saya dengar suara kumbang yang menunjukkan Banggai ini masih asri, masih bagus daerahnya. Namun saya cari pohon besar kok berkurang, ke mana perginya?
Nanti saya bilang kalau pohon besar habis, air banggai laut tidak ada lagi," tutur Menteri Susi mengawali diskusi.
Menteri Susi berpendapat, penebangan pohon dapat mengakibatkan air laut menyusut dan air tawar kering. "Kalau pohon ditebangi, bakau yang menjaga pulau tidak kena abrasi ditebang, nanti air akan kering. Nanti mau dapat air tawar dari mana? Mau minum air laut?" lanjutnya.
Menteri Susi mengungkapkan, punahnya pohon bakau (mangrove) dapat mengakibatkan banyak petaka. Salah satunya merebaknya penyakit malaria dan demam berdarah akibat nyamuk dan berbagai serangga lainnya kehilangan habitatnya. "Masyarakat di sini harusnya beruntung sudah ada gunung dari karang yang tumbuh subur," imbuhnya.
Selain itu, bakau juga dianggap sebagai tempat bertelur ikan, udang, dan berbagai hewan laut lainnya yang aman dan terlindung.
Tak hanya melindungi pohon bakau, Menteri Susi juga meminta masyarakat melindungi terumbu karang dengan tidak melakukan pengeboman ikan dan pengambilan terumbu karang untuk diperjualbelikan.
"Tadi saya berenang di Pulau Bakakan Kecil saya lihat semua karangnya hancur, berantakan, tidak ada lagi karang hidup. Pulaunya begitu cantik, pasirnya begitu putih tapi karangnya sudah habis. Menangis saya. Apa kerja nelayan itu ngebom ikan atau nangkap ikan yang benar?" tegas Menteri Susi.

Menteri Susi menyebutkan, kedaulatan negara dengan diusirnya kapal asing dari laut Indonesia susah tercapai. Kini ikan sudah banyak, tinggal bagaimana nelayan melindungi dengan berhenti melakukan penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing) menggunakan bom atau bahan kimia lainnya. Jika diperlukan, ia bahkan meminta agar masyarakat Banggai Laut membuat aturan adat istiadat sendiri untuk melindungi laut dan seisinya.
Hal ini mengingat karakteristik laut Banggai Laut yang terbuka dengan ikan residen dan menetap, sehingga jika habis dirusak, ikan baru tidak akan datang lagi dari pulau luar.
"Orang ke sini ngebom karena nyarinya (ikan) gampang, karangnya banyak, tertutup, tidak banyak ombak," sebutnya.
Menteri Susi juga meminta nelayan untuk berjanji pada diri sendiri dan kepada Tuhan untuk tidak lagi melakukan tindakan yang dapat merusak laut, utamanya menggunakan bom ikan.
"Pemerintah bisa bantu dengan memberi kapal, jaring, pancing, perahu. Tapi kalau ikannya sudah tidak ada, mau tangkap apa dengan alat dan perahu itu?" ujar Menteri Susi.
Menteri Susi juga mengajak masyarakat mensyukuri nikmat Tuhan dengan menjaga ciptaan-Nya yang begitu indahnya. Ia meminta BKIPM untuk mengawasi kegiatan pengambilan terumbu karang maupun bambu laut, termasuk penangkapan lobster, kepiting, dan rajungan bertelur dan di bawah ukuran (undersize).
Agar laut sehat, ikan banyak dan lestari, Menteri Susi juga meminta masyarakat agar menyediakan satu hari libur menangkap ikan dalam seminggu. Hal ini untuk menyediakan waktu bagi hewan laut untuk bertelur dan berkembang biak. "Kita jangan serakah dan tamak, habis ikan kita," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, KKP menyerahkan bantuan berupa 150 kaca mata selam bagi siswa SD untuk berenang melihat keindahan laut yang harus dijaga; 10 buku modul sekolah pantai; 100 kantong ramah lingkungan; dan 1 unit tv untuk balai bengong warga Bone Baru. Selain itu, KKP juga kembali mengimbau nelayan untuk segera mendaftar asuransi nelayan untuk mendapatkan perlindungan saat melaut.
Menteri Susi juga berjanji memberikan bantuan kapal kepada nelayan dengan syarat membentuk kelompok di bawah koperasi. "Saya ingin koperasi-koperasi setempat bangkit. Jangan hanya koperasi dari Jakarta saja. Mana yang dari daerah? Bapak-bapak ayo bikin koperasi. Ayo tumbuh, ayo bergerak," imbaunya.

Sementara itu, Bupati Banggai Laut Wenny Bukamo mengatakan, 94% wilayah Banggai Laut terdiri dari lautan, sehingga benar sekali bahwa laut adalah masa depan masyarakat sekitar. Untuk itu, Wenny mengungkapkan terima kasih atas bantuan KKP.
"Kita sudah mendapatkan beberapa bantuan dari KKP berupa alat tangkap, kapal, coldstorage, dan sebagainya. Ke depan, dengan bantuan ini (diharapkan) semua nelayan di Banggai Laut bisa terakomodasi. Saya berharap bantuan dari pemerintah pusat ini digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan kita semua. Sesuatu yang bermanfaat, terukur, dan dapat dinikmati bersama," ungkapnya.
Apresiasi juga disampaikan masyarakat nelayan. Ahmad Yusuf misalnya, ia mengucapkan terima kasih atas bantuan 2 coldstorage yang telah diberikan KKP sebelumnya. Menurutnya, berkat bantuan tersebut harga ikan di Banggai Laut sudah stabil karena tidak lagi dipermainkan oleh tengkulak. "Sebelum ada bantuan kita punya harga ikan dipermainkan oleh tengkulak yang tidak bertanggung jawab. Sekarang harga ikan kami sudah harga nasional," pungkasnya.


Lilly Aprilya Pregiwati
Plt. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri

http://kkp.go.id/artikel/4058-kunjungi-banggai-laut-menteri-susi-ajak-warga-jaga-mangrove-dan-terumbu-karang 

Di Banggai Laut, Menteri Susi Tinjau Potensi Pantai Oyama dan Desa Dungkean

dok,humas KKP / Regina Safri
KKPNews, Banggai Laut – Dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah, Selasa (15/5), Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama rombongan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyambangi beberapa pulau kecil untuk menyapa masyarakat dan melihat potensi kelautan dan perikanan di sana. Hari itu ia mengunjungi setidaknya dua pulau yang dapat ditempuh selama 1-2 jam perjalanan dari pusat Banggai Laut dengan menggunakan speed boat.
Seusai melakukan dialog dengan masyarakat di Desa Bone Baru, Menteri Susi mengunjungi Pantai Oyama di sebuah pulau kecil yang kecantikannya tidak kalah dengan Raja Ampat, Papua. Melihat hamparan pasir putih dengan air biru nan jernih dan pemandangan alam yang terhampar indah, usai menyapa warga sekitar, Menteri Susi tak dapat menahan diri untuk segera berenang.
Aktivitas Menteri Susi di sana mengundang kerumunan warga. Masyarakat sekitar yang didominasi anak-anak berbondong-bondong turun ke air dan berenang dengan gembira.
Tak cukup hanya berenang, Menteri Susi juga memacu paddle boardnya untuk mengamati keindahan Pantai Oyama lebih ke tengah. Tak hanya itu, dari paddle boardnya Menteri Susi juga menyapa beberapa nelayan yang tengah menaiki perahu kayunya.
“Bapak-bapak, laut yang Bapak-bapak punya (Pantai Oyama) sangat indah. Jangan dirusak. Jangan menangkap ikan pakai bom atau portas. Nanti lautnya rusak dan ikannya habis,” ungkap Menteri Susi.
Menteri Susi juga menjanjikan bantuan kapal penangkap ikan viber bagi nelayan jika mereka berjanji tidak akan menangkap ikan dengan cara yang merusak. “Nanti saya kasih bantuan kapal. Tapi janji jangan pakai bom, portas, atau bius. Nanti bapak-bapak bikin kelompok, satu kelompok 2-3 orang nanti kita kasih bantuan kapal,” lanjutnya disambut dengan tepuk tangan nelayan.
Pantai Oyama memiliki potensi kelautan yang begitu besarnya. Oleh karena itu, Menteri Susi meminta warga sekitar untuk menjaganya dengan tidak melakukan destructive fishing dan tidak membuang sampah ke laut.
Selain Pantai Oyama, hari itu Menteri Susi juga mengunjungi Desa Dungkean, Kecamatan Bangkurung yang ditempati oleh masyarakat transmigran. Di sana menteri Susi juga meninjau potensi perikanan. Warga di sana memiliki cara menangkap ikan yang unik yaitu dengan sero tancap yang dilingkup dengan jaring karamba.
Alkap, Nelayan Desa Dungkean mengatakan, kayu tahan air ditancapkan sekitar 200 – 300 meter dari bibir pantai. Kayu tersebut kemudian dipasang jaring karamba, dan dibiarkan selama sekitar 7 bulan. Ikan kemudian akan masuk atau terperangkap dengan sendirinya.
“Ikan yang terjebak di sana kita ambil setiap hari sampai (sero) rusak. Biasanya tahan selama 7 bulan. Tapi kalau ada ombak besar, alatnya kita gulung lagi,” cerita Alkap.
Dengan menggunakan sero tancap, ditangkap berbagai jenis ikan seperti malalugis, baronang, cumi, tuna, rumah-rumah, cakalang, deho, bubara, dan sebagainya.
Alkap bercerita, satu alat ini biasanya dimiliki oleh 5 orang yang umumnya masih memiliki hubungan keluarga. Hasil penangkapan ikan dikumpulkan dan dibagi hingga alat tersebut rusak.
“Cara bagi hasil ditunggu sampai banyak dan dibagi rata. Dalam tujuh bulan itu, nelayan bisa menghasilkan Rp30 – 40 juta,” tutur Alkap.
Tak hanya menggunakan sero tancap, menurut Alkap masyarakat sekitar juga menangkap ikan menggunakan pancing dan bubu. “Di sini tidak ada yang pakai trawl, tidak ada yang pakai bom dan bius. Pembiusan dan bom dapat merusak ekosistem laut,” lanjut Alkap. (AFN)
READ MORE - Kunjungi Banggai Laut, Menteri Susi Ajak Warga Jaga Mangrove Dan Terumbu Karang

21 Februari, 2018

Ribetnya Menanam Mangrove di Kawasan Sekitar Tambak

Saat ini, dan mungkin juga sebelum-sebelumnya, menanam mangrove bukan lagi urusan sederhana. Dahulu, kita dapat menancapkan akar mangrove dengan gembira ke dalam lubang kecil, lalu sebulan atau dua bulan sekali menjenguk pertumbuhannya. Kemudian dengan bangga menikmati keindahan mangrove-bakau yang tumbuh menjulang dan melebar.
 
Kini, di beberapa tempat, cerita sudah berbeda. Khususnya pada kawasan sekitar tambak perikanan. Menanam, tidak lagi melulu urusan teknis, seperti pengadaan bibit, penyesuaian jarak bibit, penyesuaian bibit dengan kualitas tanah dan air. Hal-hal teknis itu malah persoalan sepele, yang membuat kita berfikir justru persoalan sosial, seperti keterlibatan masyarakat dalam menanam dan memelihara mangrove, serta penanganan hama kambing yang dipelihara masyarakat yang berada di sekitar lokasi penanaman mangrove. Hal-hal inilah yang harus kita gali akar-akar persoalannya dan kemungkinan-kemungkinan pemecahannya.

Boleh dikata, mangrove belum menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial sebagian masyarakat. Mangrove tidak terlingkup dalam basis-basis material untuk pemenuhan ekonomi sehari-hari. Masyarakat yang hidup di daerah pesisir, melihat mangrove sebatas tumbuhan purba yang telah tersisa akibat pembukaan lahan tambak. Tentu, pemikiran-pemikiran seperti itu tidak muncul dengan tiba-tiba, selalu ada sejarah panjang di balik konsep-konsep umum dalam pemikiran orang banyak.
Kambing sebagai hama mangrove. Salah satu solusinya yaitu pemasangan pagar untuk mencegah masuknya kambing di area penanaman mangrove.

Laju pengalihan penggunaan lahan mangrove cukup dahsyat untuk jazirah Sulawesi Selatan. Pada tahun 1980-an saja, sekitar 50 sampai 80 persen mangrove telah dikonversi menjadi tambak. Hal ini menunjukkan daya produktif manusia Sulsel untuk meraup keuntungan dari pengolahan lahan mangrove. Belum ada pihak yang dapat mencegah atau mengatur proses pengalihan itu. Mungkin, hampir semua pihak berfikir serempak, satu tujuan, yaitu pemanfaatan lahan. Organ-organ pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, tokoh – tokoh masyarakat, dan bahkan warga dunia belum keluar dari kotak cara pandang ekonomis, demi pengejaran status ekonomi yang lebih tinggi. Tentu, efek dari tindakan ini adalah bertahannya status ekonomi masyarakat pesisir, dan terdapatnya sebagian kecil pihak yang menikmati kekayaan dari aktivitas produksi, distribusi, dan pengolahan hasil perikanan.

Namun, hal yang menyulitkan adalah peningkatan status ekonomi masyarakat pesisir, yang didominasi oleh pekerja tambak maupun penyewa tambak. Status eknomi dan keterikatan struktural dalam aktivitas budidaya menjadi penghalang utama, ditambah prasangka-prasangka yang muncul antar kelas di masyarakat. Kelas di masyarakat ini sebagian tidak mengalami peningkatan atau statis – status quo, dan hanya sebagian yang berhasil memanjat ke level yang lebih tinggi (sosial climbing). Di samping pembagian keuntungan dalam setiap inovasi dan gerakan baru, termasuk gerakan lingkungan. Pertanyaan yang muncul, apa keuntungan yang diperoleh oleh masyarakat kecil? Siapa yang paling banyak diuntungkan dalam inovasi dan gerakan lingkungan?

Kembali lagi pada persoalan spesifik menanam mangrove. Berdasarkan pengalaman kami selama tujuh bulan berkutat dalam kegiatan penanaman mangrove di sekitar kawasan tambak pesisir Pinrang dan Takalar, meski terdapat pula urusan-urusan seabrek yang lain. Hal pertama yang kami peroleh : sulitnya penanganan pasca tanam. Mangrove yang telah ditanam, pada awal-awalnya kurang penjagaan ketat dari masyarakat setempat. Sehingga, mangrove rusak karena dimakan hama kambing yang berkeliaran di lokasi penanaman. Dan dapat pula mati lantaran bibit kurang cocok dengan kondisi perairan yang baru. Tapi, yang kedua tidak begitu berat, sebab mangrove, khususnya bakau pada dasarnya bisa beradaptasi dalam jangkauan ekologis pesisir yang luas.

Pasca tanam ini tidak begitu diperhatikan oleh kelompok-kelompok penanam mangrove, termasuk kami. Coba bayangkan sudah banyak penanaman serentak yang dilakukan oleh pemerintah ataupun kalangan swasta? Penanaman biasanya dilakukan dalam jumlah banyak, melibatkan banyak pihak, termasuk adik-adik sekolah maupun aparat militer. Tapi, sejauh mana tingkat keberhasilannya? Berapa persen mangrove yang berhasil hidup panjang? Saya kira, belum ada yang dapat mengukur secara pasti level-level keberhasilan dalam pemeliharaan mangrove. Menanam dan memelihara adalah dua kompenen yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Menanam dan memelihara adalah pancaran dan laku batin manusia, yang dirubungi nilai-nilai cinta dan kasih sayang.

Pemeliharaan mangrove biasanya diserahkan pada asuhan alam, dan sedikit harapan pada masyarakat sekitar lokasi penanaman mangrove. Sementara, masyarakat sekitar yang rata-rata status ekonominya menengah dan bawah, punya tujuan-tujuan lain dalam hidup, mereka pun terdesak oleh kebutuhan dasar. Sedangkan kelompok – kelompok elit dalam masyarakat belum tertarik dalam isu-isu lingkungan, lantaran sibuk menggalang solidaritas, yang lebih ditujukan untuk kepentingan penguasaan politik dan ekonomi. Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Langkah strategis pertama pendekatan mekanisme pasar. Pendekatan ini sudah dimulai oleh WWF-Indonesia, yaitu dengan menggandeng kelompok-kelompok usaha melalui perbaikan lingkungan dengan pendekatan pasar. Pasar, dalam hal ini konsumen produk perikanan di luar negeri, khususnya negeri-negeri maju (Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dll) menuntut produk yang tidak hanya aman dikonsumsi, tapi juga produk yang diperoleh dengan cara-cara yang baik. Apa yang baik? Salah satu yang penting adalah peduli terhadap konservasi lingkungan dan ekosistem sekitar tambak. Gerakan ini mendorong perusahaan-perusahaan untuk memperoleh standar yang diinginkan pasar. Sehingga, menuntut mereka untuk terlibat dalam kontribusi perbaikan lingkungan, khususnya rehabilitasi lahan mangrove.

Perusahaan perikanan pun akhirnya harus beradaptasi dengan pergeseran-pergeseran cara pandang ini. Mengharuskan mereka untuk mengaktifkan rantai-rantai bawahnya, yaitu produsen-produsen yang berurusan langsung dalam produksi perikanan. Nah, dengan rantai-rantai-nya inilah pendekatan pasar juga mesti diupayakan. Sebab, masyarakat produsen masih mengedepankan logika ekonomi untuk perubahan prilaku dan intervensi dengan alam. Peningkatan harga dasar produk perikanan yang ingin terlibat dalam perbaikan lingkungan penting untuk dipertimbangkan. Sehingga, memacunya dalam memperbaiki praktek-praktek budidayanya. Selain itu, pendekatan kebudayaan, melalui pelatihan-pelatihan, sosialisasi-sosialisasi, yang mampu menggeser paradigmanya dalam memandang alam. Melihat alam dalam kacamata keberimbangan dan kesinambungan dukungan dalam produksi produk perikanan.

Langkah strategis kedua, melalui gerak kebudayaan lingkungan, yang ditujukan pada generasi muda, lantaran lebih mudah dalam transformasi kesadaran, yang jangkauan pemikirannya lebih pada orentasi masa depan yang baik. Pemuda dan remaja secara psikologis membutuhkan tindakan – tindakan yang baik dalam bentuk gerakan-gerakan yang baik. Pemuda juga lebih terbuka pikirannya terhadap pemikiran-pemikiran baru dan kritis. Sedangkan generasi yang lebih tua, telah terperangkap dalam rutinitas sehari-hari dan lebih prilakunya didorong oleh pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Keterbukaan pemikiran cendrung bersifat close system/tertutup. Sehingga, pelibatan pemuda dalam gerakan lingkungan mangrove sangat penting untuk mencegah perusakan-perusakan lebih lanjut dan memperbaiki yang dapat diperbaiki. Pemuda adalah pelanjut generasi dan tentu yang memperoleh benefit dari tindakan generasi yang lebih tua, atau memperoleh masalah yang dilakoni generasi tua. Peran anak muda mesti lebih ditingkatkan lagi, tidak hanya berupa gerakan penanaman, tapi juga gerakan pemeliharaan. Anak muda mesti setia dan tabah dalam mempertahankan kehidupan yang telah dimulai.
Pelibatan mahasiswa untuk aktivitas pencarian bibit mangrove. Generasi muda sebagai harapan terbesar untuk pelestarian mangrove.

Langkah strategis ketiga yang mungkin adalah menyusun konsep pemberdayaan masyarakat berbasis ekologi. Masyarakat memperoleh benefit dari kegiatan penanaman dan pemeliharaan mangrove. Hal ini dapat terjadi jika dihubungkan dengan kepentingan perusahaan pada strategi pertama. Jadi, perusahaan melibatkan masyarakat dalam perbaikan usaha perikanan dengan pendekatan ekologis. Sehingga, masyarakat, dalam hal ini pekerja tambak, penyewa tambak, pemilik tambak, dan masyarakat sekitar tambak memperoleh tambahan pemasukan dalam kegiatan perbaikan ekologi. Di samping ke depannya, mereka memperoleh kesadaran yang lebih tinggi, apalagi jika kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi.

Langkah stretegis keempat yang sedang dirancang pula oleh WWF-Indonesia, yaitu pelibatan parapihak dalam pelaksanaan perikanan budidaya bertanggungjawab, melalui skema Ecosystem Approach to Aquaculture (EAA). Melalui mekanisme ini, pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat, serta elemen-elemen sipil di masyarakat dapat dilibatkan dalam penerapan konsep perikanan berbasis lingkungan.
***
Mangrove memiliki peranan penting bagi kehidupan keanekaragaman hayati di kawasan pesisir serta keberlanjutan usaha budidaya perairan. Pada ekosistem mangrove, berkembang rantai kehidupan spesies – spesies penting, seperti jenis – jenis burung pesisir, hewan-hewan reptil, ikan-ikan, dan jenis-jenis udang-udangan, kekerangan, dan kepiting. Hewan-hewan ini akan berkurang dengan sendirinya dengan berkurangnya kawasan mangrove dan akan bertambah dengan sendirinya dengan bertambahnya kawasan mangrove. Di sebagian tempat, masyarakat memanfaatkan berburu kepiting pada kawasan mangrove, bahkan sebagai tulang punggung ekonomi pertama. Di Pinrang, masyarakat memanfaatkan cacing-cacing yang ada di sekitar mangrove, untuk dijual sebagai pakan induk udang. Ada pula yang memanfaatkan kawasan tambak untuk memancing ikan. Di tempat lain, masyarakat bisa memanfaatkan mangrove untuk mencari kerang kerang hijau, seperti di muara sungai Marana, Maros.

Dalam perikanan budidaya, mangrove juga memiliki peranan penting. Mangrove berperan untuk menetralisir limbah-limbah organik hasil perikanan, selain itu, daun mangrove mengandung antibiotik alami untuk mengurangi atau menangkal dominasi bakteri yang dapat menimbulkan penyakit pada udang yang dipelihara. Secara teknis, mangrove pun dapat menguatkan pematang tambak sehingga tidak gampang rubuh.
Peranan mangrove yang terbilang banyak ini dapat mendorong masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan perbaikan lingkungan sekitar tambak. Meski demikian, tetap diperlukan pengorganisasian yang ketat untuk penyadaran, pelibatan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar tambak. Agar setiap pihak mengerti dan memperoleh manfaat dari gerakan lingkungan. Sebab, kesulitan terbesar dalam rehabilitasi mangrove, yaitu dukungan sosial untuk pemeliharaan pasca tanam. Serta dukungan pihak-pihak lain, seperti negosiasi dengan pemilik kambing atau penerapan aturan desa untuk resolusi konflik antara pemilik kambing dan petambak yang sedang menanam mangrove di sekitar tambak.

http://www.aquaculturecelebes.com/ribetnya-menanam-mangrove-di-kawasan-sekitar-tambak/
READ MORE - Ribetnya Menanam Mangrove di Kawasan Sekitar Tambak

22 Januari, 2018

Tak Lelah Menanam, Pulihkan Ekosistem Mangrove Lombok Barat

Hari Sabtu 13 Januari 2018 menjadi hari yang meriah bagi sekelompok pemerhati, pecinta lingkungan di Lombok Barat. Tak kurang dari seratus orang, tua-muda bahkan anak-anak, laki-laki perempuan, warga Indonesia maupun orang asing, bule Australia, bersemangat berpartisipasi dalam kegiatan penanaman mangrove di kawasan pesisir utara Teluk Lembar, Dusun Cemare, Desa Lembar Selatan, Lembar, Lombok Barat. Tak lelah menanam, masyarakat terus upayakan pemulihan ekosistem pesisir bermangrove.

Acara ini merupakan puncak acara Bakti Sosial Penanaman Mangrove Korps Alumni Akademi Usaha Perikanan – Sekolah Tinggi Perikanan (AUP-STP) – KORAL Korwil Nusa Tenggara Barat bekerja sama dengan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Nusa Tenggara Barat. Turut mensukseskan kegiatan ini beberapa instansi/lembaga terkait dan masyarakat, diantaranya Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, BKIPM II Mataram, BKSDA NTB, Polair Polda NTB, PMI Lombok Barat, WCS NTB, Pokmaswas PPM Cemare, Siswa-Siswi Sekolah di Lembar, Mahasiswa/i University of New England - Australia, dan Perwakilan BPSPL Denpasar Wilker NTB.

Setidaknya ada enam orang pegawai BPSPL Denpasar yang merupakan alumni AUP-STP. Bentuk partisipasi BPSPL Denpasar Wilker NTB adalah menyediakan bibit mangrove (propagule) sejumlah ratusan serta memberikan paparan materi tentang ekosistem mangrove yang disampaikan oleh M. Barmawi. Dalam paparan ini disampaikan antara lain fungsi-fungsi penting mangrove dalam menjada kawasan pesisir dari aneka bencana, sebagai habitat hidup berbagai jenis biota, dan sebagai pengendali pemanasan global. Kepedulian masyarakat menjadi faktor paling penting dalam upaya pelestarian ekosistem mangrove. Lokasi yang akan ditanami ini merupakan bagian tak terpisahkan dari Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Mangrove Teluk Lembar (Lombok Barat) yang telah ditetapkan oleh Bupati beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan tersebut BPSPL Denpasar Wilker NTB juga berkesempatan mensosialisasikan jenis-jenis ikan dilindungi kepada para peserta, diantara pari manta, hiu paus, penyu, lobster (Panulirus spp.), rajungan (Portunus pelagicus), dan kepiting bakau (Scylla spp.). Dua biota terakhir, rajungan dan kepiting, yang banyak ditemukan di dalam ekosistem mangrove sudah terancam kelestariannya karena ditangkap, dikonsumsi dibawah ukuran yang diijinkan oleh pemerintah. Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56 tahun 2016, disebutkan bahwa ukuran terkecil rajungan dan kepiting bakau yang boleh ditangkap adalah berkarapas lebih dari 10 cm atau berat lebih dari 60 gram per ekor (rajungan), ukuran lebih dari 15 cm atau berat lebih dari 200 gram per ekor (kepiting bakau). Dalam kondisi bertelur juga dilarang pada periode 6 Februari hingga 14 Desember. Semoga semakin banyak masyarakat yang sadar untuk tidak menangkap, mengkonsumsi rajungan dan/kepiting dibawah ukuran yang diijinkan pemerintah. Amin. (Bmw)
READ MORE - Tak Lelah Menanam, Pulihkan Ekosistem Mangrove Lombok Barat

29 November, 2017

Pemerintah Butuh Duit Hingga Rp3 Triliun untuk Hutan Bakau

Pemerintah Butuh Duit Hingga Rp3 Triliun untuk Hutan Bakau Pemerintah Indonesia berencana memberdayakan hutan bakau melalui kerja sama dengan swasta, dan bahkan juga kerja sama bilateral dengan lembaga internasional. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah mentargetkan dana Rp2 triliun sampai Rp3 triliun per tahun untuk pemberdayaan bakau di seluruh Indonesia. Sampai saat ini dana yang terhimpun baru berkisar 10-15 persen dari target awal.

Deputi Pengelolaan Energi, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Montty Girianna mengatakan, dana tersebut baru berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR), dan beberapa perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

"Ini (pendanaannya) belum secara sistematis. Sifatnya masih pilot project, belum masif," ujar Montty di Jakarta Senin (27/11).

Montty mengatakan, model bisnis untuk pemberdayaan bakau ini masih dikaji. Hanya saja Montty menargetkan, untuk bekerja sama dengan swasta, dan bahkan kerja sama bilateral lembaga internasional.

"Jadi kami coba kemas bagaimana kerja sama bisa dilakukan dengan perusahaan swasta BUMN, BUMD atau pun dengan international agency," jelasnya.

Selanjutnya menurut Asisten Deputi Pelestarian Lingkungan Hidup Kemenko Perekonomian, Dida Gardara, dana sebesar hingga Rp3 triliun per tahun ini akan digunakan mulai dari membeli bibit, penanaman, pemeliharaan hingga pemberdayaan kepada masyarakat di sekitar wilayah bakau.

"Tadi ada beberapa dari swasta, Djarum. Juga ada dari Pertamina. Kami enggak dari nol lah. Ini semacam jangkar bersama untuk sinergi ke semuanya," ujar Dida di Jakarta, Senin (27/11).

Sebelumnya Kemenko Perekonomian mengeluarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Permenko) Nomor 4 Tahun 2017 tentang Kebijakan, Strategi, Program, dan Indikator Kinerja, Pengelolaan Ekosistem Bakau Nasional.

Menurut Montty, dalam Permenko tersebut ditetapkan target ekosistem bakau berkategori baik seluas 3,49 juta hektar pada tahun 2045. Ini artinya diperlukan pemulihan ekosistem bakau seluas 1,82 juta hektar. Saat ini ekosisten bakau yang dianggap baik baru sekitar 1,67 juta hektar.

Pemerintah sendiri menargetkan tiap tahunnya terdapat perbaikan lahan bakau seluas 80 ribu hektar. (gir)

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20171127145825-92-258381/pemerintah-butuh-duit-hingga-rp3-triliun-untuk-hutan-bakau 
READ MORE - Pemerintah Butuh Duit Hingga Rp3 Triliun untuk Hutan Bakau

26 November, 2017

Putra-Putri Duta Wisata Balikpapan Melaksanakan Kegiatan Pengenalan Lingkungan Pesisir

Pada hari Sabtu tanggal 25 Nopember 2017, telah dilaksanakan kegiatan pembelajaran (pengenalan) tentang lingkungan, mangrove, flora fauna dan pesisir di Mangrove DAS Manggar, Kelurahan Manggar, Kecamatan Balikpapan Timur.

Kegiatan ini diikuti oleh :
#1. 67-70 orang rombongan Putra-Putri Duta Wisata Balikpapan
#2. 1 orang wartawan Kaltim Post
#3. 1 orang tourist Canada (pilot helicopter)
#4. 1 orang pemateri Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan (DP3) Kota Balikpapan
#5. Ketua dan anggota Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas) MML (Manggar Mangrove Lestari)

Kegiatan ini di pandu oleh Bapak Hery Saputro Pengawas Perikanan Satwas PSDKP Balipapan yang pelaksanaannya berjalan dengan baik, lancar dan tertib.
Sebelumnya juga pada hari Rabu tanggal 22 Nopember 2017, telah dilaksanakan kegiatan pembelajaran tentang mangrove, flora fauna dan pesisir di Daerah Perlindungan Mangrove dan Laut (DPML), Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur.

 Kegiatan ini diikuti oleh :
#1. 42 siswa SD Alam Balikpapan
#2. 6 orang guru pendamping SD Alam Balikpapan
#3. 1 orang pemateri Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan (DP3) Kota Balikpapan.






READ MORE - Putra-Putri Duta Wisata Balikpapan Melaksanakan Kegiatan Pengenalan Lingkungan Pesisir