Tampilkan postingan dengan label Gunung Tambora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung Tambora. Tampilkan semua postingan

13 April, 2018

Meletusnya Gunung Tambora dan Akibatnya Terhadap Dunia

Gunung Tambora di Sumbawa. FOTO/Visittambora.com
10 April 2017
Dibaca Normal 2 menit
Letusan terdahsyat gunung Tambora terjadi pada 10 April 1815. Tiga kerajaan di lereng gunung terkubur beserta penduduknya. Tsunami menyapu dari Jawa Timur hingga Kepulauan Maluku.
tirto.id - Ada yang berbeda dari musim semi 1815 di langit Eropa. Cuaca tak wajar terjadi, ditandai hujan lebat disertai badai. Lazimnya, hujan apalagi disertai badai sudah tidak ditemui lagi ketika akan memasuki musim semi yang kaya sinar matahari.

Di saat bersamaan, pada 18 Juni 1815, adalah pertempuran penting bagi Napoleon yang mewakili Kekaisaran Prancis melawan lima koalisi kekaisaran Eropa. Pertempuran sengit yang berlokasi di Waterloo ini kemudian jadi babak akhir dari kiprah Napoleon Bonaparte. Pasukannya kalah. Di antara sederet analisis kekalahan perang, salah satu yang ditunjuk sebagai penyebabnya adalah cuaca ekstrem mencuat.

“[...] Hujan turun begitu lebat, tentara tertua dari pasukan itu bahkan tidak pernah melihat kejadian seperti ini,” tulis John Lewis dalam "The Weather of the Waterloo Campaign 16 to 18 June 1815: Did it Change the Course of History?"

Catatan "Napoleon, The Tambora Eruption and Waterloo" karya John Tarttelin turut menyebut pasukan Napoleon digambarkan sangat terganggu oleh hujan lebat yang sedang melanda, dan mereka terpaksa menunda perjalanan ke Waterloo. Sementara itu, pihak balatentara Prusia terus menerjang badai untuk terlebih dahulu mencapai Waterloo.

Terlepas dari kekalahan Napoleon, cuaca ekstrem yang sedang melanda bumi adalah akibat meletusnya sebuah gunung api yang kini letaknya adalah bagian dari Pulau Sumbawa, Gunung Tambora.

Thomas Stamford Raffles yang kala itu memerintah Jawa sejak 1811 mencatat peristiwa letusan dahsyat tersebut dalam memoarnya.

Ia mencatat letusan pertama terdengar sampai Jawa pada sore hari tanggal 5 April dan setiap 15 menit terus terdengar sampai hari-hari berikutnya. Mulanya, suara ini dianggap suara meriam hingga sebuah detasemen tentara bergerak dari Yogyakarta, mengira pos terdekat sedang diserang.

Perahu-perahu di pesisir turut dikerahkan oleh pejabat setempat. Mereka menafsirkan suara dentuman itu sebagai sinyal minta tolong dari kapal rekanan di laut dan perlu segera ditolong. Suara gemuruh ini tidak hanya terdengar sampai ke Jawa, tetapi juga sampai di Ternate dan Maluku. Letusan ini terus terjadi dan kian membesar.

Yang paling dahsyat terjadi pada pagi pukul tujuh tanggal 10 April. Laporan yang dihimpun William & Nicholas Klingaman berjudul "Tambora Erupts in 1815 and Changes World History" menyebut hampir seluruh isi perut gunung dimuntahkan, yakni magma, abu yang memancar, dan batuan cair yang menembak ke segala arah. Berlangsung sekira satu jam, begitu banyak abu dan debu terlempar berada di uadara hingga menutupi pandangan terhadap gunung.

Merujuk kembali ke catatan Thomas Stamford Raffles, letusan dahsyat tanggal 10 April 1815 ini terdengar sampai ke Sumatera.

Dalam skala kekuatan erupsi gunung berapi, Volcanic Explosivity Index (VEI), letusan Tambora menempati VEI 7 atau tertinggi kedua dari puncak VEI 8. Menurut Volcano Discovery, sekitar 50 sampai 150 kilometer kubik magma keluar dari perut bumi melalui Tambora yang menghasilkan kubah kolosal setinggi hampir 40 sampai 50 kilometer itu membawa abu dalam jumlah besar di angkasa.

Karena dahsyatnya letusan ini, gunung Tambora yang mulanya menjulang setinggi 4.300 mdpl menjadi terpangkas sampai tersisa setinggi 2.772 mdpl. Ledakan terdengar hingga 2.600 kilometer jauhnya, dan abunya jatuh setidaknya sejauh 1.300 kilometer.

Infografik Tambora 1815


Di lereng Tambora, ada tiga kerajaan yang tercatat yaitu Kerajaan Tambora, Kerajaan Sanggar, dan Kerajaan Pekat yang semuanya musnah karena letusan Tambora. Kerajaan Bima sendiri turut mencatat peristiwa mahadahsyat ini seperti tertuang dalam naskah kuno Bo Sangaji Kai.

Di hari puncak letusan yang terjadi pada 10 April itu, tsunami juga menerjang berbagai pulau di Indonesia sebagai dampak dari letusan Tambora. Tercatat, di wilayah Sanggar tsunami menerjang setinggi 4 meter, di Besuki Jawa Timur tsunami setinggi 2 meter terjadi sebelum tengah malam, juga di Kepulauan Maluku. U.S. Geological Survey mencatat korban tewas diperkirakan sebanyak 4.600 jiwa.

Bagi bumi, letusan Tambora berdampak terhadap perubahan iklim global lantaran sulfur dioksida yang turut lepas ke lapisan stratosfer. Musim semi tahun 1815 menjadi terganggu karena debu-debu dan kandungan yang dibawa tertiup angin bergeser ke langit Eropa, Amerika, dan lainnya.

Clive Oppenheimer dalam tulisannya berjudul "Climatic, Environmental and Human Consequences of the Largest known Historic Eruption: Tambora Volcano (Indonesia) 1815" menyebut kabut kering terlihat dari timur laut Amerika Serikat. Hal ini terus berlanjut hingga musim panas 1815. Di belahan bumi utara, terjadi kondisi cuaca ekstrem hingga disebut peristiwa “Tahun Tanpa Musim Panas” pada 1816, karena Eropa menjadi gelap.

Suhu global menurun sekitar 0,4 sampai 0,7 derajat celsius akibat kabut kering yang menyelimuti bumi. Pertanian yang seharusnya mendapat paparan sinar matahari di musim semi menjadi gagal panen di India dan timbul wabah kolera di Bengal pada 1816. Tifus menyerang wilayah Eropa tenggara dan timur Mediterania antara 1816 sampai 1819.

Gagal panen karena suhu dingin dan hujan lebat melanda Inggris dan Irlandia. Kelaparan merata di utara dan barat daya Irlandia karena gagal panen gandum, oat, dan kentang. Jerman dilanda krisis: harga pangan meningkat akibat kelangkaan. Demonstrasi menjadi pemandangan umum di depan pasar dan toko roti, diikuti kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan yang menjadikan kelaparan terburuk di Eropa pada abad ke 19.

Merujuk penelitian Oppenheimer, jumlah kematian langsung di wilayah sekitar Tambora maupun tidak langsung sebagai dampak luas di seluruh dunia mencapai 71.000 jiwa. Laporan Anthony Reid saat peringatan 200 tahun meletusnya Tambora menunjukkan angka kematian bahkan mencapai 100.000 jiwa.

Dari letusan yang tercatat terhebat sepanjang sejarah modern, banyak peristiwa sejarah dunia turut lahir. Termasuk penemuan sepeda di Amerika dan Prancis karena kematian para kuda, hingga lagu Malam Kudus dari Austria yang ikonik menjelang malam Natal.

Kini, kaldera yang terbentuk di gunung Tambora merupakan kaldera aktif terbesar di dunia. Daerah di sekitar lereng Tambora pun turut menjadi pusat penelitian arkeologi terkait tertimbunnya tiga kerajaan sekaligus.

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Maulida Sri Handayani

READ MORE - Meletusnya Gunung Tambora dan Akibatnya Terhadap Dunia

15 Juli, 2014

SEJARAH LETUSAN GUNUNG TAMBORA

gunung tambora
Gunung Tambora (atau Tomboro) adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat


gunung tambora

PROFIL GUNUNG TAMBORA DOMPU NTB
*Gunung Tambora, Pulau Sumbawa Indonesia
*Letusan Terakhir 10 April 1815 
*Muntahkan Magma 100 km³.
*Lepasan abu (kubik) 400 km³ debu ke angkasa.
*Tinggi abu  44 km dari permukaan tanah. 
*Lontaran abu  1300km. 
*Radius suara letusan  2600 km 
*Endapan aliran piroklastik  7-20m    
*Tsunami sepanjang pantai  sejauh 1200km, tinggi 1-4m, di  Maluku Tsunami hingga 2 M *Korban letusan langsung   117.000 korban jiwa. 
*Kerajaan yang lenyap akibat letusan Kerajaan Tambora, Kerajaan Pekat dan Kerajaan Sanggar.

gunung tambora

Sejarah Letusan
Dengan menggunakan teknik penanggalan radiokarbon, dinyatakan bahwa gunung Tambora telah meletus tiga kali sebelum letusan tahun 1815, tetapi besarnya letusan tidak diketahui.
Perkiraan ketiga letusannya pada tahun:
- Letusan pertama: 39910 sebelum masehi ± 200 tahun
- Letusan kedua: 3050 sebelum masehi
- Letusan ketiga: 740 ± 150 tahun.



gunung tambora

Ketiga letusan tersebut memiliki karakteristik letusan yang sama.
Masing-masing letusan memiliki letusan di lubang utama, tetapi terdapat pengecualian untuk letusan ketiga. Pada letusan ketiga, tidak terdapat aliran piroklastik.
Pada tahun 1812, gunung Tambora menjadi lebih aktif, dengan puncak letusannya terjadi pada bulan April tahun 1815. Besar letusan ini masuk ke dalam skala tujuh Volcanic Explosivity Index (VEI), dengan jumlah semburan tefrit sebesar 1.6 × 1011 meter kubik.
Karakteristik letusannya termasuk letusan di lubang utama, aliran piroklastik, korban jiwa, kerusakan tanah dan lahan, tsunami dan runtuhnya kaldera.
Letusan ketiga ini mempengaruhi iklim global dalam waktu yang lama. Aktivitas Tambora setelah letusan tersebut baru berhenti pada tanggal 15 Juli 1815.
Pada saat letusan terjadi, beberapa orang Belanda yang berada di Surabaya mencatat dalam buku hariannya mengaku mendengar letusan tersebut, juga beberapa orang di benua Australia bagian Barat Laut.
Mereka mengira itu hanyalah suara gemuruh guntur karena tiba-tiba muncul awan mendung yang membuat redupnya sinar matahari. Namun mereka tidak yakin karena yang mereka yakini awan, ternyata adalah asap dan debu vulkanis.
Dan yang turun ke bumi bukanlah air melainkan debu dan kerikil kecil. Letusan Gunung Tambora merupakan letusan gunung terdahsyat sepanjang masa yang pernah tercatat.
Pada saat gunung Tambora meletus, daerah radius kurang lebih 600km dari gunung Tambora gelap gulita sepanjang hari hampir seminggu lamanya, letusan yg terdengar melebihi jarak 2000km dan suhu Bumi menurun hingga beberapa derajat yg mengakibatkan bumi menjadi dingin akibat sinar matahari terhalang debu vulkanis selama beberapa bulan.
Sehingga berdampak juga ke daerah Eropa & Amerika Utara mengalami musim dingin yg panjang. Sedangkan Australia dan daerah Afrika Selatan turun salju di saat musim panas. Peristiwa ini dikenal dengan “The year without summer” atau tahun tanpa musim panas.
Aktivitas selanjutnya kemudian terjadi pada bulan Agustus tahun 1819 dengan adanya letusan-letusan kecil dengan api dan bunyi gemuruh disertai gempa susulan yang dianggap sebagai bagian dari letusan tahun 1815. Letusan ini masuk dalam skala kedua pada skala VEI.
Sekitar tahun 1880 (± 30 tahun), Tambora kembali meletus, tetapi hanya di dalam kaldera. Letusan ini membuat aliran lava kecil dan ekstrusi kubah lava, yang kemudian membentuk kawah baru bernama Doro Api Toi di dalam kaldera.
Gunung Tambora masih berstatus aktif. Kubah lava kecil dan aliran lava masih terjadi pada lantai kaldera pada abad ke-19 dan abad ke-20. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1967, yang disertai dengan gempa dan terukur pada skala 0 VEI, yang berarti letusan terjadi tanpa disertai dengan ledakan.
Total volume yang dikeluarkan Gunung Tambora saat meletus hebat hampir 200 tahun silam mencapai 150 kilometer kubik atau 150 miliar meter kubik. Deposit jatuhan abu yang terekam hingga sejauh 1.300 kilometer dari sumbernya.
Peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Igan Supriatman Sutawidjaja, dalam tulisannya, ”Characterization of Volcanic Deposits and Geoarchaeological Studies from the 1815 Eruption of Tambora Volcano”, menyebutkan, distribusi awan panas diperkirakan mencapai area 820 kilometer persegi.
Jumlah total gabungan awan panas (piroklastik) dan batuan totalnya 874 kilometer persegi. Ketebalan awan panas rata-rata 7 meter, tetapi ada yang mencapai 20 meter. Ahli botani Belanda, Junghuhn, dalam ”The Eruption of G Tambora in 1815”, menulis, empat tahun setelah letusan, sejauh mata memandang adalah batu apung. Pelayaran terhambat oleh batuan apung berukuran besar yang memenuhi lautan. Segala yang hidup telah punah. Bumi begitu mengerikan dan kosong. Junghuhn membuat deskripsi itu berdasarkan laporan Disterdijk yang datang ke Tambora pada 16 agustus 1819 bersama The Dutch Residence of Bima.
Selama enam minggu arkeolog menggali telah menemukan sisa dua mangkok untuk orang dewasa berbahan perunggu, pot keramik, peralatan dari besi dan artifak lainnya. Desain dan dekorasi dari artefak menunjukkan bahwa budaya Tamboran (orang Tambora) terkait dengan budaya orang Vietnam dan orang Kamboja. (Image: URI News Bureau)
Magnitudo letusan Tambora, berdasarkan Volcanic Explosivity Index (VEI), berada pada skala 7 dari 8, hanya kalah dari letusan Gunung Toba (Sumatera Utara), sekitar 74.000 tahun lalu, yang berada pada skala 8.
Tambora juga tercatat sebagai gunung yang paling mematikan. Jumlah korban tewas akibat gunung ini sedikitnya mencapai 71.000 jiwa tapi sebagian ahli menyebut angka 91.000 jiwa.
Sebanyak 10.000 orang tewas secara langsung akibat letusan dan sisanya karena bencana kelaparan dan penyakit yang mendera.
Jumlah ini belum termasuk kematian yang terjadi di negara-negara lain, termasuk Eropa dan Amerika Serikat, yang didera bencana kelaparan akibat abu vulkanis Tambora yang menyebabkan tahun tanpa musim panas di dua benua itu. Bahkan di Eropa, Napoleon Bonaparte kalah perang karena efek dari gunung Tambora ini.
Berikut ringkasan laporan kesaksian saat letusan Gunung Tambora terjadi, yang disarikan dari ”Transactions of the Batavian Society” Vol VIII, 1816, dan dan ”The Asiatic Journal” Vol II, Desember 1816.
Sumanap (Sumenep), 10 April 1815Sore hari tanggal 10, ledakan menjadi sangat keras, salah satu ledakan bahkan mengguncang kota, laksana tembakan meriam.
Menjelang sore keesokan harinya, atmosfer begitu tebal sehingga harus menggunakan lilin pada pukul 16.00.
Pada pukul 19.00 tanggal 11, arus air surut, disusul air deras dari teluk, menyebabkan air sungai naik hingga 4 kaki dan kemudian surut kembali dalam waktu empat menit.

Baniowangie (Banyuwangi), 10 April 1815Pada tanggal 10 April malam, ledakan semakin sering mengguncang bumi dan laut dengan kejamnya. Menjelang pagi, ledakan itu berkurang dan terus berkurang secara perlahan hingga akhirnya benar-benar berhenti pada tanggal 14.

Fort Marlboro (Bengkulu), 11 April 1815Suaranya terdengar oleh beberapa orang di permukiman ini pada pagi hari tanggal 11 April 1815. Beberapa pemimpin melaporkan adanya serangan senjata api yang terus-menerus sejak fajar merekah. Orang-orang dikirim untuk penyelidikan, tetapi tidak menemukan apa pun.
Suara yang sama juga terdengar di wilayah-wilayah Saloomah, Manna, Paddang, Moco-moco, dan wilayah lain. Seorang asing yang tinggal di Teluk Semanco menulis, sebelum tanggal 11 April 1815 terdengar tembakan meriam sepanjang hari.

Besookie (Besuki, Jawa Timur), 11 April 1815Kami terbungkus kegelapan pada 11 April sejak pukul 16.00 sampai pukul 14.00 pada 12 April. Tanah tertutup debu setebal 2 inci. Kejadian yang sama juga terjadi di Probolinggo dan Panarukan, terus sampai di Bangeewangee (Banyuwangi) tertutup debu setebal 10-12 inci. Lautan bahkan lebih parah akibat dari letusan tersebut. Suara letusan terdengar sampai sejauh 600-700 mil.

Grissie (Gresik, Jawa Timur), 12 April 1815Pukul 09.00, tidak ada cahaya pagi. Lapisan abu tebal di teras menutupi pintu rumah di Kradenan. Pukul 11.00 terpaksa sarapan dengan cahaya lilin, burung-burung mulai berkicau mendekati siang hari.
Dua ilmuwan sedang menyelidiki bekas-bekas peradaban yang telah lenyap di dekat gunung Tambora.
Jam 11.30 mulai terlihat cahaya matahari menerobos awan abu tebal. Pukul 05.00 sudah semakin terang, tetapi masih tidak bisa membaca atau menulis tanpa cahaya lilin.Tidak ada seorang yang ingat ataupun tercatat dalam tradisi erupsi yang sedemikian besar.Ada yang melihat kejadian itu sebagai transisi kembalinya pemerintahan yang lama.Lainnya melihat kejadian itu dari sisi takhayul dan legenda bahwa sedang ada perayaan pernikahan Nyai Loro Kidul (Ratu Kidul) yang tengah mengawini salah satu anaknya.
Maka dia tengah menembakkan artileri supernaturalnya sebagai penghormatan. Warga menyebut abu yang jatuh berasal dari amunisi Nyai Loro Kidul.

Makasar, 12-15 April 1815Tanggal 12-15 April udara masih tipis dan berdebu, sinar matahari pun masih terhalang. Dengan sedikit dan terkadang tidak ada angin sama sekali. Pagi hari tanggal 15 April, kami berlayar dari Makassar dengan sedikit angin.
Di atas laut terapung batu-batu apung, dan air pun tertutup debu. Di sepanjang pantai, pasir terlihat bercampur dengan batu-batu berwarna hitam, pohon-pohon tumbang. Perahu sangat sulit menembus Teluk Bima karena laut benar-benar tertutup.

Sumber : @dompukab  @travel.detik http://www.komunitasanaktugu.com/2014/06/sejarah-letusan-gunung-tambora.html

KAVLINGAN GRIYA GODO PERMAI BIMA

 Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai 

yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat.

Jarak hanya +  1 Kilo meter  dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.

Harga yang ditawarkan mulai 19 juta sampai 28 juta sesuai luas tanah 160 M2 sampai 222 M2.

Bermina Hubungi Bapak Mukhtar, A.Pi (081342791003) diluar  bima atau Bapak Burhanuddin HA (081353521456) di Bima

 
Untuk kebutuhan Air Minum yang menyehatkan  coba konsumsi Air Izaura Air yang terbukti dapat membantu proses penyembuhan Kegemukan, Migran, Alergi, Sakit Maag, ASam Urat, Nyeri Sendi, Sambelit, Saking Pinggang, Osteiporosis, Reumatk, Kanker, Vertigo, Ashma, Brinchitis, Darah Tinggi, Kencing Batu, Kolestrol, DIABetes, Jantung, Darah Rendah, Jerawat', WAsir dan Batu Ginzal. Dan menghilangkan racun dalam tubuh.



Mau Sehat dan Menyehatkan Minum Air Izaura
 Mau Meraih Penghasilan Besar, Membantu Kesehatan Semua Orang dan Memiliki Bisnis Yang Mudah Anda Jalankan dengan Modal 350 ribu s.d 500 ribu.

Berminat Hub Mukhtar, A.Pi  HP. 081342791003 
 



Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempat 
Kos Putri Salsabilla Kendari
 Hub 081342791003

Menerima pesanan Kanopi, Pagar Besi, Jendela
 dengan Harga Murah dengan Sistim Panggilan.
Topi Pegawai Ditjen Perikanan Tangkap
Berminat Hub 081342791003 
Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di GRIYA GODO PERMAI BIMA
Berminat Hub 081342791003 
Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.

READ MORE - SEJARAH LETUSAN GUNUNG TAMBORA

16 Maret, 2014

Menikmati Panorama Gunung Tambora

 Panorama Kawah Gunung Tambora

Tambora !  Inilah sebuah gunung yang menakjubkan sekaligus menakutkan dalam sejarah letusan gunung api di Bumi. Gunung Tambora yang kini setinggi 2.851 m dpl adalah gunung api yang masih aktif sekaligus menyodorkan panorama alam yang amat spetakuler dengan sejarah letusannya yang mendunia.


 Kawah Guning Tambora

Letak Gunung Tambora di Pulau Sumbawa

Untuk Menikmati Pemandangan di Guning Tombora hubungin 
Info Lengkap & Pendaftaran : http://bit.ly/1gD7von

Untuk info lebih lanjut
021-9345 6511 / 082110611300
PIN BB : 263ED574
WA : 082110611300

E-mail : dal_adventure@yahoo.com
YM : dal_adventure
FB : Dal Adventure
www.DALadventure.com


Baca Artikel Dana Mbojo / Bima Lainnya
 
Untuk kebutuhan Air Minum yang menyehatkan  coba konsumsi Air Izaura Air yang terbukti dapat membantu proses penyembuhan Kegemukan, Migran, Alergi, Sakit Maag, ASam Urat, Nyeri Sendi, Sambelit, Saking Pinggang, Osteiporosis, Reumatk, Kanker, Vertigo, Ashma, Brinchitis, Darah Tinggi, Kencing Batu, Kolestrol, DIABetes, Jantung, Darah Rendah, Jerawat', WAsir dan Batu Ginzal. Dan menghilangkan racun dalam tubuh.



Mau Sehat dan Menyehatkan Minum Air Izaura
 Mau Meraih Penghasilan Besar, Membantu Kesehatan Semua Orang dan Memiliki Bisnis Yang Mudah Anda Jalankan dengan Modal 350 ribu s.d 500 ribu.

Berminat Hub Mukhtar, A.Pi  HP. 081342791003 
 



Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempat 
Kos Putri Salsabilla Kendari
 Hub 081342791003

Menerima pesanan Kanopi, Pagar Besi, Jendela
 dengan Harga Murah dengan Sistim Panggilan.
Topi Pegawai Ditjen Perikanan Tangkap
Berminat Hub 081342791003 
Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di GRIYA GODO PERMAI BIMA
Berminat Hub 081342791003 
Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.
 


READ MORE - Menikmati Panorama Gunung Tambora

09 Oktober, 2011

Gunung Sebagai Pasak


Al Qur’an mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari gunung.

"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)

Sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi.

Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika Al Qur’an diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern.

Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.

Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut:

Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305)

Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai "pasak":

"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?" (Al Qur'an, 78:6-7)

Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.

Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah "isostasi". Isostasi bermakna sebagai berikut:

Isostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster's New Twentieth Century Dictionary, 2. edition "Isostasy", New York, s. 975)

Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu geologi modern dan penelitian gempa, telah dinyatakan dalam Al Qur’an berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung dalam ciptaan Allah.

"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)

Sumber : Harun Yahya
READ MORE - Gunung Sebagai Pasak

18 September, 2011

Jejak Letusan Maut Gunung Tambora

Saat ini tercatat total ada 5 gunung berstatus "siaga" dan 16 lainnya berstatus "waspada".


Foto gunung Tambora bidikan NASA (nasa.gov)
VIVAnews - Akitvitas tiga gunung di Nusa Tenggara terus memperlihatkan kenaikan selama enam hari terakhir. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menaikkan status ketiganya dari "normal aktif" menjadi "waspada" atau berada di level II.

Ketiga gunung api tersebut adalah Gunung Anak Ranakah, Gunung Tambora, dan Lewotobi Perempuan. Hal itu antara lain disebabkan gempa vulkanik dan gempa vulkanik dangkal yang terjadi sejak Juni 2011 lalu.

Dari data yang ada, tercatat letusan terakhir Gunung Anak Ranakah terjadi pada 11 Januari 1988, dengan ketinggian asap mencapai sekitar 8.000 meter, disertai luncuran awan panas yang mengarah ke Wae Reno dan Wae Teko di sebelah utara gunung api.

"Dalam sejarahnya aktivitas vulkanik Gunung Tambora sempat mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815, ketika meletus dalam skala 7 pada Volcanic Explosivity Index," ujar Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nogroho, Rabu, 31 Agustus 2011.
Abu vulkaniknya bahkan sampai di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menewaskan tak kurang 71 ribu orang--di mana 11 ribu sampai 12 ribu orang di antaranya meninggal secara langsung dihantam letusan dahsyat tersebut. Lebih dari itu, letusan gunung ini juga menyebabkan perubahan iklim dunia.
Adapun Gunung Lewotobi Perempuan, tercatat terakhir meletus pada tahun 1935, disertai awan panas.

Dengan naiknya status gunung api tersebut, maka pendakian ke kawah dilarang. Sampai sekarang, belum perlu ada kebijakan mengungsikan warga. Namun, aparat pemerintah daerah dan warga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.
Dengan perubahan status ketiga gunung ini, maka saat ini di seluruh Indonesia terdapat 21 gunung api dengan status di atas normal, yaitu: 5 gunung berstatus "siaga" dan 16 lainnya berstatus "waspada".
• VIVAnews Eko Priliawito, Ronito Kartika Suryani

http://nasional.vivanews.com/news/read/244132-jejak-letusan-3-gunung-aktiv-di-nusa-tenggara
READ MORE - Jejak Letusan Maut Gunung Tambora

Sejarah Kelam Gunung Tambora

Status Gunung Tambora naik ke level 'waspada.' Tahun 1815, Tambora pernah meletus hebat.


Foto gunung Tambora bidikan NASA (nasa.gov)

VIVAnews – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menaikkan status tiga gunung api di Nusa Tenggara pada level II atau ‘waspada.’ Salah satunya adalah Gunung Tambora yang berlokasi di antara Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Aktivitas Gunung Tambora terus meningkat dalam seminggu terakhir. “Awal Agustus 2011, secara visual teramati asap putih tebal setinggi 20 meter dari kawah Doro Api Toi dalam kaldera Tambora. Pada 29 Agustus 2011, terekam 14 gempa vulkanik dalam,” kata Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nusa Tenggara Barat, Eko Bambang Sutedjo, sempat mengatakan bahwa Gunung Tambora sebetulnya telah lama tidur. Maret 2011 lalu, ia bahkan mengatakan tidak ada gelagat bahwa Tambora akan meletus.

Perkembangan terakhir terkait Gunung Tambora, kini tentu patut diwaspadai dan terus dipantau. Pasalnya, Tambora menyimpan sejarah kelam yang tak boleh diremehkan. Sejarah itu tercatat pada tanggal 11 dan 12 April 1815.

Setelah Tambora mulai bergemuruh dan ‘batuk-batuk’ sejak tanggal 5 April 1815, pada 11 April 1815 ia meletus. Getaran kibat letusannya mengguncang bumi hingga jarak ratusan mil, terasa sampai Eropa dan Amerika Utara. Jutaan ton abu dan debu memenuhi udara, mengubah siang menjadi gelap pekat.

Selama lebih dari 10 hari, Tambora mengeluarkan 24 kubil mil lava dan bebatuan gunung. Dahsyatnya letusan itu memunculkan kawah selebar 3 mil dengan kedalaman hampir 1 mil di puncak Tambora. Lelehan lava panas, batu yang beterbangan, dan gas mematikan yang keluar dari perut Tambora, menewaskan puluhan ribu orang.

Badan Geologi Amerika Serikat sampai menobatkan letusan Tambora sebagai letusan gunung yang terkuat sepanjang sejarah. Letusan Tambora bahkan 10 kali lipat lebih dahsyat dari letusan Krakatau, dan 10 ribu kali lebih besar dari letusan Gunung Eyjafjallajökull di Islandia tahun lalu yang mengacaukan lalu lintas penerbangan Eropa.

Tahun 1815 itu, seperti meriam raksasa, Tambora menyemburkan abu, debu, dan setidaknya 400 juta ton gas sulfur ke udara, hingga 27 mil tegak lurus ke strastofer, jauh di atas awan. Hal ini mengakibatkan ledakan di lapisan troposfer. Semburan Tambora bahkan menyobek lapisan tipis ozon yang melindungi bumi dari radiasi sinar matahari.

Daya tarik gravitasi yang ringan di angkasa, membuat abu dan debu Tambora melayang dan menyebar mengelilingi dunia. Debu Tambora menetap di lapisan troposfer selama beberapa tahun, sebelum turun kembali ke bumi melalui angin dan hujan.

Letusan Tambora berakibat luar biasa. Terjadi gagal panen di China, Eropa, dan Irlandia. Terjadi hujan tanpa henti selama 8 minggu di Eropa, yang memicu epidemi tifus yang menewaskan 65 ribu orang di Inggris dan Eropa. Terjadi kepalaran yang melumpuhkan Inggris dan Prancis. Kelaparan di Prancis bahkan lebih jauh lagi, menyulut kerusuhan di negeri itu.

Akibat letusan Tambora, kegelapan menyelimuti Bumi, menginspirasi novel-novel misteri legendaris seperti 'Darkness' karya Lord Byron, 'The Vampir' karya Dr. John Palidori dan 'Frankenstein' karya Mary Shelley. Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Tambora juga ikut mengubah sejarah, saat Napoleon kalah akibat musim dingin berkepanjangan dan kelaparan pada tahun 1815 di Waterloo.

“Tahun 1815 itu, tak ada musim panas, sehingga terjadi kelaparan hebat di Eropa, kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Bencana Geologi, Surono. Tahun itu dikenal di Eropa dengan julukan ‘The Year without Summer.’ Maka, jangan lelah dengan jejak kelam Tambora.

• VIVAnews Anggi Kusumadewi

http://nasional.vivanews.com/news/read/244154-sejarah-kelam-gunung-tambora
READ MORE - Sejarah Kelam Gunung Tambora

Letusan Gunung Tambora 1:10.000 Lebih Dahsyat Dibanding Eyjafjallajökull

Letusan Gunung Eyjafjallajokull di Islandia menyemburkan abu vulkanik yang memusingkan, karena mengacaukan lalu lintas udara Eropa. Ribuan penumpang tertahan di bandara, perekonomian terganggu, barang-barang komoditas pertanian membusuk karena tak bisa dikirim.

Namun, menurut laman Wall Street Journal, Sabtu 24 April 2010 dampak letusan Gunung Eyjafjallajökull tak sebanding dengan letusan Gunung Tambora di Sumbawa Indonesia.

Pada 5 April 1815 sore, gunung berapi Tambora mulai bergemuruh dan 'batuk -batuk'. Kondisi ini terjadi dalam beberapa hari.

Beberapa hari kemudian, pada 11 dan 12 April letusan Gunung Tambora mencapai klimaksnya. Gunung besar itu meletus, getarannya mengguncangkan bumi hingga jarak ratusan mil.

Selama lebih dari 10 hari kemudian, Tambora mengeluarkan 24 kubik mil (1 mil = 1,6 kilometer) lava dan bebatuan gunung. Saking dahsyatnya, di puncak Tambora tercipta kawah selebar tiga mil dan dalamnya hampir 1 mil.

Lelehan lava panas, batu yang berterbangan, dan gas mematikan yang keluar dari perut Tambora saat itu menewaskan puluhan ribuan orang.

Jutaan ton abu dan debu memenuhi udara, mengubah siang hari menjadi gelap gulita. Debu tebal menyelimuti wilayah kaki gunung dan bahkan Bali.

Debu menutup semua vegetasi di Pulau Bali dan menyelimuti lautan. Sekitar 117.000 orang di wilayah yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda tewas. Banyak dari mereka terkena imbas letusan, jadi korban kelaparan dan penyakit.

Itu baru permulaan.

Letusan gunung di Islandia sama sekali bukan bandingan untuk Tambora. Badan Geologi Amerika Serikat atau US Geological Survey bahkan menobatkan letusan Tambora sebagai "yang terkuat sepanjang sejarah".

Letusan Tambora bahkan lebih dahsyat dari Krakatau. Menurut data Volcanic Explosivity Index (VEI), indeks letusan gunung yang mirip skala Richter untuk mengukur kekuatan gempa.

Perhitungan VEI ada pada skala 1 hingga 8, setiap satu angka adalah 10 lebih besar dari sebelumnya. Tambora ada di level tujuh, Krakatau enam. Ini berarti Tambora lebih kuat 10 kali lebih besar dari letusan Krakatau.

Bagaimana letusan gunung Islandia? Leel VEI-nya hanya dua atau tiga. Atau 10.000 kali lebih lemah dari Tambora.

Letusan Eyjafjallajökull 'saja' bisa mempengaruhi atmoser dan membuat dunia penerbangan kalang kabut.

Tak terbayang jika Tambora meletus di era ini. Seperti meriam raksasa, tambora menyemburkan abu, debu, dan setidaknya 400 juta ton gas sulfur ke udara, hingga 27 mil tegak lurus ke strastofer, jauh di atas awan cuaca.

Ini mengakibatkan ledakan di lapisan troposfer lapisan terdekat dari permukaan Bumi, di mana awan, angin, dan hujan, serta 75 persen dari berat atmosfer berada.

Semburan Tambora juga menyobek lapisan tipis ozon yang melindungi Bumi dari radiasi sinar matahari.

Karena daya tarik grafitasi yang ringan di angkasa, abu dan debu Tambora melayang dan menyebar mengelilingi dunia. Debu Tambora menetap di lapisan troposfer selama beberapa tahun dan turun melalui angin dan hujan kembali ke Bumi.

Letusan gunung Tambora berakibat luar biasa. Gagal panen di China, Eropa, dan Irlandia. Hujan tanpa henti selama delapan minggu memicu epidemi tifus yang menewaskan 65.000 orang di Inggris dan Eropa. Kelaparan melumpuhkan di Inggris.

Kegelapan menyelimuti Bumi, menginspirasi novel-novel misteri legendaris misalnya, 'Darkness' atau 'Kegelapan' karya Lord Byron, 'The Vampir' atau 'Vampir' karya Dr John Palidori dan novel 'Frankenstein' karya Mary Shelley.

Tambora juga jadi salah satu pemicu kerusuhan di Perancis yang warganya kekuarangan makanan. Juga mengubah sejarah saat Napoleon kalah akibat musim dingin berkepanjangan dan kelaparan pada 1815 di Waterloo.

http://ndeso-net.blogspot.com/2010/04/ternyata-letusan-gunung-tambora-110000.html
READ MORE - Letusan Gunung Tambora 1:10.000 Lebih Dahsyat Dibanding Eyjafjallajökull

Letusan Gunung Tambora (NTB) dan Kekalahan Napoleon Bonaparte

Letusan Gunung tambora ternyata memiliki relasi yang menarik: kekalahan Napoleon Bonaparte. Bagaimana semua itu bisa terjadi.

18 Juni 1815. Hari itu mungkin menjadi saat yang paling disesali Napoleon Bonaparte sepanjang hidupnya. Menjelang matahari tenggelam pada hari itu, Napoleon dan bala tentaranya terjepit pasukan Inggris dan Prussia di Waterloo, sebuah dataran rendah di kawasan Belgia. Pagi hari sebelumnya, Napoleon memutuskan mengundurkan serangan yang telah ia persiapkan karena cuaca yang memburuk. Kala itu, ia berharap cuaca buruk akan lewat pada tengah hari dan pertempuran bisa dimulai. Namun, penguasa Prancis itu salah.

Cuaca tetap buruk dan napoleon gagal menghimpun pasukannya tepat waktu. Konsolidasi pasukan musush lebih cepat. Kereta-kereta penghela meriam Napoleon terjebak lumpur karena tanah masih diliputi salju. Secara ironis, “Perang 100 Hari” yang telah disiapkan Napoleon itu justru gagal karena satu hal yang tak pernah diduganya: cuaca buruk.

-Memang sebelumnya Napoleon juga pernah kalah perang sebenarnya, tatkala menyerang Rusia. Mereka terjebak di Moskow. Austria dan Prusia melihat peluang itu untuk mengalahkan Perancis. Lalu pertempuran hebat berkobar. Di kota Leipzig pada oktober 1813, Napolon menderita kekalahan telak yang membuatnya dibuang ke pulau Elba. Tapi riwayat Napoleon belum tamat. Ia berhasil lolos dari Elba dan kemudian kembali ke Perancis. Inilah saat dimulainya “Perang 100 Hari”, pasca ia berkuasa kembali. Kekuatan-kekuatan utama Eropa yang dikomandani Inggris dan Austria segera menyatakan perang terhadap perancis. Perang berkecamuk, dan akhirnya berakhir di Waterloo.-

Sejak awal Juni 1815 di Eropa memang terjadi “hujanm salah musim”. Selama beberapa mingu, kota-kota di Eropa dirundung hujan amat deras. Jalan-jalan kota di Eropa terendam, transportasi jadi lambat. Itu juga yang membuat Napoleon menyerah . perang di Waterloo adalah akhir dari sebuah kisah tragis Napoleon Bonaparte.

Akibat Sebuah Letusan

Kekalahan Napoleon di Waterloo membuat peta politik dunia berubah. Perancis yang sebelumnya menjai salah satu negara dengan kekuatan yang luas, berubah menjadi negara dengan wilayah kekuasaan yang lebih sempit, lebih kecil jika dibandingkan wilayah Perancis saat meletusnya Revolusi Perancis.
Yang tak banayk diketahui adalah adanya kaitan antara cuaca buruk di waterloo dengan sebuah fenomena alam yang terjadi jauh dari Eropa. Kenneth Spink, seorang pakar geologi, membuat sebuah “teori”-yang tentu harus masih harus diuji-yang menyebut kekalahan Napoleon merupakan akibat letusan sebuah gunung bernama Tambora. Dalam sebuah pertemuan ilmiah tentang Applied Geosciences di Warwick, Inggris, pada 1996, Spink mengatakan letusan Gunung Tambora telah berdampak besar terhadap tatanan iklim dunia kala itu, termasuk waterloo pada tahun 1815.

Gunung Tambora secara administratif masuk wilayah Propinsi Nusa Tenggara barat. Gunung itu meliputi dua kabupaten, yaitu Dompu dan Bima. Nama Tambora sebenarnya berasal dari dua kata yakni “ta” dan “mbora” yang secara keseluruhan bermakna “ajakan menghilang”.

Sebelum meletus, gunung Tambora merupakan salah satu puncak tertinggi di Indonesia, yakni sekitar 4.300 meter. Setelah meletus, ketinggian gunung turun drastis, menjadi 3000 meter. Sisa letusan kini menjadi sebuah kaldera, kaldera terbesar Indonesia sekarang.

Letusan gunung Tambora yang amat dahsyat terjadi pada hari-hari di bulan April 1815 dengan skala letusan tujuh Volcanic Explosivity Index. Puncak letusan terjadi mulai tanggal 10-15 April. Para ahli menyebut letusan itu merupakan terbesar sepanjang 10.000 tahun. Meledak dengan kekuatan sekitar 1.000 megaton TNT. Letusan Tambora diperkirakan empat kali lipat lebih dahsyat dari letusan Gunung Krakatau dan enam juta kali letusan bom atom di Hiroshima. Letusan terdengar sejauh 2500 kilometer, dan abu jatuh setidaknya sejauh 1300 kilometer. Ada dokumen yang menyebutkan penemuan seonggok mayat di ” rakit” batu apung yang terdampar ke pantai Afrika setahun kemudian. Kegelapan terlihar sejauh 600 kilometer dari puncak. Dengan kekuatan sebesar itu, tentu wajar jika dua bulan kemudian setelahnya cucaca buruk akibat letusan Tambora masih terasa di eropa dan bahkan mengakibatkan kekalahan Napoleon. Tapi, Tambora bukan hanya membuat Napoleon kalah.Korban langusung yang berjatuhan diperkirakan 30.000. korban juga terdapat di Bali dan Jawa Timur karena penyakit dan kelaparan.

Akibat letusan itu pula dunia mengenag tahun 1816 sebagai “tahun tanpa musim panas”. Di Eropa barat, Amerika dan Kanada berhembus udara beku yang mematikan. Debu vulkanis yang disemburkan tambora menyelimuti permukaan laut, dan abu pekat tersebut “berkeliling dunia” sepanjang tahun membuat sinar matahari tertutup. Paola cuaca di dunia menjadi jungkir balik. Di New England, AS, salju turun pada bulan Juli dan udara beku pada Juli-Agustus membuat paceklik. Sungai es terlihat pada bulan Juli di Pennsylvania, dan ratusan ribu orang meninggal karena kelaparan di seluruh dunia. Letusan Tambora juga menyebarkan penyakit kolera ke seluruh dunia. Dalam artikel Mount Tambora in 1815: A Colcanic Eruption in Indonesia and Its Aftermaths, Bernice de Jong Boers menyebut letusan Tambora pemicu pecahnya epidemik kolera pertama ke dunia.

http://ariebrain.wordpress.com/2010/04/10/letusan-gunung-tambora-ntb-dan-kekalahan-napoleon-bonaparte/


READ MORE - Letusan Gunung Tambora (NTB) dan Kekalahan Napoleon Bonaparte

Ketika Waktu Serasa Berhenti di Calabai

Robertus Benny Dwi K.


KOMPAS.com - Kawasan lereng Gunung Tambora di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, punya sejumlah syarat menjadi tanah harapan. Lahan yang subur menjadikan kawasan itu unggul di bidang pertanian dan perkebunan, sementara ladang-ladang yang luas menjadi tempat ideal untuk peternakan sapi. Panorama yang indah -dari Gunung Tambora, gugusan pulau, pantai hingga pesona alam bawah lautnya- menjadikannya pantas menjadi tujuan wisata ternama.

Namun, semua itu seakan terhempas dan terampas karena minimnya infrastruktur jalan yang memadai. Waktu benar-benar serasa berhenti ketika kita berada di desa-desa di sekitar gunung itu. Mulai dari Calabai hingga Tambora. Mulai dari Nangamiro hingga Pekat.

Kerongkongan dan mata kami sudah sama-sama kering berharap perbaikan atau pembangunan, demikian warga setempat selalu bergumam ketika orang lain mempertanyakan buruknya kondisi infrastruktur jalan di sekitar Gunung Tambora.

Pengalaman diguncang gempa berkekuatan 6,6 skala Richter pertengahan 2008 lalu tidak juga membuka mata para pejabat pusat maupun daerah. Waktu itu saja, rombongan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah dan Gubernur NTB Lalu Srinata merasakan dahsyatnya jalur ibukota Kabupaten Dompu di Dompu menuju Kecamatan Pekat sepanjang sekitar 120 kilometer, dua hari setelah gempa terjadi.

Untungnya, guncangan gempa tempo hari itu tidak terlalu parah mengakibatkan kerusakan, sehingga bantuan makanan dan obat-obatan tidak terlalu mendesak. Lain ceritanya bila yang terjadi sebaliknya. Katakan saja, kerusakannya parah dan kemungkinan korban luka atau bahkan tewas banyak, tentu persoalan rusaknya infrastruktur jalan itu akan semakin menyengsarakan.

Sekitar 70 kilometer dari jalan menuju Pekat dari Dompu berupa jalan rusak, dengan aspal mengelupas parah, bahkan di banyak lokasi tanpa aspal lagi. Jarak yang seharusnya bisa ditempuh dalam tempo 3 jam pun harus ditempuh 5-6 jam. Itu pun dengan sopir dan atau kendaraan yang benar-benar siap menghadapi kondisi jalan yang lebih mirip sungai kering itu.

Terhambatnya akses jalan di lereng Gunung Tambora menuju Dompu sebagai pusat kota kabupaten telah lama dikeluhkan warga setempat. Hal yang paling mencolok mereka rasakan selain lebih lamanya waktu tempuh adalah bertambahnya beban biaya.

Untuk mencarter kendaraan roda empat dari Dompu, contohnya, mereka harus mengeluarkan biaya minimal Rp 1,5 juta. Sementara untuk naik kendaraan umum berupa bus, tiap kepala harus membayar Rp 35.000.

Itupun untuk angkutan yang hanya sekali sehari datang dan perginya, dan kalau sedang sial, harus siap-siap naik di atap bus bersama setumpuk barang-barang penumpang lain. Jelas berisiko!

Camat Pekat, Abdurrahman Abidin, mengungkapkan pihaknya sudah melaporkan kondisi jalur Dompu-Gunung Tambora sejak sekitar lima tahun terakhir, baik ke Pemerintah Provinsi NTB maupun pemerintah pusat. Namun, tidak pernah ada tanggapan berarti, selain janji-janji.

Pemkab Dompu sudah berbuat maksimal dengan memperbaiki jalan-jalan kabupaten, tapi jalan negara kami tidak bisa berbuat banyak. "Kami tahu negara punya skala prioritas, tapi kami harus menunggu sampai kapan," kata Abdurrahman, awal Agustus lalu.

Jalan rusak itu juga merupakan penghalan g utama para pendaki Gunung Tambora, salah satu gunung dengan luas kawah terbesar di dunia, yakni memiliki sebuah kaldera bergaris tengah sekitar 7 kilometer dan dasar kawah berukuran 3.500 x 4.000 meter, serta mempunyai kedalaman 950 meter. Di dalam kaldera sebelah barat terdapat sebuah danau dengan garis tengah membentang dari selatan hingga utara selebar 800 m.

Banyak keluhan dari para pendaki, terutama para turis. Mereka mengurungkan niatnya, atau tidak kembali lagi ke Tambora selama jalan menuju ke sini belum diperbaiki.

"Sayang sekali, karena aset Tambora ini begitu besar sebenarnya," kata Syaiful Bachri, Ketua Kelompok Pecinta Alam Tambora, kelompok pecinta alam yang juga biasa menjadi pemandu wisata mendaki Gunung Tambora.

Tertolong komunikasi

Cukup beruntung, buruknya infrastruktur jalan itu tidak terjadi di bidang komunikasi. Hal ini sekaligus menjadi faktor penolong, meskipun sejatinya keduanya bersifat komplementer. Di saat operator lain hampir tidak menjangkau wilayah itu, kehadiran Telkomsel sangat berarti.

Ketika gempa terjadi, misalnya, semua informasi tentang kondisi pascagempa sebagian besar terlayani oleh operator itu, termasuk jenis bantuan yang dibutuhkan pun dapat terkomunikasikan dengan cepat.

Kawasan lereng Tambora termasuk dalam program pengadaan sedikitnya 27.800 base transceiver station (BTS ) untuk meliputi lebih dari 95 persen populasi Indonesia oleh Telkomsel telah menggelar. Di Kabupaten Dompu sendiri, operator itu menyediakan lebih dari 30 unit BTS untuk melayani sekitar 200.000 pelanggan. Dengan jumlah pelanggan serta kebutuhannya, Telkomsel sekaligus juga menyediakan layanan pengiriman data dengan teknologi general packet tadio service (GPRS ).

Di bidang ekonomi, sistem komunikasi telepon seluler juga membantu warga setempat mendapatkan pesanan dalam jalur jual-beli hasil perekonomian utama. Telepon seluler, antara lain mempermudah sekaligus mempercepat informasi harga maupun kuantitas produk panen warga.

Hasil perkebunan dari lereng Gunung Tambora, terutama kopi dan kacang mete, tidak perlu diragukan. Dompu merupakan salah satu wilayah penghasil jambu mete terluas di NTB. Menurut data BPS, l uas areal tanaman jambu mete di kabupaten itu pada tahun 2004 mencapai 13.995 hektar atau sekitar 23,70 persen dari luas tanaman jambu mete di NTB.

Produksi per tahun mencapai 2.888 ton atau rata-rata 300,74 kg gelondong per hektar per tahun. Produktivitas tertinggi dicapai di Desa Kedindi, Kecamatan Pekat yaitu sebanyak 540,7 kg/ha/tahun

Melalui telepon seluler, pelaku wisata setempat juga memeroleh informasi pesanan wisatawan. Bulan Juli-September adalah masa terbanyak Gunung Tambora menerima kedatangan pendaki, khususnya dari mancanegara, seperti Perancis, Inggris, dan Jerman.

Dalam sebulan, rata-rata sekitar 150 wisatawan ingin mendaki Gunung Tambora. Menurut Syaiful, jumlah wisatawan itu dipastikan meningkat drastis apabila infrastruktur jalan di lereng Tambora membaik. Karena kondisi jalan yang rusak, sejumlah wisatawan saat ini lebih memilih menggunakan jalur laut, naik kapal cepat dari Mataram maupun Bali.

Jadi, warga tetap menanti primanya infrastruktur jalan, sehingga lancarnya komunikasi dan angkutan manusia maupun barang dapat berjalan seiring," kata Syaiful.

http://nasional.kompas.com/read/2009/08/17/11213346/function.simplexml-load-file
READ MORE - Ketika Waktu Serasa Berhenti di Calabai

Letusan Abad VI Lebih Dahsyat dari Gunung Tambora

Gunung Tambora

Endapan lapisan asam yang digali dari dasar es Greenland menunjukkan kemungkinan terjadinya letusan dahsyat yang pernah terjadi pada abad VI. Kekuatannya mungkin lebih besar daripada Letusan Gunung Tambora di Sumbawa dan sempat membuat seluruh permukaan Bumi gelap.

Bukti terjadinya letusan berupa ditemukannya molekul asam sulfat di lapisan es Greenland. Molekul-molekul tersebut mendukung cerita dalam naskah kuno bahwa pada tahun 536 wilayah Asia, Mesopotamia, hingga Eropa menghadapi bencana gelap dan dingin yang menyebabkan kerusakan lahan pertanian, memicu peperangan, dan wabah penyakit. Sebelumnya cerita ini masih menjadi misteri karena tidak ditemukan bukti-bukti apapun, jejak letusan atau jatuhnya meteor besar.

Pengujian menunjukkan molekul sulfat di Greenland menegndap antara tahun 533-536. Usianya cocok dengan usia lapisan sulfat dalam jumlah besar yang ditemukan di inti es dari Antartika. Data tersebut juga konsisten dengan informasi dari lingkaran-lingkaran batang pohon tua dari belahan Bumi utara yang menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhannya mengalami penurunan selama seabad dimulai tahun 536.

Peristiwa semacam ini tercatat dalam teks kuno China yang menceritakan bahwa kegelapan berlangsung sekitar setahun. Kelaparan melanda dan salju turun di musim panas. Pada kurun waktu yang sama, orang nomaden Mongolia yang dikenal sebagai kaum Avars juga diceritakan bermigrasi ke Eropa. Meski kontroversial, beberapa ahli sejarah juga mengaitkan masa kegelapan ini sebagai pemicu runtuhnya peradaban Mesoamerika di Teotihuacan, wabah penyakit pes yang meluas di Eropa dan Timur Tengah, kebangkitan Islam, dan jatuhnya kekisaran Romawi. 

"Tidak diragukan lagi penyebab peristiwa bencana sebesar itu, sebab bukti tersebut cukup untuk menyimpulkan bahwa penyebab letusan besar," kata Keith Briffa, dari Universitas East Anglia, Inggris. Temuannya telah dilaporkan dalam jurnal Geophysical Research Letters edisi terbaru. Namun, gunung mana yang meletus kembali menjadi tanda tanya.

Yang masih membingungkan lagi, efek pendinginan Bumi tersebut tidak terlihat pengaruhnya di belahan Bumi selatan. Namun, bukti-bukti tersebut memperlihatkan bahwa efek letusan terhadap suhu Bumi lebih besar daripada letusan Gunung Tambora tahun 1815 maupun Krakatau tahun 1883.(NG/WAH)

http://nasional.kompas.com/read/2008/03/20/21130297

Baca Artikel Dana Mbojo / Bima Lainnya
 
Untuk kebutuhan Air Minum yang menyehatkan  coba konsumsi Air Izaura Air yang terbukti dapat membantu proses penyembuhan Kegemukan, Migran, Alergi, Sakit Maag, ASam Urat, Nyeri Sendi, Sambelit, Saking Pinggang, Osteiporosis, Reumatk, Kanker, Vertigo, Ashma, Brinchitis, Darah Tinggi, Kencing Batu, Kolestrol, DIABetes, Jantung, Darah Rendah, Jerawat', WAsir dan Batu Ginzal. Dan menghilangkan racun dalam tubuh.



Mau Sehat dan Menyehatkan Minum Air Izaura
 Mau Meraih Penghasilan Besar, Membantu Kesehatan Semua Orang dan Memiliki Bisnis Yang Mudah Anda Jalankan dengan Modal 350 ribu s.d 500 ribu.

Berminat Hub Mukhtar, A.Pi  HP. 081342791003 
 



Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempat 
Kos Putri Salsabilla Kendari
 Hub 081342791003

Menerima pesanan Kanopi, Pagar Besi, Jendela
 dengan Harga Murah dengan Sistim Panggilan.
Topi Pegawai Ditjen Perikanan Tangkap
Berminat Hub 081342791003 
Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di GRIYA GODO PERMAI BIMA
Berminat Hub 081342791003 
Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.
READ MORE - Letusan Abad VI Lebih Dahsyat dari Gunung Tambora