Renungan tentang keseimbangan hidup, hakikat rezeki, dan perjalanan panjang menuju kehidupan yang abadiAssalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim
Sahabatku yang dirahmati Allah,
Setiap pagi, kita bangun dengan berbagai harapan. Ada yang bergegas mencari nafkah, ada yang sibuk mengurus pekerjaan, ada yang berjuang membangun usaha.
Kita bekerja keras demi keluarga. Kita mengumpulkan harta agar kehidupan lebih nyaman.
Semua itu bukanlah sesuatu yang salah. Bekerja, mencari rezeki yang halal, dan memenuhi kebutuhan keluarga merupakan bagian dari tanggung jawab kita.
Namun, di tengah kesibukan mengejar semua itu, ada satu pertanyaan yang terkadang terlupakan:
Apakah kita begitu sibuk mempersiapkan kehidupan di dunia, sampai lupa mempersiapkan kehidupan setelah kematian?
Kita begitu teliti menghitung penghasilan, tetapi kapan terakhir kali kita menghitung kekurangan amal?
Kita rela mengorbankan waktu tidur demi pekerjaan, tetapi terkadang merasa berat meluangkan waktu untuk beribadah.
Kita merencanakan masa depan ber-tahun² ke depan, tetapi tidak pernah benar² tahu apakah esok hari masih menjadi milik kita.
Dunia memang perlu diperjuangkan, tetapi jangan sampai kesibukan memperjuangkannya membuat kita melupakan tujuan akhir perjalanan.
DUNIA BUKAN MUSUH, TETAPI JANGAN SAMPAI MENJADI TUJUAN SE-GALA² NYA
Allah Ta'ala berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Wabtaghi fīmaa aataakallaahud-daaral-aakhirata wa las tansa naṣiibaka minad-dunyaa
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan yang sangat indah.
Islam tidak menyuruh kita meninggalkan dunia. Islam mengajarkan agar dunia yang kita miliki menjadi sarana untuk meraih kebaikan yang lebih besar.
Carilah rezeki dengan sungguh², tetapi pastikan caranya halal. Bangunlah usaha dengan tekun, tetapi jangan mengorbankan kejujuran. Kumpulkanlah harta, tetapi jangan biarkan harta menguasai hati.
Sebab, yang menjadi persoalan bukanlah seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan bagaimana cara kita memperolehnya, menggunakannya, dan mempertanggungjawabkannya.
Ada orang yang hartanya banyak, tetapi hidupnya dipenuhi kecemasan. Ada pula orang yang hartanya sederhana, tetapi hatinya lapang karena pandai bersyukur.
JANGAN SAMPAI KITA MEMILIKI SEGALANYA, TETAPI KEHILANGAN YANG PALING BERHARGA
Pernahkah kita melihat seseorang yang begitu sibuk mencari nafkah hingga hampir tidak memiliki waktu untuk keluarganya?
Ia bekerja keras demi kebahagiaan anak² nya, tetapi jarang menemani mereka tumbuh.
Ia ingin memberikan masa depan yang baik, tetapi lupa bahwa kehadiran, keteladanan, dan do"a juga merupakan bagian penting dari warisan kehidupan.
Begitu pula dalam hubungan kita dengan Allah. Kita ingin hidup lebih tenang, tetapi terkadang melupakan salat. Kita ingin rezeki yang berkah, tetapi kurang memperhatikan kejujuran.
Padahal, kesuksesan bukan hanya tentang apa yang berhasil kita kumpulkan, melainkan juga tentang apa yang berhasil kita jaga.
Jaga hubungan dengan Allah. Jaga amanah keluarga. Jaga kejujuran dalam pekerjaan. Jaga pula kesempatan berbuat baik sebelum kesempatan itu berakhir.
Jangan sampai kelak kita menyadari bahwa selama ini kita begitu sibuk membangun kehidupan, tetapi lupa merawat hal² yang membuat kehidupan itu benar² bermakna.
REZEKI BOLEH DICARI, TETAPI JANGAN SAMPAI MENGALAHKAN KEWAJIBAN
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ
Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa tulhikum amwaalukum wa laa aulaadukum 'an dzikrillaah
Wahai orang² yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak² mu melalaikan kamu dari mengingat Allah. (QS. Al-Munafiqun: 9)
Perhatikanlah, Allah tidak melarang kita memiliki harta. Yang diperingatkan adalah ketika semua itu membuat kita lalai dari mengingat-Nya.
Kita bisa meluangkan waktu untuk urusan pekerjaan, tetapi sulit menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur'an. Kita bisa mengingat jadwal pekerjaan dengan sangat teliti, tetapi terkadang lalai menjaga waktu salat.
Karena itu, marilah kita menata kembali prioritas kehidupan.
Bekerjalah dengan sungguh², tetapi jangan lupakan kewajiban kepada Allah. Sayangilah keluarga sepenuh hati, tetapi ajaklah mereka mendekat kepada-Nya.
WAKTU TERUS BERJALAN, SEMENTARA KESEMPATAN HIDUP TIDAK BISA KITA PASTIKAN
Ketika masih muda, kita sering merasa bahwa waktu masih sangat panjang. Kita berkata, nanti kalau sudah mapan, kita akan lebih rajin beribadah. Nanti kalau usaha sudah berkembang, kita akan lebih banyak bersedekah.
Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ketika satu urusan selesai, urusan lain datang menyusul. Akhirnya, kita terus berkata, "Nanti."
Padahal, tidak ada yang menjamin bahwa kesempatan itu akan selalu tersedia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Ni'mataani maghbuunun fīhimaa katsiirun minan-naas: aṣ-ssihhatu wal-faraagh
Dua nikmat yang banyak manusia tertipu (hingga merugi) karenanya: kesehatan dan waktu luang.
(HR. Bukhari, No. 6412)
Betapa banyak orang baru menyadari berharganya kesehatan setelah jatuh sakit. Betapa banyak orang baru memahami berharganya waktu setelah kehilangan kesempatan.
Karena itu, jangan menunggu usia senja untuk mulai mendekat kepada Allah. Jangan menunggu kaya untuk belajar bersedekah.
Mulailah dari apa yang mampu kita lakukan hari ini. Jika belum mampu bersedekah banyak, bersedekahlah sesuai kemampuan. Jika belum mampu membaca Al-Qur'an banyak, mulailah sedikit demi sedikit secara rutin.
Sebab, amal yang baik tidak harus menunggu kehidupan menjadi sempurna.
HARTA YANG KITA KUMPULKAN AKAN TINGGAL, TETAPI AMAL AKAN MENJADI PERTANGGUNGJAWABAN
Pada akhirnya, kita akan meninggalkan rumah yang kita bangun, kendaraan yang kita gunakan, dan harta yang kita kumpulkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
Yatba'ul-mayyita tsalaatsatun, fayarji'u itsnaani wa yabqaa waahidun. Yatba'uhuu ahluhuu wa māluhuu wa 'amaluh, fayarji'u ahluhuu wa maaluhuu wa yabqaa 'amaluh
Ada tiga perkara yang mengikuti orang yang meninggal dunia: keluarga, harta, dan amalnya. Dua akan kembali, sedangkan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist ini bukan untuk membuat kita membenci harta. Sebaliknya, hadist ini mengajak kita memahami bahwa harta dan keluarga tidak dapat menggantikan tanggung jawab amal kita di hadapan Allah.
Karena itu, selagi masih diberi kesempatan, gunakanlah apa yang kita miliki untuk menanam kebaikan.
Jika memiliki harta, tunaikan zakat dan bersedekahlah sesuai kemampuan. Jika memiliki ilmu, bagikanlah dengan cara yang bermanfaat.
Jangan hanya sibuk mengumpulkan sesuatu yang akan kita tinggalkan. Sibukkan juga diri dengan menyiapkan amal yang kita harapkan pahalanya di akhirat.
JANGAN MENUNDA TOBAT DAN KEBAIKAN
Tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan. Jika itu pernah terjadi, jangan biarkan penyesalan berubah menjadi keputus-asaan.
Allah Ta'ala berfirman :
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Wa saari'uu ilaa maghfiratim mir rabbikum wa jannatin 'arḍuhas-samāwātu wal-arḍu u'iddat lil-muttaqīn
Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang² yang bertaqwa. (QS. Ali 'Imran: 133)
Ayat ini mengajak kita untuk tidak me-nunda² mencari ampunan Allah dan melakukan kebaikan.
Jika ada dosa, bertobatlah. Jika ada kewajiban yang diabaikan, mulailah memperbaikinya. Jika ada hak orang lain yang belum kita tunaikan, usahakan untuk menyelesaikannya.
Jangan merasa bahwa masa lalu yang buruk membuat kita tidak layak menjadi lebih baik. Namun, jangan pula menjadikan luasnya rahmat Allah sebagai alasan untuk terus menunda perubahan.
Mulailah hari ini, meskipun langkah kita masih kecil.
SEIMBANGKAN IKHTIAR DUNIA DAN BEKAL AKHIRAT
Hidup yang baik bukanlah hidup yang hanya dipenuhi urusan dunia, tetapi juga bukan berarti mengabaikan dunia demi mengejar akhirat dengan melalaikan tanggung jawab.
Kita tetap perlu bekerja, mencari nafkah, mendidik anak, dan memenuhi amanah.
Namun, semua itu hendaknya dijalani dalam ketaatan kepada Allah.
Jadikan pekerjaan sebagai jalan mencari rezeki yang halal. Jadikan keluarga sebagai tempat menumbuhkan kasih sayang. Jadikan harta sebagai sarana menolong, bukan alasan untuk menyombongkan diri.
Kita tidak harus menunggu menjadi kaya untuk menjadi dermawan. Kita tidak harus menunggu menjadi tua untuk menjadi lebih taat.
Dunia adalah tempat kita berusaha, sementara akhirat adalah kehidupan yang perlu kita persiapkan dengan sungguh².
Maka, bekerjalah se-baik² nya, cintailah keluarga sepenuh hati, dan beribadahlah dengan penuh kesadaran. Tempatkanlah dunia sebagai sarana untuk meraih ridho Allah.
PENUTUP: JANGAN SAMPAI KITA BARU SADAR KETIKA WAKTU TELAH HABIS
Sahabatku yang kusayangi karena Allah,
Suatu hari nanti, perjalanan kita di dunia akan berakhir. Tidak ada yang mengetahui dengan pasti kapan kesempatan terakhir kita akan tiba.
Mungkin hari ini kita masih memiliki banyak rencana. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun, di antara seluruh rencana tersebut, jangan lupa menyisakan ruang untuk mempersiapkan kepulangan kita kepada Allah.
Jangan sampai kita begitu sibuk memikirkan bagaimana hidup menjadi lebih nyaman, tetapi lupa memikirkan bagaimana mempertanggungjawabkan kehidupan.
Jangan sampai kita terus berkata, "Nanti saya akan memperbaiki diri," sampai akhirnya tidak ada lagi kesempatan untuk mengatakan itu.
Jika hari ini Allah masih memberi kita kesehatan, gunakanlah untuk beribadah. Jika hari ini Allah masih memberi kita rezeki, gunakanlah untuk kebaikan. Jika hari ini kita masih memiliki kesempatan untuk bertobat, jangan menundanya.
Kita boleh mengejar dunia dengan sungguh², tetapi jangan biarkan dunia mengambil seluruh perhatian kita. Kita boleh berharap hidup berkecukupan, tetapi jangan sampai lupa bersyukur.
Karena se-baik² nya kehidupan bukanlah sekadar kehidupan yang berhasil kita bangun di dunia, melainkan kehidupan yang kita jalani dengan penuh tanggung jawab dan kita harapkan berakhir dalam ridho Allah.
Semoga kita termasuk orang² yang mampu menikmati nikmat dunia tanpa diperbudak olehnya, mencari rezeki tanpa melupakan ibadah, dan mencintai kehidupan tanpa melupakan akhir perjalanan.
Ingatlah, sahabatku: jangan terlalu lelah mengejar sesuatu yang akan kita tinggalkan, sampai lupa mempersiapkan sesuatu yang akan kita hadapi.
DOA AGAR DIBERIKAN KEBAIKAN DUNIA DAN AKHIRAT
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Berkahilah rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami, lapangkanlah hati kami untuk bersyukur, dan bimbinglah kami agar senantiasa mencari nafkah melalui jalan yang halal dan Engkau ridhoi.
Jangan biarkan kesibukan dunia melalaikan kami dari mengingat-Mu. Jangan biarkan harta membuat kami sombong, dan jangan biarkan keinginan dunia membuat kami lupa akan kehidupan akhirat.
Berikanlah kami kekuatan untuk menunaikan kewajiban, menjaga amanah, menyayangi keluarga, membantu sesama, dan memperbaiki setiap kesalahan.
Ampunilah dosa² kami, dosa² kedua orang tua kami, dosa² keluarga kami, dan dosa² orang² yang telah mengajarkan kebaikan kepada kami.
Karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan perlindungan dari azab neraka.
Āamīn yā Rabbal 'aālamīn.
Semoga Allah *memberkahi setiap langkah kita, mencukupkan rezeki kita dengan yang halal, menenteramkan hati kita dengan iman, dan menjadikan sisa umur kita sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal saleh.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wavarakatuh 🙏🙏