Tampilkan postingan dengan label Bumiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bumiku. Tampilkan semua postingan

01 Oktober, 2017

Hemat Energi, KKP Raih Tiga Kategori Penghargaan Subroto 2017

KKPNews, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berhasil menyabet tiga kategori Penghargaan Subroto 2017 yang digelar oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yaitu juara 1 Bangunan Gedung Hemat Energi subkategori Bangunan Gedung Hijau Besar untuk Gedung Mina Bahari IV; Juara 1 Penghematan Energi di Instansi Pemerintah subkategori Pemerintah Pusat; dan Juara 2 Bangunan Hemat Energi subkategori Bangunan Gedung Baru untuk Gedung Mina Bahari IV.
 
Penganugerahan dilaksanakan di XXI Ballroom, Djakarta Theater, Jakarta, Rabu (27/9) malam, dan dibuka langsung oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan. Tahun sebelumnya, KKP juga telah menerima penghargaan yang sama namun dengan nama berbeda, yaitu Penghargaan Efisiensi Energi Nasional (PEEN). Jonan mengatakan, penghargaan ini akan terus diberikan kepada pejuang energi di Indonesia. Mulai tahun ini penghargaan ini diberi nama Penghargaan Subroto. “Penghargaan dimulai tahun ini dan akan diadakan terus, ” ungkap dia.
Sekretaris Jenderal KKP Rifky Effendi Hardijanto menyampaikan apresiasi atas penghargaan ini. Menurutnya, penghargaan ini harus dimaknai sebagai upaya bangsa Indonesia untuk ikut menghemat energi.

“Di situ KKP memiliki peranan yang signifikan. Terlihat dari penghargaan yang kita terima ada dua juara 1, dan satu juara 2. Ini menunjukkan komitmen manajemen KKP untuk terus menerus hemat energi,” ungkap Rifky usai menerima penghargaan.
Ke depan, Rifky berharap, seluruh masyarakat dapat menyadari pentingnya menghemat energy. Bukan hanya untuk menghemat biaya yang harus dikeluarkan, tetapi juga mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan.

“KKP akan terus menerus mendorong hemat energi. Akan mendorong konservasi lingkungan. Mendorong sesuatu menjadi lebih hijau, lebih bermanfaat bagi lingkungan, dan tentu untuk ekosistem di alam semesta,” tutup Rifky.
 
Sebagai informasi, KKP berhasil unggul dalam subkategori Penghematan Energi Lingkup Pemerintah Pusat dengan kriteria kebijakan, implementasi, kinerja, energi, program, monitoring dan evaluasi, pelaporan, dan INPRES 13/2011.


Adapun kriteria penilaian Gedung Hemat Energi subkategori Gedung Hijau, meliputi efisien energi (desain aktif), efiseinsi (desain pasif), energi terbarukan, penghematan air, keberlanjutan lingkungan (material, greenery, sustainable site, dll), Indoor Environmental Quality, operasi dan pemeliharaan & fitur green building, dan inovasi.


Sedangkan kriteria penilaian Kategori Gedung Hemat Energi subkategori Gedung Baru, meliputi rancangan keseluruhan, penghematan energy, rancangan pasif, rancangan aktif, pemeliharaan dan manajemen, dan dampak lingkungan.

READ MORE - Hemat Energi, KKP Raih Tiga Kategori Penghargaan Subroto 2017

21 Agustus, 2017

ANAK IBU PERTIWI

Warna kulit kita mungkin berbeda
Keyakinan pun berbeda
Tapi hati kita sama, merah putih
Karena kita semua anak Ibu Pertiwi
.
Pernahkah terbayang jika dunia ini berwarna putih semua, atau merah semua?
Atau dunia yang dipenuhi gunung tanpa lautan?
Bayangkan jika semua teman kita,
sama wajahnya, sama hobi nya, sama sifatnya...
Indah kah itu?
.
Butuh 7 warna untuk menciptakan pelangi
Butuh banyak nada untuk menciptakan lagu
Dunia indah karena gunung, sawah, & lautan
Raja Ampat indah karena ada birunya laut, hijaunya pohon dan putihnya pasir
.
Keliling Nusantara kita berwisata kuliner
Sibuk memotret Kecak hingga tari Saman
Senangnya mendengar suara Adzan hingga lagu Malam Kudus
Bangga melihat Istiqlal dan Borobudur
.
Siapa yang tidak cemburu dengan Indonesia
Tanah dan budaya nya indah dan kaya
Seperti gadis molek
Banyak yang berebut ingin memiliki
Segala cara dihalalkan
.
Indonesia  milik kita bersama
Harus kita jaga bersama
Jangan mau kita dikoyak
Jangan mau dibodohi
Jangan ijinkan pikiran kita diracuni
Jangan mau tersulut amarah
.
Kita semua anak Ibu Pertiwi
Karenanya kita bersaudara
Diajarkan beragam dari lahir
Tertawa dan menangis bersama
Saling menghormati dan mengasihi
.
Tak ingin kami dicerai berai dari saudara kami
Tak sudi kami disusupi
Tak mau kami disuruh memaki saudara kami
Tak tega kami memusuhi saudara kami
Tak rela kami melukai saudara kami
.
Selamat tinggal kebencian
Selamat tinggal curiga
Selamat tinggal amarah
Selamat tinggal provokasi
.
Karena kami Indonesia
Kami bersaudara
Selamat Ulang Tahun Negriku tercinta
.
Dari anak anakmu,
Anak Ibu Pertiwi

🇮🇩🇮🇩🇮🇩
READ MORE - ANAK IBU PERTIWI

02 Agustus, 2014

Awan Gas Mengorbit Lubang Hitam Supermasif

LaporanPenelitian.com - Awan gas raksasa mengorbit lubang hitam supermasif, sebuah tim menemukan awan terkutuk berputar-putar di lubang hitam supermasif pusat galaksi. Kabut cincin berakselerasi membentuk gumpalan cukup padat, mengembun dan mengkonsumsi materi.

Catatan awan dikumpulkan selama 16 tahun wahana orbit rendah NASA Rossi X-ray Timing Explorer yang dilengkapi instrumen untuk mengukur variasi sumber-sumber X-ray, emisi yang diludahkan dari core galaksi aktif dan lubang hitam supermasif.

Alex Markowitz, astronom University of California San Diego dan rekan menemukan selusin sinyal X-ray redup untuk periode jam hingga tahun ketika awan gas padat berlalu antara sumber dan satelit. Satu galaksi spiral ke arah konstelasi Centaurus menunjuk NGC 3783 sedang dicabik-cabik gaya pasang surut.

First X-ray-Based Statistical Tests for Clumpy-Torus Models: Eclipse Events from 230 Years of Monitoring of Seyfert AGN

A. G. Markowitz1,2 et al.
  1. University of California, San Diego, Center for Astrophysics and Space Sciences, 9500 Gilman Dr, La Jolla, CA 92093-0424, USA
  2. Dr Karl Remeis Sternwarte, Sternwartstrasse 7, D-96049 Bamberg, Germany
arXiv (last revised 20 Feb 2014)

Akses : arXiv:1402.2779
http://www.laporanpenelitian.com/2014/02/97.html

Gambar: NASA/JPL/Caltech
Video: Wolfgang Steffen

READ MORE - Awan Gas Mengorbit Lubang Hitam Supermasif

Ombak Laut Europa Tampak Ramah Kehidupan

 
Laporan Penelitian.com - Ombak laut Europa tampak ramah untuk kehidupan. Meskipun keriput dan bopeng, Europa adalah salah satu objek halus di Tata Surya. Mungkin dunia terestrial alien yang tetap membuat penasaran Galileo Galilei sejak tahun 1610.
Prospek air cair menempatkan Europa di bagian atas daftar dunia Tata Surya yang mungkin mendukung kehidupan alien. Tapi bulan Jupiter yang terbentuk miliaran tahun lalu terus-menerus gelap, lautan air tertutup di bawah lapisan tebal es, sekitar 40 persen memiliki fitur goresan dan bekas luka.

Pola silang-menyilang mungkin pertemuan air hangat dan es beku. Tapi Matahari terlalu redup dan permukaan Europa terlalu reflektif. Teori lain melibatkan tarikan gravitasi Jupiter yang menghasilkan tektonik dan memanaskan lautan Europa.

Laporan baru menunjukkan turbulensi laut memahat medan chaos di permukaan es. Asumsinya efek disebabkan rotasi sebagai Gaya Coriolis yang mendominasi arus laut, menyalurkan panas ke lintang tinggi. Model ini tidak bergantung pada arus laut yang disebabkan oleh konveksi panas internal.

"Aliran kurang terorganisir, tetapi lebih kuat di daerah ekuator. Hal ini berkorelasi dengan distribusi chaos," kata Johannes Wicht, planetolog Max Planck Institute for Solar System Research di Lindau, Jerman.

Model mengusulkan laut sangat bergolak dengan dorongan laut yang kuat. Laut yang bergolak bermanfaat bagi setiap kehidupan yang mengaduk nutrisi dari dasar laut ke seluruh lautan. Mikroba hidup di air tergenang dan turbulensi membuat hidup jauh lebih mungkin.

ESA Jupiter Icy Moons Explorer (JUICE) diharapkan dapat memetakan kekacauan medan Europa via flyby di tahun 2030. Penyelidikan lebih lengkap kekacauan medan Europa mungkin memiliki relevansi dunia lain di luar bulan Jupiter.

JUICE juga dapat mencari setiap sidik jari dan ventilasi hidrotermal. Seperti di bulan Saturnus, Enceladus, dan ujian besar pemahaman model semacam ini bermanfaat untuk dunia es lain di Tata Surya. Lautan di bawah permukaan lapisan es mungkin juga biasa di exoplanet.




K. M. Soderlund (Institute for Geophysics, John A. & Katherine G. Jackson School of Geosciences, The University of Texas at Austin, J. J. Pickle Research Campus, Building 196 (ROC), 10100 Burnet Road (R2200), Austin, Texas 78758-4445, USA) et al. Ocean-driven heating of Europa’s icy shell at low latitudes. Nature Geoscience, 01 December 2013, DOI:10.1038/ngeo2021

Gambar: NASA/JPL
Video: K. M. Soderlund et al., DOI:10.1038/ngeo2021
 
READ MORE - Ombak Laut Europa Tampak Ramah Kehidupan

Kepler-10c Mengisi Kontinum Exoplanet Mega-Bumi

Laporan Penelitian - Duduk di galaksi jauh adalah exoplanet seukuran Bumi dan super-Bumi, tapi sekarang setidaknya ada satu konfirmasi mega-Bumi. Berat 17 kali lipat Bumi, planet ekstrasurya yang baru ditemukan, Kepler-10c, terlalu besar sebagai super-Bumi dan terlalu berbatu sebagai Jupiter.

Kepler-10c terselip pada jarak 560 tahun cahaya di konstelasi Draco menentang gagasan astronom tentang pembentukan planet dan pengamatan lain menunjukkan bukan satu-satunya mega-Bumi di luar sana. Planet sangat tidak biasa dan mustahil ke dalam merek kelas exoplanet yang ada.

"Semakin banyak kita menemukan planet di luar Tata Surya, semakin kita terkejut keragaman dunia baru," kata Xavier Dumusque, astronom Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics di Cambridge, Massachusetts.

Sebuah lompatan mengisi kesenjangan kontinum exoplanet. Ditemukan teleskop ruang NASA Kepler pada tahun 2011, planet mengorbit bintang pada radius 2 kali lipat Bumi-Matahari. Para ilmuwan menggap versi menyusut planet gas Neptunus dengan seukuran 4 kali Bumi.

Dumusque dan rekan menggunakan teleskop HARPS-N di Kepulauan Canary untuk menjabarkan massa Kepler-10c. Berat 17 kali Bumi tapi bermassa massa jauh lebih kecil dari raksasa Neptunus. Sebuah dunia yang sangat padat, dunia berbatu.

"Semua model pembentukan planet yang ada tidak memprediksi jenis planet dan itu sebabnya kita tidak bisa percaya hasil di awal," kata Dumusque yang mempresentasikan temuan saat American Astronomical Society meeting di Boston pekan ini.

The Kepler-10 planetary system revisited by HARPS-N: A hot rocky world and a solid Neptune-mass planet

Xavier Dumusque, Aldo S. Bonomo, Raphaelle D. Haywood, Luca Malavolta, Damien Segransan, Lars A. Buchhave, Andrew Collier Cameron, David W. Latham, Emilio Molinari, Francesco Pepe, Stephane Udry, David Charbonneau, Rosario Cosentino, Courtney D. Dressing, Pedro Figueira, Aldo F. M. Fiorenzano, Sara Gettel, Avet Harutyunyan, Keith Horne, Mercedes Lopez-Morales, Christophe Lovis, Michel Mayor, Giusi Micela, Fatemeh Motalebi, Valerio Nascimbeni, David F. Phillips, Giampaolo Piotto, Don Pollacco, Didier Queloz, Ken Rice, Dimitar Sasselov, Alessandro Sozzetti, Andrew Szentgyorgyi, Chris Watson

arXiv (Submitted on 30 May 2014)


Akses : arXiv:1405.7881

http://www.laporanpenelitian.com/2014/06/198.html
READ MORE - Kepler-10c Mengisi Kontinum Exoplanet Mega-Bumi

Galaksi Kerdil Tak Sesuai Model Standar Kosmologi

LaporanPenelitian.com - Galaxy UGC 10214 terletak 420 juta tahun cahaya di konstelasi Draco menyajikan fitur paling dramatis dengan ekor memanjang sejauh 280.000 tahun cahaya bahwa para astrofisikawan sebelumnya membuat model standar kosmologi gagal sehingga membutuhkan alternatif.

Galaksi Kecebong menjulurkan ekor puing-puing ketika 2 galaksi bertabrakan dahsyat, tarikan gravitasi merobek hingga saling terpisah selama rentang lambat waktu kosmik. Kedua galaksi masih terlihat membentuk kepala kecebong.

Material berhamburan dari galaksi yang lebih besar menyebar ke ekor yang berisi kawanan bintang-bintang biru muda terbentuk dari gas dan debu runtuh, bintang tua menyatu bersama-sama dalam kelompok dan galaksi kerdil yang baru lahir.

"Model menghitung galaksi kerdil harus terbentuk di dalam gumpalan kecil materi gelap dan gumpalan tersebut harus terdistribusi secara acak terkait galaksi induknya," kata David Merritt, astronom Rochester Institute of Technology.

"Tapi apa yang diamati sangat berbeda. Galaksi-galaksi kerdil milik Bima Sakti dan Andromeda terlihat akan mengorbit, struktur disk tipis besar. Laporan sebelumnya tidak ada yang mengatakan benar-benar tampak sangat mirip struktur planar," kata Merritt.

Galaksi Kecebong dan galaksi lain mungkin membantu menjelaskan misteri luar biasa tentang Bima Sakti. Kosmolog memprediksi harus ada ribuan galaksi kerdil bertaburan secara acak di sekitarnya, meskipun pengamatan hanya 26 galaksi kurcaci mengorbit Bima Sakti dalam disc tipis.

Tabrakan di masa lalu mungkin menjadi mekanisme alternatif yang menjelaskan perbedaan yang lambat laun galaksi berudu kehilangan ekor. Akhirnya semua puing-puing terkoreksi menjadi galaksi satelit yang mengorbit raksasa besar.

"Kami melihat galaksi satelit dalam disk besar dan bergerak ke arah yang sama, seperti planet-planet di Tata Surya kita bergerak dalam bidang tipis dalam satu arah mengelilingi Matahari," kata Marcel Pawlowski, astronom Case Western Reserve University di Ohio.

"Itu tak terduga dan menjadi masalah nyata. Ketika kami membandingkan simulasi menggunakan data sebelumnya untuk diamati, kami menemukan ketidakcocokan," kata Pawlowski.



Co-orbiting satellite galaxy structures are still in conflict with the distribution of primordial dwarf galaxies

Marcel S. Pawlowski, Benoit Famaey, Helmut Jerjen, David Merritt, Pavel Kroupa, Jörg Dabringhausen, Fabian Lüghausen, Duncan A. Forbes, Gerhard Hensler, François Hammer, Mathieu Puech, Sylvain Fouquet, Hector Flores, Yanbin Yang


Akses : arXiv:1406.1799

http://www.laporanpenelitian.com/2014/06/212.html
READ MORE - Galaksi Kerdil Tak Sesuai Model Standar Kosmologi

09 Oktober, 2011

MENGKAJI KEJADIAN MEMBELAH LAUT

BOULDER, Amerika Syarikat (AS) – Saintis-saintis di AS membuktikan kebenaran kisah Nabi Musa membelah laut seperti yang diceritakan dalam kitab suci al-Quran dan Injil, lapor sebuah akhbar semalam.

Satu kajian oleh sepasukan penyelidik yang diketuai saintis Carl Drews dari Pusat Penyelidikan Atmosfera Nasional di sini, mendapati fenomena itu tidak bercanggah dengan hukum fizik.

Kitab al-Quran menceritakan bahawa Nabi Musa membelah laut dengan menghentakkan tongkatnya ke tanah semasa baginda dan kaum Bani Israel terperangkap di antara pasukan tentera Firaun yang sedang mara dan laut di hadapan mereka.

Kumpulan saintis itu yang mengkaji beberapa peta kuno Delta Sungai Nil mendapati laut terbelah itu merujuk kepada sebuah lagun yang kini dikenali sebagai Tasik Tanis di selatan Laut Mediterranean dekat Laut Merah dan satu cawangan Sungai Nil.

Kini, dengan menggunakan simulasi komputer, saintis-saintis itu menunjukkan bahawa laut berkenaan terbelah dua melalui proses tiupan angin kencang yang dikenali sebagai angin timur bertiup selaju 100.8 kilometer sejam (km/j) selama 12 jam menyebabkan aliran air sungai dan lagun itu berpusing balik lalu membentuk seperti dinding air.

Satu model lautan komputer kemudian digunakan sebagai simulasi bagi melihat kesan angin yang bertiup semalamam ke atas air sedalam beberapa meter itu.

Selama empat jam, tiupan angin tersebut menghasilkan jambatan darat sepanjang 3.2 kilometer (km) dan selebar 4.8km.

Sejurus selepas angin timur reda, air lagun dan sungai itu kembali mengalir ke tempat asal seperti ombak tsunami.

Hasil kajian saintis berkenaan disiarkan di Internet oleh Jurnal Public Library of Science ONE. – Agensi

Gambar : LAKARAN artis menunjukkan angin kuat dari timur telah menyebabkan air lagun (kiri) dan sungai (kanan) ‘berpusing’ dan membentuk dinding air dekat Laut Merah.

Sumber : http://zharifalimin.blogspot.com/2010/11/saintis-usa-buktikan-nabi-musa-membelah.html
READ MORE - MENGKAJI KEJADIAN MEMBELAH LAUT

Bumi yang Berjalan

Dalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Qur'an, 27:88)

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah "continental drift" atau "gerakan mengapung dari benua" untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

Sumber : Harun Yahya
READ MORE - Bumi yang Berjalan

Kejadian Langit Dan Bumi Dari pada Asap

Alam semesta tidak terus wujud dalam bentuk yang kita lihat pada hari ini. Sebaliknya ia melalui beberapa proses tertentu. Antara proses itu adalah kelahiran gas-gas hidrogen dan helium yang kemudiannya bercantum sehingga menjadi gumpalan asap raksaksa. Dalam surah Fussilat ayat 11 Allah menyatakan :

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعاً أَوْ كَرْهاً قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

Maksudnya: "Kemudian Dia menuju ke langit dan langit pada masa itu berbentuk asap lalu Dia berkata kepadanya dan bumi, 'Datanglah kamu berdua dengan tunduk atau terpaksa'. Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan tunduk'." Di sini Allah menyatakan langit dan bumi diperingkat awal dahulu kosong daripada sebarang objek di langit.

Yang wujud hanyalah asap. Daripada asap ini lahirlah bintang-bintang serta galaksi disusuli dengan kelahiran sistem suria dan bumi. Perkataan Dukahn yang di maksudkan di sini ialah asap,dalam bahasa inggerisnya ialah smoke. Penggunaan kalimat asap atau smoke ini selari dengan penemuan semasa kerana asap lahir dari satu suasana yang panas dan suasana di peringkata wal kejadian alam sememangnya panas.


Astronomers Report Hubble Find, Report Reveals Light from Oldest Galaxy
Semasa menceritakan mengenai asap ini, para saintis mengaitkannya dengan gas-gas (terutamanya hidrogen dan helium) yang wujud seperti awan tebal di peringkat awal dahulu. Para saintis menyifatkan asap daripada gas ini sebagai dark clouds, cloud of gas, fog of neutral hydrogen and helium, hot mass of gas dan yang seumpamanya. Ia bermaksud, gas-gas di peringkat awal kejadian langit dan bumi wujud seperti bentuk awan-awan hitam, awan-awan daripada gas, awan-awan gas daripada hidrogen dan helium, gas bersuhu tinggi dan yang seumpamanya. Kejadian langit dan bumi daripada asap menyentuh berkenaan kejadian objek-objek daripada asap.

Oleh sebab bumi adalah satu objek, maka langit yang di nyatakan Allah juga merupakan objek-objek seperti bintang, galaksi dan seumpamanya. kesemua objek ini lahir daripada asap.
Antara saintis yang kagum dengan kenyataan Quran ini adalah profesor Yoshihide Kozai daripada Universiti Tokyo, Jepun. Beliau adalah pengarah National Astronomical Observatory di Mikata, Tokyo, Jepun. Beliau ditunjukkan ayat-ayat Quran yang menceritakan berkenaan kejadian langit dan bumi. Selepas mengkaji ayat-ayat itu, beliau merasakan seolah-olah ayat itu diceritakan oleh seorang yang melihat kejadian alam ini di peringkat tertinggi.

Kuasa yang menceritakan kejadian ini mampu melihat kesemua apa yang berlaku. Berhubung dengan kejadian langit dan bumi daripada asap, beliau berpendapat penemuan-penemuan semasa menunjukkan fenomena-fenomena ini benar-benar berlaku. Alam sebelum ini memang wujud dalam bentuk gumpalan asap. Daropada asap itulah lahirnya bintang-bintang dan kelahiran itu menjadi batu asas kepada kelahiran alam ini.
Akhirnya beliau berkata, "Saya kagum dengan fakta-fakta astronomi yang terdapat di dalam Quran.


Dengan membaca Quran dan menjawab persoalan-persoalan yang timbul, saya rasa saya akan menemui cara untuk mengkaji alam semesta pada masa akan datang." Hal ini dilaporkan di dalam A Brief Understanding Islam, Darus Salam Publications,edisi kedua, Mei 1990.


Sumber: Quran Saintifik,Meneroka kecemerlangan Quran Daripada teropong Sains,Dr. Danial Zainal Abidin
READ MORE - Kejadian Langit Dan Bumi Dari pada Asap

Antara Sinar dan Cahaya



"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya..."(Surah Yunus : 5)

Masa di mana ilmu metafizik tidak dapat membedakan antara sinar dan cahaya, kita menemui konsep sains al Quran dalam masalah ini salah satunya Al Quran menerangkan tentang matahari. Al Quran mengilustrasikan matahari sebagai sinar dan menggambarkan bulan sebagai cahaya,ini adalah satu bentuk ayat wasfiyah,sebagaimana Firman Allah SWT:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُوراً وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللّهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Artinya: "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya..."(Surah Yunus : 5)

Sinar adalah suatu yang terpancar langsung dari benda yang terbakar serta bercahaya dengan sendirinya manakala sinar ini jatuh pada benda yang gelap maka sinar tersebut akan memancar.

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاء بُرُوجاً وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجاً وَقَمَراً مُّنِيراً

Artinya: "Maha suci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang (buruj) dan menjadikan padanya siraaj dan bulan yang munir." (surah al-Furqan ayat 61)

Hal yang sama ditekankan dalam surah al-Nabak ayat 13 yang bermaksud, "Dan Kami yang jadikan siraajan wahhaaja (iaitu matahari)."

Dalam surah an-Nuh ayat 15 hingga 16 pula Allah berkata, "Tidakkah Kamu perhatikan bagaimana Allah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat dan Allah menciptakan pada langit-langit itu bulan sebagai nuur dan matahari sebagai siraaj."

Di dalam Hans Wehr: A Dictionary Of Modern Written Arabic, siraj diertikan sebagai 'lamp', 'light' yang bermaksud 'pelita', 'lampu,. Makna wahaaja pula adalah burn, blaze, flame yang bermaksud membakar, menyala, berapi. Justeru matahari sebagai siraaj dan siraajan wahaaja mengeluarkan cahaya sendiri melalui proses tertentu yang berlaku di dalamnya.

Nuur diertikan sebagai brightness, gleam, glow yang bermaksud bercahaya, menyilau. Muniir pula diertikan sebagai luminous, radiant, shining yang bermaksud bercahaya, bersinar. Justeru bulan sebagai nuur dan muniir tidak mengeluarkan cahaya sendiri sebaliknya ia mamantulkan cahaya matahari yang menimpanya.

Ayat-ayat ini menjelaskan mengenai perbezaan antara matahari dan bulan dalam konteks cahaya yang dikeluarkan kedua-duanya. Mengikut al-Quran, matahari membakar dan dengan itu mengeluarkan cahaya sedangkan bulan hanya bersinar iaitu menerima dan memantulkan cahaya. Kiasannya adalah seperti lampu dan cermin, lampu mengeluarkan cahaya, sedangkan cermin hanya memantulkan cahaya.

Kenyataan ini adalah selari dengan penemuan sains semasa kerana matahari adalah sebuah bintang sedangkan bulan adalah satelit. Seperti bintang-bintang yang lain, kestabilan matahari dan sinaran cahaya yang keluar daripadanya bergantung kepada tenaga yang mampu dihasilkannya.

Perbezaan jelas antara sinar dan cahaya sudah diterangkan oleh Allah SWT 1400 tahun silam yang menjadi penegas bagi mukjizat sains Al Quran Al Karim.
Sebenarnya ilmu metafizik yang ada dalam kehidupan kita waktu ini merupakan akumulasi ilmu pengetahuan di kurun ke 21 tetapi baru beberapa tahun terakhir sahaja ilmu metafizik dapat membezakan di antara sinar dan cahaya.

Sumber: Quran Saintifik, Dr. Danial Zainal Abidin

READ MORE - Antara Sinar dan Cahaya

Astronomi dalam Al-Qur'an


Seseorang tidak dapat memahami astronomi Islam jika ia tidak mengambil kira peranan al-Quran dalam astronomi.

Al-Quran menjadi punca ilmu Islam paling ulung. Ilham daripada al-Quran menjadi penggerak yang mencetuskan kemajuan dalam astronomi.

Di antara ayat al-Quran yang menjelaskan tentang langit, bumi serta cakerawala seperti berikut (maksudnya):

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan perbezaan malam dan siang adalah ayat (tanda) kepada orang yang mempunyai fikiran.” (Surah Ali-Imran: 190)

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda (ayat-ayat) kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Surah al-An´am: 97)

Allah telah mengistilahkan firman-Nya dalam al-Quran sebagai ´ayat´, yang bermakna ´tanda´. Allah juga telah menyifatkan penciptaan langit dan bumi serta perbezaan malam dan siang sebagai ´ayat´. Ini menunjukkan bahawa tanda Allah bukan sahaja ada dalam kitab al-Quran tetapi tanda-tanda-Nya juga terpapar di alam semesta.

Sesungguhnya Islam menganggap alam tercipta ini sebagai kitab untuk dicerap dan al-Quran sebagai kitab untuk dibaca kerana kedua-dua mengandungi ´ayat-ayat´ Allah bagi manusia mengetahui, memahami serta tunduk kepada kekuatan dan kebesaran-Nya.

Al-Quran juga memberi ciri-ciri cakerawala untuk menjadi renungan manusia. Di antara ayat al-Quran yang menjelaskan perkara tersebut ialah (maksudnya):

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari kedua-duanya itu beredar (yasbahun) dalam falaknya.” (Surah al-Anbiya: 33)

“Dan bukan matahari mendahului bulan dan bukan juga malam mendahului siang. Mereka beredar (yasbahun) dalam falak sendiri.” (Surah Yaasin: 40)

“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya lampu dan bulan yang memberi cahaya.” (Surah al-Furqan: 61)

Dari segi astronomi, ketiga-tiga ayat di atas menyatakan bahawa matahari seperti lampu iaitu jasad yang bercahaya kerana ia terbakar, dan bulan sebagai jasad yang hanya memantulkan cahaya. Begitu juga bulan dan matahari ada falak yang berlainan. Walaupun Batlamus menyatakan bahawa matahari mengelilingi bumi, namun Kopernigk berpendapat bahawa bumi mengelilingi matahari yang tidak bergerak.

Pengetahuan kemaskini mengesahkan bahawa walaupun matahari tidak mengelilingi bumi, matahari tetap bergerak dalam satu falak seperti yang dinyatakan di dalam al-Quran itu. Seperkara yang perlu diteliti adalah penggunaan perkataan “yasbahuun” dalam penerangan pergerakan cakerawala. Yusuf Ali dalam terjemahan al-Quran yang dibuatnya, menterjemahkan perkataan itu sebagai “berenang”.

Sesungguhnya apabila satu jasad tegar berberak bebas dalam tiga matra, seperti tatkala jasad itu berenang, jasad itu akan berputar atas paksi sendiri, meliuk dan bergerak ke tempat yang lain dan inilah satu pencirian pergerakan cakerawala yang amat tepat sekali.

Al-Quran menggunakan perkataan yang bermakna langit (´al-sama´, dan ´al-samawat) tidak kurang daripada 300 kali. Perkataan yang bererti bumi (al-ardh) digunakan tidak kurang daripada 450 kali. Di samping itu al-Quran juga merujuk kepada perkataan yang bermakna bintang, matahari, bulan, cakerawala dan buruj iaitu gugusan bintang. Pengetahuan sains moden telah dibanding dengan ayat-ayat ini.

Tidak ada pencerapan atau pengukuran sains kemaskini yang bercanggah dengan ayat al-Quran. Malahan ketepatan ayat-ayat ini, yang wujud semasa pengetahuan sains manusia masih dalam peringkat permulaan, menjadi salah satu bukti yang dapat meyakinkan setiap Muslim bahawa al-Quran berpunca daripada Pencipta yang serba mengetahui.

Al-Quran bukanlah sebuah buku astronomi dan tidak boleh dikaji sedemikian rupa. Al-Quran menyatakan tentang langit, bumi serta fenomena astronomi secara umum.

Kitab ini memberi peringatan kepada manusia dan menyuruh manusia menggunakan fikiran untuk mencari pengertian tentang kewujudan langit, bumi serta apa-apa sahaja yang terkandung di antara kedua-duanya seperti berikut (maksudnya):

“Apakah mereka dicipta tanpa sesuatu ataukah mereka yang mencipta (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah mencipta langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak yakin (terhadap Allah).” (Surah Al-Tur: 35-36)

Cemuhan ayat di atas terhadap mereka yang menafikan kewujudan Pencipta hebat sekali, begitu juga ejekan tentang kepercayaan mereka yang tidak logik. Sekali lagi al-Quran menggunakan langit dan bumi untuk menekankan Pencipta dan yang tercipta (maksudnya):

“Allahlah yang meletakkan langit di tempat yang tinggi tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan.” (Surah al-R´ad: 2)

Abul Ala Maududi menerangkan bahawa ungkapan ´menundukkan matahari dan bulan´ bermakna matahari dan bulan mengikut hukum-hukum yang ditentukan oleh Allah.

Selanjutnya beliau bertanyaa, bukankah alam semesta ini, matahari, bulan, bumi serta jasad cakerawala lain merupakan satu sistem sempurna yang mengikut hukum-hukum tabii yang sama? Kata beliau, tidak ada sistem tanpa pentadbirnya, tidak akan ada hukum-hukum (undang-undang) tanpa pencipta dan penguatkuasanya dan tidak akan ada pengetahuan jika tidak ada orang yang memiliki pengetahuan itu.

Beliau menekankan hakikat ini menjadi hujah tentang wujudnya Allah yang mencipta, mentadbir dan yang Maha Mengetahui alam semesta ini.

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah kedua-duanya itu rosak binasa.” (Surah al-Anbiya: 22)

Ayat di atas pula merujuk kepada langit dan bumi untuk menunjukkan keesaan Allah. Adalah logik sekali jika ada banyak nakhoda dalam sebuah kapal, sudah barang tentu kapal itu akan binasa.

Jelasnya, astronomi dalam Islam bukan sahaja untuk menentukan kiblat serta waktu sembahyang dan hari raya sahaja. Pengajian astronomi diperintah oleh Allah ke atas umat Islam bagi menguatkan kepercayaan / keyakinan tauhid mereka kepada-Nya.

Salah seorang sarjana astronomi Islam, a-Batani, menyatakan bahawa ilmu bintang datang selepas agama sebagai ilmu yang paling mulia dan paling sempurna, menghiasi fikiran dan menajamkan kecerdikan menuju kepada pengenalan keesaan, kekuasaan dan kebijaksanaan Allah.

sumber : http://yadim.org.my/Sains/SainsFull.asp?offset=45&Id=46



Mau Sehat Minum Air Izaura
Bebas Finansial Di Masa Depan Gabung Dgn Jaringan Bisnis Air Sehat Izaura
 
Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempat 
Kos Putri Salsabilla Kendari
 Hub 081342791003
Menerima pesanan Kanopi, Pagar Besi, Jendela
 dengan Harga Murah dengan Sistim Panggilan.
Topi Pegawai Ditjen Perikanan Tangkap
Berminat Hub 081342791003 
Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di GRIYA GODO PERMAI BIMA
Berminat Hub 081342791003
 
READ MORE - Astronomi dalam Al-Qur'an

Big Bang Dalam Al-Qur'an


Tahun 1929, astronomer Amerika, Edwin Hubble, melalui teleskop raksasanya menemukan bintang dan benda-benda angkasa lainnya bergerak menjauhi bumi; dan mereka juga saling menjauhi satu sama lain. Ini artinya alam semesta dengan konstan mengembang atau meluas. Dalam Al Qur’an, kita bisa menjumpai penjelasan ini : Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya" (QS. Adz-Dzaariyat, 51: 47). Penemuan ini memunculkan pemikiran, jika alam semesta semakin meluas seiring berjalannya waktu, maka jika dibalik ke masa lalu, alam semesta akan bergerak mengecil; dan jika seseorang bisa mundur cukup jauh, segala sesuatunya akan mengerut dan bertemu pada satu titik, dan pada suatu saat, semua materi di alam semesta ini terpadatkan dalam massa satu titik yang mempunyai "volume nol" karena gaya gravitasinya yang sangat besar. Sekali lagi Al Qur’an telah menyampaikan hal ini jauh-jauh sebelumnya, yaitu 14 abad yang silam, jauh sebelum dunia mengenal ilmu astronomi : "Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (QS. Al Anbiyaa', 21: 30). Big Bang adalah ledakan besar yang sungguh-sungguh menakjubkan. Stephen Hawking dalam A Brief History of Time, mengakui keseimbangan luar biasa dalam laju pengembangan tersebut: “Jika laju pengembangan satu detik setelah Dentuman Besar lebih kecil bahkan dari satu bagian per seratus ribu juta juta, alam semesta akan hancur sebelum pernah mencapai ukurannya sekarang.” Paul Davis, profesor fisika teori terkemuka, berkata bahwa kecepatan ini memiliki ketelitian yang sungguh tak terbayangkan. Al Qur’anul Karim pun telah menegaskan langit dan bumi (alam semesta) telah diciptakan Allah dengan ukuran-ukuran yang sangat rapi (detail) : . "Yang kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi dan Dia tidak mempunyai anak dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya) dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya" (QS. Al Furqan, 25: 2). Bilim ve Teknik (majalah ilmiah Turki) mengutip sebuah artikel yang muncul dalam majalah Science, mengenai keseimbangan fenomenal yang dicapai dalam fase awal alam semesta : * Jika kekerapan alam semesta hanya sedikit lebih tinggi, dalam hal ini, menurut teori relativitas Einstein, alam semesta tidak akan mengembang akibat gaya-gaya tarik partikel-partikel atom, namun mengerut, dan pada akhirnya lenyap pada satu titik. * Jika kekerapan awal sedikit lebih kecil, maka alam semesta akan dengan cepat mengembang, namun dalam hal ini, partikel-partikel atom tidak akan tertarik satu sama lain dan tidak ada bintang dan tidak ada galaksi akan pernah terbentuk. Akibatnya, manusia tidak akan pernah muncul! Allah berfirman : “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Al Mu’min 40:57). Andre Linde, seorang Profesor Kosmologi merasa takjub bagaimana setelah ledakan besar (big bang) itu terjadi, semua bagian jagad raya yang berbeda bisa menyelaraskan awal pengembangan mereka. Dia bertanya : “Siapa yang memberi perintah atas semua ini?” George Greenstein, Profesor Astronomi Amerika, menulis dalam bukunya The Symbiotic Universe: "Ketika kita mengkaji semua bukti yang ada, pemikiran yang senantiasa muncul adalah bahwa kekuatan supernatural pasti terlibat." Hugh Ross, seorang ahli astrofisika Amerika menyimpulkan : Waktu adalah dimensi di mana fenomena sebab-dan-akibat terjadi. Tidak ada waktu, tidak ada sebab dan akibat. Jika permulaan waktu sama dengan permulaan alam semesta, seperti yang dikatakan teorema ruang-waktu, maka sebab alam semesta haruslah entitas yang bekerja dalam dimensi waktu yang sepenuhnya mandiri dan hadir lebih dulu daripada dimensi waktu kosmos... Ini berarti bahwa Pencipta itu transenden, bekerja di luar batasan-batasan dimensi alam semesta. Ini berarti bahwa Tuhan bukan alam semesta itu sendiri, dan Tuhan juga tidak berada di dalam alam semesta. Siapakah Sang pencipta alam semesta itu? Dalam Al Quran Allah berfirman : "Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu." (QS. Al An'aam, 6: 101). Bahkan, sebenarnya untuk menyadari bahwa alam semesta bukan "hasil peristiwa kebetulan", seseorang bisa hanya dengan melihat sekelilingnya. Alam semesta ini begitu sempurna dengan sistemnya, matahari, bumi, manusia, pohon, bunga, serangga, dan segala hal-hal lain di dalamnya. Tidak mungkin hal ini terjadi dengan sendirinya tanpa adanya kekuatan Maha Besar yang dengan sempurna mencipta dan mendesainnya. Hanya orang yang merenungkannya yang dapat melihat tanda-tanda tersebut. "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. Al Baqarah, 2:164). Dikutip-kutip dari : 1. Penciptaan Alam Semesta dari Ketiadaan 2. Keseimbangan dalam Ledakan 3. Big Bang, Ledakan yang Menghancurkan Paham Materialisme (2) 4. Ledakan Besar "Big Bang" Menggema ke Segenap Penjuru Peta Galaksi Sumber : http://yusriye.multiply.com/
READ MORE - Big Bang Dalam Al-Qur'an

Semesta Seperti Terompet


Benarkah Bentuk Semesta Seperti Terompet yang Akan Ditiup Sebagai Sangkakala Saat Kiamat? =

“Sebelum kiamat datang, apa yang sekarang di lakukan oleh malaikat Isrofil?” Mungkin yang ada di benak kita malaikat Isrofil itu seperti sesosok seniman yang asyik mengelap terompet kecilnya sebelum tampil diatas panggung. Sebenarnya seperti apa sih terompetnya atau yang biasa juga dikenal dengan sangkakala malaikat Isrofil itu? Sekitar enam tahun silam sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Prof. Frank Steiner dari Universitas Ulm, Jerman melakukan observasi terhadap alam semesta untuk menemukan bentuk sebenarnya dari alam semesta raya ini sebab prediksi yang umum selama ini mengatakan bahwa alam semesta berbentuk bulat bundar atau prediksi lain menyebutkan bentuknya datar saja. Menggunakan sebuah peralatan canggih milik NASA yang bernama “Wilkinson Microwave Anisotropy Prob” (WMAP), mereka mendapatkan sebuah kesimpulan yang sangat mencengangkan karena menurut hasil penelitian tersebut alam semesta ini ternyata berbentuk seperti terompet.

Di mana pada bagian ujung belakang terompet (alam semesta) merupakan alam semesta yang tidak bisa diamati (unobservable), sedang bagian depan, di mana bumi dan seluruh sistem tata surya berada merupakan alam semesta yang masih mungkin untuk diamati (observable).
Bentuk Alam Semesta Di dalam kitab Tanbihul Ghofilin Jilid 1 hal. 60 ada sebuah hadits panjang yang menceritakan tentang kejadian kiamat yang pada bagian awalnya sangat menarik untuk dicermati.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : “Ketika Allah telah selesai menjadikan langit dan bumi, Allah menjadikan sangkakala (terompet) dan diserahkan kepada malaikat Isrofil, kemudian ia letakkan dimulutnya sambil melihat ke Arsy menantikan bilakah ia diperintah. Saya bertanya : “Ya Rasulullah apakah sangkakala itu?” Jawab Rasulullah : “Bagaikan tanduk dari cahaya.” Saya tanya : “Bagaimana besarnya?” Jawab Rasulullah : “Sangat besar bulatannya, demi Allah yang mengutusku sebagai Nabi, besar bulatannya itu seluas langit dan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali. Pertama : Nafkhatul faza’ (untuk menakutkan). Kedua : Nafkhatus sa’aq (untuk mematikan). Ketiga: Nafkhatul ba’ats (untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan).”

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa sangkakala atau terompet malaikat Isrofil itu bentuknya seperti tanduk dan terbuat dari cahaya. Ukuran bulatannya seluas langit dan bumi. Bentuk laksana tanduk mengingatkan kita pada terompet orang-orang jaman dahulu yang terbuat dari tanduk.
Kalimat seluas langit dan bumi dapat dipahami sebagai ukuran yang meliputi/mencakup seluruh wilayah langit (sebagai lambang alam tak nyata/ghoib) dan bumi (sebagai lambang alam nyata/syahadah). Atau dengan kata lain, bulatan terompet malaikat Isrofil itu melingkar membentang dari alam nyata hingga alam ghoib.


Jika keshohihan hadits di atas bisa dibuktikan dan data yang diperoleh lewat WMAP akurat dan bisa dipertanggungjawabkan maka bisa dipastikan bahwa kita ini bak rama-rama yang hidup di tengah-tengah kaldera gunung berapi paling aktif yang siap meletus kapan saja. Dan Allah telah mengabarkan kedahsyatan terompet malaikat Isrofil itu dalam surah An Naml ayat 87 : “Dan pada hari ketika terompet di tiup, maka terkejutlah semua yang di langit dan semua yang di bumi kecuali mereka yang di kehendaki Allah. Dan mereka semua datang menghadapNya dengan merendahkan diri.”

Makhluk langit saja bisa terkejut apalagi makhluk bumi yang notabene jauh lebih lemah dan lebih kecil. Pada sambungan hadits di atas ada sedikit preview tentang seperti apa keterkejutan dan ketakutan makhluk bumi kelak.
“Pada saat tergoncangnya bumi, manusia bagaikan orang mabuk sehingga ibu yang mengandung gugur kandungannya, yang menyusui lupa pada bayinya, anak-anak jadi beruban dan setan-setan berlarian.” Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik, jika terompetnya saja sebesar itu, lalu sebesar apa si peniupnya dan lebih dashsyat lagi, bagaimana dengan Sang Penciptanya? Allahu Akbar! Wallahua'lam Bisshowa.

Sumber : alisaid.wordpress.com
READ MORE - Semesta Seperti Terompet

Langit Yang Mengembalikan


Demi langit yang mengandung hujan (QS. Ath Thaariq, 86:11). Kata yang ditafsirkan sebagai 'mengandung hujan' dalam terjemahan Alquran ini juga bermakna 'mengirim kembali' atau mengembalikan. Seperti diketahui, atmosfir yang melingkupi bumi terdiri atas sejumlah lapisan. Setiap lapisan memiliki peran penting bagi kehidupan.

Penelitian mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan ini memiliki fungsi mengembalikan benda-benda atau sinar yang mereka terima ke ruang angkasa atau ke arah bawah, yakni ke bumi. Sekarang, marilah kita cermati sejumlah contoh fungsi pengembalian dari lapisan-lapisan yang mengelilingi bumi tersebut.
Lapisan Troposfir, 13 hingga 15 km di atas permukaan bumi, memungkinkan uap air yang naik dari permukaan bumi menjadi terkumpul hingga jenuh dan turun kembali ke bumi sebagai hujan. Lapisan ozon, pada ketinggian 25 km, memantulkan radiasi berbahaya dan sinar ultraviolet yang datang dari ruang angkasa dan mengembalikan keduanya ke ruang angkasa.

Ionosfir, memantulkan kembali pancaran gelombang radio dari bumi ke berbagai belahan bumi lainnya, persis seperti satelit komunikasi pasif, sehingga memungkinkan komunikasi tanpa kabel, pemancaran siaran radio dan televisi pada jarak yang cukup jauh.

Sifat lapisan-lapisan langit yang hanya dapat ditemukan secara ilmiah di masa kini tersebut, telah dinyatakan berabad-abad lalu dalam Alquran. Ini sekali lagi membuktikan bahwa Alquran adalah firman Allah.
Dalam sebuah ayat Alquran pun disebutkan sifat angin yang 'mengawinkan' hingga terbentuknya hujan.

Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan, dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. (QS. Al Hijr, 15:22)
Dalam ayat ini, ditekankan bahwa fase pertama dalam pembentukan hujan adalah angin. Hingga awal abad ke-20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin menggerakkan awan. Namun, penemuan ilmu meteorologi modern telah menunjukkan peran 'mengawinkan' dari angin dalam pembentukan hujan. Fungsi 'mengawinkan' dari angin ini terjadi sebagaimana berikut: Di atas permukaan laut dan samudera, gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil, dengan diameter seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel-partikel ini, yang dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin, dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfir.

Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin, dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekeliling partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran-butiran air. Butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan, dan kemudian jatuh ke bumi dalam bentuk hujan. Sebagaimana terlihat, angin 'mengawinkan' uap air yang melayang di udara dengan partikel-partikel yang dibawanya dari laut dan akhirnya membantu pembentukan awan hujan. Apabila angin tidak memiliki sifat ini, butiran-butiran air di atmosfir bagian atas tidak akan pernah terbentuk, dan hujan pun tidak akan terjadi.

Hal terpenting di sini adalah bahwa peran utama dari angin dalam pembentukan hujan telah dinyatakan berabad-abad yang lalu dalam sebuah ayat Alquran, pada saat orang hanya mengetahui sedikit saja tentang fenomena alam. Fakta lain yang diberikan dalam Alquran mengenai hujan adalah bahwa hujan diturunkan ke bumi dalam kadar tertentu.

Hal ini disebutkan dalam Surat Az Zukhruf sebagai berikut: "Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)." (QS. Az Zukhruf, 43:11)
Kadar dalam hujan ini pun sekali lagi telah ditemukan melalui penelitian modern. Diperkirakan dalam satu detik, sekitar 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini menghasilkan 513 triliun ton air per tahun. Angka ini ternyata sama dengan jumlah hujan yang jatuh ke bumi dalam satu tahun. Hal ini berarti air senantiasa berputar dalam suatu siklus yang seimbang menurut ukuran atau kadar tertentu.

Kehidupan di bumi bergantung pada siklus air ini. Bahkan sekalipun manusia menggunakan semua teknologi yang ada di dunia ini, mereka tidak akan mampu membuat siklus seperti ini.
Bahkan satu penyimpangan kecil saja dari jumlah ini akan segera mengakibatkan ketidakseimbangan ekologi yang mampu mengakhiri kehidupan di bumi. Namun, hal ini tidak pernah terjadi dan hujan senantiasa turun setiap tahun dalam jumlah yang benar-benar sama seperti dinyatakan dalam Alquran.

Sumber : Harun Yahya
READ MORE - Langit Yang Mengembalikan

Lapisan Lapisan Atmosfer


Satu fakta tentang alam semesta sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an adalah bahwa langit terdiri atas tujuh lapis. "Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Qur'an, 2:29) "Kemudian Dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan asap. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya." (Al Qur'an, 41:11-12) Kata "langit", yang kerap kali muncul di banyak ayat dalam Al Qur’an, digunakan untuk mengacu pada "langit" bumi dan juga keseluruhan alam semesta. Dengan makna kata seperti ini, terlihat bahwa langit bumi atau atmosfer terdiri dari tujuh lapisan.

Saat ini benar-benar diketahui bahwa atmosfir bumi terdiri atas lapisan-lapisan yang berbeda yang saling bertumpukan. Lebih dari itu, persis sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, atmosfer terdiri atas tujuh lapisan. Dalam sumber ilmiah, hal tersebut diuraikan sebagai berikut:
Para ilmuwan menemukan bahwa atmosfer terdiri diri beberapa lapisan. Lapisan-lapisan tersebut berbeda dalam ciri-ciri fisik, seperti tekanan dan jenis gasnya. Lapisan atmosfer yang terdekat dengan bumi disebut TROPOSFER. Ia membentuk sekitar 90% dari keseluruhan massa atmosfer. Lapisan di atas troposfer disebut STRATOSFER. LAPISAN OZON adalah bagian dari stratosfer di mana terjadi penyerapan sinar ultraviolet.

Lapisan di atas stratosfer disebut MESOSFER. . TERMOSFER berada di atas mesosfer. Gas-gas terionisasi membentuk suatu lapisan dalam termosfer yang disebut IONOSFER. Bagian terluar atmosfer bumi membentang dari sekitar 480 km hingga 960 km. Bagian ini dinamakan EKSOSFER. .
(Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 319-322) Jika kita hitung jumlah lapisan yang dinyatakan dalam sumber ilmiah tersebut, kita ketahui bahwa atmosfer tepat terdiri atas tujuh lapis, seperti dinyatakan dalam ayat tersebut. 1. Troposfer 2. Stratosfer 3. Ozonosfer 4. Mesosfer 5. Termosfer 6. Ionosfer 7. Eksosfer Keajaiban penting lain dalam hal ini disebutkan dalam surat Fushshilat ayat ke-12, "… Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya." Dengan kata lain, Allah dalam ayat ini menyatakan bahwa Dia memberikan kepada setiap langit tugas atau fungsinya masing-masing. Sebagaimana dapat dipahami, tiap-tiap lapisan atmosfir ini memiliki fungsi penting yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia dan seluruh makhluk hidup lain di Bumi. Setiap lapisan memiliki fungsi khusus, dari pembentukan hujan hingga perlindungan terhadap radiasi sinar-sinar berbahaya; dari pemantulan gelombang radio hingga perlindungan terhadap dampak meteor yang berbahaya. Salah satu fungsi ini, misalnya, dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut: Atmosfir bumi memiliki 7 lapisan. Lapisan terendah dinamakan troposfir. Hujan, salju, dan angin hanya terjadi pada troposfir.

(http://muttley.ucdavis.edu/Book/Atmosphere/beginner/layers-01.html) Adalah sebuah keajaiban besar bahwa fakta-fakta ini, yang tak mungkin ditemukan tanpa teknologi canggih abad ke-20, secara jelas dinyatakan oleh Al Qur’an 1.400 tahun yang lalu.

Sumber : Harun Yahya
READ MORE - Lapisan Lapisan Atmosfer

Petir : Rahmat atau Laknat ?


“Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.” [Al Baqarah 2:19]


Manusia selalu merasa ngeri ketika mendengar kilat sambung-menyambung dan guntur menggelegar. Sampai-sampai ada ungkapan sumpah, “berani disamber geledek kalau gue bohong.”. Orang Yunani menganggap petir dikuasai oleh dewa perang Mars. Orang kejawen percaya bahwa petir dipegang oleh Ki Ageng Selo, sehingga kalau terdengar kilat, mulut mereka komat-kamit berkata, “Slamet-slamet mbah, putune wonten ngandap mriki”. Menurut kepercayaan primitif, petir diartikan dewa langit sedang murka. Kemang ada hadits Tirmidzi dalam Mustadrak dari Abdullah bin Amr r.a. bahwa Rasulullah saw bila mendengar petir berdoa, “Allahumma la taqtulna bighodobika, wala tuahlikna bi’adzabika, wa’afina qobla dzalika” yang artinya “Ya Allah, jangan Engkau bunuh kami karena murka-Mu, dan jangan Engkau musnahkan kami dengan azab-Mu, dan ampuni kami sebelum itu terjadi.”.

Al Quran mengajarkan lebih mendalam lagi. Bukan hanya rasa takut, tetapi ada secercah harapan dalam petir. Kalau hanya ketakutan, itu perilaku orang kafir. Hanya orang kafirlah yang menutup kupingnya karena takut mati mendengar suara petir (perhatikan pada surat Al Baqarah 2:19 di atas). Sebaliknya, orang beriman mestinya menganggap petir adalah ayat-ayat, tanda-tanda kekuasaan Allah yang harus disingkap rahasianya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ar-Rum 30:24 :

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.” [Ar Ruum 30:24]

Petir adalah ayat Allah, dia seharusnya diposisikan sebagai hal penting yang harus ditafakuri seluk-beluknya. Ahli tafsir hanya menyebutkan bahwa yang dimaksud harapan adalah harapan akan turunnya hujan. Rasanya terlalu sederhana. Apa-apa yang disebutkan Allah dalam Al Quran pastilah mengandung isyarat bagi sesuatu yang lebih dalam.

Baru di tahun 1750-an, seorang ilmuwan Amerika, Benyamin Franklin, menemukan bahwa petir adalah sebentuk peristiwa listrik. Petir merupakan lompatan listrik bertegangan tinggi yang terjadi di atmosfer. Arus listrik yang terjadi dalam sekali sambaran petir yaitu 10 coulomb, pada perbedaan tegangan potensial sebesar 100 juta volt !!! Energi yang ditimbulkan sebesar 1 miliar joules atau 280 kwh, cukup untuk menghidupkan AC kamar selama 2 minggu. Padahal setiap detik terjadi 100 lompatan petir di muka bumi. 90% berlangsung di dalam awan, tidak tampak oleh mata. Sisanya terjadi lompatan antara awan dan bumi dengan kecepatan 100.000 km/detik. Bagaimanapun, setiap hari sebetulnya tersedia 100 x 24 60 x 60 x 280 kwh = 22,4 miliar kwh listrik gratis. Namun yang diperoleh manusia sekarang dari petir masih berbentuk musibah kebakaran, nyawa melayang, dan kerusakan alat-alat elektronik. Fabi ayyi ala’i robbikuma tukadziban “Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang ingin kamu dustakan ?”

Dr. Ir. H. Chunaeni Latief M.Eng.Sc, pimpinan laboratorium energi Unisba (Univ. Islam Bandung) mengatakan, seluruh listrik yang kita nikmati sekarang bukanlah energi listrik murni. Sebagian besar berasal dari energi air (PLTA), energi uap (PLTU), energi gas bumi (PLTG), energi nuklir (PLTN), dan lain-lain. Sedangkan yang dinamakan energi listrik yang benar-benar murni yaitu dari petir. Ini belum dimanfaatkan sama sekali. PLTP, Pembangkit Listrik Tenaga Petir, baru dalam taraf eksperimen skala kecil-kecilan di Jepang. Para ahli meteorologi menghitung bahwa suhu di batang petir bisa mencapai 25.000 derajat Celcius, dan tekanan udara menjadi 10 atmosfer dalam sepersekian detik. Ini pun sumber energi potensial lagi yang bisa dikonversi untuk keperluan manusia. Al Quran telah mengisyaratkan adanya ketakutan dan harapan akibat petir. Ketakutan telah membuat manusia mengembangkan teknologi alat penangkal petir. Sedangkan harapan yang timbul dari petir masih terbuka lebar bagi ilmuan Muslim untuk digali.

Selain menghasilkan energi listrik, petir masih mempunyai peranan besar lain di bumi. Petir mempercepat terjadinya hujan dan pembentukan salju. Petir juga berfungsi melestarikan nitrogen di atmosfer bumi. Nitrogen adalah unsur utama yang dibutuhkan makhluk hidup. Diperkirakan, jutaan tahun silam, di awal usianya, petirlah yang telah berjasa atas sintesa terbentuknya zat-zat kimia organik yang akhirnya berlanjut kepada berkembangnya kehidupan di muka bumi. Wallahu a’lam.

Sumber : Mukjizat Sains dalam Alqur'an Menggali Inspirasi Ilmiah

READ MORE - Petir : Rahmat atau Laknat ?

Pencipta langit dan bumi


Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia. ( Surah Al- Baqarah 2 : 117 )

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=268595076507683&set=a.173713469329178.41280.100000715771762&type=1&theater#!/photo.php?fbid=134724796607835&set=a.134723549941293.35796.107600939320221&type=3&theater
READ MORE - Pencipta langit dan bumi

15 September, 2011

Bumi Telah Dirancang Dengan Ketepatan Yang Sempurna

Salah satu temuan mutakhir di dunia sains yang menjadi buah bibir di kalangan ilmuan adalah apa yang disebut prinsip antropis. Prinsip ini mengungkapkan bahwa setiap detail yang terdapat di alam semesta telah dirancang dengan ketepatan yang sempurna untuk memungkinkan manusia hidup. Contoh kecil dari prinsip antropis ini dapat kita temukan pada fakta-fakta yang berkaitan dengan keberadaan bumi. Dalam hal ini, seorang astronom Amerika Hugh Ross dalam bukunya yang berjudul The Fingerprint of God, Recent Scientific Discoveries Reveal the Unmistakable Identitiy of the creator telah membuat daftarnya sendiri sebagai berikut.

1. Jarak bumi dengan matahari



Jarak matahari ke bumi adalah 149.669.000 kilometer (atau 93.000.000 mil). Jarak ini dikenal sebagai satuan astronomi dan biasa dibulatkan (untuk penyederhanaan hitungan) menjadi 148 juta km. Dibandingkan dengan bumi, diameter matahari kira-kira 112 kalinya. Gaya tarik matahari kira-kira 30 kali gaya tarik bumi. Sinar matahari menempuh masa delapan menit untuk sampai ke Bumi.

-Jika lebih jauh: planet bumi akan terlalu dingin bagi siklus air yang stabil

-Jika lebih dekat: planet bumi akan terlalu panas bagi siklus air yang stabil

2. Gravitasi di permukaan bumi



Gravitasi permukaan dari sebuah obyek astronomi (planet, bintang, dll.) adalah percepatan gravitasi yang berlaku pada permukaan obyek tersebut. Gravitasi permukaan bergantung pada massa dan radius obyek tersebut. Seringkali gravitasi permukaan dinyatakan sebagai rasio dengan harga yang berlaku di Bumi.

-Jika lebih kuat: atmosfer bumi akan menahan terlalu banyak gas beracun (amoniak dan methana)

-Jika lebih lemah: atmosfer bumi akan terlalu tipis karena banyak kehilangan udara

3. Periode rotasi bumi



Rotasi Bumi merujuk pada gerakan berputar planet Bumi pada sumbunya dan gerakan di orbitnya mengelilingi matahari.

Masa rotasi Bumi pada sumbunya dalam dalam hubungannya dengan bintang ialah 23 jam, 56 menit dan 4.091 detik. Masa rotasi dalam kaitannya dengan matahari ialah 24 jam.

-Jika lebih lama: perbedaan suhu pada siang dan malam hari terlalu besar

-Jika lebih cepat: kecepatan angin pada atmosfer terlalu tinggi

4. Albedo



Albedo merupakan sebuah besaran yang menggambarkan perbandingan antara sinar matahari yang tiba di permukaan bumi dan yang dipantulkan kembali ke angkasa dengan terjadi perubahan panjang gelombang (outgoing longwave radiation). Perbedaan panjang gelombang antara yang datang dan yang dipantulkan dapat dikaitkan dengan seberapa besar energi matahari yang diserap oleh permukaan bumi.

-Jika lebih besar: Zaman es tak terkendali akan terjadi

-Jika lebih kecil: efek rumah kaca tak terkendali akan terjadi

5. Aktivitas gempa



Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah asal terjadinya kejadian gempa bumi tersebut. Bumi kita walaupun padat, selalu bergerak, dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan.

-Jika lebih besar: terlalu banyak makhluk hidup binasa

-Jika lebih kecil: bahan makanan dasar laut tidak akan didaur ulang ke daratan melalui pengangkatan tektonik

6. Ketebalan kerak bumi





Kerak bumi adalah lapisan terluar Bumi yang terbagi menjadi dua kategori, yaitu kerak samudra dan kerak benua. Kerak samudra mempunyai ketebalan sekitar 5-10 km sedangkan kerak benua mempunyai ketebalan sekitar 20-70 km. Penyusun kerak samudra yang utama adalah batuan basalt, sedangkan batuan penyusun kerak benua yang utama adalah granit, yang tidak sepadat batuan basalt.

Kerak bumi dan sebagian mantel bumi membentuk lapisan litosfer dengan ketebalan total kurang lebih 80 km.

-Jika lebih tebal: terlalu banyak oksigen berpidah dari atmosfer ke kerak bumi

-Jika lebih tipis: aktivitas tektonik dan vulkanik akan terlalu besar

7. Medan magnet bumi



Magnetosfer Bumi adalah suatu daerah di angkasa yang bentuknya ditentukan oleh luasnya medan magnet internal Bumi, plasma angin matahari, dan medan magnet antarplanet. Di magnetosfer, campuran ion-ion dan elektron-elektron bebas baik dari angin matahari maupun ionosfir bumi dibatasi oleh gaya magnet dan listrik yang lebih kuat daripada gravitasi dan tumbukan.

-Jika lebih kuat: badai elektromagnetik akan terlalu merusak

-Jika lebih lemah: kurangnya perlindungan dari radiasi berbahaya yang berasal dari luar angkasa

8. Interaksi gravitasi dengan bulan



Bulan yang ditarik oleh gaya gravitasi Bumi tidak jatuh ke Bumi disebabkan oleh gaya sentrifugal yang timbul dari orbit Bulan mengelilingi bumi. Besarnya gaya sentrifugal Bulan adalah sedikit lebih besar dari gaya tarik menarik antara gravitasi Bumi dan Bulan. Hal ini menyebabkan Bulan semakin menjauh dari bumi dengan kecepatan sekitar 3,8cm/tahun.

-Jika lebih besar: efek pasang surut pada laut, atmosfer dan periode rotasi semakin merusak

-Jika lebih kecil: perubahan tidak langsung pada orbit menyebabkan ketidakstabilan iklim

9. Kadar karbondioksida dan uap air dalam atmosfer



Atmosfer Bumi terdiri atas nitrogen (78.17%) dan oksigen (20.97%), dengan sedikit argon (0.9%), karbondioksida (variabel, tetapi sekitar 0.0357%), uap air, dan gas lainnya. Atmosfer melindungi kehidupan di bumi dengan menyerap radiasi sinar ultraviolet dari matahari dan mengurangi suhu ekstrem di antara siang dan malam. 75% dari atmosfer ada dalam 11 km dari permukaan planet.

Atmosfer tidak mempunyai batas mendadak, tetapi agak menipis lambat laun dengan menambah ketinggian, tidak ada batas pasti antara atmosfer dan angkasa luar.

-Jika lebih besar: efek rumah kaca tak terkendali akan terjadi

-Jika lebih kecil: efek rumah kaca tidak memadai

10. Kadar ozon dalam atmosfer



Ozon terdiri dari tiga molekul oksigen dan amat berbahaya pada kesehatan manusia. Secara alamiah, ozon dihasilkan melalui percampuran cahaya ultraviolet dengan atmosfer bumi dan membentuk suatu lapisan ozon pada ketinggian 50 kilometer.

Ozon tertumpu di bawah stratosfer di antara 15 dan 30 km di atas permukaan bumi yang dikenal sebagai 'lapisan ozon'. Ozon dihasilkan dengan pelbagai persenyawaan kimia, tetapi mekanisme utama penghasilan dan perpindahan dalam atmosfer adalah penyerapan tenaga sinar ultraviolet (UV) dari matahari.

-Jika lebih besar: suhu permukaan bumi terlalu rendah

-Jika lebih kecil: suhu permukaan bumi terlalu tinggi, terlalu banyak radiasi ultraviolet

Daftar di atas hanyalah sedikit contoh dari sekian banyaknya data yang melimpah tentang adanya prinsip Antropis. Namun, yang sedikit inipun cukup untuk menghancurkan mitos yang dipercaya para ilmuan materialis, yaitu bahwa keberadaan bumi beserta kehidupan yang terdapat padanya terjadi secara kebetulan melalui serangkaian persitiwa acak tanpa perencanaan. Siapapun yang mempelajari data-data ini tidak akan gagal untuk sampai pada kesimpulan bahwa bumi ini merupakan tempat yang telah dirancang dengan tingkat kerumitan yang tak terbayangkan dan dengan kesesuaian yang sempurna demi keberlangsungan kehidupan di dalamnya.

http://www.facebook.com/mukhtar.api/posts/2032034122837?ref=notif&notif_t=feed_comment#!/notes/science-and-technology-studies/bumi-telah-dirancang-dengan-ketepatan-yang-sempurna/230919606957800
READ MORE - Bumi Telah Dirancang Dengan Ketepatan Yang Sempurna