Tampilkan postingan dengan label Wisata Bahari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Bahari. Tampilkan semua postingan

21 Desember, 2021

PULAU BALABALAGAN SERPIHAN SURGA INDONESIA

 Idola Penyelam Ada Suguhan Penyu Hijau


Indonesia itu ibarat serpihan tanah yang jatuh dari surga. Alam nusantara yang tersuguhkan begitu kaya dan bagus. Setiap orang bakal terkesima akan eksotisme alamnya, seperti di antaranya Pulau Balabalagan di Kabaten Mamuju, Sulawesi Barat.  

Hery Seputro (42), penyelam profesional asal Balikpapan dari komunitas Scuba Diver pernah merasakan keperawanan alam Pulau Balabalagan sekitar awal Februari 2018.

Air lautnya yang kehijau-hijauan, pasir pulaunya yang putih bersih, memberikan kepuasan maksimal berwisata bahari. Inilah rekaman ingatan Hery waktu berkunjung.

Decak kagum akan keindahan kelestarian alam Balabalagan tidak tertahankan saat dirinya tiba di lokasi, setelah menempuh perjalanan jauh dari Balikpapan melalui jalur laut, menggunakan perahu bermotor.

Suguhan panorama alam Pulau Balabalagan yang bersih alami. Lokasi ini berdekatan dengan Kota Balikpapan dan Grogot, Provinsi Kalimantan Timur. Namun secara adminsitrasi pemerintahan masuk wilayah Mamuju, Sulawesi Barat.

Rasa lelah terhuyung ombak laut langsung terbayar puas, saat dirinya berhasil mendekap erat Pulau Balabalagan. “Masih bersih. Cakep banget tempatnya,” tuturnya kepada Tribunkaltim melalui sambungan telepon selulernya pada Jumat 25 Mei 2018 pagi.

Saat Hery menyudahi wisata alam di Pulau Balabalagan, rasanya tidak terlupakan, tersimpan kenangan indah. Memori berada di Balabalagan memberi kesan yang menakjubkan, serasa tertagih untuk bisa mengunjunginya lagi tanpa terpatri ungkapan yang membosankan.     

Dia ingat kala itu, alam Pulau Balabalagan masih asli natural, belum ada campur tangan kreasi dan fantasi manusia. Gugusan pulau-pulau yang disekelilingnya pun tak kalah indah.

Kondisi perairannya masih jernih, terjaga secara baik, belum terkontaminasi oleh sampah rumah tangga. Air di sekeliling Pulau Balabalagan memancarkan aura biru muda dan kehijau-hijauan. Tak lupa karpet pasir putih pun menjadi alas pulau ini.

“Berpasir bersih, seputih kristal. Bagus sekali. Pantainya benar-benar elok menawan,” ujar Hery, yang menjabat sebagai Koodinator Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Manggar Balikpapan.

Menurut dia, bagi para pecinta alam bawah laut, tempat ini sangat cocok untuk kegiatan penyelaman. Panorama alam bawah laut tidak kalah dengan yang di daratan.

Suasana bawah laut memuat menu terumbu karang yang kaya dan ragam dengan penuh tampilan indah, dipadu dengan biota laut yang lain yang juga tak kalah cantik.

“Sewaktu saya menyelam benar-benar kagum. Saya juga beruntung waktu itu. Saat menyelam saya sekaligus bisa melihat secara langsung penyu hijau (Chelonia Mydas) sedang bermain-main di sekitaran bawah laut. Saya dekati si penyu sangat jinak,” ungkap Hery.

Menjelajah ke Pulau Balabalagan memang menakjubkan. Hery menjelajahi pulau ini sangat mudah, hanya menempuh perjalanan sekitar 10 jam dari Kota Balikpapan menggunakan transportasi laut.

Biaya perjalanan ke sana, Hery harus merogoh kocok isi kantong sampai berkisar Rp 2 juta. Dana ini dipakai biaya sewa kapal pulang pergi. Kapal ini bisa memuat sampai 10 orang. Namun bila membawa barang muatan banyak maka hanya bisa tampung sampai tujuh orang.

“Kapalnya lengkap ada nakhoda dan tiga orang anak buah kapal,” kata pria yang bekerja sebagai aparatur sipil negara di lingkungan instansi Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Balikpapan ini. 

Selain itu, total dana itu juga sudah termasuk untuk membiayai konsumsi selama di pulau, dan penginapan di rumah seorang nelayan setempat. Artinya biayanya cukup untuk sehari satu malam. “Alat-alat selam, dan alat snorkeling saya bawa sendiri, punya saya sendiri,” ujarnya.

Soal Pulau Balabalagan yang terletak di Selat Makassar, beberapa tahun yang lalu, sempat ramai. Ada dua daerah saling memperebutkan, berdebat merasa yang berhak atas kepulauan ini, yakni antara pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dengan Provinsi Sulawesi Barat.

Namun pada akhirnya, sekitar tahun 2014, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia memberikan keputusan, kawasan kepulauan Selat Makassar, termasuk Pulau Balabalagan dinyatakan masuk dalam pangkuan wilayah administrasi Provinsi Sulawesi Barat.

Hitungan geografis dari Biro Perbatasan dan Penataan Wilayah Setprov Kalimantan Timur, disebutkan bahwa Pulau Balabalagan sebenarnya lebih dekat menjorok ke kawasan Kalimantan Timur.

Dibandingkan jarak dengan Sulawesi Barat, jelas lebih jauh. Dari Kalimantan Timur hanya berjarak 33 mil, sedangkan ukuran ke Sulawesi Barat berjarak 50 mil menyentuh garis pantai Mamuju.


Pengalaman Hery, daya tempuh dari Grogot, Kabupaten Paser, Provinsi Kaltim lebih dekat ke Pulau Balabalagan, hanya memakan waktu 5 jam saja melalui berlayar di laut. Namun bagi warga yang berasal dari Balikpapan semestinya langsung saja lintasi lautan.

Menurut Hery, alangkah baiknya perjalanan dari Balikpapan langsung tempuh jalur laut daripada harus tempuh jalur darat terlebih dahulu ke Grogot Kabupaten Paser yang butuh waktu sampai 8 jam.

Bagi dia, perjalanan darat itu sangat melelahkan. Belum lagi kalau ada tambahan halangan selama di medan darat yang tak terduga, maka semakin berat perjalanannya, memakan waktu dan tenaga yang banyak.

“Yang dari Balikpapan, ya mending pilih jalan laut langsung, tidak perlu harus ke Grogot dahulu. Paling kalau langsung laut hanya butuh sekitar 10 jam saja itu. Tidak terasa bisa cepat sampai,” ungkap pria beranak satu ini.

Balikpapan Kepincut Garap Wisata Balabalagan
Pesona keindahan natural Pulau Balabalagan rupanya membuat daya tarik Pemerintah Kota Balikpapan. Panorama alamnya yang dahsyat membuat Kota Balikpapan kepincut untuk menjadikannya sebagai ‘amunisi’ penambah bagi pertumbuhan ekonomi daerah dari sektor pariwisata.

Saat Tribunkaltim bersua dengan Omey Facessly, Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Balikpapan di gedung Walikota Balikpapan, Jalan Jenderal Sudirman usai rapat pagi, Senin 21 Mei 2018, menyatakan, ketertarikannya kepada Pulau Balabalagan untuk mengemasnya sebagai ‘senjata’ jualan wisata kota minyak, Balikpapan.    

Dia menjelaskan, dalam upaya mendorong gairah pariwisata Kota Balikpapan maka dipilih Pulau Balabalagan sebagai alternatif lain dalam meningkatkan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke Balikpapan.

Omey menyadari, secara administrasi pemerintahan, Pulau Balabalagan masuk ke wilayah Sulawesi Barat tetapi jarak geografisnya lebih dekat dengan Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Berkat jarak yang dekat, menjadi keuntungan bagi Balikpapan untuk menggaet para wisatawan dari berbagai penjuru. “Kita mau coba dahulu peluang kerjasamanya seperti apa, soalnya masuk ke Sulawesi Barat,” tuturnya.

Secara kemajuan, Kota Balikpapan memiliki bandara modern dan terkenal ke berbagai penjuru dunia. Bandar Udara Sultan Aji Muhamamad Sulaiman (SAMS), Sepinggan Balikpapan, menjadi tempat pendaratan bagi semua masyarakat dari dalam negeri maupun luar negeri.

Artinya, kata Omey, adanya bandara berkelas internasional di Balikpapan akan semakin memudahkan wisatawan mengakses ke Pulau Balabalagan yang indah. Terbang berangkat dari berbagai daerah bisa mendarat langsung ke Balikpapan di Bandara SAMS Sepinggan, kemudian dilanjutkan ke Pulau Balabalagan.

Bandingkan dengan daya tempuh perjalanan ke Sulawesi Barat, yang secara infrastruktur masih kalah jauh dengan Kota Balikpapan. Belum lagi daya tempuhnya dari Mamuju Sulawesi Barat ke Balabalagan sangat jauh, 50 mil, tentu saja memakan biaya dan waktu yang tidak sedikit.

Karena itu, dia kini bersama Plt Walikota Balikpapan sedang berpikir untuk melakukan langkah ke depan, terkait menggarap wisata Pulau Balabalagan. 



Yang menurut analisis, optimis akan berpengaruh positif bagi keuntungan Balikpapan, terutama dalam penciptaan lapangan pekerjaan baru bagi warga Balikpapan dan perputaran uang daerah Balikpapan.

“Kami akan coba juga terlebih dahulu berkoodinasi dan musyawarah dengan pemerintah daerah Sulawesi Barat. Mau tahu seperti apa tanggapannya, kalau kami nanti akan mengemas wisata Pulau Balabalagan,” tegas Omey.

Menurut Omey, para wisatawan yang berkunjung ke Balikpapan dipastikan tidak akan rugi. Selain bisa merasakan lebih dekat dengan alam Pulau Balabalagan, suguhan tempat wisata menarik lainnya juga tersedia lengkap di Balikpapan.

Turis mancanegara dan domestik yang berkunjung ke Balikpapan disuguhakan di antaranya ada tempat wisata pantai favorit seperti Pantai Kilang Mandiri, Pantai Monpera, Pantai Kemala, Pantai Manggar, dan Pantai Lamaru.

Selain itu juga ada wisata alam seperti Kebun Raya Balikpapan yang sampai sekarang ini dianggap kebun raya terluas di Indonesia. 

Tidak ketinggalan juga ada wisata alam Hutan Sungai Wain dan Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup yang menyajikan satwa langka Beruang Madu atau Helarctos Malayanus.

Ingin mencari wisata sejarah? Di Balikpapan juga tersedia, seperti Museum Dahor Heritage yang sediakan rumah-rumah peninggalan zaman kolonial Hindia Belanda, makam prajurit Jepang di Lamaru dan Tugu Anzad Day Australia sebagai saksi bisu kecampuk perang dunia kedua di Balikpapan.

Di tempat terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan, Sahmal Ruhip, ungkapkan, okupansi hotel di Balikpapan menurun dari tahun ke tahun. 

PHRI memberi masukan kepada Dinas Pariwisata supaya Kota Balikpapan memiliki fokus garapan wisata yang menarik dan khas.

Dirinya mengaku, semua para hotel dan restoran mengeluh sepi karena sepinya Kota Balikpapan. Semenjak sektor sumber daya alam batu bara dan minya menurun, daerah Balikpapan ikut berpengaruh, ekonominya ikut turun.

PHRI Balikpapan berharap, pemkot harus ada upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan supaya roda ekonomi daerah berjalan maksimal, memperoleh hasil signifikan.

“Yang datang ke Balikpapan kalau hanya untuk wisata saya kira persentasenya belum bagus,” tegas Sahmal, pemilik Hotel Djang Djaya Balikpapan ini.[1]  (ilo)
 
 



 

Lihat Berita Wisata Bahari Lainnya



Pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan



 
Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempatnya


 


Berminat Hub 081342791003 
 
 
  Menyediakan Batik Motif IKan
Untuk Melihat Klik
Yang Berminat Hub 081342791003



Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di 


Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.
Berminat Hub 08134279100
 
READ MORE - PULAU BALABALAGAN SERPIHAN SURGA INDONESIA

30 Juli, 2019

Menelusuri Jejak Pelaut Spanyol di Laut Tidore


Tim dari Kementerian Kelautan dan Perikanan melakukan penyelaman, mencari jejak kapal Victoria dan Trinidad di antara perairan Ternate dan Tidore. (Istimewa)

Misteri berusia 500 tahun nyaris terpecahkan. Beberapa waktu lalu, tim penyelam dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencoba menyusuri, jejak keberadaan bangkai kapal Vistoria dan Trinidad di antara perairan Tidore dan Ternate.

Kapal tersebut adalah bagian dari narasi Juan Sebastian de Elcano dan Ferdinand Magelhaens dalam ekspedisi mengelilingi dunia. Kini jejak itu terukir dalam sebuah monumen di Kelurahan Rum Balibunga, Tidore Utara.

Kini, rekam jejak peristiwa itu kembali diurai. Tim penyelam KKP mencoba mengintai bangkai kapal tersebut di dasar laut, sekaligus menjawab posisi Indonesia dalam sejarah maritim dunia.

Tim dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, mencari jejak kapal Victoria dan Trinidad di antara perairan Ternate dan Tidore. (Istimewa)

Kepala Loka Riset Sumber Daya Manusia dan Kerentanan Pesisir, Nia Naalul Hasanah Ridwan, di Tidore, Minggu (28/7/2019), mengatakan, timnya telah menyelami di depan Benteng Kastela Ternate, Tanjung Tongowai Tidore dan depan Benteng Tahula Tidore.

Menurut Nia, timnya belum mendapatkan titik terang di depan Benteng Kastela Ternate. Padahal, penyelaman itu berdasarkan data yang diperoleh dari perpustakaan dan arsip nasional. Misteri mulai terpecahkan di Tanjung Tongowai. 

“Kami menemukan 2 bangkai kapal,” ungkap Nia kepada wartawan di kawasan Monumen Pendaratan Rombongan Juan Sebastian de Elcano di Kelurahan Rum Balibunga, Kota Tidore Utara.

Tim dari Kementerian Kelautan dan Perikanan persiapan menyelam, mencari jejak kapal Victoria dan Trinidad di antara perairan Ternate dan Tidore. (Istimewa)

Nia bilang, satu kapal panjangnya sekira 100 meter lebih. Satunya lagi 70 meter. Selain itu, ditemukan ratusan guci dan dua buah meriam. "Kalau di depan Benteng Tahula masih dalam tahap penyelaman," kata Nia. 

Saat ini, KKP masih meneliti motif dan artefak berupa lukisan pada guci yang sudah diangkat sekitar 150 buah lebih itu. "Kalau untuk senjata meriam terdapat gambar salib, globe atau bola dunia dan emas," terangnya.

Nia bilang, dari ketiga gambar ini bisa disimpulkan, bahwa selain misi perdagangan, tujuan kedatangan Bangsa Spanyol dan Portugis untuk penyebaran agama. Ia berharap masyarakat turut mendukung dengan memberikan informasi, atau petunjuk atas jejak karamnya dua kapal fenomenal tersebut. "Kita masih perlu menggali lebih dalam lagi," katanya.

Nantinya, lanjut dia, bakal digelar Focus Group Discussion pada Selasa (30/7) di Aula Sultan Nuku, Kantor Walikota Tidore, dengan melibatkan seluruh komponen. "Termasuk dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Luar Negeri, serta Kementerian Kemaritiman," jelasnya.



Untuk kebutuhan Air Minum yang menyehatkan  coba konsumsi Air Izaura Air yang terbukti dapat membantu proses penyembuhan Kegemukan, Migran, Alergi, Sakit Maag, ASam Urat, Nyeri Sendi, Sambelit, Sakit Pinggang, Osteiporosis, Reumatk, Kanker, Vertigo, Ashma, Brinchitis, Darah Tinggi, Kencing Batu, Kolestrol, DIABetes, Jantung, Darah Rendah, Jerawat', WAsir dan Batu Ginzal. Dan menghilangkan racun dalam tubuh.
Mau Sehat dan Menyehatkan Minum Air Izaura
 Mau Meraih Penghasilan Besar, Membantu Kesehatan Semua Orang dan Memiliki Bisnis Yang Mudah Anda Jalankan dengan Modal 350 ribu s.d 500 ribu.
Berminat Hub Mukhtar, A.Pi  HP. 081342791003 
Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempat 
 Kos Putri Salsabilla Kendari
 Hub 081342791003


Menerima pesanan Kanopi, Pagar Besi, Jendela
 dengan Harga Murah dengan Sistim Panggilan.
Berminat Hub 081342791003 

Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di 
GRIYA GODO PERMAI
Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.

Berminat Hub 081342791003 
READ MORE - Menelusuri Jejak Pelaut Spanyol di Laut Tidore

28 April, 2019

Menggabungkan Bisnis Perikanan dan Pariwisata

Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, dengan menggabungkan bisnis perikanan dan pariwisata akan menjadi industri yang berkelanjutan.
Untuk itu, bisnis perikanan harus diarahkan pada industri yang produktif, sehingga dapat membuka lebih banyak peluang kerja dan berkelanjutan.
Susi mencontohkan, bisnis perikanan dan industri pariwisata, dapat menjadi alternatif solusi atas sumber daya ekstraktif yang dapat terus menyusut dalam jangka panjang.

Susi menyampaikan hal ini saat menghadiri acara Sidang Pleno AFEBI (Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia) XVI di Ballroom Hotel Soll Marina Bangka, Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (25/4).
Sebagai keynote speech dalam Sidang AFEBI, Susi menyampaikan materi mengenai “Ekowisata Bahari sebagai Solusi Pertumbuhan Ekonomi Menuju Sustainable Development”.

“Kita harus membangun ekowisata, geopark, pertanian, fishery tourism, lalu marine tourism. Itu hal yang bagus karena akan membuka lapangan-lapangan kerja baru,” kata Susi.
Jadi, menurut Susi, bisnis perikanan harus diarahkan kepada (industri) yang memiliki karakter produktif. Pertambangan saja jika nanti habis, selesai, mau apa? “Pariwisata, perikanan itu industri yang produktif. Kalau industri ekstraktif akan ada masa usainya. Kalau timah sudah tidak ada lagi, kita mau apa?” ujarnya.

Susi mendorong agar pemerintah daerah (Pemda) mulai memberikan perhatian lebih pada pembangunan industri serupa yang bersifat produktif untuk menjaga keberlanjutan. Semua Pemda mulai ancang-ancang untuk membangun industri-industri yang karakateristiknya produktif dan tentunya berkelanjutan (sustainable). Kalo tidak ada sustainability, tentu umur industri itu hanya akan bertahan sebentar saja.

Para pelaku usaha juga harus terus mendorong upaya keberlanjutan industri perikanan sebagai renewable resources yang dilakukan oleh pemerintah selama ini. Upaya pemerintah, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang terus mendorong larangan praktik-praktik perikanan yang tidak berkelanjutan seperti penggunaan alat tangkap cantrang, trawl, dan bom ikan bukan untuk menyulitkan para nelayan dan pelaku usaha perikanan.

“Nah, makanya adanya pelarangan alat tangkap bom ikan (detonator) , cantrang, trawl, dan bius itu tidak boleh. Karena bayangkan, satu detonator itu mampu merusak laut berapa meter persegi? Budaya-budaya ini harus kita hilangkan. Sebaliknya, wisata bahari dan perikanan berkelanjutan inilah yang harus kita bangun untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia. Semuanya kembali ke maritim. Wisatanya, perikanannya, energinya,” kata Susi.
Larangan-larangan itu dilakukan untuk menjaga industri kelautan dan perikanan. Sehingga sumber daya Indonesia dapat diarahkan pada industri-industri produktif seperti wisata bahari yang akan menguntungkan dalam jangka panjang.*

https://darilaut.id/berita/menggabungkan-bisnis-perikanan-dan-pariwisata

 

Untuk kebutuhan Air Minum yang menyehatkan  coba konsumsi Air Izaura Air yang terbukti dapat membantu proses penyembuhan Kegemukan, Migran, Alergi, Sakit Maag, ASam Urat, Nyeri Sendi, Sambelit, Saking Pinggang, Osteiporosis, Reumatk, Kanker, Vertigo, Ashma, Brinchitis, Darah Tinggi, Kencing Batu, Kolestrol, DIABetes, Jantung, Darah Rendah, Jerawat', WAsir dan Batu Ginzal. Dan menghilangkan racun dalam tubuh.

Mau Sehat dan Menyehatkan Minum Air Izaura
 Mau Meraih Penghasilan Besar, Membantu Kesehatan Semua Orang dan Memiliki Bisnis Yang Mudah Anda Jalankan dengan Modal 350 ribu s.d 500 ribu.
Berminat Hub Mukhtar, A.Pi  HP. 081342791003 
 
 
Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempat 
Kos Putri Salsabilla Kendari
 Hub 081342791003
 
 
Menerima pesanan Kanopi, Pagar Besi, Jendela
 dengan Harga Murah dengan Sistim Panggilan.
 
 
Topi Pegawai Ditjen Perikanan Tangkap
Berminat Hub 081342791003 
 
 
Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di GRIYA GODO PERMAI
Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.
Berminat Hub 081342791003 
READ MORE - Menggabungkan Bisnis Perikanan dan Pariwisata

10 Juli, 2018

Cerita Namu, Dulu Desa Pengebom Ikan Kini Surga Keindahan Alam

Saya mengunjungi Desa Wisata Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Sabtu (30/6/18). Desa ini jadi buah bibir warga Sultra, terutama Kota Kendari karena keindahan alamnya. 
 
Namu dihuni 481 jiwa dengan 121 keluarga,  yang menggantungkan hidup dari bertani dan melaut. Penduduk mayoritas Suku Tolaki.
Kala musim barat, laut cenderung teduh, masyarakat ramai melaut. Saat musim timur,  ketika ombak tak bersahabat, warga memilih bertani.

Banyak potensi wisata dapat dinikmati di sini. Mulai keindahan laut biru dengan hamparan pasir putih, terumbu karang, suasana tenang, dan air terjun.
Hamparan pasir putih sekitar satu kilometer lebih, begitu terjaga dari tangan jahil penambang. Kala matahari cerah, hamparan pasir bak permadani memanjakan pengunjung menikmati sinar matahari pagi.

Bagi penyelam, sekitar 10 menit berperahu dari bibir pantai, surga bawah laut menawarkan keindahan tiada tara. Terumbu karang hasil revitalisasi masyarakat telah mengundang para penyelam dari pelosok negeri sekadar berswafoto.
Namu dapat diakses via kapal angkutan milik nelayan. Di utara bibir pantai, ada air terjun Namu berbentuk punden berundak. Ia mirip air terjun Moramo, di Kecamatan Moramo, Konawe Selatan. Air tak pernah berhenti mengalir meski kemarau panjang.

Di kelilingi hutan alam lebat dengan kelestarian terjaga dipercaya jadi penjaga ketersediaan air di Namu. Kelestarian hutan Namu ini membawa berkah pada kehidupan flora dan fauna di sana.
Jejeran nyiur rimbun jadi daya pikat untuk membentang tikar di pantai. Di sana, ada beberapa warung dan rumah tinggal sewaan bagi wisatawan. Kalau mengenal warga, biasa wisatawan dapat potongan harga.

Birunya laut membentang sejauh mata memandang hingga ke bibir pantai mengajak pengunjung untuk mandi berlama-lama. Foto: Kamarudin/ Mongabay Indonesia

Bom ikan
Di balik keindahan alam Namu, ternyata pernah ada cerita kelam. Dulu, nelayan masih menggunakan bom untuk menangkap ikan. Mereka kebanyakan warga pesisir.

Dulu, mereka gunakan pancing. Seiring marak bom ikan berbahan pupuk urea dan amonium nitrat, nelayan mulai ramai memakai ‘senjata’ baru ini. Tak pelak, tak hanya ikan-ikan mati, terumbu karang pun mengalami kerusakan.
Susi Pudjiastuti,  Menteri Kelautan dan Perikanan pernah mengatakan,  hasil dari kunjungan ke beberapa provinsi mendapatkan keluhan nelayan asal Sultra suka pakai bom saat menangkap ikan.

“Yang saya sampaikan ini bener lho, nelayan dari beberapa daerah itu mengeluh karena yang melakukan pemboman ikan itu dari Sultra. Karena itu,  saya datang meminta nelayan di daerah ini hentikan penggunaan bom ikan,” kata Susi di hadapan para mahasiswa dan civitas akademika Universitas Halu Oleo di Kendari, awal 2018.

Data Dinas Perikanan dan Kelautan Konawe Selatan, kerusakan terumbu karang 70% di Namu.  “Kerusakan di pesisir Laonti, dekat Namu, terjadi pengeboman ikan masif, sekarang sudah mulai berkurang,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tenggara, Askabul Kijo.
Pernyataan Askabul dibenarkan sejumlah komunitas pecinta alam. Sambil terus mengintip kondisi di sana, ternyata mereka sudah berpikir tentang sesuatu yang besar sejak 2015.

***
Di Namu,  saya bertemu Yos Hasrul, pekerja sosial pengembangan pariwisata. Dia bercerita, Namu sebelumnya dikenal orang sebagai surga pembom ikan,  kini dikenal sebagai pusat wisata luar biasa.
“Di sini dulu jalur pengeboman ikan nyaris tak berhenti, hingga membentuk citra buruk,” katanya.

Seiring perjalanan waktu, Yos bercerita mereka mulai masuk dan mendobrak kebiasaan warga. Sosialisasi dilakukan, mulai mendatangi rumah warga dari pintu ke pintu sampai pertemuan yang dihadiri bupati maupun camat.
Nelayan belajar memanfaatkan kekayaan laut dengan arif. Hampir tiap hari mereka mendapat ilmu tentang pentingnya menjaga karang. Masyarakat sepakat menolak keras segala bentuk tindakan merusak laut.

“Kami bersama pemerintah setempat mengajarkan kepada masyarakat bagaimana daerah ini agar berkembang jadi tempat wisata. Ini diterima oleh semua,” kata Yos.

Laut biru berpadu dengan pemandangan jejeran pohon kelapa dan pemukiman warga, begitu memanjakan mata. Foto: Kamarudin/ Mongabay Indonesia

Kekompakan warga bangun desa wisata
Kini, warga menolak bom ikan di laut mereka.  “Kami marah kalau ada bom ikan. Itu cerita masa lalu, jangan diulang lagi. Mari kita membangun daerah ini,” kata Ridwan, nelayan Namu.
Wajah desa kini berubah total. Dari desa pembom ikan dan tanpa gairah, jadi kantong penghasilan yang memberikan kehidupan bagi warga.
Secara sosial dan ekonomi, berbagai perubahan kini dirasakan warga sekitar. Jika menyusuri jalan-jalan seputar desa, kini berbagai layanan penunjang wisata banyak bertebaran di sepanjang jalan.
“Banyak yang kami dapatkan untuk menunjang ekonomi kami sendiri. Tidak saja menjadi nelayan tapi di waktu libur melaut kami membuat seperti tempat-tempat istirahat untuk orang berwisata. Kami juga budidaya kerang laut,” ucap Ridwan.

Hampir seluruh warga Namu bergotong royong membangun desa wisata. Kampanye peniadaan bom ikan pun terus disampaikan warga. Sukses wisata di Namu, terkait erat dengan dua hal besar. Pertama, kuatnya dukungan masyarakat setempat terhadap perubahan. Kedua, kesuksesan mengembalikan terumbu karang rusak karena bom.
“Karena itu kami kalau melaut tidak jauh-jauh karena ikan juga sudah kembali,” ucap Nuni, juga warga Namu.

***
Desa Namu terletak di pesisir,  bisa diakses oleh transportasi laut. Pada sisi timur desa berhadapan langsung dengan Pulau Buton bagian utara, di sisi selatan, berdampingan langsung dengan Pulau Wawonii, Kabupaten Konawe Kepulauan.

Namu juga cukup mudah diakses dari ibukota Konawe Selatan, di sisi utara desa, sedangkan sisi barat, berbatasan dengan wilayah administrasi Kota Kendari, berjarak tempuh sekitar dua jam perjalanan.
Namu terbentuk sebagai desa wisata setelah Yuddin jadi kepala desa yang terpilih kembali pada pilkades 2015. Dia bertekad jadi Namu sebagai desa wisata.

Mimpi Yuddin tentu bukan isapan jempol belaka. Dia sadar betul dengan keindahan dan potensi alam desa ini.
Saya menemui, Yuddin. Dia bercerita, sejumlah obyek wisata di Namu, seperti pasir putih membentang laksana alis seorang putri. Garis pantai ini terletak di empat dusun terpisah. Paling indah dan pusat wisata di pantai Dusun 1. Panjang garis  pantai mencapai satu kilometer.

Masih di Dusun 1, pasir putih dekat dermaga di sisi  selatan jadi daya tarik tersendiri.“Saat air pasang, pasir putih tenggelam hingga cocok untuk snorkeling. Saat surut,  pasir panjang membentang luas bisa untuk berjemur dan jadi arena olah raga sepakbola atau voly pantai,” katanya.
Tak jauh dari pasir panjang, pengunjung disuguhkan keindahan bebatuan alam berwana hitam pekat  (black stone) mirip di Uluwatu,  Bali, dan cocok untuk pemotretan. Hamparan batu hitam ini terhubung dengan tanjung dan bebatuan berwarna merah (red stone).

Kedua sisi hamparan batu hitam dan batu merah terdapat kumpulan pepohonan mangrove dan cemara laut nan indah. Di tanjung,  wisatawan bisa menyaksikan keindahan laut di Dusun 3 dan Dusun 4 Desa Namu. Pemukiman penduduk juga tampak indah dari kejauhan.
”Di tanjung ini, alam bawah laut cocok jadi lokasi penyelaman. Hasil eksplorasi tim penyelam menemukan kondisi  terumbu karang masih alami, mirip alam bawah laut Wakatobi,” ucap Yuddin.

Ke Namu,  saya tak saja menikmati keindahan laut. Di belakang desa ada danau biru dengan sumber air dari pegunungan Namu. Sekitar satu kilometer di punggung bukit desa, juga ada wisata air terjun setinggi 12 meter, mirip air terjun Moramo pada Suaka Margasatwa Tanjung Peropa.
Aneka satwa masih sering dijumpai di sini, seperti rusa, anoa, kera hitam Sulawesi, rangkong, elang Sulawesi hingga  babi hutan.  Begitu juga aneka flora endemik tumbuh subur di hutan Namu, seperti anggrek macan corak kuning yang sangat langka.

Keterangan foto utama: Pemerintah desa dan aktivis sosial terus menggenjot pengembangan wisata Namu. Foto: Kamarudin/ Mongabay Indonesia



(Visited 1 times, 2 visits today)
 
 
READ MORE - Cerita Namu, Dulu Desa Pengebom Ikan Kini Surga Keindahan Alam