Bismillah.. 1.Kone da Mboto, sura Nggini 2.Kone da NTIKA, sura Ambi 3.Kone da Heba, Sura Bareka 4.Kone da Loa, Sura To'a
--------------- Bahwa yg menjadi modal bagi dou mbojo utk merasa lebih / merasa kurang dlm hidup bermasyarakat, ditentukan oleh 4 hal :
1. MBOTO = banyak materi. Karena tdk semua org bs kaya. Tp org bima akan merasa terpenuhi /tercukupi dgn kondisi NGGINI = sedikit/ berisi/cukup (arab : ghany).
2. NTIKA = cantik dan manis rupa. Rupa yg cantik Ini tdk semua org punya, mk bagi wanita umum dpt dicukupkan dgn AMBI = berpenampilan /bersikap manis dan menarik/tepat pd segala situasi.
3. HEBA = kedudukan tinggi/derajad sosial, maka org bima melihat justru hidup dg BAREKA = berkah, Itu hidup yg jauh lebih mulia.
4. LOA = pintar/alim, kaum awam tak terpelajar tidak berkurang mulianya dgn mengutamakan adanya TO'A = sifat taat (tawadhu). Toa dei Ruma Toa dei Ina ro Ama Toa dei guru.
EDE PAHUNA Bijaksananya orang Tua Kita dulu... Smg bs diwariskan oleh kita diera sekarang..
Investasi
Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah
Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1
Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya +
500 Meter.
Sepenggal Kisah Masa Jepang Di Bima =============================
Saya lahir di desa Talabiu Bima 13 Juli 1925. Hal itu saya ketahui karena kebiasaan orang tua saya menuliskan kelahiran putera-puterinya di tiang-tiang rumah. Di usia sekitar 7 tahun saya masuk di sekolah Desa di Tente selama 5 tahun, kemudian melanjutkan ke sekolah Uvernement selama 2 tahun dan sekolah pertanian (Landbow Class di Tente selama satu tahun. Boleh dibilang, saya merupakan salah satu putera daerah yang sangat intens menekuni sekolah pertanian. Sultan Muhammad Salahuddin waktu itu sangat memperhatikan kiprah sekolah ini untuk membangun pertanian di tanah Bima.
Berkaitan dengan masuknya Jepang di Bima, saya tidak ingat persis tanggalnya, waktu itu musim kering, pasukan Jepang berlabuh di pelabuhan Bima pada tahun 1942. Saat itu saya baru mulai mengajar di sekolah pertanian yang dibentuk Belanda. Kami senang ketika mendengar Jepang masuk, karena mereka adalah sosok saudara tua sebagai sesama bangsa Asia. Beberapa bulan setelah menginjakkan kaki ke Bima, Jepang mulai merubah seluruh tatanan kehidupan politik, ekonomi, maupun pendidikan. Sekolah–sekolah yang dibangun Belanda itu diganti dengan sekolah berbahasa Jepang, termasuk sekolah Landbow (Pertanian) itu diganti dengan Nama NogiyoGako ( Sekolah Pertanian).
Beberapa hari setelah nama sekolah itu diganti, Sultan Muhammad Salahuddin memanggil saya di Istana. Saat itu beliau menanyakan tentang berbagai kemajuan dan kendala yang dihadapi di NogiyoGako Lewirato. Beliau menginginkan salah seorang guru dari sekolah itu untuk melanjutkan pendidikan ke Singaraja Bali untuk terus memajukan sekolah pertanian maupun kiprah para penyuluh pertanian di masyarakat dengan bea siswa dari Pemerintah Kesultanan Bima. Saya terima tawaran itu, berangkatlah saya ke Singaraja. Satu tahun lamanya saya menuntut ilmu di pulau Dewata itu. Pada tahun 1943, saya kembali ke Bima.
Keadaan Bima semakin tidak menentu. Jepang semakin kasar. Masyarakat disuruh Romusya untuk membangun jalan, instalasi militier, lubang persembunyian (karombo nippo) dan bahkan membangun Bandara di Palibelo. ( Cikal Bakal Bandara Sultan Muhammad Salahuddin sekarang). Perumahan di sekitar Bandara itu dicat dengan warna hitam, agar tidak dilihat oleh pesawat-pesawat sekutu yang setiap saat mengudara di langit Bima. Karena dicat hitam, rumah-rumah itu disebut oleh masyarakat Bima dengan “ UMA ME'E” (Rumah Hitam) yang sekarang masih berdiri kokoh di sekitar Cabang Palibelo. Banyak korban berjatuhan sebagai syuhada di sekitar Pantai Lewa Mori dan Bandara Palibelo akibat kerja Romusha yang diterapkan Dai Nippon. Itulah sebabnya kenapa pantai itu disebut dengan "Lewa Mori", karena di pantai itulah masyarakat Bima berjuang antara hidup dan mati membangun ambisi “ Saudara Tua” untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya.
Tidak hanya itu, kebun-kebun rakyat dijadikan barak penampungan para wanita dari tanah Jawa maupun Sumatera untuk melampiaskan nafsu prajurit Dai Nippon. Di sepanjang jalan Soekarno - Hatta - jembatan penatoi hingga Sadia adalah barak-barak penampungan itu. Ada juga sebagian di Rabangodu dan kampung Melayu. Setiap hari tentara Jepang bergiliran datang ke barak itu. Saya sering melewati tempat itu dan kami tidak disuruh menoleh ke arah barak, kami jalan lurus saja karena takut dengan hukuman Tentara Dai Nippon. Kadang-kadan kami pun berpapasan dengan perempuan-perempuan itu ketika keluar untuk belanja dan keperluan lainnya. Mereka masih sangat muda, putih dan cantik-cantik. Dari senyum yang terurai di bibirnya, ada sebuah harapan yang tersembunyi dan ingin mereka katakan. “ Selamatkanlah kami, kembalikan kami ke tanah leluhur.”
Suatu senja, saya kebetulan lewat Barak itu menuju ke NagiyoGako. Saya berpapasan dan membernaikan diri bertanya kepada salah seorang penghuni barak itu asal pulau Jawa.Saya tidak ingat namanya. Dia menuturkan bahwa mereka di bawa ke Bima untuk dijadikan perawat dan pekerja di kantor-kantor perwakilan Jepang. Mereka tidak menyangka kalau nasib mereka akan menjadi seperti itu, pelampias nafsu para tentara Jepang. Mereka pasrah pada keadaan itu, dan terus berdoa semoga mereka bisa kembali ke Jawa dan menajalani hidup dengan normal. Bagaimana dengan gadis-gadis Bima ? Adakah yang diambil Jepang sebagai Ianfu ?
Tidak ada satu pun Gadis Bima yang dibawa Jepang menjadi IANFU. Hanya saja ada beberapa perempuan Bima yang sering dibawa Jepang ke Barak penampungan untuk diperkerjakan sebagai tukang cuci, tukang masak, tukang pijit dan lain-lain. Salah seorang yang saya kenal bernama MINA NANGKO ( Nama Bimanya Aminah) asal Sape. Dia memang sering dibawa Jepang ke Barak Penampungan, tetapi sore hari dia kembali ke rumahnya.
Tahun 1944 adalah torehan waktu yang tidak akan pernah saya lupakan dalam sejarah hidup saya. Beberapa bulan setelah saya menikah pasar Bima dibom oleh sekutu. Pelataran Istana pun dibom, Masjid Kesultanan Bima rata dengan tanah dan tinggal mihrabnya saja yang berdiri. Untuk menjaga keselamatan Sultan Muhammad Salahuddin dan keluarganya, Jepang membawanya ke Desa Dodu. Karena desa itu terlindung oleh gunung-gunung dan serangan udara Sekutu.
Di tengah kepanikan yang luar biasa itu, Jepang mengeluarkan keputusan dan permintaan yang sangat bertolak belakang. Mereka meminta gadis-gadis Bima untuk dikirim dan dipekerjakan sebagai pelayan bar, perawat maupun pegawai kantor perwakilan Jepang di Jawa dan Sumatera. Permintaan itu disampaikan langsung kepada sultan Muhammad Salahuddin, para Jeneli (Camat) maupun Gelarang ( Kepala Desa). Seluruh Jeneli dan Gelarang menolak permintaan itu. Secara spontan Sultan Muhammad Salahuddin mengeluarkan ultimatum kepada para orang tua untuk sesegera mungkin menikahkan puterinya agar tidak diambil oleh Jepang. Diutamakan pernikahan dilakukan dengan keluarga dekat, supaya prosesnya cepat.
Suasana panik terjadi dimana-mana. Dalam satu keluarga terdapat dua sampai lima pasang pengantin yang dinikahkan. Setiap hari ratusan pasangan pengantin dilangsungkan ijab Kabul. Penghulu sangat kelelahan naik turun rumah panggung untuk proses akad nikah.pernikahan dilangsungkan dengan sangat sederhana, hanya dengan kopi dan jajanan. Itulah sejarah yang mungkin tidak pernah terjadi di negeri manapun di muka bumi ini. Orang tua para gadis mencarikan jodoh untuk anak gadisnya. Kadang yang lakinya ganteng, tetapi yang ceweknya jelek, demikian juga sebaliknya, mereka tidak pernah pecaran seblumnya, cinta mereka bangun setelah menikah. Peristiwa itulah dalam sejarah Bima dikenal dengan Nika Baronta.
Yang tidak sempat dinikahkan, para gadis disembunyikan di atas loteng rumah. Kadang-kadang mereka menetap dibawah kolong-kolong rumah, bergelut dengan tanah liat untuk membuat periok dan perlengkapan rumah tangga dari tanah liat. Kadang juga mereka berdandan seperti nenek-nenek. Sehingga menyurutkan niat Dai Nippon untuk membawa dan mengambil mereka untuk dijadikan JUGUN IANFU.
Setelah Jepang Kalah Perang dan Seokarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan, para wanita itu dibawa pulang ke tanah Jawa dan Sumatera. Beberapa bulan kemudian tersiar kabar bahwa mereka ditenggelamkan dan dibunuh di tengah lautan. Tidak satupun di antara mereka yang kembali ke tanah Jawa. (Dari Penuturan langsung almarhum H.Abubakar Ismail, Ketua Legium Veteran Bima). #By_Alan_Malingi
Investasi
Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah
Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1
Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya +
500 Meter.
(Penulis Buku “GAJAH MAJA: PIMPIN
EKSPEDISI PADOMPO, PROKLAMASIKAN BIMA”)
Lagi-lagi
saya harus ngomong saklek. Penamaan Suku Mbojo itu mengada-ada, keliru dan
menyesatkan orang Bima. Saya pikir ini ulah segelintir oknum bangsawan
Mbojo/Mbojo Nae/Rasanae yang terobsesi oleh kebesaran masa lalu mereka.
Padahal, menilik sejarahnya, sejumlah bangsawan Mbojo Nae dulu bertindak
sebagai second man alias Londo ireng, Belanda Hitam.
Muslimin Hamzah. (ist/lakeynews.com)
Mereka
menganggap dirinya bayangan kolonial Belanda di Tanah Bima. Makanya ketika
Jenateke Muhammad Salahuddin menerima pengahargaan Officer de Orde van Orange
dari Ratu Wilhelmina atas jasa-jasa Sang Jenateke menyukseskan operasi militer
Belanda di Pulau Sumbawa, orang Mbojo Nae senang bukan alang-kepalang.
Sementara orang/dou Kae seperti Ngali serta orang/dou Bolo serta dou Donggo
menangis dalam nestapa.
Bagi mereka
itu tidak adil. Operasi militer itu telah membuat mereka terpuruk hingga jatuh
miskin karena terjebak rentenir. Mereka meratapinya karena kebijakan pajak
kolonial yang mencekik leher ditoleransi oleh elit-elit priyayi Kerajaan Bima
seperti Sultan Ibrahim, yang berkedudukan di Mbojo Nae. Orang Ngali (Kae),
Rasanggaro dan Dena (Bolo/Sila) dan Kala (Donggo) yang suntuknya menyundul
langit, akhirnya bangkit melawan.
Kita tahu
pula, raja-raja Dompu bersikeras menolak kooperatif dengan Belanda hingga
Manuru Kupang harus membayar dengan nyawanya sendiri. Baginya lebih baik mati
daripada mengikuti kehendak Belanda.
Cover buku karangan Muslimin Hamzah. (ist/lakeynews.com)
Saya lihat
sejumlah oknum bangsawan/bekas bangsawan Mbojo terjebak kesombongan ilutif
dengan menganggap Mbojo itu sama dengan Bima, bahkan lebih agung dari Bima.
Tidak! Itu keliru besar.
Mbojo hanya
bagian dari Bima, bukan sebaliknya. Bahkan dibandingkan dengan Sape, Kore,
Tambora (atau Sanghyang) menurut Nagarakrtagama yang menorehkannya abad ke-14,
Mbojo itu bukan apa-apa, kecuali sebuah semesta baru, yang muncul belakangan
jauh setelah Sape, Kore dan Sanghyang atau Gunung Tambora (bukan Gunung
Sangiang di Wera) eksis, seperti yang diabadikan kitab Nagarakrtagama. Raba pun
tidak masuk Mbojo, karena orang Raba jika ke Pasar Bima, ke Asi atau
keluarganya di Sarae atau Kampung Sumbawa, kerap bilang, “lao di mbojo”.
Satu hal
lagi, jika berani dan mengaggap Mbojo/Mbojo
Nae/Rasanae itu unggul, kenapa Anda tidak menggunakan saja Kota Mbojo untuk
nama administratif Kota Bima sekarang. Buang Bima-nya ambil Mbojo-nya. Jangan
setengah-setengah. Nyatanya Anda ciut nyalinya. Itu tandanya, Mbojo ada dan
hidup karena ada Bima. Tanpa Bima dia tidak berarti apa-apa, hanya sebuah
kampung besar.
Dengan posisi seperti itu bagaimana mungkin Mbojo menjadi sebuah nama
suku dan dikukuhkan oleh Diknas sebagai sebuah nomenklatur suku?
Ada pun
pembentukan quarted frasa kata adik saya Endo Ibra di FB seperti dou mbojo,
sangaji mbojo, nggahi mbojo, dana mbojo dan lainnya, itu bukan rumus baku tapi
kebiasaan belaka seperti orang menyebut nggahi/dou Kore, nggahi/dou Donggo,
nggahi/dou Sambori, nggahi/dou Kolo, dou Sila, dou Kae, dou Wera dan lainnya.
Muslimin Hamzah. (ist/lakeynews.com)
Nah, ada pun
frasa itu dipakai secara luas karena dikukuhkan dengan modus dominasi oleh
priyayi Mbojo dalam waktu ratusan tahun kala daulah Kerajaan Bima masih
bercokol di Tanah Bima, bukan Dana Mbojo. Frasa-frasa tersebut malah bernuansa
rasis.
Kalau pun
ada yang menganggapnya baku sebutan nggahi mbojo untuk bahasa Bima, itu salah
salah kaprah. Itu sekadar kebiasaan. Kalau kita menyebut nggahi Bima untuk
bahasa Bima itu tidak salah. Seperti halnya bahasa Jawa untuk nggahi Jawa,
bahasa Sunda/nggahi Sunda.
Dari sekian
inskripsi tentang Bima, tidak satupun yang menyebut Mbojo sebagai semesta utama
di Bima. Baik Pararaton, Piagam Jawa, Nagarakrtagama tidak ada yang menisbatkan
Mbojo, kecuali BO, yang tergolong naskah baru dan bukan naskah kuno karena
ditulis di era modern, dan zaman kertas kala kolonial bercokol akhir abad
ke-19.
Sejarawan
Prof. Slamet Mulyana serta Prof. Agus Aris Munandar dari Universitas Indonesia
juga hanya menyebut Bima di buku-bukunya. Para pakar seperti Michael Hichcock
mempertegas kalau Bima dibagi dua; lowland
yakni satu kawasan dataran rendah sempit yang kemudian menjadi Mbojo di timur
teluk dan highland di luar itu. Hichcock
sama sekali tidak menyebut Mbojo. Dia menyebut juga barat teluk sebagai Donggo.
Begitu pun
Heinrich Zollinger (1818-1859), cuma menyebut Bima bukan Mbojo ketika dia
mengeluh soal sejarah Bima yang dia bilang ribet karena tidak sampai ke hal-hal
yang benar tapi penuh dimensi magi. Dalam artikelnya “Verslag van eene reis
naar Bima en Sumbawa”, cendekiawan berkebangsaan Swis namun bekerja pada Hindia
Belanda ini hanya menyebut Bima dan tak mengenal Mbojo.
Juga dokumen
Zollinger tentang bahasa Bima dan aksara Bima sama sekali tidak menyebut Mbojo.
Literatur-literatur Belanda umumnya menyebut Bima bukan Mbojo seperti buku
Jonker “Bimaneesche Texten” dan selusin buku lain.
Begitu pun
Raffles dalam karyanya History of Java hanya menyebut Bima bukan Mbojo. Hj
Maryam R. Salahuddin pun yang membahas soal aksara Bima bersama Syukri Abubakar
juga tidak menyebut aksara Mbojo.
Dennys
Lombard di bukunya yang menjadi salah satu “Kitab Suci” bagi sejarawan modern
juga tidak pernah menyebut Mbojo melainkan Bima. Lontara Gowa-Makassar juga
tidak secuilpun menyebut Mbojo tapi Bima atau Gima.
Ratusan
kajian linguistik bahasa Bima, juga tidak ada yang menyebut bahasa Mbojo. Satu
diantaranya tesis Syamsuddin, “Kelompok Bahasa Bima-Sumba. Kajian Makna
Penghormatan dan Solidaritas” (1996). Atau tesis Made Sri Satyawati, “Pemarkah Diatesis Bahasa Bima” dan
banyak lagi. Dalam studi linguistik komparatif ihwal kekerabatan bahasa, juga
disebut bahasa Bima sebagai kerabat bahasa Lio, Sumba, Ende, dan lainnya.
Jadi, salah kaprah. Penamaan Suku Mbojo ini tidak memiliki dasar
yang bisa dipertanggungjawabkan. Dulu, di era daulah raja-raja, nama
keramat Mbojo Nae memang didesain sebagai alat propaganda raja untuk
memarginalkan dan mendominasi kawasan di luar Mbojo Nae, seperti Kae,
Bolo, Donggo,Sanggar, Sape, Wera.
Mbojo Nae dalam
buku baru saya yang segera terbit, “GAJAH MADA: PIMPIN EKSPEDISI PADOMPO,
PROKLAMASIKAN BIMA”, para priyayi Mbojo Nae menganggap Mbojo itu Kota Dewa yang
dihuni oleh warga kelas satu. Adapun di luar itu, mereka sebut pedalaman
seperti Kae, Bolo, Donggo, Sanggar, Sape dan Wera berdasarkan pemahaman kaum
orientalis kolonial Belanda mereka sebut Kota Duniawi yang dihuni oleh warga
kelas dua.
Muslimin Hamzah. (ist/lakeynews.com)
Frasa, BO,
hukum, kehendak dan norma-norma mereka produksi di Kota Dewa untuk didedakkan
ke kepala manusia kelas dua. Mbojo bahkan dikira nama lain bahkan nama kuno
Bima oleh orang Bima kebanyakan karena begitu masifnya penyebutan nama ini
dalam BO maupun folklore seperti mpama/dongeng. Semua itu proyek politik
priyayi/bangsawan Mbojo Nae. Tak heran kalau yang menjajah bangsa Bima selain
kolonialisme Belanda juga feodalisme bangsawan.
Karena
pikiran saya dianggap bisa meruntuhkan tembok pemikiran feodal oknum bangsawan
Mbojo Nae, saya cermati eks wangsa bangsawan Mbojo/Rasanae soal Mbojo dan Bima
hampir semuanya kontra dengan status saya sebelumnya.
Saya tak
bergeming! Pendapat mereka tidak ada yang bisa dipertanggungjawabkan secara
ilmiah. Semuanya memakai ilmu Cocokologi alias dicocok-cocokkan saja dengan apa
yang mereka dengar dari orang lain.
Pijakan
ilmiahnya tidak ada, seperti ada kalangan dari Mbojo Nae yang menyebut jauh
sebelum Gajah Mada atau Majapahit ke Bima, Kerajaan Bima sudah eksis dan kuat.
Ini kata siapa? Ini taklebih dari mpama-mpemo karawo witi.
Lantas ada
pula yang beranggapan kalau Bima itu mengalami transformasi sejak zaman naka
sebagai Negeri Babuju, zaman kerajaan awal disebut Mbojo dan zaman kesultanan
menjadi Bima. Ini ilusi, tidak ada dasarnya, validitasnya rendah karena
mengada-ada dan sepenuhnya ngarang.
Zaman naka
itu tidak ada. Itu realitas gadungan/simulakra, sama dengan ncuhi, hasil ilusi
pujangga Bo, seperti ditengarai pakar asal Belanda Cornelis Christiaan Berg
(1934-1912) diperoleh dengan cara gaib dan mereka bukan berbicara tentang masa
lalu tapi justru berfantasi tentang masa depan.
Mereka
menggunakan kekuatan sihir, jin-jin dan roh-roh orang dulu/nenek moyang yang
dipanggil lewat jasa iblis untuk mengumpulkan informasi. Dus, soal naka dan
ncuhi itu sesat dan penuh kurafat.
Moral dari
tulisan saya ini adalah untuk membela dan mempertahankan marwah Bima sebagai
sebuah identitas suku-bangsa yang sangat otentik, genuine, historis bahkan
agung. Nama itu punya makna filosofis yang kuat dan mendalam. Dus, bukan untuk
memarjinalkan, mendiskreditkan apalagi membunuh Mbojo/Mbojo Nae/Rananae.
Mbojo tetap
bagian integral Bima sejak semesta ini terbentuk sebagai elemen Kerajaan Bima.
Itu tidak bisa dinafikan. Bahkan dalam perkembangannya dia mengungguli kawasan
lain berkat posisinya di pesisir yang memang lazimnya sangat dinamis seperti
disitir oleh mendiang Dr Kuntowijoyo, sejarawan dari UGM.
Nama Mbojo
itu sendiri jika ditilik secara filosofis ternyata tidak memiliki arti dan
makna yang jelas. Cuma BO menengarainya dengan mengacu pada panggung alam
berjuluk “dana mababuju”, tempat raja-raja Bima dilantik dulu-kala. Lantas
dikukuhkan oleh sejarawan tradisional dari Mbojo Nae lewat analisis yang aneh
dan mengada-ada menjadi Mbojo. Perubahan kata babuju menjadi Mbojo itu asli
ngarang, tipu-tipu, ilusi, mimpi di siang bolong, irasional serta absurd. Karenanya
tidak ilmiah, tidak baku dan tanpa makna filosofis yang jelas dalam pandangan
orang Bima.
Analisis
sejarawan tempo doeloe juga terbilang alay, artinya norak, kampungan dan
berlebihan. Apa istimewanya “dana mababuju?” Tulisan ini juga bukan untuk
mendikotomikan Mbojo dengan kawasan lain seperti Kae, Bolo, sape, Donggo, Wera,
Sanggar, Tambora dan lainnya.
Justru lewat
tulisan ini, saya mengingatkan para loyalis Mbojo Nae, Anda jangan korbankan
nama historis Bima hanya arena ego Mbojo Nae/Ranasae. Dulu, memang harus kita
akui Mbojo itu pusat karena di situlah raja bersemayam dan di situ pula
berkumpulnya bangsawan selaku state apparatus negara Bima.
Itu dulu,
tuan! Sekarang lupakan segala kelebihan tersebut. Lupakan pula privilese untuk
wangsa bangsawan yang diberikan oleh kolonial Belanda di era kolonial. Episode
itu sudah berakhir. Kedudukan Mbojo Nae dengan Kae, Bolo/Sila, Donggo, Tambora,
Sape dan Wera sama saja.
Nyatanya
yang juara dunia MTQ di Turki orang Rada (Sila/Bolo) Syamsuri Firdaus; yang
ketua MK orang Rasabou (Sila/Bolo) Anwar Usman;
yang Kejati NTB Arif SH, MH, orang kananga (Bolo/Sila); yang Gubernur NTB pertama dari sipil setelah era
Orde Baru sekaligus Wakil Gubernur DKI Jakarta pertama dari NTB itu Harun Al Rasyid
itu orang Rato (Sila/Bolo); yang rektor Universitas Muhammadiyah Mataram Dr H
Arsyad Gani dari Kampo Sigi-Rato (Sila/Bolo); yang Walikota Jakarta Barat H
Burhanuddin era Gubernur Ahok, orang Rato (Sila/Bolo).
Dus, Anda
mengedepankan Mbojo Nae sama dengan membunuh Bima sebagai sumber rasa bangga,
sumber inspirasi sekaligus ikon suku kita yang punya makna transeden, punya
filosofi mendalam, bernilai historis tinggi, dinukil oleh naskah-naskah bermutu
tinggi seperti Nagarakrtagama dan Pararaton.
Dengan
mengedepankan Mbojo, Anda pun ikut membunuh elemen pembentuk Bima yang lain
yakni Kae, Bolo, Wera, Sape, Donggo dan Tambora. Dan Anda membunuh dirimu
sendiri karena berarti mau mengkudeta induk semangmu yang bernama Bima.
Investasi
Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah
Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1
Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya +
500 Meter.
Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.
Topi Pegawai KKP
Menyediakan Topi Pegawai Lingkup KKP Yang berada di Pusat dan Daerah yang berminat WA saja ke 081342791003
Kaos dan Topi Pelabuhan Perikanan
Menyediakan Kaos dan Topi Pelabuhan Perikanan Yang Berminat Hub Kami 081342791003
Rumah Kos di Kota Kendari Sultra
Kos Putri Salsabilla"di Jalan DI. Panjaitan Lorong Saroja Kelurahan Lepo-Lepo Kecamatan Baruga Kota Kendari – Sulawesi Tenggara dekat Bundaran Pesawat Tempur Lepo-Lepo dekat dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Avicenna Kendari hanya sekitar 200 Meter. Berminat Hubungin HP/WA. 081342791003