Tampilkan postingan dengan label Bima / Mbojo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bima / Mbojo. Tampilkan semua postingan

23 Februari, 2023

FALSAFAH TUA NDAI MBOJO

Bismillah..
1.Kone da Mboto, sura Nggini
2.Kone da NTIKA, sura Ambi
3.Kone da Heba, Sura Bareka
4.Kone da Loa, Sura To'a

---------------
Bahwa yg menjadi modal bagi dou mbojo utk merasa lebih / merasa kurang dlm hidup bermasyarakat, ditentukan oleh 4 hal :

1. MBOTO = banyak materi. Karena tdk semua org bs kaya.
Tp org bima akan merasa terpenuhi /tercukupi dgn kondisi NGGINI = sedikit/ berisi/cukup (arab : ghany).

2. NTIKA = cantik dan manis rupa. Rupa yg cantik Ini tdk semua org punya,  
mk bagi wanita umum dpt dicukupkan dgn AMBI = berpenampilan /bersikap manis dan menarik/tepat pd segala situasi.

3. HEBA = kedudukan tinggi/derajad sosial,  
maka org bima melihat justru hidup dg BAREKA = berkah,  
Itu hidup yg jauh lebih mulia.

4. LOA = pintar/alim,
kaum awam tak terpelajar tidak berkurang mulianya
dgn mengutamakan adanya TO'A = sifat taat (tawadhu).
Toa dei Ruma
Toa dei Ina ro Ama
Toa dei guru.

EDE PAHUNA Bijaksananya orang Tua Kita dulu... Smg bs diwariskan oleh kita diera sekarang..

- semoga ada manfaatx
By Dou Sila

  


 

Lihat Artikel Bima/Mbojo Lainnya



Pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan



 
Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempatnya


 

Topi KKP

Berminat Hub 081342791003 
 
 
  Menyediakan Batik Motif IKan
Untuk Melihat Klik
Yang Berminat Hub 081342791003



Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di 


Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.
Berminat Hub 081342791003

 

 


READ MORE - FALSAFAH TUA NDAI MBOJO

25 Juni, 2020

Gadis-Gadis Itu Ditenggelamkan Di Lautan

Sepenggal Kisah Masa Jepang Di Bima
=============================

Saya lahir di desa Talabiu Bima 13 Juli 1925. Hal itu saya ketahui karena kebiasaan orang tua saya menuliskan kelahiran putera-puterinya di tiang-tiang rumah. Di usia sekitar 7 tahun saya masuk di sekolah Desa di Tente selama 5 tahun, kemudian melanjutkan ke sekolah Uvernement selama 2 tahun dan sekolah pertanian (Landbow Class di Tente selama satu tahun. Boleh dibilang, saya merupakan salah satu putera daerah yang sangat intens menekuni sekolah pertanian. Sultan Muhammad Salahuddin waktu itu sangat memperhatikan kiprah sekolah ini untuk membangun pertanian di tanah Bima.

Berkaitan dengan masuknya Jepang di Bima, saya tidak ingat persis tanggalnya, waktu itu musim kering, pasukan Jepang berlabuh di pelabuhan Bima pada tahun 1942. Saat itu saya baru mulai mengajar di sekolah pertanian yang dibentuk Belanda. Kami senang ketika mendengar Jepang masuk, karena mereka adalah sosok saudara tua sebagai sesama bangsa Asia. Beberapa bulan setelah menginjakkan kaki ke Bima, Jepang mulai merubah seluruh tatanan kehidupan politik, ekonomi, maupun pendidikan. Sekolah–sekolah yang dibangun Belanda itu diganti dengan sekolah berbahasa Jepang, termasuk sekolah Landbow (Pertanian) itu diganti dengan Nama NogiyoGako ( Sekolah Pertanian).

Beberapa hari setelah nama sekolah itu diganti, Sultan Muhammad Salahuddin memanggil saya di Istana. Saat itu beliau menanyakan tentang berbagai kemajuan dan kendala yang dihadapi di NogiyoGako Lewirato. Beliau menginginkan salah seorang guru dari sekolah itu untuk melanjutkan pendidikan ke Singaraja Bali untuk terus memajukan sekolah pertanian maupun kiprah para penyuluh pertanian di masyarakat dengan bea siswa dari Pemerintah Kesultanan Bima. Saya terima tawaran itu, berangkatlah saya ke Singaraja. Satu tahun lamanya saya menuntut ilmu di pulau Dewata itu. Pada tahun 1943, saya kembali ke Bima.

Keadaan Bima semakin tidak menentu. Jepang semakin kasar. Masyarakat disuruh Romusya untuk membangun jalan, instalasi militier, lubang persembunyian (karombo nippo) dan bahkan membangun Bandara di Palibelo. ( Cikal Bakal Bandara Sultan Muhammad Salahuddin sekarang). Perumahan di sekitar Bandara itu dicat dengan warna hitam, agar tidak dilihat oleh pesawat-pesawat sekutu yang setiap saat mengudara di langit Bima. Karena dicat hitam, rumah-rumah itu disebut oleh masyarakat Bima dengan “ UMA ME'E” (Rumah Hitam) yang sekarang masih berdiri kokoh di sekitar Cabang Palibelo. Banyak korban berjatuhan sebagai syuhada di sekitar Pantai Lewa Mori dan Bandara Palibelo akibat kerja Romusha yang diterapkan Dai Nippon. Itulah sebabnya kenapa pantai itu disebut dengan "Lewa Mori", karena di pantai itulah masyarakat Bima berjuang antara hidup dan mati membangun ambisi “ Saudara Tua” untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya.

Tidak hanya itu, kebun-kebun rakyat dijadikan barak penampungan para wanita dari tanah Jawa maupun Sumatera untuk melampiaskan nafsu prajurit Dai Nippon. Di sepanjang jalan Soekarno - Hatta - jembatan penatoi hingga Sadia adalah barak-barak penampungan itu. Ada juga sebagian di Rabangodu dan kampung Melayu. Setiap hari tentara Jepang bergiliran datang ke barak itu. Saya sering melewati tempat itu dan kami tidak disuruh menoleh ke arah barak, kami jalan lurus saja karena takut dengan hukuman Tentara Dai Nippon. Kadang-kadan kami pun berpapasan dengan perempuan-perempuan itu ketika keluar untuk belanja dan keperluan lainnya. Mereka masih sangat muda, putih dan cantik-cantik. Dari senyum yang terurai di bibirnya, ada sebuah harapan yang tersembunyi dan ingin mereka katakan. “ Selamatkanlah kami, kembalikan kami ke tanah leluhur.”

Suatu senja, saya kebetulan lewat Barak itu menuju ke NagiyoGako. Saya berpapasan dan membernaikan diri bertanya kepada salah seorang penghuni barak itu asal pulau Jawa.Saya tidak ingat namanya. Dia menuturkan bahwa mereka di bawa ke Bima untuk dijadikan perawat dan pekerja di kantor-kantor perwakilan Jepang. Mereka tidak menyangka kalau nasib mereka akan menjadi seperti itu, pelampias nafsu para tentara Jepang. Mereka pasrah pada keadaan itu, dan terus berdoa semoga mereka bisa kembali ke Jawa dan menajalani hidup dengan normal.
Bagaimana dengan gadis-gadis Bima ? Adakah yang diambil Jepang sebagai Ianfu ?

Tidak ada satu pun Gadis Bima yang dibawa Jepang menjadi IANFU. Hanya saja ada beberapa perempuan Bima yang sering dibawa Jepang ke Barak penampungan untuk diperkerjakan sebagai tukang cuci, tukang masak, tukang pijit dan lain-lain. Salah seorang yang saya kenal bernama MINA NANGKO ( Nama Bimanya Aminah) asal Sape. Dia memang sering dibawa Jepang ke Barak Penampungan, tetapi sore hari dia kembali ke rumahnya.

Tahun 1944 adalah torehan waktu yang tidak akan pernah saya lupakan dalam sejarah hidup saya. Beberapa bulan setelah saya menikah pasar Bima dibom oleh sekutu. Pelataran Istana pun dibom, Masjid Kesultanan Bima rata dengan tanah dan tinggal mihrabnya saja yang berdiri. Untuk menjaga keselamatan Sultan Muhammad Salahuddin dan keluarganya, Jepang membawanya ke Desa Dodu. Karena desa itu terlindung oleh gunung-gunung dan serangan udara Sekutu.

Di tengah kepanikan yang luar biasa itu, Jepang mengeluarkan keputusan dan permintaan yang sangat bertolak belakang. Mereka meminta gadis-gadis Bima untuk dikirim dan dipekerjakan sebagai pelayan bar, perawat maupun pegawai kantor perwakilan Jepang di Jawa dan Sumatera. Permintaan itu disampaikan langsung kepada sultan Muhammad Salahuddin, para Jeneli (Camat) maupun Gelarang ( Kepala Desa). Seluruh Jeneli dan Gelarang menolak permintaan itu. Secara spontan Sultan Muhammad Salahuddin mengeluarkan ultimatum kepada para orang tua untuk sesegera mungkin menikahkan puterinya agar tidak diambil oleh Jepang. Diutamakan pernikahan dilakukan dengan keluarga dekat, supaya prosesnya cepat.

Suasana panik terjadi dimana-mana. Dalam satu keluarga terdapat dua sampai lima pasang pengantin yang dinikahkan. Setiap hari ratusan pasangan pengantin dilangsungkan ijab Kabul. Penghulu sangat kelelahan naik turun rumah panggung untuk proses akad nikah.pernikahan dilangsungkan dengan sangat sederhana, hanya dengan kopi dan jajanan. Itulah sejarah yang mungkin tidak pernah terjadi di negeri manapun di muka bumi ini. Orang tua para gadis mencarikan jodoh untuk anak gadisnya. Kadang yang lakinya ganteng, tetapi yang ceweknya jelek, demikian juga sebaliknya, mereka tidak pernah pecaran seblumnya, cinta mereka bangun setelah menikah. Peristiwa itulah dalam sejarah Bima dikenal dengan Nika Baronta.

Yang tidak sempat dinikahkan, para gadis disembunyikan di atas loteng rumah. Kadang-kadang mereka menetap dibawah kolong-kolong rumah, bergelut dengan tanah liat untuk membuat periok dan perlengkapan rumah tangga dari tanah liat. Kadang juga mereka berdandan seperti nenek-nenek. Sehingga menyurutkan niat Dai Nippon untuk membawa dan mengambil mereka untuk dijadikan JUGUN IANFU.

Setelah Jepang Kalah Perang dan Seokarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan, para wanita itu dibawa pulang ke tanah Jawa dan Sumatera. Beberapa bulan kemudian tersiar kabar bahwa mereka ditenggelamkan dan dibunuh di tengah lautan. Tidak satupun di antara mereka yang kembali ke tanah Jawa. (Dari Penuturan langsung almarhum H.Abubakar Ismail, Ketua Legium Veteran Bima).
#By_Alan_Malingi

Sumber : https://www.facebook.com/Wajahbimagrup/posts/gadis-gadis-itu-ditenggelamkan-di-lautansepenggal-kisah-masa-jepang-di-bimasaya-/781709208676555/


Topi Pegawai BKIPM
Cuma 75 Ribu  
Berminat Hub 081342791003 

 

Pegawai Pelabuhan Perikanan



 
Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempatnya


 

Berminat Hub 081342791003 
  Menyediakan Batik Motif IKan
Untuk Melihat Klik
Yang Berminat Hub 081342791003



Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di 

Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.
Berminat Hub 081342791003
READ MORE - Gadis-Gadis Itu Ditenggelamkan Di Lautan

14 Juni, 2020

Suku Mbojo? Itu Keliru dan Menyesatkan

Oleh: Muslimin Hamzah  *)
(Penulis Buku “GAJAH MAJA: PIMPIN EKSPEDISI PADOMPO, PROKLAMASIKAN BIMA”)
Lagi-lagi saya harus ngomong saklek. Penamaan Suku Mbojo itu mengada-ada, keliru dan menyesatkan orang Bima. Saya pikir ini ulah segelintir oknum bangsawan Mbojo/Mbojo Nae/Rasanae yang terobsesi oleh kebesaran masa lalu mereka. Padahal, menilik sejarahnya, sejumlah bangsawan Mbojo Nae dulu bertindak sebagai second man alias Londo ireng, Belanda Hitam.
Muslimin Hamzah. (ist/lakeynews.com)
Mereka menganggap dirinya bayangan kolonial Belanda di Tanah Bima. Makanya ketika Jenateke Muhammad Salahuddin menerima pengahargaan Officer de Orde van Orange dari Ratu Wilhelmina atas jasa-jasa Sang Jenateke menyukseskan operasi militer Belanda di Pulau Sumbawa, orang Mbojo Nae senang bukan alang-kepalang. Sementara orang/dou Kae seperti Ngali serta orang/dou Bolo serta dou Donggo menangis dalam nestapa. 

Bagi mereka itu tidak adil. Operasi militer itu telah membuat mereka terpuruk hingga jatuh miskin karena terjebak rentenir. Mereka meratapinya karena kebijakan pajak kolonial yang mencekik leher ditoleransi oleh elit-elit priyayi Kerajaan Bima seperti Sultan Ibrahim, yang berkedudukan di Mbojo Nae. Orang Ngali (Kae), Rasanggaro dan Dena (Bolo/Sila) dan Kala (Donggo) yang suntuknya menyundul langit, akhirnya bangkit melawan. 

Kita tahu pula, raja-raja Dompu bersikeras menolak kooperatif dengan Belanda hingga Manuru Kupang harus membayar dengan nyawanya sendiri. Baginya lebih baik mati daripada mengikuti kehendak Belanda.
Cover buku karangan Muslimin Hamzah. (ist/lakeynews.com)
Saya lihat sejumlah oknum bangsawan/bekas bangsawan Mbojo terjebak kesombongan ilutif dengan menganggap Mbojo itu sama dengan Bima, bahkan lebih agung dari Bima. Tidak! Itu keliru besar.

Mbojo hanya bagian dari Bima, bukan sebaliknya. Bahkan dibandingkan dengan Sape, Kore, Tambora (atau Sanghyang) menurut Nagarakrtagama yang menorehkannya abad ke-14, Mbojo itu bukan apa-apa, kecuali sebuah semesta baru, yang muncul belakangan jauh setelah Sape, Kore dan Sanghyang atau Gunung Tambora (bukan Gunung Sangiang di Wera) eksis, seperti yang diabadikan kitab Nagarakrtagama. Raba pun tidak masuk Mbojo, karena orang Raba jika ke Pasar Bima, ke Asi atau keluarganya di Sarae atau Kampung Sumbawa, kerap bilang, “lao di mbojo”. 

Satu hal lagi,  jika berani dan mengaggap Mbojo/Mbojo Nae/Rasanae itu unggul, kenapa Anda tidak menggunakan saja Kota Mbojo untuk nama administratif Kota Bima sekarang. Buang Bima-nya ambil Mbojo-nya. Jangan setengah-setengah. Nyatanya Anda ciut nyalinya. Itu tandanya, Mbojo ada dan hidup karena ada Bima. Tanpa Bima dia tidak berarti apa-apa, hanya sebuah kampung besar. 

Dengan posisi seperti itu bagaimana mungkin Mbojo menjadi sebuah nama suku dan dikukuhkan oleh Diknas sebagai sebuah nomenklatur suku?

Ada pun pembentukan quarted frasa kata adik saya Endo Ibra di FB seperti dou mbojo, sangaji mbojo, nggahi mbojo, dana mbojo dan lainnya, itu bukan rumus baku tapi kebiasaan belaka seperti orang menyebut nggahi/dou Kore, nggahi/dou Donggo, nggahi/dou Sambori, nggahi/dou Kolo, dou Sila, dou Kae, dou Wera dan lainnya.
Muslimin Hamzah. (ist/lakeynews.com)
Nah, ada pun frasa itu dipakai secara luas karena dikukuhkan dengan modus dominasi oleh priyayi Mbojo dalam waktu ratusan tahun kala daulah Kerajaan Bima masih bercokol di Tanah Bima, bukan Dana Mbojo. Frasa-frasa tersebut malah bernuansa rasis. 

Kalau pun ada yang menganggapnya baku sebutan nggahi mbojo untuk bahasa Bima, itu salah salah kaprah. Itu sekadar kebiasaan. Kalau kita menyebut nggahi Bima untuk bahasa Bima itu tidak salah. Seperti halnya bahasa Jawa untuk nggahi Jawa, bahasa Sunda/nggahi Sunda. 

Dari sekian inskripsi tentang Bima, tidak satupun yang menyebut Mbojo sebagai semesta utama di Bima. Baik Pararaton, Piagam Jawa, Nagarakrtagama tidak ada yang menisbatkan Mbojo, kecuali BO, yang tergolong naskah baru dan bukan naskah kuno karena ditulis di era modern, dan zaman kertas kala kolonial bercokol akhir abad ke-19.

Sejarawan Prof. Slamet Mulyana serta Prof. Agus Aris Munandar dari Universitas Indonesia juga hanya menyebut Bima di buku-bukunya. Para pakar seperti Michael Hichcock mempertegas kalau Bima dibagi dua; lowland yakni satu kawasan dataran rendah sempit yang kemudian menjadi Mbojo di timur teluk dan highland di luar itu. Hichcock sama sekali tidak menyebut Mbojo. Dia menyebut juga barat teluk sebagai Donggo. 

Begitu pun Heinrich Zollinger (1818-1859), cuma menyebut Bima bukan Mbojo ketika dia mengeluh soal sejarah Bima yang dia bilang ribet karena tidak sampai ke hal-hal yang benar tapi penuh dimensi magi. Dalam artikelnya “Verslag van eene reis naar Bima en Sumbawa”, cendekiawan berkebangsaan Swis namun bekerja pada Hindia Belanda ini hanya menyebut Bima dan tak mengenal Mbojo.
Juga dokumen Zollinger tentang bahasa Bima dan aksara Bima sama sekali tidak menyebut Mbojo. Literatur-literatur Belanda umumnya menyebut Bima bukan Mbojo seperti buku Jonker “Bimaneesche Texten” dan selusin buku lain.
Begitu pun Raffles dalam karyanya History of Java hanya menyebut Bima bukan Mbojo. Hj Maryam R. Salahuddin pun yang membahas soal aksara Bima bersama Syukri Abubakar juga tidak menyebut aksara Mbojo. 

Dennys Lombard di bukunya yang menjadi salah satu “Kitab Suci” bagi sejarawan modern juga tidak pernah menyebut Mbojo melainkan Bima. Lontara Gowa-Makassar juga tidak secuilpun menyebut Mbojo tapi Bima atau Gima.
Ratusan kajian linguistik bahasa Bima, juga tidak ada yang menyebut bahasa Mbojo. Satu diantaranya tesis Syamsuddin, “Kelompok Bahasa Bima-Sumba. Kajian Makna Penghormatan dan Solidaritas” (1996). Atau tesis Made Sri  Satyawati, “Pemarkah Diatesis Bahasa Bima” dan banyak lagi. Dalam studi linguistik komparatif ihwal kekerabatan bahasa, juga disebut bahasa Bima sebagai kerabat bahasa Lio, Sumba, Ende, dan lainnya. 

Jadi, salah kaprah. Penamaan Suku Mbojo ini  tidak memiliki dasar yang bisa dipertanggungjawabkan. Dulu, di era daulah raja-raja, nama keramat Mbojo Nae memang didesain sebagai alat propaganda raja untuk memarginalkan dan mendominasi kawasan di luar Mbojo Nae, seperti Kae, Bolo, Donggo,Sanggar, Sape, Wera. 

Mbojo Nae dalam buku baru saya yang segera terbit, “GAJAH MADA: PIMPIN EKSPEDISI PADOMPO, PROKLAMASIKAN BIMA”, para priyayi Mbojo Nae menganggap Mbojo itu Kota Dewa yang dihuni oleh warga kelas satu. Adapun di luar itu, mereka sebut pedalaman seperti Kae, Bolo, Donggo, Sanggar, Sape dan Wera berdasarkan pemahaman kaum orientalis kolonial Belanda mereka sebut Kota Duniawi yang dihuni oleh warga kelas dua.
Muslimin Hamzah. (ist/lakeynews.com)
Frasa, BO, hukum, kehendak dan norma-norma mereka produksi di Kota Dewa untuk didedakkan ke kepala manusia kelas dua. Mbojo bahkan dikira nama lain bahkan nama kuno Bima oleh orang Bima kebanyakan karena begitu masifnya penyebutan nama ini dalam BO maupun folklore seperti mpama/dongeng. Semua itu proyek politik priyayi/bangsawan Mbojo Nae. Tak heran kalau yang menjajah bangsa Bima selain kolonialisme Belanda juga feodalisme bangsawan.
Karena pikiran saya dianggap bisa meruntuhkan tembok pemikiran feodal oknum bangsawan Mbojo Nae, saya cermati eks wangsa bangsawan Mbojo/Rasanae soal Mbojo dan Bima hampir semuanya kontra dengan status saya sebelumnya. 

Saya tak bergeming! Pendapat mereka tidak ada yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Semuanya memakai ilmu Cocokologi alias dicocok-cocokkan saja dengan apa yang mereka dengar dari orang lain.
Pijakan ilmiahnya tidak ada, seperti ada kalangan dari Mbojo Nae yang menyebut jauh sebelum Gajah Mada atau Majapahit ke Bima, Kerajaan Bima sudah eksis dan kuat. Ini kata siapa? Ini taklebih dari mpama-mpemo karawo witi.

Lantas ada pula yang beranggapan kalau Bima itu mengalami transformasi sejak zaman naka sebagai Negeri Babuju, zaman kerajaan awal disebut Mbojo dan zaman kesultanan menjadi Bima. Ini ilusi, tidak ada dasarnya, validitasnya rendah karena mengada-ada dan sepenuhnya ngarang. 

Zaman naka itu tidak ada. Itu realitas gadungan/simulakra, sama dengan ncuhi, hasil ilusi pujangga Bo, seperti ditengarai pakar asal Belanda Cornelis Christiaan Berg (1934-1912) diperoleh dengan cara gaib dan mereka bukan berbicara tentang masa lalu tapi justru berfantasi tentang masa depan.
Mereka menggunakan kekuatan sihir, jin-jin dan roh-roh orang dulu/nenek moyang yang dipanggil lewat jasa iblis untuk mengumpulkan informasi. Dus, soal naka dan ncuhi itu sesat dan penuh kurafat.  

Moral dari tulisan saya ini adalah untuk membela dan mempertahankan marwah Bima sebagai sebuah identitas suku-bangsa yang sangat otentik, genuine, historis bahkan agung. Nama itu punya makna filosofis yang kuat dan mendalam. Dus, bukan untuk memarjinalkan, mendiskreditkan apalagi membunuh Mbojo/Mbojo Nae/Rananae. 

Mbojo tetap bagian integral Bima sejak semesta ini terbentuk sebagai elemen Kerajaan Bima. Itu tidak bisa dinafikan. Bahkan dalam perkembangannya dia mengungguli kawasan lain berkat posisinya di pesisir yang memang lazimnya sangat dinamis seperti disitir oleh mendiang Dr Kuntowijoyo, sejarawan dari UGM. 

Nama Mbojo itu sendiri jika ditilik secara filosofis ternyata tidak memiliki arti dan makna yang jelas. Cuma BO menengarainya dengan mengacu pada panggung alam berjuluk “dana mababuju”, tempat raja-raja Bima dilantik dulu-kala. Lantas dikukuhkan oleh sejarawan tradisional dari Mbojo Nae lewat analisis yang aneh dan mengada-ada menjadi Mbojo. Perubahan kata babuju menjadi Mbojo itu asli ngarang, tipu-tipu, ilusi, mimpi di siang bolong, irasional serta absurd. Karenanya tidak ilmiah, tidak baku dan tanpa makna filosofis yang jelas dalam pandangan orang Bima. 

Analisis sejarawan tempo doeloe juga terbilang alay, artinya norak, kampungan dan berlebihan. Apa istimewanya “dana mababuju?” Tulisan ini juga bukan untuk mendikotomikan Mbojo dengan kawasan lain seperti Kae, Bolo, sape, Donggo, Wera, Sanggar, Tambora dan lainnya.

Justru lewat tulisan ini, saya mengingatkan para loyalis Mbojo Nae, Anda jangan korbankan nama historis Bima hanya arena ego Mbojo Nae/Ranasae. Dulu, memang harus kita akui Mbojo itu pusat karena di situlah raja bersemayam dan di situ pula berkumpulnya bangsawan selaku state apparatus negara Bima.
 

Itu dulu, tuan! Sekarang lupakan segala kelebihan tersebut. Lupakan pula privilese untuk wangsa bangsawan yang diberikan oleh kolonial Belanda di era kolonial. Episode itu sudah berakhir. Kedudukan Mbojo Nae dengan Kae, Bolo/Sila, Donggo, Tambora, Sape dan Wera sama saja.

Nyatanya yang juara dunia MTQ di Turki orang Rada (Sila/Bolo) Syamsuri Firdaus; yang ketua MK orang Rasabou (Sila/Bolo) Anwar Usman;  yang Kejati NTB Arif SH, MH, orang kananga (Bolo/Sila); yang  Gubernur NTB pertama dari sipil setelah era Orde Baru sekaligus Wakil Gubernur DKI Jakarta pertama dari NTB itu Harun Al Rasyid itu orang Rato (Sila/Bolo); yang rektor Universitas Muhammadiyah Mataram Dr H Arsyad Gani dari Kampo Sigi-Rato (Sila/Bolo); yang Walikota Jakarta Barat H Burhanuddin era Gubernur Ahok, orang Rato (Sila/Bolo).

Dus, Anda mengedepankan Mbojo Nae sama dengan membunuh Bima sebagai sumber rasa bangga, sumber inspirasi sekaligus ikon suku kita yang punya makna transeden, punya filosofi mendalam, bernilai historis tinggi, dinukil oleh naskah-naskah bermutu tinggi seperti Nagarakrtagama dan Pararaton.

Dengan mengedepankan Mbojo, Anda pun ikut membunuh elemen pembentuk Bima yang lain yakni Kae, Bolo, Wera, Sape, Donggo dan Tambora. Dan Anda membunuh dirimu sendiri karena berarti mau mengkudeta induk semangmu yang bernama Bima. 

 http://lakeynews.com/2019/07/05/suku-mbojo-itu-keliru-dan-menyesatkan-1/#.XuYAfOdpzIV


MENGENAL SILSILAH RAJA BIMA / MBOJO


PANGERAN DIPONEGORO BERDARAH BIMA




 

Lihat Artikel Siraman Rohani Lainnya



Pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan



 
Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempatnya


 

Topi KKP

Berminat Hub 081342791003 
 
 
  Menyediakan Batik Motif IKan
Untuk Melihat Klik
Yang Berminat Hub 081342791003



Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di 


Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.
Berminat Hub 081342791003


READ MORE - Suku Mbojo? Itu Keliru dan Menyesatkan

03 Mei, 2020

Alumni SDN 7 Bima Angkatan 82

 
Arifin Muhdar (FaceBook)

Edi Budiman

 Abdul Hafid

 Mukhtar  H.M. Amin
Bima, 12 April 1968
Alamat Kendari Sulawesi Tenggara
(Facebook) (Twitter) (You Tube) (Keluarga

  Nuryati Sudirman (Facebook)
Alamat Mataran NTB

 Ratna Anwar (Facebook)
Alamat Mataram NTB

 Sahidin Asmuni
Alamat Bekasi Jawa Barat


Doris Herulondo


 Farida M Said

 Haryanti Yusuf  (Facebook)
Alamat Kota Bima NTB
 Nurjana
 Judin

 Maani Idris


 St Mariam A Karim
Alamat Kota Bima NTB


Saehu Maman
Alamat Kota Bima NTB


Samsul Bahri Yakub (SBY)
Bima,23 September 1968
Alamat Kota Bima NTB
 Maman 


 Abdul Haris.

 Ahmad Sulaeman

Bagi yang belum ada fotonnya mohon dikirim wa ke 081342791003


Daftar Nama Murid SDN NO.7 Bima.
            ( Angkatan tahun 1982 )
   ===========================

  1.  M. Nur Puden
  2.  M. Saleh
  3.  M. Saleh Sahri
  4.  Usman Kasim (Alm)
  5.  Syahbudin
  6.  Ibrahim Umar
  7.  Mukhtar HM Amin
  8.  Sahidin Asmuni
  9.  Abdul Hafid
10. Arifin Muhdar
11. Bambang Gustomo
13. Abdul Haris
14. Ilhamudin Ahmad
15. Doris Herulondo
16. Edy Mariam
17. Hasanudin Adam
18. Ahmad Sulaeman
19. Edy Budiman
20. Irawan Rusli
21. Syamsul bahri
22. Fudin
23. Maman
24. Saehu maman
25. Judin
26. Fahrudin
27. Haryanti Yusuf
28. Suntari M Taket
29. Ratna Anwar
30. Maani Idris
31. Nurbaya Ahmad
32. Raoda
33. St Mariam A Karim
34. Asyiah
35. Aisyah
36. Fatma
37. Sumarni
38. Amnah
39. Sofiah
40. La Siwe
41. Nining
42. Nurjana
43. Budimartini
44. Hadijah Rasyid (Almah)
45. Rosmawati Said
46. Syahrin Said
47. Sudirman Ishaka
48. Abdurahman
49. Yudistira
50. Farida M Said
51.  M Yamin
52. Khaerudin Ishaka
53. Amdi
54. Ridwan Ibrahim
55. Nuryati Sudirman
56. Nurjanah ( almah )
57. Bader
58. Rahmi ( kalempe )
59. Wahidin ( Alm )
60. Abdul Haris.
61. Mas'ah



   ==========================
     Daftar Nama2 Guru SDN 7 Bima
    =========================
  1.   Abdulah Rakba
  2.  Amin Baco
  3.  Natsir Ibrahim
  4.  Amir Syarifudin
  5.  Ahmad Hasan
  6. Said Sahidin
  7. Fahmi Idris
  8. Hadijah
  9. Mudjija
10. Alri Djaria
11. Fatimah
12. Baena
13.

  Personil Kantin Legendaris &
                Fenomenal
========================
1.  Lahu.     (lada)
2. Sei
3. Dae mene (bubur jago)
4. Oi tua (ina tamri)
5.



MANFAAT REUNI?

Hal Bil Halal Alumni SMA 76 -88 Jakarta di Villa 2 Lelaki

Mengukir Kenangan SMA 76 Jakarta

Menikmati Kebersamaan Dengan Teman SMA

Reuni A1 SMA 76 Jakarta

Reuni Lerifik A1 SMA 76 Jakarta

Halal Bihalal Alumni SMA 76 Jakarta

 Reuni Akbar 2 SMP Negeri 144 Jakarta

Nostalgia Bersama Teman SMP 144 Jakarta

Alumni SDN 7 Bima Angkatan 82

READ MORE - Alumni SDN 7 Bima Angkatan 82