19 Mei, 2011

Pengertian Ikan Menurut Peraturan Perundang-Undangan.

Oleh Mukhtar, A.Pi, M.Si,

A. Latar Belakang

Masih banyak yang belum mengerti tentang pengertian ikan, banyak menyatakan ikan hanyalah ikan yang dimakan. Sedangkan menurut beberapa undang-undang ikan bukanlah demikian. kenyataannya banyak mahasiswa, masyarakat termasuk pengawas perikanan yang kami tanya mengenai pengertian ikan hanya menjawap ikan adalah mahluk hidup yang hidup dalam air dan bersirip. Jawaban itu benar hanya saja baru sebagian dari jenis ikan. Berdasarkan peraturan perundangan berlaku dan berkaitan kepastian hukum apabila terjadi kasus pidana mengenai pengertian ikan maka siapa yang harus menangani, apa penyidik pegawai negeri sipil perikanan atau penyidik pegawai negeri kehutanan atau yang lainnya.

Contoh kasus yang terjadi penangkapan penyu yang dilindungi tanpa izin, kasus ini siapa yang harus menangani ? Disatu pihak hewan yang dilindungin oleh PPNS Kehutanan disatu pihak penyu termasuk ikan makan PPNS Perikanan yang menangani. Pertanyaan demi pertanyaan kami lontarkan apakah penyu, buaya, kodok atau ular laut adalah termasuk jenis ikan, pasti banyak yang menjawab bukan. Maka dibawah ini beberapa penjelasan tentang ikan.

B. Pengertian / Definisi Ikan sebagai berikut :
1. Undang-Undang Rebublik Indonesia No. 9 Tahun 1985 Tentang Perikanan. Pada pasal 1 angka 2, Sumber daya ikan adalah semua jenis ikan termasuk biota perairan lainnya, kemudian diganti dengan Undang-Undang Rebublik Indonesia No. 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan. Pada pasal 1 angka 2, Sumber daya ikan adalah potensi semua jenis ikan, angka 4, Ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan, pasal 7 ayat (5) Menteri menetapkan jenis ikan dan kawasan perairan yang masing-masing dilindungi, termasuk taman nasional laut, untuk kepentingan ilmu pengetahuan, kebudayaan, pariwisata, dan/atau kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya.
Kemudian dirubah dengan Undang-Undang Rebublik Indonesia No. 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Rebublik Indonesia No. 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan. Pada pasal 1 angka 2, Sumber daya ikan adalah potensi semua jenis ikan, angka 4, Ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan, pasal 7 ayat (6) Menteri menetapkan jenis ikan yang dilindungi dan kawasan konservasi perairan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, kebudayaan, pariwisata, dan/atau kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya.

Selain itu Peraturan Pemerintah Rebublik Indonesia No. 60 Tahun 2007 Tentang Konservasi Sumberdaya Ikan. Pada pasal 1 angka Pada pasal 1 angka 5. Sumber daya ikan adalah potensi semua jenis ikan, angka 6, Ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan
Pada penjelasan pasal undang-undang diatas ini dimaksud dengan “jenis ikan” adalah :
a. ikan bersirip (pisces);
b. udang, rajungan, kepiting, dan sebangsanya (crustacea);
c. kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, siput, dan sebangsanya (mollusca);
d. ubur-ubur dan sebangsanya (coelenterata);
e. tripang, bulu babi, dan sebangsanya (echinodermata);
f. kodok dan sebangsanya (amphibia);
g. buaya, penyu, kura-kura, biawak, ular air, dan sebangsanya (reptilia);
h. paus, lumba-lumba, pesut, duyung, dan sebangsanya (mammalia);
i. rumput laut dan tumbuh-tumbuhan lain yang hidupnya di dalam air (algae); dan
j. biota perairan lainnya yang ada kaitannya dengan jenis-jenis tersebut di atas; semuanya termasuk bagian-bagiannya dan ikan yang dilindungi.

2. Undang-Undang Rebublik Indonesia No. 16 Tahun 1992 Tentang Karantina Hewan, Ikan Dan Tumbuhan. Pada pasal 1 angka 10, Ikan adalah semua biota perairan sebagian atau seluruh daur hidupnya berada di dalam air, dalam keadaan hidup atau mati, termasuk bagian-bagiannya. Diperkuat lagi dengan Peraturan Pemerintah Rebublik Indonesia No. 15 Tahun 2002 Tentang Karantina Ikan. Pada pasal 1 angka 7, Ikan adalah semua biota perairan sebagian atau seluruh daur hidupnya berada di dalam air, dalam keadaan hidup atau mati, termasuk bagian-bagiannya.
Pada penjelasan ayat ini yang dimaksud Pengertian ikan” meliputi :
a. ikan bersirip (pisces);
b. udang, rajungan, kepiting, dan sebangsanya (crustacea);
c. kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, siput, dan sebangsanya (mollusca);
d. ubur-ubur dan sebangsanya (coelenterata);
e. tripang, bulu babi, dan sebangsanya (echinodermata);
f. kodok dan sebangsanya (amphibia);
g. buaya, penyu, kura-kura, biawak, ular air, dan sebangsanya (reptilia);
h. paus, lumba-lumba, pesut, duyung, dan sebangsanya (mammalia);
i. rumput laut dan tumbuh-tumbuhan lain yang hidupnya di dalam air (algae); dan
j. biota perairan lainnya yang ada kaitannya dengan jenis-jenis tersebut di atas; semuanya termasuk bagian-bagiannya dan ikan yang dilindungi.

3. Undang-Undang Rebublik Indonesia No. 21 Tahun 2009 Tentang Persetujuan Pelaksanaan Ketentuan-Ketentuan Konversi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Hukum Laut Tanggal 10 Desember 1982 Yang Berkaitan Dengan Konservasi Dan Pengelolaan Sediaan Ikan Yang Beruaya Terbatas Dan Sediaan Ikan Yang Beruaya Jauh. Pada pasal 1 huruf (c), Ikan termasuk mollusca dan crustacea kecuali yang termasuk dalam jenis sedenter.

4. Definisi bebas lain tentang ikan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati perairan, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntungkan sebagai makanan bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman. (Direktorat Standardisasi dan Akreditasi Ditjen P2HP, 2010). Pedoman cara penanganan ikan yang baik (CPnIB) di unit pemasok (Suplayer).

C. Jenis-Jenis Ikan

  1. Pisces (ikan bersirip)
Gambar 1. Ikan Kakap dan Ikan Tuna.

Hewan bertulang belakang (vertebrata) yang berdarah dingin (poikilotermis) hidup di air dan bernapas dengan insang dan bersirip untuk bergerak dan menjaga keseimbangan badannya dan sebagian bersisik. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia.

  1. Crustacea (udang, rajungan, kepiting, dan sebangsanya).
Hewan yang tidak bertulang belakang (avertebrata) dan berbuku-buku (arthropoda), hidup di air tawar atau laut, walaupun beberapa kelompok telah beradaptasi dengan kehidupan darat seperti kepiting darat. Mayoritas dapat bebas bergerak walaupun beberapa takson bersifat parasit dan hidup dengan menumpang pada inangnya. Contohnya lobster, kepiting, rajungan, udang dan teritip.

Hewan-hewan Crustacea bernapas dengan insang yang melekat pada anggota tubuhnya dan sistem peredaran darah yang dimilikinya adalah sistem peredaran darah terbuka. Golongan hewan ini bersifat diesis (ada jantan dan betina) dan pembuhan berlangsung di dalam tubuh betina (fertilisasi internal). Untuk dapat menjadi dewasa, larva hewan akan mengalami pergantian kulit (ekdisis) berkali-kali.

a. Udang (shrimp)
Gambar 2. Udang (shrimp)

Adalah binatang yang hidup di perairan, khususnya sungai, laut, atau danau. Udang dapat ditemukan di hampir semua "genangan" air yang berukuran besar baik air tawar, air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan.

b. Rajungan (crab)
Gambar 3. Rajungan (crab)

Binatang berkaki sepuluh sepasang kaki yang pertama dimodifikasi menjadi sepasang capit dan yang sepasang lagi yang paling belakang digunakan untuk bergerak. perutnya terlipat di bawah cephalothorax. Bagian mulut rajungan ditutupi oleh maxilliped yang rata, dan bagian depan dari carapace tidak membentuk sebuah rostrum yang panjang. Insang rajungan terbentuk dari pelat-pelat yang pipih ("phyllobranchiate"), yang dikenal mempunyai "ekor" yang sangat pendek, atau yang perutnya (abdomen) sama sekali tersembunyi di bawah dada (thorax). Tubuh dilindungi oleh kerangka luar yang sangat keras, tersusun dari kitin, dan dipersenjatai dengan sepasang capit. Rajungan berwarna bintik-bintik putih dan biru hidup di perairan laut dan jarang naik ke pantai.

c. Kepiting (crab)
Gambar 4. Kepiting (crab)

Binatang berkaki sepuluh sepasang kaki yang pertama dimodifikasi menjadi sepasang capit dan yang sepasang lagi yang paling belakang digunakan untuk bergerak. perutnya terlipat di bawah cephalothorax. Bagian mulut kepiting ditutupi oleh maxilliped yang rata, dan bagian depan dari carapace tidak membentuk sebuah rostrum yang panjang. Insang kepiting terbentuk dari pelat-pelat yang pipih ("phyllobranchiate"), yang dikenal mempunyai "ekor" yang sangat pendek, atau yang perutnya (abdomen) sama sekali tersembunyi di bawah dada (thorax). Tubuh dilindungi oleh kerangka luar yang sangat keras, tersusun dari kitin, dan dipersenjatai dengan sepasang capit. Kepiting berwarna coklat campur hitam hidup di air payau, air tawar dan darat, khususnya di wilayah-wilayah tropis. Ketam adalah nama lain bagi kepiting.

  1. Mollusca (kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, siput, dan sebangsanya).
Hewan bertubuh lunak tanpa segmen dan biasannya memiliki pelindung tubuh yang berbentuk cangkang yang terbuat dari zat kapur untuk melindungi diri dari serangan predator dan gangguan lainnya maupun tanpa cangkang. Seperti berbagai jenis siput, kiton, kerang-kerangan, serta cumi-cumi dan kerabatnya. Mollusca hidup di laut, air tawar, payau, dan darat. Dari palung benua di laut sampai pegunungan yang tinggi, bahkan mudah saja ditemukan di sekitar rumah kita.
Tubuhnya terdiri dari "kaki" muskular, dengan kepala yang berkembang beragam menurut kelasnya. Kaki dipakai dalam beradaptasi untuk bertahan di substrat, menggali dan membor substrat, atau melakukan pergerakan.

a. Kerang
Gambar 5. Kerang

Hewan air yang termasuk hewan bertubuh lunak dengan sepasang cangkang. Dengan pengertian ini, lebih tepat orang menyebutnya kerang-kerangan. Kata kerang dapat pula berarti semua kerang-kerangan yang hidupnya menempel pada suatu obyek.
Semua kerang-kerangan memiliki sepasang cangkang (disebut juga cangkok atau katup) yang biasanya simetri cermin yang terhubung dengan suatu ligamen (jaringan ikat). Pada kebanyakan kerang terdapat dua otot adduktor yang mengatur buka-tutupnya cangkang.

Kerang tidak memiliki kepala (juga otak) dan hanya simping yang memiliki mata. Organ yang dimiliki adalah ginjal, jantung, mulut, dan anus. Kerang dapat bergerak dengan "kaki" berupa semacam organ pipih yang dikeluarkan dari cangkang sewaktu-waktu atau dengan membuka-tutup cangkang secara mengejut.


b. Tiram
Gambar 6. Tiram

Hewan air kelompok kerang-kerangan dengan cangkang berkapur dan relatif pipih. Tiram sejati adalah semua bivalvia yang termasuk keluarga Ostreidae. Namun demikian, nama tiram dipakai pula untuk beberapa hewan lain di luar kelompok itu. Dagingnya rendah kalori dan mengandung kalsium dan vitamin A.

c. Cumi-Cumi (Loligo spp)
Gambar 7. Cumi-Cumi

Hewan kelompok cephalopoda besar atau jenis moluska yang hidup di laut. Nama itu Cephalopoda dalam bahasa Yunani berarti "kaki kepala", hal ini karena kakinya yang terpisah menjadi sejumlah tangan yang melingkari kepala. Cumi-cumi pada umumnya bertubuh ramping memanjang, dikiri kanannya bersirip, yang panjangnnya rata-rata tidak melebihi panjang mantel. Lengannya lima pasang satu pasang diantarannya tentakel. Bagian ujung tentakel melebar dan menebal sebagai gada. Lengan-lengannya dan ganda tentakel berbintik-bintik isap dan kadang-kadang juga berduri-duri kait (hook). Di kiri kanan kepala terdapat suatu alat penciuman yang terdiri dari dua tonjolan atau papilla. Mata tanpa kelopak, tertutup selaput transparan dan tak berpori.
Cumi-cumi menyemprotkan sejumlah besar cairan bercahaya seperti tinta apabila dirinya merasa terganggu.

d. Gurita (Octopus)
Gambar 8. Gurita

Hewan moluska dari kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala), ordo Octopoda dengan terumbu karang di samudra sebagai habitat utama. Gurita memiliki 8 lengan (bukan tentakel) dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung pada lengan yang digunakan untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa. Lengan gurita merupakan struktur hidrostat muskuler yang hampir seluruhnya terdiri dari lapisan otot tanpa tulang atau tulang rangka luar. Gurita tidak memiliki cangkang sebagai pelindung di bagian luar seperti halnya Nautilus dan tidak memiliki cangkang dalam atau tulang seperti sotong dan cumi-cumi. Paruh adalah bagian terkeras dari tubuh gurita yang digunakan sebagai rahang untuk membunuh mangsa dan menggigitnya menjadi bagian-bagian kecil. Gurita berenang dengan kepala di depan diikuti dengan lengan-lengannya, dengan cara merangkak ditambah sedikit berenang jika ingin bergerak secara perlahan.

e. Siput
Gambar 9. Siput

Siput atau keong adalah nama umum yang diberikan untuk anggota kelas moluska Gastropoda. Dalam arti sempit, istilah ini diberikan bagi mereka yang memiliki cangkang bergelung pada tahap dewasa. Dalam arti luas, yang juga menjadi makna "Gastropoda", mencakup siput dan siput bugil (siput tanpa cangkang) Siput dapat ditemukan pada berbagai lingkungan yang berbeda: dari parit hingga gurun, bahkan hingga laut yang sangat dalam. Sebagian besar spesies siput adalah hewan laut. Banyak juga yang hidup di darat, air tawar, bahkan air payau. Kebanyakan siput merupakan herbivora, walaupun beberapa spesies yang hidup di darat dan laut dapat merupakan omnivora atau karnivora predator. Beberapa contoh Gastropoda adalah bekicot (Achatina fulica), siput kebun (Helix sp.), siput laut (Littorina sp.) dan siput air tawar (Limnaea sp.)

  1. Coelenterata (Ubur-ubur, karang dan sebangsannya)
Hewan bersel banyak yang memiliki tentakel serta tubuh simetris bilateral dan hidup dilaut.

a. Ubur-Ubur
Gambar 10. Ubur-ubur

Hewan laut yang termasuk dalam kelas Scyphozoa. Tubuhnya berbentuk payung berumbai, dapat membuat gatal pada kulit bila tersentuh.

b. Karang
Gambar 11. Karang

Karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae. karang termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel. Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia, yang keduanya dibedakan secara asal-usul, Morfologi dan Fisiologi.

Koloni karang adalah kumpulan dari berjuta-juta polip dari spesies yang sama yang berada pada satu rangka skeleton. Polip penghasil bahan kapur (CaCO3) yang memiliki kerangka luar yang disebut koralit. Pada koralit terdapat septum-septum yang berbentuk sekat-sekat yang dijadikan acuan dalam penentuan jenis karang. Poli karang mempunyai mulut yang terletak di bagian atas dan juga berfungsi sebagai dubur, tentakel-tentakel yang digunakan untuk menangkap makanan, serta tubuh polip. Karang termasuk dalam filum Cnidaria yaitu organisme yang memiliki penyengat. Hamparan yang sebagian besar biota penyusun koloni karang disebut Terumbu Karang.

Terumbu karang adalah karang yang terbentuk dari kalsium karbonat koloni kerang laut yang bernama polip yang bersimbiosis dengan organisme miskroskopis yang bernama zooxanthellae. Terumbu karang bisa dikatakan sebagai hutan tropis ekosistem laut. Ekosistem ini merupakan ekosistem yang sangat penting dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih. Biasanya tumbuh di dekat pantai di daerah tropis dengan temperatur sekitar 21-30C. Terumbu karang merupakan sumber makanan dan obat-obatan dan melindungi pantai dari erosi akibat gelombang laut.

Ada dua jenis terumbu karang yaitu terumbu karang keras (hard coral) dan terumbu karang lunak (soft coral). Terumbu karang keras (seperti brain coral dan elkhorn coral) merupakan karang batu kapur yang keras yang membentuk terumbu karang. Terumbu karang lunak (seperti sea fingers dan sea whips) tidak membentuk karang.



  1. Echinodermata (Tripang, bulu babi dan sebangsanya)
Echinodermata adalah filum hewan kebanyakan memiliki simetri radial, khususnya simetri radial pentameral (terbagi lima). Walaupun terlihat primitif, Echinodermata adalah filum yang berkerabat relatif dekat dengan Chordata (yang di dalamnya tercakup Vertebrata), dan simetri radialnya berevolusi secara sekunder. Larva bintang laut misalnya, masih menunjukkan keserupaan yang cukup besar dengan larva Hemichordata.
Banyak di antara anggotanya yang berperan besar dalam ekosistem laut, terutama ekosistem litoral pantai berbatu, terumbu karang, perairan dangkal, dan palung laut. Spesies bintang laut Pisaster ochraceus misalnya, menjadi predator utama di ekosistem pantai berbatu di pesisir barat Amerika Utara, spesifiknya mengendalikan populasi tiram biru (Mytilus edulis)sehingga spesies yang lain dapat menghuni pantai tersebut dan bivalvia tersebut tidak mendominansi secara berlebihan. Contoh lain adalah Acanthaster planci yang memakan polip karang di perairan Indo-Pasifik. Kendati sering dianggap desktruktif, ada beberapa teori yang mengatakan bahwa A. planci sebenarnya adalah predator yang penting untuk ekosistem terumbu karang, sehingga terjadi rekruitmen karang baru yang menggantikan koloni-koloni tua, juga mengurangi tekanan kompetisi antara satu spesies karang dengan yang lain.
Echinodermata mempunyai kemampuan untuk melakukan regenerasi bagian tubuhnya yang hilang, contohnya timun laut. Apabila timun laut merasa dirinya terancam, maka timun laut akan menyemprotkan organ tubuhnya agar mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri. Kelak, organ tubuh yang hilang akan tumbuh kembali

a. Tripang

Gambar 12. Tripang

Teripang atau trepang adalah istilah yang diberikan untuk hewan invertebrata timun laut (Holothuroidea) yang dapat dimakan. Ia tersebar luas di lingkungan laut diseluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat. Teripang adalah hewan yang bergerak lambat, hidup pada dasar substrat pasir, lumpur pasiran maupun dalam lingkungan terumbu. Teripang merupakan komponen penting dalam rantai makanan di terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic levels). Teripang berperan penting sebagai pemakan deposit (deposit feeder) dan pemakan suspensi (suspensi feeder).

b. Bulu Babi / Landak Laut

Gambar 13. Bulu Babi / Landak Laut
Landak laut/bulu babi (Echinoidea) merupakan hewan yang biasanya hidup di daerah pantai, atas batu karang, dasar laut, dalam lumpur, sumur-sumuran daerah pantai, muara sungai (dengan membenamkan diri di tanah liat atau di bawah karang). Hewan-hewan yang termasuk kelas ini berbentuk bundar tak berlengan, tetapi memilki duri yang dapat digerakkan.
  1. Amphibia (Kodok dan sebangsanya)
a. Kodok (Frog)
Gambar 14. Kodok dan Katak

Kodok dan katak adalah hewan yang bentuknya ini bentuknya mirip. Kodok bertubuh pendek, gempal atau kurus, berpunggung agak bungkuk, berkaki empat dan tak berekor (anura: a tidak, ura ekor). Kodok umumnya berkulit halus, lembab, dengan kaki belakang yang panjang. Sebaliknya katak atau bangkong berkulit kasar berbintil-bintil sampai berbingkul-bingkul, kerapkali kering, dan kaki belakangnya sering pendek saja, sehingga kebanyakan kurang pandai melompat jauh.
Kodok dan katak mengawali hidupnya sebagai telur yang diletakkan induknya di air, di sarang busa, atau di tempat-tempat basah lainnya. Telur-telur kodok dan katak menetas menjadi berudu atau kecebong, yang bertubuh mirip ikan gendut, bernafas dengan insang dan selama beberapa lama hidup di air. Perlahan-lahan akan tumbuh kaki belakang, yang kemudian diikuti dengan tumbuhnya kaki depan, menghilangnya ekor dan bergantinya insang dengan paru-paru. Setelah masanya, berudu ini akan melompat ke darat sebagai kodok atau katak kecil.

  1. Reptilia (buaya, penyu, kura-kura, biawak, ular air dan sebangsanya)
Sekelompok hewan vertebrata yang berdarah dingin dan memiliki sisik yang menutupi tubuhnya. Reptilia adalah tetrapoda (hewan dengan empat tungkai) dan menelurkan telur yang embrionya diselubungi oleh membran amniotik. Mayoritas reptil adalah ovipar (bertelur) meski beberapa spesies Squamata bersifat vivipar (melahirkan). Reptil vivipar memberi makan janin mereka menggunakan sejenis plasenta yang mirip dengan mamalia.
Ukuran reptil bervariasi, dari yang berukuran hingga 1,6 cm (tokek kecil, Sphaerodactylus ariasae) hingga berukuran 6 m dan mencapai berat 1 ton (buaya air asin, Crocodylus porosus). Cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari reptil adalah herpetologi

a. Buaya (crocodile)
Gambar 15. Buaya

Buaya adalah reptil bertubuh besar yang hidup di air. Secara ilmiah, buaya meliputi seluruh spesies anggota suku Crocodylidae. Buaya, seperti halnya dinosaurus, memiliki tulang-tulang iga yang termodifikasi menjadi gastralia. Di luar bentuknya yang purba, buaya sesungguhnya merupakan hewan melata yang kompleks. Tak seperti lazimnya reptil, buaya memiliki jantung beruang empat, sekat rongga badan (diafragma) dan cerebral cortex. Pada sisi lain, morfologi luarnya memperlihatkan dengan jelas cara hidup pemangsa akuatik. Tubuhnya yang "streamline" memungkinkannya untuk berenang cepat. Buaya melipat kakinya ke belakang melekat pada tubuhnya, untuk mengurangi hambatan air dan memungkinkannya mempertinggi kecepatan pada saat berenang. Jari-jari kaki belakangnya berselaput renang, yang meskipun tak digunakan sebagai pendorong ketika berenang cepat, selaput ini amat berguna tatkala ia harus mendadak berbalik atau melakukan gerakan tiba-tiba di air, atau untuk memulai berenang. Kaki berselaput juga merupakan keuntungan manakala buaya perlu bergerak atau berjalan di air dangkal.
Buaya dapat bergerak dengan sangat cepat pada jarak pendek, bahkan juga di luar air. Binatang ini memiliki rahang yang sangat kuat, yang dapat menggigit dengan kekuatan luar biasa, menjadikannya sebagai hewan dengan kekuatan gigitan yang paling besar.

b. Penyu (Sea turtles)
Gambar 16. Penyu

Penyu adalah kura-kura laut. Penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Walaupun seumur hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata, kelas reptilia itu tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil napas. Itu karena penyu bernapas dengan paru-paru. Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh 58 - 73 hari.
Sebagian orang menganggap penyu adalah salah satu hewan laut yang memiliki banyak kelebihan. Selain tempurungnya yang menarik untuk cendramata, dagingnya yang lezat ditusuk jadi Sate penyu berkhasiat untuk obat dan ramuan kecantikan. Terutama di Tiongkok dan Bali, penyu menjadi bulan-bulanan ditangkap, disantap, tergusur dari pantai, telurnyapun diambil. Meski sudah ada Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pelestarian Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang melindungi semua jenis penyu, perburuan terhadap hewan yang berjalan lamban ini terus berlanjut. Untuk mencegah kepunahan penyu, terutama penyu belimbing, beberapa negara telah melindungi tempat bertelur penyu.

c. Biawak

Gambar 17. Biawak

Biawak adalah sebangsa reptil yang masuk ke dalam golongan kadal besar, suku biawak-biawakan (Varanidae). Biawak banyak macamnya. Yang terbesar dan terkenal ialah biawak komodo (Varanus komodoensis), yang panjangnya dapat melebihi 3 m. Biawak ini, karena besarnya, dapat memburu rusa, babi hutan dan anak kerbau. Bahkan ada kasus-kasus di mana biawak komodo menyerang manusia, meskipun jarang. Biawak ini hanya menyebar terbatas di beberapa pulau kecil di Nusa Tenggara, seperti di p. Komodo, p. Padar, p. Rinca dan di ujung barat p. Flores.
Biawak yang kerap ditemui di desa-desa dan perkotaan di Indonesia barat kebanyakan adalah biawak air dari jenis Varanus salvator. Panjang tubuhnya (moncong hingga ujung ekor) umumnya hanya sekitar 1 m lebih sedikit, meskipun ada pula yang dapat mencapai 2,5 m.

d. Ular Laut
Gambar 18. Ular Laut

Ular laut terdiri dari banyak jenis (salah satu di antaranya Erabu) dan kesemuanya merupakan ular yang memiliki racun yang sangat kuat.
Ada sebuah teori yang menyatakan bahwa asal mula ular laut di dunia berasal dari pulau Borneo (Kalimantan) Indonesia. Ular laut tersebut pada mulanya adalah ular Welang biasa yang hidup di pantai Pulau Borneo dan kemudian mulai masuk ke laut lepas untuk mencari ikan dan berevolusi dengan lingkungannya hingga menjadi ular laut yang kita kenal sekarang ini.
Bisa ular laut sangat kuat karena memiliki kekuatan 30 kali bisa ular Cobra dan mengandung bisa yang lengkap seperti layaknya jenis-jenis ular elapidae. Meskipun memiliki racun sangat sangat kuat, ular laut jarang menggigit manusia dikarenakan mulutnya yang sangat kecil dibandingkan dengan jenis ular lainnya. Biasanya manusia akan tergigit ular laut di daerah ujung jari. Ular ini tidak dapat menggigit manusia di lengan, kaki, atau bagian tubuh lainnya karena mulutnya yang kecil tersebut. Meskipun demikian, ular laut tetap merupakan ancaman bagi para nelayan dan penyelam karena racunnya yang sangat kuat. Pada beberapa kasus gigitan ular laut pada seorang penyelam, penyelam yang berusaha memegang dan tergigit oleh ular laut dapat mengalami kegagalan fungsi jantung dan meninggal sebelum sempat mencapai permukaan air. Oleh karena itu, kita tidak perlu takut berlebihan terhadap ular laut, akan tetapi kita perlu tetap waspada pada saat memancing, menyelam, atau berada di pantai.

e. Kura-Kura (tortoises)
Gambar 17. Kura-Kura

Kura-kura adalah hewan bersisik berkaki empat yang mempunyai ciri khas dan mudah dikenali dengan adanya ‘rumah’ atau batok (bony shell) yang keras dan kaku.
Batok kura-kura ini terdiri dari dua bagian. Bagian atas yang menutupi punggung disebut karapas (carapace) dan bagian bawah (ventral, perut) disebut plastron. Kemudian setiap bagiannya ini terdiri dari dua lapis. Lapis luar umumnya berupa sisik-sisik besar dan keras, dan tersusun seperti genting; sementara lapis bagian dalam berupa lempeng-lempeng tulang yang tersusun rapat seperti tempurung.

  1. Mamalia (paus, lumba-lumba, pesut, duyung, dan sebangsanya)
a. Paus
Gambar 19. Paus

Paus adalah sekelompok mamalia yang hidup di lautan. Sebutan "paus" diberikan pada anggota bangsa Cetacea yang berukuran besar.. Paus mempunyai ciri-ciri sebagai bernapas melalui paru-paru, mempunyai rambut (sedikit, kebanyakan ada di paus dewasa). berdarah panas, mempunyai kelenjar susu, mempunyai jantung dengan empat ruang, satu lubang pernapasan.
Paus tidak bergigi berukuran lebih besar daripada ikan paus bergigi dan mempunyai struktur yang dikenal sebagai balin yang berbentuk sikat. Struktur ini berguna untuk menyaring plankton, makanannnya, di air. Paus berbalin mempunyai dua lubang pernapasan.

b. Lumba-Lumba
Gambar 20. Lumba-Lumba

Lumba-lumba adalah mamalia laut yang sangat cerdas, selain itu sistem alamiah yang melengkapi tubuhnya sangat kompleks. Sehingga banyak teknologi yang terinspirasi dari lumba-lumba. Salah satu contoh adalah kulit lumba-lumba yang mampu memperkecil gesekan dengan air, sehingga lumba-lumba dapat berenang dengan sedikit hambatan air. Hal ini yang digunakan para perenang untuk merancang baju renang yang mirip kulit lumba-lumba.
Lumba-lumba memiliki sebuah sistem yang digunakan untuk berkomunikasi dan menerima rangsang yang dinamakan sistem sonar, sistem ini dapat menghindari benda-benda yang ada di depan lumba-lumba, sehingga terhindar dari benturan. Teknologi ini kemudian diterapkan dalam pembuatan radar kapal selam. Lumba-lumba adalah binatang menyusui. Mereka hidup di laut dan sungai di seluruh dunia. Lumba-lumba adalah kerebat paus dan pesut. Ada lebih dari 40 jenis lumba-lumba.
Lumba-lumba tergolong sebagai mamalia yang cerdas. Lumba-lumba dapat menolong manusia, bila lumba-lumba sudah terlatih, bahkan lingkaran api pun dapat mereka terobos. Singa laut, spesies primata, ikan paus dan anjing juga termasuk binatang yang cerdas. Lumba-lumba yang sudah terlatih dapat melakukan berbagai atraksi dan mereka juga dapat berhitung,. Sekarang ini, lumba-lumba dan ikan paus sudah langka, maka lumba-lumba dan ikan paus harus dilindungi. Lumba-lumba dan ikan paus telah mulai dilindungi di seluruh dunia.

c. Pesut
Gambar 21. Pesut

Pesut atau lumba-lumba air tawar adalah spesies mamalia air yang menghuni wilayah perairan tawar di India, Indocina, Filipina dan Kalimantan. Pesut memiliki ciri-ciri seluruh tubuh berwarna kelabu hingga biru tua, bagian bawahnya berwarna lebih pucat tanpa adanya pola yang khas. Sirip punggung kecil dan membulat di tengah punggung. Dahinya tinggi dan membulat; tidak bermoncong. Sirip tangan lebar membulat.

d. Duyung
Gambar 22. Duyung
Duyung atau ikan duyung adalah mamalia laut besar yang hampir serupa dengan manatee, ikan duyung bukanlah termasuk ke dalam bangsa ikan, ikan duyung adalah salah satu dari empat spesies yang hidup dari ordo Sirenia atau sapi laut. Ikan duyung adalah salah satu hewan yang terancam punah sejak abad ke-18 karena banyak diburu untuk dikonsumsi.

  1. Algae (rumput laut dan tumbuh-tumbuhan lain yang hidupnya di dalam air).
Alga diklasifikasikan menjadi 4 kelompok yaitu alga hijau (chlorophyta), alga merah (Rhodophycophyta atau Rhodophyceae), alga pirang (Phaeophycophyta atau Phaeophyceae) dan alga keemasan (Chrysophyceae).
Alga lainnya yang berukuran kecil dan hanya terlihat dengan bantuan alat pembesar seperti mikroskop tidak termasuk ke dalam kelompok rumput laut tetapi merupakan kelompok tersendiri yang disebut plankton. Kelompok ini selain kecil ukurannya juga gerakannya sangat dipengaruhi pergerakan air sehingga keberadaannya sebagian besar bergantung kepada kondisi fisik perairan selain faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap pertumbuhannya.
a. Rumput Laut
Gambar 23. Rumput Laut

Rumput laut atau sea weeds secara ilmiah dikenal dengan istilah alga atau ganggang. Rumput laut termasuk salah satu anggota alga yang merupakan tumbuhan berklorofil. Dilihat dari ukurannya, rumput laut terdiri dari jenis mikroskopik dan makroskopik. Jenis makroskopik inilah yang sehari-hari kita kenal sebagai rumput laut (Taurino-Poncomulyo, 2006).
Rumput laut tergolong tanaman berderajat rendah, umumnya tumbuh melekat pada substrat tertentu, tidak mempunyai akar, batang maupun daun sejati, tetapi hanya menyerupai batang yang disebut thallus. Bentuk thallus ini beragam, ada yang bulat seperti tabung, pipih, gepeng, bulat seperti kantong, atau ada juga yang seperti rambut. Rumput laut tumbuh di alam dengan melekatkan diri ada karang, lumpur, pasir, batu dan benda keras lainnya. Selain benda mati, rumput lautpun dapat melekat pada tumbuhan lain secara epifitik (Jana-Anggadiredjo, 2006).

b. Tumbuhan air lain-lainnya

Gambar 23. Alga (Tumbuhan Air Lainnya)

j. biota perairan lainnya yang ada kaitannya dengan jenis-jenis tersebut di atas; semuanya termasuk bagian-bagiannya dan ikan yang dilindungi.

Oleh Mukhtar, A.Pi, M.Si,  Kepala Stasiun Pengawasan SDKP  Belawan
Medan April 2011

3 komentar:

Zabar Yunus mengatakan...

Mantap bget Pak......

hariyanto mengatakan...

pernah dengar ikan ayam ngga'
ayam termasuk jenis ikan bukan yah

nia masniah mengatakan...

makasih pak,artikelnya bagus n sangat membantu....