Tampilkan postingan dengan label Terumbu Karang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terumbu Karang. Tampilkan semua postingan

03 Juni, 2024

KKP Libatkan Masyarakat Dalam Pelestarian Terumbu Karang

 JAKARTA, (25/5)- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melibatkan Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi (KOMPAK) dalam menjaga terumbu karang di kawasan konservasi. Berbagai kemampuan dasar pun diberikan termasuk metode pemantauan terumbu karang, pengenalan dan cara perawatan alat selam serta menambah keahlian dalam penyelaman.

 

 

“Masyarakat di dalam kawasan konservasi memiliki keterikatan dalam pemanfaatan kawasan konservasi baik penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pariwisata hingga penelitian dan pendidikan. Karenanya, kerjasama dengan kelompok masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi dan jenis ikan sangat penting untuk menjaga keberlanjutan,” ujar Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Firdaus Agung dalam keterangannya di Jakarta. 

 

 

Menurut Firdaus, sesuai Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut Nomor 71 Tahun 2023 tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Bantuan Konservasi 2024, KKP menargetkan penyerahan 20 (dua puluh) paket bantuan pemerintah bidang konservasi kepada Kelompok KOMPAK beserta pendampingan pemanfaatan bantuan yang telah disalurkan untuk mendukung upaya kelompok dalam kegiatan konservasi.

 

 

Berkaitan dengan peran serta masyarakat, Derta Prabuning perwakilan Yayasan Reef Check Indonesia menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas akan mendorong masyarakat lebih memahami ekosistem terumbu karang sehingga mampu berkontribusi dalam memberikan informasi kepada Unit Pelaksana Teknis (UPT), pengelolaan kawasan, maupun informasi kepada Kementerian mengenai pemutihan karang.

 

 

“Kegiatan ini mendukung kita dalam merespon kejadian perubahan iklim dan pemanasan global sehingga sinergi antara pemerintah dan masyarakat dapat meningkatkan efektivitas dalam mengelola kawasan konservasi,” ujarnya saat berbicara pada Bimbingan Teknis Pemanfaatan Bantuan Pemerintah Bidang Konservasi yang dilaksanakan pada tanggal 13-17 Mei 2024 di Mandeh, Kab. Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

 

 

Senada dengan Derta, instruktur selam yang juga Representative Professional Scuba School John Edward Sijabat mengungkapkan sebagai orang Indonesia yang memiliki lautan yang luas dan pemandangan bawah air terbaik di dunia, menjadi penyelam adalah cara menikmati dan menjaga terumbu karang yang telah menyumbangkan kehidupan kepada manusia.

 

 

Sementara itu, Pavona Dive penerima bantuan KOMPAK dari Kabupaten Anambas Adip Setiawan mengaku senang mendapatkan pengetahuan tentang pemantauan terumbu karang yang berguna bagi kelompok dan wilayahnya.

 

 

“Selama kegiatan ini, saya mendapatkan kesempatan belajar tentang pemantauan cepat terumbu karang. Ini sangat membantu dan dapat saya aplikasikan di ekosistem terumbu karang Pulau Siantan, Kabupaten Anambas,” pungkasnya.

 

 

Sejalan dengan kebijakan KKP yang ditegaskan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono di berbagai forum global, konservasi di wilayah laut menjadi salah satu strategi andalan Indonesia dalam memulihkan kelautan dan ekosistem perairan. Melalui strategi ini diharapkan kesehatan dan produktivitas laut dapat terjaga untuk implementasi ekonomi biru di Indonesia.

 

 

HUMAS DITJEN PENGELOLAAN KELAUTAN DAN RUANG LAUT

 

https://www.kkp.go.id/news/news-detail/kkp-libatkan-masyarakat-dalam-pelestarian-terumbu-karang.html 

Menteri KP Luncurkan Modelling Penangkapan Ikan Terukur Pertama di RI
Shafira Cendra Arini - detikFinance
Minggu, 02 Jun 2024 17:30 WIB
Pengembangan modelling ini akan dilakukan di dua wilayah zona 3 perikanan, antara lain Kota Tual dan Kepulauan Aru, Provinsi Maluku.
Pengembangan modelling ini akan dilakukan di dua wilayah zona 3 perikanan, antara lain Kota Tual dan Kepulauan Aru, Provinsi Maluku - Foto: detikcom/Shafira Cendra Arini
Tual -

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono resmi meluncurkan modelling Penangkapan Ikan Terukur (PIT) pertama di Indonesia. Pengembangan modelling ini akan dilakukan di dua wilayah zona 3 perikanan, antara lain Kota Tual dan Kepulauan Aru, Provinsi Maluku.

Peresmian ini ditandai dengan penandatanganan kerja sama bisnis hulu hilir perikanan tangkap dan penangkapan ikan terukur bersama PT Samudera Indo Sejahtera dan kelompok nelayan di Kota Tual pada hari ini, Minggu (2/6/2024).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2023 tentang Penangkapan Ikan Terukur, Penangkapan Ikan Terukur adalah penangkapan ikan yang terkendali dan proporsional. PIT dilakukan di zona penangkapan ikan terukur, berdasarkan kuota penangkapan ikan dalam rangka menjaga kelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya serta pemerataan pertumbuhan ekonomi nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trenggono mengatakan, PIT menjadi salah satu langkah transformasi bagi industri perikanan RI untuk menuju ke arah perikanan yang mengedepankan keberlanjutan dan budidaya. Ia pun bercerita, sempat ditolak Eropa lantaran sistem penangkapan ikan RI dinilai barbar.
Baca juga:
Penangkapan Ikan Terukur Dinilai Jadi Angin Segar bagi Nelayan Kecil

"Sampai hari ini kita belum mampu dan belum bisa berhasil ekspor produk perikanan kita ke Eropa. Salah satu yang saya dapatkan informasi kenapa itu terjadi, dia cuman jawab cara penangkapan kalian masih barbar," kata Trenggono, di Tual, Maluku Tenggara, Minggu (2/6/2024).

Baca artikel detikfinance, "Menteri KP Luncurkan Modelling Penangkapan Ikan Terukur Pertama di RI" selengkapnya https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-7370243/menteri-kp-luncurkan-modelling-penangkapan-ikan-terukur-pertama-di-ri.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
READ MORE - KKP Libatkan Masyarakat Dalam Pelestarian Terumbu Karang

03 Februari, 2021

KKP Tanam Ribuan Karang Hias Hasil Sitaan di Perairan Lombok

JAKARTA (01/02) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut menanam 1.260 individu karang hias hasil sitaan di perairan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

 

Penanaman karang dilakukan di dua tempat, yaitu Pantai Kerandangan Teluk Bulutan, Desa Medang, Kecamatan Sekotong Kab. Lombok Barat dan di zona pemanfaatan umum Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Gita Nada yang juga merupakan lokasi wisata Pantai Elak-Elak Kabupaten Sekotong Barat, (23/01) lalu.

 

“Penanaman karang sebagai tindak lanjut dari penanganan barang bukti pengungkapkan kasus yang ditemukan oleh Polairud POLDA NTB di Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur pada tanggal 20 dan 22 Januari 2021. Spesies karang hasil sitaan dikemas dalam 10 box dan 8 karung,” ujar Permana Yudiarso Kepala BPSPL Denpasar.

 

Yudi menambahkan, penanaman karang yang dilaksanakan bersama Dit. Polairud POLDA NTB, BKIPM Mataram, dan Pokmaswas Elak-Elak ini menggunakan metode peletakan karang di dasar laut dengan penyortiran karang yang masih dalam kondisi baik dan dilakukan aklimatisasi (adaptasi dengan lingkungan baru) sebelumnya.

 

“Karang yang dilepasliarkan didominasi jenis Catalaphyllia jardinei, Fungia fragilis, Fungia Sp., Acanthophyllia deshayesiana, Goniopora lobata, Favia Sp, dan Eguchipsammia fistula,” lanjutnya.

 

Di lokasi Pantai Kerandangan peletakan karang dilakukan di kedalaman 3 hingga 8 meter sedangkan di lokasi Elak-elak diletakkan pada kedalaman 5 hingga 9 meter. Lokasi tersebut sekaligus merupakan tempat kegiatan program BPSPL Denpasar yakni stok karang dan rehabilitasi habitat kritis terumbu karang di Provinsi NTB.

 

HUMAS DITJEN PENGELOLAAN RUANG LAUT

 




Pegawai Pelabuhan Perikanan




 
Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempatnya




 



Berminat Hub 081342791003 
  Menyediakan Batik Motif IKan
Untuk Melihat Klik
Yang Berminat Hub 081342791003



Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di 





Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.

Berminat Hub 081342791003

 

 

 

READ MORE - KKP Tanam Ribuan Karang Hias Hasil Sitaan di Perairan Lombok

20 Mei, 2018

Kunjungi Banggai Laut, Menteri Susi Ajak Warga Jaga Mangrove Dan Terumbu Karang

BANGGAI LAUT (15/5) - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah, Selasa (15/5). Dalam kegiatan tersebut, Menteri Susi didampingi oleh Bupati Banggai Laut Wenny Bukamo, Wakil Bupati Banggai Laut Tuty Hamid, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Brahmantya Satyamurti Poerwadi, dan Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rina.
Kedatangan Menteri Susi di Pelabuhan Banggai Laut disambut dengan tarian Balatindak dari masyarakat sekitar. Selanjutnya di pelantaran Dermaga Menteri Susi dianugerahi gelar kehormatan adat Boine Doi Ndalangon Kapitan Laut (Wanita Tangguh Penguasa Laut).
Pada kunjungan tersebut, Menteri Susi bersama rombongan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga menyambangi Balai Benih Ikan Payau (BBIP) Dusun Paisubatango milik Dinas Perikanan dan Kelautan Banggai Laut. Di sana dilakukan pendederan benih ikan kerapu macan dan kerapu tikus untuk dibudidayakan masyarakat.

Selanjutnya, Menteri Susi melakukan dialog dengan Nelayan Desa Bone Baru yang dipandu langsung oleh Bupati Banggai Laut Wenny Bukamo. Kepada masyarakat Menteri Susi berpesan agar masyarakat menjaga pohon bakau dengan tidak melakukan penebangan.
"Saya dengar suara kumbang yang menunjukkan Banggai ini masih asri, masih bagus daerahnya. Namun saya cari pohon besar kok berkurang, ke mana perginya?
Nanti saya bilang kalau pohon besar habis, air banggai laut tidak ada lagi," tutur Menteri Susi mengawali diskusi.
Menteri Susi berpendapat, penebangan pohon dapat mengakibatkan air laut menyusut dan air tawar kering. "Kalau pohon ditebangi, bakau yang menjaga pulau tidak kena abrasi ditebang, nanti air akan kering. Nanti mau dapat air tawar dari mana? Mau minum air laut?" lanjutnya.
Menteri Susi mengungkapkan, punahnya pohon bakau (mangrove) dapat mengakibatkan banyak petaka. Salah satunya merebaknya penyakit malaria dan demam berdarah akibat nyamuk dan berbagai serangga lainnya kehilangan habitatnya. "Masyarakat di sini harusnya beruntung sudah ada gunung dari karang yang tumbuh subur," imbuhnya.
Selain itu, bakau juga dianggap sebagai tempat bertelur ikan, udang, dan berbagai hewan laut lainnya yang aman dan terlindung.
Tak hanya melindungi pohon bakau, Menteri Susi juga meminta masyarakat melindungi terumbu karang dengan tidak melakukan pengeboman ikan dan pengambilan terumbu karang untuk diperjualbelikan.
"Tadi saya berenang di Pulau Bakakan Kecil saya lihat semua karangnya hancur, berantakan, tidak ada lagi karang hidup. Pulaunya begitu cantik, pasirnya begitu putih tapi karangnya sudah habis. Menangis saya. Apa kerja nelayan itu ngebom ikan atau nangkap ikan yang benar?" tegas Menteri Susi.

Menteri Susi menyebutkan, kedaulatan negara dengan diusirnya kapal asing dari laut Indonesia susah tercapai. Kini ikan sudah banyak, tinggal bagaimana nelayan melindungi dengan berhenti melakukan penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing) menggunakan bom atau bahan kimia lainnya. Jika diperlukan, ia bahkan meminta agar masyarakat Banggai Laut membuat aturan adat istiadat sendiri untuk melindungi laut dan seisinya.
Hal ini mengingat karakteristik laut Banggai Laut yang terbuka dengan ikan residen dan menetap, sehingga jika habis dirusak, ikan baru tidak akan datang lagi dari pulau luar.
"Orang ke sini ngebom karena nyarinya (ikan) gampang, karangnya banyak, tertutup, tidak banyak ombak," sebutnya.
Menteri Susi juga meminta nelayan untuk berjanji pada diri sendiri dan kepada Tuhan untuk tidak lagi melakukan tindakan yang dapat merusak laut, utamanya menggunakan bom ikan.
"Pemerintah bisa bantu dengan memberi kapal, jaring, pancing, perahu. Tapi kalau ikannya sudah tidak ada, mau tangkap apa dengan alat dan perahu itu?" ujar Menteri Susi.
Menteri Susi juga mengajak masyarakat mensyukuri nikmat Tuhan dengan menjaga ciptaan-Nya yang begitu indahnya. Ia meminta BKIPM untuk mengawasi kegiatan pengambilan terumbu karang maupun bambu laut, termasuk penangkapan lobster, kepiting, dan rajungan bertelur dan di bawah ukuran (undersize).
Agar laut sehat, ikan banyak dan lestari, Menteri Susi juga meminta masyarakat agar menyediakan satu hari libur menangkap ikan dalam seminggu. Hal ini untuk menyediakan waktu bagi hewan laut untuk bertelur dan berkembang biak. "Kita jangan serakah dan tamak, habis ikan kita," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, KKP menyerahkan bantuan berupa 150 kaca mata selam bagi siswa SD untuk berenang melihat keindahan laut yang harus dijaga; 10 buku modul sekolah pantai; 100 kantong ramah lingkungan; dan 1 unit tv untuk balai bengong warga Bone Baru. Selain itu, KKP juga kembali mengimbau nelayan untuk segera mendaftar asuransi nelayan untuk mendapatkan perlindungan saat melaut.
Menteri Susi juga berjanji memberikan bantuan kapal kepada nelayan dengan syarat membentuk kelompok di bawah koperasi. "Saya ingin koperasi-koperasi setempat bangkit. Jangan hanya koperasi dari Jakarta saja. Mana yang dari daerah? Bapak-bapak ayo bikin koperasi. Ayo tumbuh, ayo bergerak," imbaunya.

Sementara itu, Bupati Banggai Laut Wenny Bukamo mengatakan, 94% wilayah Banggai Laut terdiri dari lautan, sehingga benar sekali bahwa laut adalah masa depan masyarakat sekitar. Untuk itu, Wenny mengungkapkan terima kasih atas bantuan KKP.
"Kita sudah mendapatkan beberapa bantuan dari KKP berupa alat tangkap, kapal, coldstorage, dan sebagainya. Ke depan, dengan bantuan ini (diharapkan) semua nelayan di Banggai Laut bisa terakomodasi. Saya berharap bantuan dari pemerintah pusat ini digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan kita semua. Sesuatu yang bermanfaat, terukur, dan dapat dinikmati bersama," ungkapnya.
Apresiasi juga disampaikan masyarakat nelayan. Ahmad Yusuf misalnya, ia mengucapkan terima kasih atas bantuan 2 coldstorage yang telah diberikan KKP sebelumnya. Menurutnya, berkat bantuan tersebut harga ikan di Banggai Laut sudah stabil karena tidak lagi dipermainkan oleh tengkulak. "Sebelum ada bantuan kita punya harga ikan dipermainkan oleh tengkulak yang tidak bertanggung jawab. Sekarang harga ikan kami sudah harga nasional," pungkasnya.


Lilly Aprilya Pregiwati
Plt. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri

http://kkp.go.id/artikel/4058-kunjungi-banggai-laut-menteri-susi-ajak-warga-jaga-mangrove-dan-terumbu-karang 

Di Banggai Laut, Menteri Susi Tinjau Potensi Pantai Oyama dan Desa Dungkean

dok,humas KKP / Regina Safri
KKPNews, Banggai Laut – Dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah, Selasa (15/5), Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama rombongan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyambangi beberapa pulau kecil untuk menyapa masyarakat dan melihat potensi kelautan dan perikanan di sana. Hari itu ia mengunjungi setidaknya dua pulau yang dapat ditempuh selama 1-2 jam perjalanan dari pusat Banggai Laut dengan menggunakan speed boat.
Seusai melakukan dialog dengan masyarakat di Desa Bone Baru, Menteri Susi mengunjungi Pantai Oyama di sebuah pulau kecil yang kecantikannya tidak kalah dengan Raja Ampat, Papua. Melihat hamparan pasir putih dengan air biru nan jernih dan pemandangan alam yang terhampar indah, usai menyapa warga sekitar, Menteri Susi tak dapat menahan diri untuk segera berenang.
Aktivitas Menteri Susi di sana mengundang kerumunan warga. Masyarakat sekitar yang didominasi anak-anak berbondong-bondong turun ke air dan berenang dengan gembira.
Tak cukup hanya berenang, Menteri Susi juga memacu paddle boardnya untuk mengamati keindahan Pantai Oyama lebih ke tengah. Tak hanya itu, dari paddle boardnya Menteri Susi juga menyapa beberapa nelayan yang tengah menaiki perahu kayunya.
“Bapak-bapak, laut yang Bapak-bapak punya (Pantai Oyama) sangat indah. Jangan dirusak. Jangan menangkap ikan pakai bom atau portas. Nanti lautnya rusak dan ikannya habis,” ungkap Menteri Susi.
Menteri Susi juga menjanjikan bantuan kapal penangkap ikan viber bagi nelayan jika mereka berjanji tidak akan menangkap ikan dengan cara yang merusak. “Nanti saya kasih bantuan kapal. Tapi janji jangan pakai bom, portas, atau bius. Nanti bapak-bapak bikin kelompok, satu kelompok 2-3 orang nanti kita kasih bantuan kapal,” lanjutnya disambut dengan tepuk tangan nelayan.
Pantai Oyama memiliki potensi kelautan yang begitu besarnya. Oleh karena itu, Menteri Susi meminta warga sekitar untuk menjaganya dengan tidak melakukan destructive fishing dan tidak membuang sampah ke laut.
Selain Pantai Oyama, hari itu Menteri Susi juga mengunjungi Desa Dungkean, Kecamatan Bangkurung yang ditempati oleh masyarakat transmigran. Di sana menteri Susi juga meninjau potensi perikanan. Warga di sana memiliki cara menangkap ikan yang unik yaitu dengan sero tancap yang dilingkup dengan jaring karamba.
Alkap, Nelayan Desa Dungkean mengatakan, kayu tahan air ditancapkan sekitar 200 – 300 meter dari bibir pantai. Kayu tersebut kemudian dipasang jaring karamba, dan dibiarkan selama sekitar 7 bulan. Ikan kemudian akan masuk atau terperangkap dengan sendirinya.
“Ikan yang terjebak di sana kita ambil setiap hari sampai (sero) rusak. Biasanya tahan selama 7 bulan. Tapi kalau ada ombak besar, alatnya kita gulung lagi,” cerita Alkap.
Dengan menggunakan sero tancap, ditangkap berbagai jenis ikan seperti malalugis, baronang, cumi, tuna, rumah-rumah, cakalang, deho, bubara, dan sebagainya.
Alkap bercerita, satu alat ini biasanya dimiliki oleh 5 orang yang umumnya masih memiliki hubungan keluarga. Hasil penangkapan ikan dikumpulkan dan dibagi hingga alat tersebut rusak.
“Cara bagi hasil ditunggu sampai banyak dan dibagi rata. Dalam tujuh bulan itu, nelayan bisa menghasilkan Rp30 – 40 juta,” tutur Alkap.
Tak hanya menggunakan sero tancap, menurut Alkap masyarakat sekitar juga menangkap ikan menggunakan pancing dan bubu. “Di sini tidak ada yang pakai trawl, tidak ada yang pakai bom dan bius. Pembiusan dan bom dapat merusak ekosistem laut,” lanjut Alkap. (AFN)
READ MORE - Kunjungi Banggai Laut, Menteri Susi Ajak Warga Jaga Mangrove Dan Terumbu Karang

12 Januari, 2018

Pelepas Liaran Karang Hias hasil sitaan Karantina Ikan

UPT KKP lingkup Kupang dan instansi lainnya melakukan kegiatan Pelepas Liaran Karang Hias hasil sitaan Karantina Ikan Kupang pada tanggal 8 Januari 2017 di perairan sekitar Kupang.
Menurut Bapak Mubarak, S.ST.Pi  Kepala Stasiun PSDKP Kupang Semoga Karang yang sudah dilepas sehat dan tumbuh subur.











READ MORE - Pelepas Liaran Karang Hias hasil sitaan Karantina Ikan

27 Oktober, 2017

Terumbu Karang di Perairan Sultra Dalam Kondisi Rusak

Sedikitnya 40 persen ekosistem terumbu karang di perairan Sulawesi Tenggara berada dalam kondisi rusak.

READ MORE - Terumbu Karang di Perairan Sultra Dalam Kondisi Rusak

12 September, 2017

Gara-gara Jangkar Kapal, Terumbu Karang di Manggarai Barat Rusak

 
KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Pelabuhan Labuan Bajo, Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Flores, NTT, Selasa (29/8/2017), memikat wisatawan asing dan Nusantara untuk berwisata. Pelabuhan Labuan Bajo merupakan pintu masuk menuju ke kawasan Taman Nasional Komodo tempat hidupnya binatang Komodo.

LABUAN BAJO, KOMPAS.com - Terumbu karang sebagai tempat perlindungan ikan serta berbagai jenis biota laut di luar kawasan Taman Nasional Komodo Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur sudah rusak dan berkurang.

Selain itu, terumbu karang di TN Komodo juga memerlukan perhatian dan pengawasan yang ketat terhadap kapal-kapal yang berlabuh di kawasan itu saat menyelam.

Salah satu penyebab terumbu karang rusak dan berkurang karena buang jangkar dari kapal-kapal ikan milik nelayan dan kapal-kapal wisata yang berlabuh di kawasan Spot Batu Bolong, Spot Parimanta, juga spot Makassar dan sekitar kawasan Pulau Pink Beach.

Kepala Bagian Tata Usaha Balai TN Komodo, Dwi Putro Sugiarto kepada KompasTravel, Senin (28/8/2017) menjelaskan, luas TN Komodo yang ditetapkan tahun 2012 adalah 173.200 hektar. Di dalam kawasan itu dibagi menjadi zona inti, zona khusus, zona rimba dan zona bahari.

Sugiarto menjelaskan, komodo, ikan parimanta dan hiu menjadi daya tarik wisatawan asing dan Nusantara untuk berkunjung ke Manggarai Barat.

Namun, selama ini wisatawan asing dan Nusantara lebih banyak mengambil paket untuk menyelam dan tinggal di kapal wisata.

Mereka berkunjung ke Loh Buaya, di Pulau Rinca dan Loh Liang di Pulau Komodo hanya memerlukan waktu satu atau dua jam, selebihnya menghabiskan waktu berwisata di atas kapal.

Tujuan utama dari wisatawan asing dan Nusantara berwisata ke Manggarai Barat adalah menyelam di bawah laut TN Komodo. Keunikan ikan dan terumbu karang di Manggarai Barat adalah tiga terbaik di dunia.

"Kami terus melakukan pengawasan dan perlindungan di kawasan Taman Nasional Komodo agar kekayaan biodiversity tetap terjaga dengan baik. UNESCO sudah menetapkan keindahan bawah laut di Taman Nasional Komodo menjadi warisan dunia," kata Sugiarto.

Ia menjelaskan, TN Komodo memberikan kontribusi tertinggi di Indonesia. Pendapatan tiket masuk di kawasan TN Komodo pada 2016 senilai Rp 22 miliar.

"Pengunjung sampai Juni 2017 ini sudah 51.954 orang, baik wisatawan mancanegara maupaun Nusantara. Sedangkan data pengunjung tahun 2016 sebanyak 107.000 wisatawan asing dan Nusantara,” ujarnya.

Sugiarto menjelaskan, populasi komodo tetap stabil di mana data yang dimiliki pihak Balai TN Komodo sebanyak 3.012 ekor.

"Untuk mengatasi masalah sampah di pulau-pulau dalam kawasan Taman Nasional Komodo ada bantuan kapal sampah dari Kementerian Perhubungan tahun 2018,” katanya.

Ancaman terbesar di kawasan TN Komodo, lanjut Sugiarto, adalah sampah. Tiga sumber sampah di kawasan TN Komodo, bawaan dari laut, dibuang oleh pengunjung, dan sampah warga lokal. Ancaman lain adalah illegal fishing yang dilakukan secara tradisional dan industri.

Staf WWF Manggarai Barat, Susi Yanti Kamil kepada KompasTravel di Restaurant Kopi Mane Inspiration Labuan Bajo, Senin (28/8/2017) menjelaskan, hasil survei di Manggarai Barat, khususnya di tempat pendaratan ikan (TPI) Labuan Bajo dijumpai ikan parimanta dijual dalam waktu dua bulan belakangan, juga anakan atau bayi ikan hiu dijual oleh nelayan di Manggarai Barat.

Hasil survei sampai Juli ada 700 bayi hiu dijual di tempat pendaratan ikan Labuan Bajo. Belum diketahui bahwa apakah ikan parimanta dan ikan hiu itu ditangkap di kawasan TN Komodo ataukah di luar kawasan.

Namun temuan lapangan oleh staf WWF adalah dijumpai nelayan menjual ikan parimanta dan ikan hiu. Padahal parimantan termasuk yang dilindungi.

"Daya tarik utama wisatawan asing dan Nusantara berkunjung ke Manggarai Barat adalah melihat ikan parimanta dan ikan hiu serta kekayaan alam bawah laut di kawasan Taman Nasional Komodo. Berwisata ke Pulau Komodo dan Rinca hanya memerlukan waktu satu atau dua jam selebihnya living boat untuk menyelam," kata Susi.

Ancaman terbesar di TN Komodo dan sekitarnya, lanjut Susi Yanti, adalah kapal-kapal wisata membuang jangkar di laut. Juga nelayan-nelayan membuang jangkar di laut dan mengenai terumbu karang.

Jika jangkar kapal mengenai terumbu karang maka terumbu karang itu terangkat dan rusak. Belum disiapkan marine buoy di kawasan wisata seperti di Pulau Pink Beach, kawasan spot-spot menyelam.

Ancaman lain, menurut Susi Yanti adalah sampah. Sehari sampah di kawasan TN Komodo dan sekitarnya maupun di pesisir Labuan Bajo sebanyak 13 ton per hari, di mana 80 persen adalah sampah plastik.

Selain itu turis semakin banyak berkunjung ke TN Komodo maka kerusakan lingkungan di perairan akan mengganggu ekosistem komodo.

"Pemerintah harus mengatur jumlah wisatawan berkunjung ke kawasan Taman Nasional Komodo. Saat ini tujuan utama dari wisatawan berkunjung ke Manggarai Barat adalah kawasan Taman Nasional Komodo," katanya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Manggarai Barat, Silvester Wangge kepada KompasTravel, Selasa (29/8/2017) menjelaskan, ramainya wisatawan berkunjung ke Manggarai Barat pasca Sail Komodo. Bahkan, pertumbuhan hotel berbintang dan restoran di Labuan Bajo terus meningkat. Saat ini ada 70 hotel berstandar internasional di Labuan Bajo.

"Yang harus diatur di Manggarai Barat adalah wisatawan asing dan Nusantara yang living boat dari tiba sampai pulang. Bahkan, bisa selama satu minggu berada di kapal wisata. Juga kapal pesiar dan yacht yang hanya berlabuh. Satu kapal pesiar menurunkan wisatawan sebanyak 20.000 orang," kata Silvester Wangge.

Ia menjelaskan, banyak investor spekulan di Labuan Bajo. Uang dari Eropa akan kembali ke Eropa karena banyak investor asing di Labuan Bajo. Diduga ada 60 ekspatriat di Manggarai Barat yang berbisnis diving dan restoran. Yang banyak adalah investor dari Italia.

Aktivis Lingkungan Manggarai Barat, Pastor Marsel Agot kepada KompasTravel menjelaskan, masalah air minum bersih bagi masyarakat di pulau-pulau dalam kawasan TN Komodo membutuhkan perhatian serius dan tindakan nyata dari pemerintah dan TN Komodo.

Warga kampung Papagarang, Rinca, Komodo dan beberapa kampung di dalamnya sangat kesulitan air minum bersih dan listrik. Warga itu membeli air minum di Kota Labuan Bajo. Sementara Labuan Bajo sendiri mengalami kesulitan air minum bersih.

"Saya berharap pemerintah dan Balai Taman Nasional Komodo memperhatikan masalah kesulitan air minum bersih. Ratusan wisatawan berkunjung ke kawasan Taman Nasional Komodo namun kesusahan warga di sekitarnya tidak pernah diperhatikan," katanya.

Ahli Terumbu Karang Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,(LIPI) Rikoh M Siringoringo kepada KompasTravel, Rabu (30/8/2017), menjelaskan selama tiga hari menyelam di spot-spot diving di kawasan TN Komodo bersama tim Kompas bahwa secara keseluruhan terumbu karang di spot-spot didalam kawasan tersebut masih terjaga dengan baik. Namun, di luar kawasan TN Komodo sudah rusak dan berkurang.

Siringoringo menjelaskan, wisatawan memiliki tujuan utama menyelam sehingga banya kapal-kapal wisata di kawasan spot diving di kawasan TN Komodo.

Untuk itu diperlukan pengaturan kapal-kapal wisata yang membawa turis untuk menyelam. Pemerintah dan pihak Balai Taman Nasional Komodo mengatur berapa kapal wisata yang masuk di kawasan Taman Nasional Komodo dengan membawa turis untuk menyelam.

Jika tidak diatur demikian maka ikan parimanta dan hiu perlahan-lahan akan berkurang karena terganggu ekosistemnya.

"Keunikan dan keindahan bawah laut di kawasan Taman Nasional Komodo dan sekitarnya sangat indah. Panorama bawah laut Labuan Bajo juga memiliki keunikan tersendiri untuk menarik wisatawan datang," kata Siringoringo.

Penulis: Kontributor Manggarai, Markus Makur
Editor: I Made Asdhiana
http://amp.kompas.com/travel/read/2017/09/09/214600327/gara-gara-jangkar-kapal-terumbu-karang-di-manggarai-barat-rusak
READ MORE - Gara-gara Jangkar Kapal, Terumbu Karang di Manggarai Barat Rusak

14 Februari, 2016

27 Persen Terumbu Karang Indonesia Berstatus Baik

KKPNews, Jakarta – Dua puluh tujuh persen terumbu karang Indonesia berstatus baik, dan  lima persen lainnya berstatus sangat baik. Hal tersebut disampaikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi dalam pemaparan status terumbu karang dan padang lamun di Indonesia pada Kamis (11/2), di Ruang Seminar Widya Graha LIPI Jakarta.
  
Lebih lanjut, dia menyebut bila dibagi lagi ke tiga wilayah Indonesia, yakni bagian barat, tengah dan timur, kondisi terumbu karang paling buruk dan semakin menurun di wilayah Indonesia timur.

“Kondisinya adalah 4,64 persen berstatus sangat baik, 21,45 persen baik, 33,62 persen buruk, dan 40,29 persen jelek,” jelasnya.
Kondisi paling baik, lanjutnya, berada di Indonesia bagian tengah dengan 5,48 persen terkategori sangat baik, 29,39 persen baik, 44,38 persen buruk, dan 20,75 persen jelek.

“Sementara untuk status Indonesia bagian barat ialah 4,94 persen sangat baik, 28,92 persen baik, 36,68 persen buruk, dan 29,45 persen jelek,” sambung Suharsono.

Suharsono juga mengatakan, tren kondisi terumbu karang di dunia saat ini sedang mengalami penurunan. Hal itu seperti yang terjadi di Jepang dan Australia. Penyebab kerusakan terumbu karang di antaranya karena pemakaian alat tangkap yang merusak, peningkatan pencemaran, permasalahan global pemicu bleaching (pemutihan, red) karang, serta penyakit karang dan predasi.
Suharsono pun berharap ke depan agar kerusakan terumbu karang ini bisa dicegah. Hal ini mengingat terumbu karang merupakan kekayaan laut yang berpotensi mengangkat pariwisata Indonesia. Tak hanya itu, terumbu karang juga dapat mengangkat perekonomian masyarakat.

“Cara mengangkat ekonomi ini dengan pembudidayaan karang lewat kegiatan transplantasi untuk diperdagangkan. Selain bernilai ekonomi, budidaya mampu mencegah kerusakan karang oleh masyarakat,” ujarnya.
Untuk transplantasi karang, Suharsono menjamin budidaya ini bersifat ramah lingkungan, zero waste, dan green activities. “Selain itu, budidaya juga diawasi sehingga memenuhi persyaratan dan peraturan internasional,” tandasnya.
Menurutnya, transplantasi karang merupakan satu-satunya kegiatan yang selalu dipantau dan diaudit. Kegiatan ini juga membuka lapangan pekerjaan baru dan mengurangi pengangguran.

“Saat ini, kegiatan transplantasi telah melibatkan 2.000 pekerja dan sebanyak 49 jenis karang telah diperdagangkan secara internasional dan 21 jenis baru dalam taraf uji coba dan akan memasuki pasar internasional,” pungkasnya.
LIPI menjabarkan kondisi terumbu karang Indonesia dari tahun 1993 hingga 2015 yang diambil dari 93 daerah dan 1.259 lokasi. (MD)

http://kkpnews.kkp.go.id/index.php/27-persen-terumbu-karang-indonesia-berstatus-baik/
READ MORE - 27 Persen Terumbu Karang Indonesia Berstatus Baik

12 Agustus, 2015

Ditjen KP3K melaksanakan Seminar Nasional Penyelamatan Terumbu Karang

 Direktoratr Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP menyelenggarakan  Seminar Nasional Penyelamatan Terumbu Karang pada tanggal 6 Agustus 2015 bertempat di GD. Graha Marinir, Jl. Prapatan No. 40 Jakarta Pusat  yang dibuka oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut Bapak Laks. TNI Ade Supandi. Acara diawali ucapan selamat datang oleh Bapak Mayjen TNI (Mar) Buyung Lalana, SE Dankormar, Laporan Bapak Dr. Sudirman Saat, M.Hum Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir  dan Pulau-Pulau Kecil selaku panitia kegiatan, kemudian secara bersama sama melakukan pemukulan bedug untuk pembukaan seminar.
Tujuan Seminar Nasional Penyelamatan Terumbu Karang adalah meningkatkan kesadaran dan peran serta stakeholder, menumbuh kembangkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan terumbu karang, dan meningkatkan pengetahuan para pihak dalam pengelolaan data, potensi, bentuk-bentuk, pemanfaatan dan daya dukung lingkungan pada ekosistem.
Peserta Seminar Nasional Penyelamatan Terumbu Karang  dihadiri oleh Kedutaan Besar (8 orang), Kemenko Maritim (2 orang), Mabes TNI (2 orang), Mabes TNI AD (2 orang), Mabes TNI AL (4 orang), Mabes TNI AU (1 orang), Polri (7 orang), Kodam Jaya (3 orang), Korps Marinir (49 orang), Koarmabar (2 orang), Kolinlamil (2 orang), Lantamal (3 orang), Dishidros (2 orang), Seskoal (2 orang), Akademi Angkatan Laut (2 orang), Puspomal (1 orang),  Lemhannas (2 orang), Bakamla (1 orang), Universitas Pertahanan (1 orang), Kementerian Kelautan dan Perikanan (Sekretariat Jendral; Inspektorat Jendral; Dirjen Perikanan Tangkap; Dirjen Perikanan Budidaya; Dirjen Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Perikanan; Dirjen Kelautan, Pesisir Dan Pulau - Pulau Kecil; Dirjen Pengawasan SD Kelautan & Perikanan; Kepala Badan Penelitian Dan Pengembangan KP; Kepala Badan Pengembangan SDM KP; Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu Dan Keamanan Hasil Perikanan), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (10 orang), Bappenas (2 orang), LIPI (2 orang), Kementerian Pariwisata (2 orang), Kementerian Dalam Negeri (2 orang), Kementerian Perhubungan (2 orang), Kementerian ESDM (2 orang), Kementerian Kominfo (3 orang), Pemerintah Provinsi (34 orang), Pemerintah Kabupaten (16 orang), KP3K (25 orang), Universitas (17 orang), Lembaga Non Pemerintahan (12 orang).
Menurut  Bapak Dr. Sudirman Saat, M.Hum Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil mengatakan Indonesia memiliki sekitar 17.500 km² ekosistem terumbu karang, tersebar di seluruh wilayah perairan pesisir yang jernih, hangat, beroksigen serta bebas dari padatan terlarut dan aliran air tawar yang berlebihan. Pada decade terakhir, keindahan alami dan keunikan terumbu karang menarik jutaan turis domestik dan mancanegara untuk datang ke Indonesia. Struktur terumbu karang juga melindungi pulau, pantai yang bernilai, dan kawasan industri dari ganasnya gelombang dan badai dan tenaga alami lainnya di laut. Sebagai tambahan, telah dilaporkan bahwa ekosistem terumbu karang memiliki peran utama dalam mengurangi pemanasan global karena fungsinya sebagai penangkap karbon yang besar. Penambangan karang telah di dokumentasi sebagai bahan konstruksi, pembuatan jalan, dan produksi kapur di berbagai tempat di Indonesia.
Oleh karenanya, sebagai salah satu upaya pelestarian dan penyadaran masyarakat dan penglola dirasa perlu untuk berbagi pengalaman dan kesepahaman rencana untuk mengatasi tantangan yang masih ada dalam pengelolaan terumbu karang di Indonesia, semua pihak perlu duduk bersama dan saling belajar terkait pengelolaan terumbu karang pada acara Seminar Nasional Penyelamatan Terumbu Karang.
Paparan disampaikan narasumber dengan topik :
a)    Dr. Laurence McCook dengan judul Pengelolaan Terumbu Karang untuk Pelestarian Sumberdaya, Kesejahteraan dan Kedaulatan: Sebuah Pembelajaran.
b)    Prof. Hasjim Djalal dengan judul Konservasi Laut Mendukung Kedaulatan NKRI.
c)    Prof. Dr. Suharsono dengan judul Status Terkini Terumbu Karang Indonesia dan Permasalahannya.
d)    Prof. Jamaluddin Jompa dengan judul Membangun Tata Kelola Terumbu Karang yang Menyejahterakan Masyarakat.
e)    Talkshow Upaya Konservasi Terumbu Karang untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat dengan pembahas dari Dankormar TNI AL; Dirjen KP3K, KKP; Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata, Kemenpar; Direktur Eksekutif Regional Sekretariat CTI, Ketua I-CAN dengan moderator yaitu Presenter SCTV (Pramita Andini).
Pada sesi pertengahan acara seminar ibu Susi Pudjiastuti Menteri Kelautan dan Perikanan memberikan sambutan Indonesia merupakan pusat segitiga terumbu kerang (coral triangle) dengan keanekaragaman hayati yang sangat luar biasa. Julukan mega biodiversity country menggambarkan kekayaan hayati laut Indonesia bagaikan amazon the sea. Di samping pesona bawah laut di beberapa daerah yang sangat indah, di sebagian lain kondisi terumbu kerang Indonesia menghadapi tekanan yang sangat berat.”
“Saat ini kondisi terumbu kerang yang masih baik hanya 30 persen, sedang sisanya 70 persen dalam kondisi rusak dan rusak berat” Hal tersebut menurutnya, terjadi akibat banyaknya kegiatan yang dapat merusak terumbu karang, seperti penggunaan bom, potassium dan pencemaran sampah serta aktivitas lainnya. Serta disebabkan kurangnya kesadaran untuk melestarikan lingkungan menambah berat tekanan terumbu kerang.
“Aksi penyelematan terumbu kerang diharapkan mampu menyelamatkan potensi kekayaan laut Indonesia melalui upaya melindungi, melestarikan dan memanfaatkan sumber daya terumbu karang secara berkelanjutan. Selain itu untuk menjamin kelestarian dan keanekaragaman hayatinya untuk generasi saat ini maupun yang akan datang,” tegas Menteri Susi.
Setelah selesai memberikan sambutan Ibu Menteri bersama sama menandatangani komitmen penyelamatan terumbu karang dengan perwakilan instansi, perguruan tinggi dan kedutaan besar negara sahabat.

Tindak lanjut yang diharapkan dari seminar ini adalah:
a)    Berbagi pengalaman dan kemajuan pengelolaan terumbu karang.
b)    Mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi elemen keberhasilan penerapan pengelolaan terumbu karang berdasarkan pengalaman yang dilakukan oleh berbagai pihak, baik lembaga pemerintahan maupun non pemerintahan.
c)    Mengidentifikasikan tantangan yang masih dihadapi dalam penerapan pengelolaan terumbu karang yang dapat menghambat upaya atau adopsi di daerah lain.
d)    Membangun forum bersama untuk melembagakan pembelajaran dan komunikasi antara pengelola.
e)    Meningkatnya kesadaran dan pertisipasi masyarakat dalam pelestarian dan pengelolaan terumbu karang.
READ MORE - Ditjen KP3K melaksanakan Seminar Nasional Penyelamatan Terumbu Karang