Tampilkan postingan dengan label Ikan dan Satwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ikan dan Satwa. Tampilkan semua postingan

29 Juli, 2025

KKP Ajarkan Penanganan Biota Perairan Terdampar


SIARAN PERS

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

NOMOR : SP.320/SJ.5/VII/2025

 

KUPANG, (25/7) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan kawasan konservasi dan pelestarian biota perairan.

 

Melalui kegiatan 'Bimbingan Teknis Respon Cepat Penanganan dan Pelepasliaran Buaya dan Biota Perairan Terdampar' yang dilaksanakan di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada 22 sampai 25 Juli 2025 lalu, KKP menekankan pentingnya kesiapan teknis dalam penanganan satwa laut terdampar dan konflik manusia dengan buaya.

 

“Pelestarian biota perairan tidak hanya soal menjaga alam, tetapi juga soal menyelamatkan masa depan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, A. Koswara dalam siaran resmi KKP, Jumat (25/7).

 

Kegiatan ini juga menjadi wadah sosialisasi atas Keputusan Dirjen Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut Nomor 41 Tahun 2024 yang berisi petunjuk teknis penanganan kejadian terdampar dan hasil tangkapan sampingan jenis ikan dilindungi serta pengenalan draft petunjuk teknis penanganan konflik manusia dengan buaya yang tengah disusun.

 

. “Kecepatan dan ketepatan dalam penanganan sangat menentukan keselamatan manusia dan kelestarian satwa,” imbuh Koswara.

 

Indonesia merupakan habitat penting bagi keanekaragaman hayati laut dunia, termasuk jalur migrasi mamalia laut dan lima spesies buaya yang seluruhnya dilindungi. Untuk itu, peningkatan kompetensi pengelola kawasan konservasi menjadi bagian krusial dalam menjaga keseimbangan ekologi sekaligus mendukung keselamatan masyarakat pesisir.

 

 

Personel Bertindak Cepat

 

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, Sarmintohadi dalam keterangannya menyampaikan bahwa pembekalan teknis ini penting agar aparat di lapangan memiliki pemahaman menyeluruh terkait prosedur evakuasi, perawatan, dan pelepasliaran satwa sesuai standar konservasi internasional. 

 

"Kami ingin seluruh personel di lapangan mampu bertindak cepat, tepat, dengan tetap menerapkan prinsip animal welfare dan keselamatan petugas di lapangan,” katanya.

 

Pelatihan yang diikuti oleh para pengelola kawasan konservasi dari berbagai wilayah ini mencakup praktik langsung penanganan satwa, simulasi respon cepat, serta pengenalan peralatan penyelamatan satwa perairan. Kolaborasi juga dijalin dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), BRIN, serta otoritas daerah.

 

Pelaksanaan kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi target nasional dalam Indonesia Biodiversity Strategic and Action Plan (IBSAP), khususnya dalam mencapai target keempat yakni pelestarian keanekaragaman spesies dan genetik. KKP berharap tercipta sinergi antara pusat dan daerah dalam membentuk sistem konservasi laut yang tangguh, adaptif, dan responsif terhadap tantangan perubahan iklim dan tekanan aktivitas manusia.

 

Hal ini sejalan dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam mewujudkan pengelolaan laut yang sehat dan berkelanjutan berbasis ekonomi biru.

 

HUMAS DITJEN PENGELOLAAN KELAUTAN

 

https://kkp.go.id/news/news-detail/kkp-ajarkan-penanganan-biota-perairan-terdampar-83vL.html 

READ MORE - KKP Ajarkan Penanganan Biota Perairan Terdampar

28 Januari, 2024

El Nino Tingkatkan Konflik Buaya dan Manusia di Sulawesi Tenggara

 oleh di 26 January 2024

  • Memasuki pekan kedua di awal tahun 2024, BKSDA Sultra menerima empat laporan kemunculan buaya di sekitar pemukiman warga. Satu diantaranya memangsa bocah perempuan yang dilaporkan tewas.
  • Tahun 2022 dan 2023 merupakan periode dengan angka konflik buaya dan manusia tertinggi di Sultra, dengan tren penyerangan buaya yang menewaskan manusia terjadi di bulan Juli dan Desember.
  • Meningkatnya suhu panas bumi dan fragmentasi hutan diduga menjadi penyebab utama buaya meninggalkan habitatnya, berpindah mendekati pemukiman warga.
  • Pemerintah diharapkan sesegera mungkin menentukan mitigasi untuk mencegah bertambahnya korban serangan buaya di tahun 2024 dan tahun-tahun seterusnya, mengingat perubahan iklim masih diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

 

Isak tangis berselimut duka menyambut satu regu BASARNAS yang memulangkan temuan jasad seorang bocah perempuan berumur sembilan tahun ke rumah orang tuanya di Desa Lemoambo, Kecamatan Kusambi, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), pada pagi buta di pekan kedua Januari. Sore hari sebelumnya, bocah itu dilaporkan dimangsa buaya ketika sedang bermain-main di sungai bersama saudara dan teman-teman sebayanya.

Beberapa jam sebelum kejadian naas itu terjadi, satu tim BKSDA Sultra di Kendari yang beranggotakan lima orang petugas diberangkatkan menggunakan kendaraan mobil  operasional menempuh perjalanan satu jam lebih ke Desa Ambesea, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, usai mendapat laporan dari kepala desa setempat, yang menerima aduan warganya kembali melihat kemunculan buaya mendekati pemukiman.

“Tim rescue kami sudah ke lokasi di desa Ambesea untuk melakukan monitoring dulu, kalau memungkinkan, yaa kita melakukan evakuasi,” kata Prianto, Kepala Konservasi Wilayah II BKSDA Sultra.

Prianto tidak habis pikir, belum genap sebulan di awal tahun 2024, pihaknya telah menerima empat laporan kemunculan buaya di sekitar pemukiman warga, yang tersebar di berbagai kabupaten Sultra. “Apa penyebabnya, nanti kemudian,” ujarnya.

Abdul Manan, Pakar Konservasi Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari mengatakan penting untuk mencari tahu penyebab mengapa tren buaya menyerang manusia meningkat di periode Juli dan Desember dalam kurun dua tahun terakhir, pasca pandemi Covid 19.

“Ibarat gunung es, masalahnya kita harus melihat ke dalam air,” ujar Manan.

baca : Konflik Manusia dengan Buaya Sering Terjadi di Sumatera Barat, Peneliti Ingatkan Polanya

 

Air sungai yang keruh menyulitkan tim BASARNAS mencari jasad bocah perempuan yang diterkam buaya di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, memasuki pertengahan Januari 2024. Foto : BASARNAS Kendari

 

Dalam studi yang dilakukan Amy Newsom, Zita Sebesvari, dan Ine Dorresteijn, berjudul Climate change influences the risk of physically harmful human-wildlife interaction, yang dipublikasikan Biological Conservation, Oktober 2023, menyebutkan jika laporan tentang meningkatnya interaksi berbahaya antara manusia dengan satwa mengindikasikan bahwa perubahan iklim mungkin bertindak sebagai pembesar risiko untuk konfrontasi ini, namun dampaknya terhadap interaksi manusia–satwa liar masih belum diketahui secara pasti dalam wacana ilmiah.

Mereka menganalisis 331 laporan media di 44 negara mengenai konflik manusia dan satwa liar yang disebabkan oleh perubahan iklim itu menunjukan bahwa perubahan iklim dapat meningkatkan konflik fisik melibatkan satwa liar dan manusia. Satwa liar yang dimaksud berupa spesies berbisa, spesies karnivora darat dan air, serta hewan bertubuh besar.

Dari analisis itu, diidentifikasi empat tren dari perubahan iklim yang berdampak pada risiko korban jiwa manusia, yaitu: meningkatnya persaingan sumber daya antar manusia dan satwa liar akibat kekeringan; perluasan wilayah jelajah satwa berbahaya akibat suhu rata-rata yang lebih tinggi; perpindahan sementara satwa liar akibat kejadian cuaca ekstrem; dan perubahan pola perilaku sementara satwa liar akibat suhu rata-rata yang lebih tinggi.

“Peran perubahan iklim penting untuk dikaji mendalam, supaya ada solusi,” kata Manan.

Di Sulawesi Tenggara, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kendari memonitoring terjadi penurunan curah hujan dari total 2500mm di tahun 2022 menjadi 500mm di tahun 2023. Ini signifikan meningkatkan suhu panas bumi sebanyak 2 derajat celcius, yang sebelumnya suhu rata-rata di Sultra 32 derajat celcius naik menjadi 34 derajat celcius.

“Ini akibat dari El Nino yang cukup kuat mempengaruhi Sulawesi Tenggara,” kata Faizal Habibie, Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Kendari.

baca juga : Konflik Buaya dengan Manusia Makin Mengerikan di Maluku Utara

 

Petugas BKSDA mengevakuasi Buaya Muara (Crocodylus porosus) sepanjang 4 meter lebih yang ditangkap warga saat masuk ke area perkebunan warga di Kecamatan Lasalimu, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, Oktober 2023. Foto : BKSDA Sultra

El Nino adalah fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur, yang menyebabkan pergeseran pusat pertumbuhan awan dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudra Pasifik Tengah dan Timur. Akibatnya, curah hujan di Indonesia menurun.

El Nino membuat suhu permukaan air laut di perairan Laut Banda yang sebagian besar di wilayah Sultra menurun, sehingga suplai energi dari laut berkurang untuk membentuk awan-awan hujan. Sementara di daratan juga tidak cukup kuat untuk melepas–menguapkan energi panas ke udara untuk membentuk awan-awan hujan, ditambah lagi faktor atmosfer di bagian atas Sulawesi Tenggara dan sekitarnya cenderung lebih kering. Kondisi itu dirasakan di periode Agustus–September–Oktober yang hampir setiap hari terlihat cuaca cerah di langit.

“Ibarat air dalam panci yang tidak akan menguap lantaran tidak ada pengapian dari tungku,” kata Habibie.

BMKG Kendari mencatat pada Juli dan Desember di tahun 2022 suhu maksimum rata-rata mencapai 31,6 derajat celcius dan 34,5 derajat celcius. Pada Juli dan Desember 2023 suhu maksimum rata-rata 32,4 derajat celcius dan 35,7 derajat celcius.

BKSDA Sultra telah menerima laporan–mengevakuasi 10 ekor buaya di tahun 2022, dan delapan ekor di tahun 2023. Semuanya jenis Buaya Muara  (Crocodylus porosus) yang tersebar di berbagai wilayah Sultra. Dari sebaran itu, BASARNAS Kendari telah melakukan enam operasi evakuasi korban tewas diterkam buaya di tahun 2022, dan empat operasi evakuasi korban tewas diterkam buaya di tahun 2023.

Dalam kurun dua tahun itu, Konawe Selatan menempati urutan teratas konflik buaya dan manusia dengan jumlah total korban jiwa sebanyak 4 orang. Situasi membahayakan itu terjadi di periode waktu yang sama setiap tahun, yaitu pada Juli dan Desember.

Menurut Manan, sebagai langkah awal perlu dilakukan studi melibatkan akademisi perguruan tinggi untuk mencari tahu penyebab utama konflik buaya dengan manusia.

Dia menduga tata kelola lahan ratusan pertambangan yang tersebar di 14 kabupaten/kota oleh pemerintah dinilai buruk–menjadi penyebab terjadinya ketidakseimbangan alam yang berdampak pada hilangnya prinsip ekologi–harmoni antara manusia dengan satwa liar sudah tidak ada lagi sehingga mendorong hewan liar menjadi reaktif menyerang manusia.

Aktivitas menambang di kala musim hujan menyebabkan erosi yang melarutkan lumpur menyebabkan sungai menjadi keruh, berkorelasi pada berkurangnya hewan air yang menjadi sumber pakan utama buaya menjadi berkurang. Akibatnya, buaya berpindah tempat ke habitat air yang masih bersih untuk mencari makan sampai mendekat ke pemukiman warga. Dan di ekosistem yang baru itu, buaya akan lebih kejam untuk mempertahankan habitat barunya. Sementara, Juli dan Desember merupakan periode musim hujan tahunan.

baca juga : Buaya Badas Hitam, Satwa Liar Dilindungi Ikon Kutai Timur

 

Petugas BKSDA mengevakuasi Buaya Muara (Crocodylus porosus) sepanjang 4 meter lebih yang ditangkap warga saat masuk ke area perkebunan warga di Kecamatan Lasalimu, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, Oktober 2023. Foto : BKSDA Sultra

 

Fragmentasi di habitat buaya

“Salah satu yang menjadi penyebabnya meningkatnya serangan buaya ke manusia adalah adanya fragmentasi terhadap habitat buaya,” kata Prianto.

Fragmentasi habitat merupakan suatu proses perubahan lingkungan yang memiliki peran penting terhadap evolusi dan biologi konservasi. Seperti yang terjadi pada habitat buaya yang tersebar di beberapa wilayah Sultra, mengakibatkan sumber pangan pakan berkurang – buaya secara alami berpindah tempat mencari habitat baru yang lingkungannya masih terjaga dengan baik.

BKSDA Sultra telah mengidentifikasi berbagai aktivitas manusia yang diduga menjadi penyebab terjadinya fragmentasi habitat buaya, diantaranya: pembukaan hutan untuk tambang nikel, pembuatan hutan mangrove menjadi tambak ikan, dan perburuan ikan di sungai menggunakan potas dan setrum. Prianto mencontohkan bahwa pihaknya telah beberapa kali menerima laporan kemunculan buaya di sekitar area tambang nikel yang berdekatan dengan hutan mangrove.

Prianto memprediksi buaya banyak bermunculan dari air naik ke darat ketika musim bertelur–buaya mencari habitat yang tepat untuk menyimpan telurnya. “Itu biasanya saat memasuki musim hujan seperti sekarang.”

Prediksi itu tidak meleset, sesuai dengan bertambahnya laporan warga mendapati buaya semakin mendekati pemukiman pada periode Desember 2023 sampai dengan Januari 2004. Selama dua pekan awal di Januari, BKSDA Sultra telah menerima empat laporan dari berbagai wilayah. Situasi ini belum pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Namun katanya, sekarang hujan sudah tidak bisa diprediksi–berdasarkan informasi yang diperoleh musim hujan diperkirakan bergeser dimulai akhir Desember sampai Maret. Dia khawatir akan jumlah buaya berpindah tempat mencari habitat baru di sekitar pemukiman terus meningkat dalam beberapa bulan kedepan.

Dia berharap, pemerintah sesegera mungkin menentukan mitigasi untuk mencegah bertambahnya korban serangan buaya di tahun 2024 dan tahun-tahun seterusnya, mengingat perubahan iklim masih diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Prianto menyebut langkah mitigasi yang untuk sementara bisa dilakukan adalah mengedukasi masyarakat untuk mengurangi aktivitas di sekitar habitat buaya, utamanya di malam hari.

baca juga : Video: Saat Buaya Berusaha Memangsa Belut Listrik

 

Papan peringatan kepada masyarakat dan pengunjung untuk waspada beraktivitas di di sekitar danau yang menjadi habitat buaya dan salah satu sumber tangkapan ikan nelayan air tawar di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara Foto : Riza Salman/Mongabay Indonesia

 Manan mengimbau kepada para nelayan di sekitar habitat buaya untuk tidak ke sungai sementara waktu di bulan Juli dan Desember.

Sementara Edi Wulele, Kepala Desa Ambesea, masih diliputi rasa khawatir akan serangan susulan buaya ke warganya, yang marak terjadi dalam kurun tiga tahun belakangan ini pasca Pandemi Corona. Korban terakhir merupakan seorang ibu rumah tangga berumur 30 tahun, diterkam sore hari ketika hendak membersihkan diri di sungai usai menyemprotkan cairan pembasmi hama di kebun jagungnya yang berada di bantaran sungai tersebut, di pertengahan Desember 2023 lalu.

Konflik antara dan buaya terjadi ketika di area bantaran sungai dijadikan area perkebunan oleh warga setempat. Sebelumnya, buaya dan manusia hidup harmonis di Ambesea, buaya tidak pernah memangsa manusia.

“Yaa kejadiannya seperti itu, disebabkan adanya perambahan hutan. Air habitat mereka (buaya) yang dulunya jernih sudah tercemar, keruh,” ungkap Wulele. (***)

 Artikel yang diterbitkan oleh   https://www.mongabay.co.id/2024/01/26/el-nino-tingkatkan-konflik-buaya-dan-manusia-di-sulawesi-tenggara/?dc_data=19306737_huawei20-browser-indonesia&utm_source=taboola&utm_medium=taboola_news&ui=HHUI-485e8ac09cf8986b62114b6236de6fac4dfd95ac6a33b4461347d0ed5914670b

 

 


 

Lihat Artikel Ikan dan Satwa Lainnya



Pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan



 
Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempatnya


 

Topi KKP

Berminat Hub 081342791003 
 
 
  Menyediakan Batik Motif IKan
Untuk Melihat Klik
Yang Berminat Hub 081342791003



Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di 


Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.
Berminat Hub 081342791003

 

 

READ MORE - El Nino Tingkatkan Konflik Buaya dan Manusia di Sulawesi Tenggara

15 Juli, 2023

Mengungkap Perdagangan Hiu Diduga Ilegal Lewat Pelabuhan di Pulau Jawa Part Satu

 

  • Pelabuhan-pelabuhan di Indonesia, seperti di Pulau Jawa, banyak jadi tempat pendaratan hiu dan pari. Setiap hari, ratusan hiu dan pari didaratkan di masing-masing pelabuhan. Sebagian besar spesies dilindungi atau tunduk pada peraturan yang ketat. Namun, tak ada petugas yang mengawasi perdagangan ini. Perdagangan seringkali secara ilegal, yang akhirnya berdampak pada populasi hiu dan kesehatan ekosistem laut secara keseluruhan.
  •   Penelusuran dari Januari hingga April 2023 menemukan, praktik ini merajalela di pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Jawa, seperti Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung di Rembang, Pelabuhan Perikanan Bajomulyo di Pati, dan Pelabuhan Perikanan Tegalsari di Kota Tegal.
  •  Data Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) di Merauke, Papua, juga menunjukkan tingginya pasokan hiu dari Indonesia Timur. Rata-rata, lebih 177 ton hiu dikapalkan dari satu pelabuhan ini setiap tahun antara 2018 dan 2022. 
  •  Perairan Indonesia yang luas merupakan rumah bagi hampir separuh dari sekitar 500 spesies hiu dan pari di dunia, termasuk 120 spesies hiu dan 101 pari.  Menurut Muhammad Abdi Suhufan, Direktur lembaga swadaya masyarakat Destructive Fishing Watch (DFW), salah satu daerah yang jadi lokasi utama penangkapan ikan-ikan itu saat ini adalah Laut Arafura, di selatan Papua. Hal ini karena lokasi lain, seperti laut Jawa, makin menipis. 

 

 Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, tampak ramai pada Jumat pagi akhir Februari lalu. Para pekerja menurunkan ikan dari kapal-kapal yang tiba pagi itu. Dari ikan-ikan hasil tangkapan itu termasuk ratusan hiu dan pari.  Ada hiu martil bergigi—yang rentan atau terancam punah–, hiu lanjaman, dan berbagai spesies pari kikir, kupu-kupu dan pari gitar.

Rizal, satu dari tiga pembeli ikan yang sudah di sana sejak subuh senang karena mendapatkan barang paling banyak, lebih 10 ton hiu dan pari. Para pekerja memotong sirip dari beberapa hiu.

Sirip hiu paling menarik bagi Rizal karena bisa terjual antara Rp400.000-Rp12 juta per kilogram, tergantung ukuran. Sebaliknya, daging hiu hanya dijual Rp14.000 per kilogram.

Rizal bilang, pembeli datang ke rumahnya dari Surabaya, Pati, Tegal, dan Jakarta untuk membeli 50-100 kilogram sirip hiu sekaligus.

Brondong hanyalah satu dari sekian banyak pelabuhan di Indonesia yang jadi tempat pendaratan hiu dan pari. Penelusuran dari Januari hingga April 2023 menemukan, praktik ini merajalela di pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Jawa, seperti Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung di Rembang, Pelabuhan Perikanan Bajomulyo di Pati, dan Pelabuhan Perikanan Tegalsari di Kota Tegal.

Setiap hari, ratusan hiu dan pari didaratkan di masing-masing pelabuhan itu. Sebagian besar spesies dilindungi atau tunduk pada peraturan yang ketat. Namun, tak ada petugas yang mengawasi perdagangan ini. Perdagangan seringkali secara ilegal, yang akhirnya berdampak pada populasi hiu dan kesehatan ekosistem laut secara keseluruhan.

 

Tumpukan hiu dan pari Lontar di Pelabuhan Tasikagung, Kabupaten Rembang, 5 Maret 2023. Foto: A. Asnawi/ Mongabay Indonesia

 

Aturan yang harus diikuti

Perdagangan sirip hiu merupakan bisnis menguntungkan sekaligus kontroversial karena didorong permintaan tinggi, terutama di Tiongkok. Indonesia mengontrol penangkapan dan pemanfaatan hiu dan pari melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 61/2018.

Peraturan ini mengatur penggunaan spesies ikan yang sepenuhnya atau sebagian dilindungi hukum nasional, atau terdaftar dalam lampiran konvensi perdagangan internasional spesies tumbuhan dan satwa liar yang terancam punah (CITES), yang diratifikasi Indonesia pada 1978.

Peraturan ini juga mencakup spesies yang mirip dengan spesies yang dilindungi atau terdaftar dalam CITES. Untuk itu para pedagang harus mendapatkan surat rekomendasi.

Spesies yang sepenuhnya dilindungi termasuk hiu paus, hiu gergaji, pari manta, dan empat jenis pari air tawar. Menangkap, memelihara, atau memperdagangkan adalah tindakan ilegal.

 Spesies hiu lain yang terdaftar dalam CITES yang tunduk pada pengawasan perdagangan di Indonesia meliputi hiu martil (Sphyrna zygaena, Sphyrna lewini, Sphyrna mokarran). Lalu, hiu tikus atau hiu monyet (Alopias pelagicus, Alopias superciliosus, Alopias vulpinus), hiu sirip putih (Carcharhinus longimanus), hiu sutra (Carcharhinus falciformis), dan hiu mako (Isurus oxyrinchus, Isurus paucus).

Pari yang tercakup dalam peraturan ini karena masuk dalam daftar CITES termasuk pari mobula (Mobula species), pari kupu-kupu (Rhynchobatus palpebratus dan Rhynchabatus springeri), dan pari gitar (Rhina ancylostoma, Glaucostegus typus, dan Glaucostegus thouin).

Setiap bisnis yang ingin mengekspor spesies ini atau menjual di dalam negeri harus memiliki surat izin pemanfaatan jenis ikan (SA{JI) dan surat angkutan jenis ikan (SAJI). Para pedagang juga harus memiliki kuota mencakup jumlah yang dapat mereka ekspor.

Dari temuan lapangan Mongabay, sangat mudah bagi para pedagang menghindari regulasi dan deteksi.

 

Seekor ikan hiu tanpa sirip tergolek di Pelabuhan Brondong, Lamongan, 23 Februari 2023. Foto: A. Asnawi/ Mongabay Indonesia

 

Pedagang sirip

Pada Desember 2022, kapal kontainer berbendera Indonesia punya PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, Jawa Timur, setelah bertolak dari Pelabuhan Merauke di Papua. Muatan termasuk 589 kilogram sirip hiu.

Menurut dokumen Balai Karantina Ikan dan Kesehatan Ikan (BKIPM), sirip-sirip ini dikirim kepada Hendrik Setiyoko, warga Dusun Purwodadi, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Namun, sirip-sirip itu bukan milik Hendrik.

“Itu milik bos saya,” kata Hendrik, karyawan PT Jaya Dina Buana (JDB), sebuah perusahaan pengolahan ikan di Surabaya.

Dia akui, perusahaan sengaja menggunakan namanya untuk menerima kiriman itu. “Mungkin karena saya sudah berpengalaman,” katanya, seraya bilang sebelumnya pernah bekerja di perusahaan lain juga memperdagangkan sirip hiu.

JDB berbasis di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dan baru berdiri Oktober 2022,  menurut dokumen profil perusahaan yang diperoleh dari Direktorat Administrasi Hukum dan Umum Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

 Ketika Mongabay menghubungi perusahaan melalui telepon, orang yang menjawab menolak berkomentar dan mengakhiri panggilan.

Meskipun masih baru, perusahaan ini sudah memiliki jaringan pembeli sirip hiu kuat yang mengekspor ke berbagai negara seperti Tiongkok, Singapura, dan Vietnam. “Semua diekspor,” kata Hendrik.

Dia mengatakan, pengiriman yang diterima perusahaannya dari Papua bisa mencapai dua ton, atau 3.500 sirip. Sirip-sirip itu datang dengan kapal, atau terkadang pesawat, dan biasa langsung dibawa ke gudang perusahaan di Surabaya.

 Tumpukan hiu dan pari yang baru didaratkan di Pelabuhan Brondong, Kabupaten Lamongan, 22 Februari 2023. Foto: A. Asnawi/ Mongabay Indonesia

 

Ilegal

Pada Maret 2023, Mongabay datang ke gudang ikan.  Dua pekerja sibuk menyortir teripang di ruang utama, di mana hampir 40 kilogram sirip hiu dibungkus dalam kantong plastik dan siap jual.  Antara lain ada sirip hiu hitam, pari, hiu putih atau lanjaman, dan hiu martil.

Makin panjang sirip, makin tinggi harga. Untuk yang berukuran 15 sentimeter Rp 500.000-Rp700.000 per kilogram, sedangkan berukuran 40 sentimeter dibanderol Rp2juta-Rp2,4 juta.

Afe, pemilik gudang mengatakan,  sirip-sirip itu merupakan sisa penjualan sebelumnya. “Kemarin kami kirim dua ton ke Jakarta. Ini sisanya,” katanya, dan menawarkan untuk menjualnya Rp67 juta.

Namun, kata Suwardi Purboyo, Koordinator Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar untuk wilayah Jawa Timur, penjualan semacam itu ilegal.

Dia mengatakan, per Maret 2023, hanya ada 35 pemegang SIPJI di wilayah itu, 13 adalah eksportir. Baik Hendrik maupun JDB tidak termasuk di antara pemegang SIPJI-SAJI.

“Nama Hendrik atau JDB tidak ada dalam data kami. Tidak ada nama itu,” kata Suwardi kepada Mongabay di kantornya Maret lalu.

 Dia mengatakan, berarti Hendrik dan perusahaannya memperdagangkan sirip hiu secara ilegal.

JDB hanyalah satu dari beberapa perusahaan di Jawa yang secara rutin menerima pasokan hiu dari Papua, menurut dokumen BKIPM. Dua perusahaan lainnya, tidak jelas. Satu bernama PT Nafish Rafa Bahari tercatat membawa 100 kilogram sirip hiu pada April 2023. Perusahaan lain, CV Mina Miranda Jaya menerima kiriman 3,6 ton.

Mongabay mengunjungi alamat perusahaan yang tercantum dalam dokumen, namun tak menemukan jejak perusahaan itu. Penduduk setempat juga tak pernah mendengar tentang mereka. Pencarian dokumen perusahaan di situs Ditjen AHU juga tak membuahkan hasil. Nama-nama perusahaan tak ada di sana.

 

Pari kikir (Apendiks II) sepanjang 2 meter yang baru didaratkan di Pelabuhan Tasikagung, Rembang, 28 Februari 2023. Foto: A. Asnawi/ Mongabay Indonesia

 

Sumber dan tujuan

Perairan Indonesia yang luas merupakan rumah bagi hampir separuh dari sekitar 500 spesies hiu dan pari di dunia, termasuk 120 spesies hiu dan 101 pari.

Menurut Muhammad Abdi Suhufan, Direktur lembaga swadaya masyarakat Destructive Fishing Watch (DFW), salah satu daerah yang jadi lokasi utama penangkapan ikan-ikan itu saat ini adalah Laut Arafura, di selatan Papua. Hal ini karena lokasi lain, seperti laut Jawa, makin menipis.

“Kalau jadi pemasok utama, saya kira wajar karena laut Jawa makin sulit. Nelayan pada akhirnya akan menggeser zona tangkapnya ke wilayah timur,” katanya.

Penelitian DFW mengungkapkan, laut Arafura memasok rata-rata 18,6 ton sirip hiu kering per tahun pada 2018-2020.

“Itu hanya data yang dilaporkan. Saya yakin jumlah yang tidak dilaporkan lebih besar dari itu.”

Data Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) di Merauke, Papua, juga menunjukkan tingginya pasokan hiu dari Indonesia Timur. Rata-rata, lebih 177 ton hiu dikapalkan dari satu pelabuhan ini setiap tahun antara 2018 dan 2022.

Sebagian besar hiu dan pari yang ditangkap di perairan Indonesia dikirim ke Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia dan merupakan pintu gerbang menuju pasar ekspor termasuk Tiongkok, Amerika Serikat, Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan Korea Selatan.

“Sebagian besar diekspor,” kata Suwardi dari  Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL), seraya menambahkan, penjualan dalam negeri jarang dilakukan karena harga sangat tinggi.

 Sebagian besar atau 58,8% dari 852 izin SAJI yang dikeluarkan BPSPL Denpasar pada 2021 untuk tujuan ekspor.

Secara keseluruhan, hiu mati yang diperdagangkan di wilayah Jawa Timur pada tahun itu meliputi 2.582,3 ton hiu beku tanpa kepala dan tanpa sirip, 365,8 ton hiu beku tanpa kepala dan sirip, dan 157,3 ton sirip hiu kering. Total nilai ekonomi perdagangan hiu dan pari di wilayah Indonesia mencapai Rp105 miliar tahun itu.

Tingginya permintaan internasional mendorong perdagangan hiu dan pari legal dan ilegal dari perairan Indonesia. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia menyumbang 16,8% ke pasar hiu global. Ada kekhawatiran,  pasokan itu secara tak berkelanjutan.

Mukhlis Kamal, peneliti hiu dan pari dari Institut Pertanian Bogor, mengatakan, konservasi spesies ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Sebagai karnivora besar, hiu mengatur rantai makanan dan mengontrol keseimbangan ekologi laut dengan memakan spesies lain.

“Jika populasi mereka berkurang atau punah, dampaknya terhadap keseimbangan ekologi akan terasa. Ekosistem bisa runtuh,” katanya. (Bersambung)

 

Hiu martil yang siap dipotong guna diambil siripnya di Pelabuhan Tasikagung, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, 5 Maret 2023. Foto: A. Asnawi/ Mongabay Indonesia

***

 *Tulisan ini atas dukungan Earth Journalism Network (EJN)

https://www.mongabay.co.id/2023/07/11/mengungkap-perdagangan-hiu-diduga-ilegal-lewat-pelabuhan-di-pulau-jawa-1/ 

 

READ MORE - Mengungkap Perdagangan Hiu Diduga Ilegal Lewat Pelabuhan di Pulau Jawa Part Satu

06 September, 2021

KKP Tangani Hiu Mulut Besar Terdampar di Flores Timur

JAKARTA (5/9) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) kembali menangani megafauna laut terdampar. Belum lama ini seekor ikan hiu berjenis hiu mulut besar (Megachasma pelagios) terdampar di pantai Desa Desa Waiwuring, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam kondisi mati.

 

Setelah berkoordinasi dengan Satuan Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Satwas SDKP) Larantuka Flores Timur, Yayasan Misol Baseftin serta Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMAWAS) Waiwuring, Tim Respon Cepat BPSPL Denpasar wilayah kerja Provinsi NTT segera melakukan langkah-langkah penanganan dengan pengecekan ke lokasi, melakukan pengukuran morfometri, pengambilan sampel daging untuk uji laboratorium dan DNA dan sosialisasi kepada masyarakat desa.

 

Kepala BPSPL Denpasar Permana Yudiarso menerangkan hasil pengukuran morfometri menunjukkan hiu berjenis kelamin betina, dengan panjang total mencapai 5,4 meter, lebar 85 cm, dengan diameter 154 cm. Tim juga mengambil enam sampel daging yang terdiri dari sirip dada, mulut, sirip ekor, jantung, hati, dan lambung untuk kepentingan uji laboratorium.

 

“Kemunculan hiu mulut besar diduga karena sedang mencari makanan di perairan sekitar yang berarus kencang dan perairan dalam. Dari identifikasi, tim melihat bekas luka gigitan hiu jenis lain, tapi belum bisa menyimpulkan dugaan penyebab kematiannya,” tambah Yudi.

 

Lebih lanjut Yudi menjelaskan musim udang-udangan, ubur-ubur dan plankton diperkirakan sedang terjadi di perairan Selat Boleng, dan biasanya banyak paus, lumba-lumba dan ikan-ikan besar kharismatik lainnya yang melintas rentang waktu ini di sekitar perairan tersebut.

 

Plt. Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Pamuji Lestari sangat mengapresiasi langkah cepat petugas di lapangan. Meski hiu mulut besar bukan merupakan ikan yang dilindungi pemerintah namun saat ini sudah sangat jarang ditemukan di perairan Indonesia.

 

Tari juga mengungkapkan hiu mulut besar adalah ikan hiu yang hidup di laut dalam, dengan ciri mulutnya yang besar. Meski demikian, hiu pemakan plankton, udang-udangan dan ubur-ubur ini tidak memiliki gigi yang tajam dan memiliki 50 baris gigi kecil.

 

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono selalu menekankan agar KKP bersama para pemangku kepentingan dan seluruh masyarakat dapat mengelola dan menjaga sumber daya perikanan, termasuk hiu, secara berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat pesisir.

 

HUMAS DITJEN PENGELOLAAN RUANG LAUT

 

https://kkp.go.id/artikel/33975-kkp-tangani-hiu-mulut-besar-terdampar-di-flores-timur 

 

 

 Lihat Artikel Konservasi  Lainnya

Pegawai Pelabuhan Perikanan


 
Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempatnya


 

Berminat Hub 081342791003 
  Menyediakan Batik Motif IKan
Untuk Melihat Klik
Yang Berminat Hub 081342791003


Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di 


Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.

Berminat Hub 081342791003

 

READ MORE - KKP Tangani Hiu Mulut Besar Terdampar di Flores Timur

14 Maret, 2021

KKP Selamatkan 215 Ekor Ikan Dilindungi

 

JAKARTA (8/3) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) berhasil menyelamatkan 215 ekor ikan dilindungi. Ikan-ikan yang diperoleh dari gelar operasi bersama Stasiun PSDKP Pontianak tersebut dilepasliarkan di Pontianak pada Jumat (5/3).

 Upaya penyelamatan terhadap ikan dilindungi tersebut merupakan implementasi kebijakan Menteri Trenggono untuk terus menjaga kelestarian sumber daya perikanan. Menteri Trenggono juga telah menetapkan jenis-jenis ikan dilindungi pada awal tahun 2021 lalu.

 “Ini hasil operasi pengawasan, dari masyarakat diserahterimakan secara sukarela kepada para Pengawas Perikanan,” ungkap Plt. Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Antam Novambar.

 Antam menambahkan sebanyak 135 ikan belida dan 75 ikan ekor balashark diserahterimakan dari para penjual ikan hias di wilayah Pontianak kepada Pengawas Perikanan setelah mereka mendapatkan pemahaman tentang kebijakan perlindungan terhadap ikan-ikan tersebut. Antam juga memastikan bahwa upaya-upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melindungi sumber daya perikanan akan terus dilakukan.

 “Kami akan terus sosialisasikan agar masyarakat menjadi paham pentingnya perlindungan terhadap ikan-ikan yang jumlahnya semakin terbatas ini,” ujarnya.

 

 

Sementara itu, Direktur Pengawasan Pengelolaan Sumber Daya Perikanan, Drama Panca Putra menjelaskan bahwa KKP telah menerbitkan Keputusan Menteri Kelautan Perikanan Nomor 1/KEPMEN-KP/2021 tentang Jenis Ikan Yang Dilindungi. Hal tersebut merupakan upaya KKP untuk menjaga kelestarian sumber daya perikanan khususnya untuk jenis-jenis ikan asli Indonesia yang telah sangat menurun jumlahnya.

 “Ini merupakan upaya kita semua menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan”, tegas Drama.

 Sesuai dengan Keputusan Menteri Menteri Kelautan Perikanan Nomor 1/KEPMEN-KP/2021, ikan belida dan balashark (Balantiocheilos melanopterus) merupakan jenis ikan yang dilindungi. Dalam Keputusan tersebut terdapat 4 spesies ikan belida yang telah ditetapkan belida borneo (Chitala borneensis), belida Sumatra (Chitala hypselonotus), belida lopis (Chitala lopis), dan belida jawa (Notopterus notopterus).

 

https://kkp.go.id/djpsdkp/artikel/27947-kkp-selamatkan-215-ekor-ikan-dilindungi 

 

 Lihat Artikel Konservasi  Lainnya




Pegawai Pelabuhan Perikanan




 
Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempatnya




 



Berminat Hub 081342791003 
  Menyediakan Batik Motif IKan
Untuk Melihat Klik
Yang Berminat Hub 081342791003



Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di 





Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.

Berminat Hub 081342791003

 

 

Apel siaga Direktorat jenderal PSDKP -Kami Siap sebagai benteng KKP untuk pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan di WPP -NRI. Foto: dok. KKP Apel siaga Direktorat jenderal PSDKP -Kami Siap sebagai benteng KKP untuk pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan di WPP -NRI. Foto: dok. KKP Perkuat Pengawasan, KKP Tambah Dua Armada Kapal Pengawas Perikanan Selasa, 9 Maret 2021 | 13:56 WIB Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com ) JAKARTA, investor.id - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus meningkatkan upaya dalam menjaga kedaulatan Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI), yang terbaru, KKP menambah dua armada kapal pengawas perikanan bertipe kapal cepat yang bisa memperkuat pengawasan di WPPNRI 571-Selat Malaka dan WPPNRI-Laut Natuna Utara. Penambahan armada kapal pengawas perikanan tersebut merupakan kebijakan Menteri Sakti Wahyu Trenggono dalam penguatan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan serta pemberantasan illegal fishing. Menteri Trenggono menjelaskan bahwa penambahan kapal patroli pengawasan yang memadai merupakan salah satu strategi penting untuk menjaga kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan serta memberantas pencurian ikan di laut Indonesia. Pihaknya menjanjikan akan terus menambah armada pengawasan yang lebih besar dan canggih. ”Saya berkeinginan membangun kapal pengawas perikanan sekelas kapal fregat secara bertahap,” ujar dia di Jakarta, Selasa (9/3). Ia mengingatkan agar perubahan regulasi termasuk Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Kelautan dan Perikanan menjadi pedoman dalam pelaksanaan pengawasan di lapangan. Dengan adanya penambahan ini, KKP mempunyai 30 unit kapal pengawas perikanan yang menjadi garda terdepan dalam pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan serta pemberantasan illegal fishing. Selain lebih cepat dan stabil, KP Hiu 16 dan KP Hiu 17 dibangun dengan teknologi kapal mutakhir, pembuatan keduanya melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan dibangun oleh PT Palindo Marine Batam sebagai pemenang tender pengadaan kapal pengawas KKP. Kapal pengawas perikanan yang baru ini termasuk kapal kelas C dengan panjang 30 meter, KP Hiu 16 dan KP Hiu 17 merupakan kapal series design pertama yang dimiliki KKP. Direktur Pemantauan dan Operasi Armada KKP, Pung Nugroho Saksono mengatakan bahwa kedua kapal tersebut dibangun dari bahan material pelat kapal dipilih dari bahan alumunium alloy yang kuat dan ringan.Kelebihan utama pada kapal ini terletak pada kecepatan lajunya yang mencapai 29 knot. Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul "Perkuat Pengawasan, KKP Tambah Dua Armada Kapal Pengawas Perikanan"

Read more at: http://brt.st/76bU
Apel siaga Direktorat jenderal PSDKP -Kami Siap sebagai benteng KKP untuk pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan di WPP -NRI. Foto: dok. KKP Apel siaga Direktorat jenderal PSDKP -Kami Siap sebagai benteng KKP untuk pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan di WPP -NRI. Foto: dok. KKP Perkuat Pengawasan, KKP Tambah Dua Armada Kapal Pengawas Perikanan Selasa, 9 Maret 2021 | 13:56 WIB Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com ) JAKARTA, investor.id - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus meningkatkan upaya dalam menjaga kedaulatan Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI), yang terbaru, KKP menambah dua armada kapal pengawas perikanan bertipe kapal cepat yang bisa memperkuat pengawasan di WPPNRI 571-Selat Malaka dan WPPNRI-Laut Natuna Utara. Penambahan armada kapal pengawas perikanan tersebut merupakan kebijakan Menteri Sakti Wahyu Trenggono dalam penguatan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan serta pemberantasan illegal fishing. Menteri Trenggono menjelaskan bahwa penambahan kapal patroli pengawasan yang memadai merupakan salah satu strategi penting untuk menjaga kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan serta memberantas pencurian ikan di laut Indonesia. Pihaknya menjanjikan akan terus menambah armada pengawasan yang lebih besar dan canggih. ”Saya berkeinginan membangun kapal pengawas perikanan sekelas kapal fregat secara bertahap,” ujar dia di Jakarta, Selasa (9/3). Ia mengingatkan agar perubahan regulasi termasuk Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Kelautan dan Perikanan menjadi pedoman dalam pelaksanaan pengawasan di lapangan. Dengan adanya penambahan ini, KKP mempunyai 30 unit kapal pengawas perikanan yang menjadi garda terdepan dalam pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan serta pemberantasan illegal fishing. Selain lebih cepat dan stabil, KP Hiu 16 dan KP Hiu 17 dibangun dengan teknologi kapal mutakhir, pembuatan keduanya melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan dibangun oleh PT Palindo Marine Batam sebagai pemenang tender pengadaan kapal pengawas KKP. Kapal pengawas perikanan yang baru ini termasuk kapal kelas C dengan panjang 30 meter, KP Hiu 16 dan KP Hiu 17 merupakan kapal series design pertama yang dimiliki KKP. Direktur Pemantauan dan Operasi Armada KKP, Pung Nugroho Saksono mengatakan bahwa kedua kapal tersebut dibangun dari bahan material pelat kapal dipilih dari bahan alumunium alloy yang kuat dan ringan.Kelebihan utama pada kapal ini terletak pada kecepatan lajunya yang mencapai 29 knot. Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul "Perkuat Pengawasan, KKP Tambah Dua Armada Kapal Pengawas Perikanan"

Read more at: http://brt.st/76bU
READ MORE - KKP Selamatkan 215 Ekor Ikan Dilindungi