21 Juni, 2018

Presiden Tunjuk Menteri Susi ke Oslo untuk Ekonomi Kelautan

Presiden Joko Widodo menunjuk Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sebagi wakil untuk pertemuan Sherpa Meeting of the High Level Panel on Building a Sustainable Ocean Economy di Oslo, Norwegia, Selasa (19/6/2018). Menurut keterangan resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Surat penunjukan itu disampaikan Menteri Sekretaris Negara tertanggal 8 Juni 2018. Menteri Susi hadir dalam pertemuan untuk persiapan materi dan berfungsi sebagai contact person Pemerintah RI. Saat ini, Menteri Susi dan delegegasi sudah berada di Oslo, Norwegia untuk pertemuan ini. Penunjukan Menteri Susi mewakili Presiden itu merupakan respons atas permintaan PM Norwegia Erna Solberg yang mengundang Presiden Jokowi sebagai anggota Panel Tingkat Tinggi tentang Pembangunan Ekonomi Kelautan Berkelanjutan (High-Level Panel on Building Sustainable Ocean Economy). 
 
Panel Tingkat Tinggi digelar karena fakta bahwa laut memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan manusia, menyediakan lapangan kerja bagi jutaan orang, dan mendorong pertumbuhan ekonomi apabila dimanfaatkan secara berkelanjutan. Untuk menjadikan potensi laut ini benar-benar terlaksana, butuh konsensus dunia untuk menyamakan persepsi ini, terutama di tengah ancaman terhadap kesehatan dan produktivitas laut. 
 
Dokumen Rencana Aksi yang dihasilkan oleh Panel Tingkat Tinggi akan dibahas bersama Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Kelautan (United Nations Special Envoy for Ocean) untuk diadopsi PBB pada UN Ocean Conference tahun 2020. Utusan Khusus PBB tentang Kelautan saat ini adalah Peter Thomson, (Mantan Presiden UN General Assembly ke-71). Tujuan umum Panel Tingkat Tinggi ini adalah berkontribusi terhadap pencapaian agenda Sustainable Development Goals 2030. Anggota panel Secara umum, anggota panel terdiri dari Kepala-kepala Pemerintahan/Heads of Government/ Heads of State. Ada 13 negara yang sudah bergabung antara lain Norwegia, Indonesia, Ghana, Guinea, Jamaika, Meksiko, Palau, Portugal, Australia, Jepang, Fiji, Chile dan Namibia. 
 
Tiga belas negara ini mewakili lebih dari 60 persen seluruh panjang garis pantai di dunia, yaitu sepanjang 261.444 km. Indonesia dan Norwegia merupakan dua negara dengan garis pantai terpanjang kedua dan ketiga di dunia. Garis pantai terpanjang di dunia dimiliki Kanada yaitu 202.080 kilometer. Garis pantai Indonesia 99.093 kilometer dan Norwegia 83.281 kilometer. Manfaat bagi Indonesia Keikutsertaan Indonesia dalam panel ini sejalan dengan visi Presiden Jokowi menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. 
 
Dengan garis pantai terpanjang kedua dunia dan luas laut 6.315.222 km2 Indonesia butuh kebijakan pembangunan dan pengelolaan sumber daya kelautan yang belimpah secara berkelanjutan. Jumlah penduduk Indonesia yang secara langsung bertumpu pada laut besar. Lebih dari 50 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir. Sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia bergantung secara langsung kepada rumah tangga nelayan (BPS, 2013). Secara internasional, keikutsertaan ini meningkatkan citra Indonesia dalam bidang kelautan. Kepemimpinan Indonesia dalam pemberantasan pencurian ikan di bawah Presiden telah diakui dunia. 
 
Posisi Indonesia sebagai salah satu pelopor bidang kelautan akan semakin kuat dengan partisipasi Indonesia dalam keanggotaan Panel Tingkat Tinggi ini. Keterlibatan Indonesia menjadi sangat penting karena hasil Panel Tingkat Tinggi ini akan jadi kebijakan ekonomi kelautan berkelanjutan di tingkat global. –– ADVERTISEMENT –– PenulisWisnu Nugroho EditorWisnu Nugroho Tag: Norwegia kelautan nelayan perikanan Menteri Susi Kementerian Kelautan dan Perikanan 
 


Presiden Tunjuk Menteri Susi ke Oslo untuk Ekonomi Kelautan Wisnu Nugroho Kompas.com - 19/06/2018, 06:19 WIB Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat bersilaturahmi dengan nelayan di Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/5/2018). Dalam silaturahmi guna mencari masukan dari nelayan tersebut, Presiden mengajak nelayan meninggalkan cantrang yang dapat merusak ekosistem air laut. Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat bersilaturahmi dengan nelayan di Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/5/2018). Dalam silaturahmi guna mencari masukan dari nelayan tersebut, Presiden mengajak nelayan meninggalkan cantrang yang dapat merusak ekosistem air laut. (ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A) OSLO, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo menunjuk Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sebagi wakil untuk pertemuan Sherpa Meeting of the High Level Panel on Building a Sustainable Ocean Economy di Oslo, Norwegia, Selasa (19/6/2018). Menurut keterangan resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Surat penunjukan itu disampaikan Menteri Sekretaris Negara tertanggal 8 Juni 2018. Menteri Susi hadir dalam pertemuan untuk persiapan materi dan berfungsi sebagai contact person Pemerintah RI. Saat ini, Menteri Susi dan delegegasi sudah berada di Oslo, Norwegia untuk pertemuan ini. Penunjukan Menteri Susi mewakili Presiden itu merupakan respons atas permintaan PM Norwegia Erna Solberg yang mengundang Presiden Jokowi sebagai anggota Panel Tingkat Tinggi tentang Pembangunan Ekonomi Kelautan Berkelanjutan (High-Level Panel on Building Sustainable Ocean Economy). Baca juga: Kegelisahan Menteri Susi setelah Tenggelamkan Kapal Pencuri Ikan Panel Tingkat Tinggi digelar karena fakta bahwa laut memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan manusia, menyediakan lapangan kerja bagi jutaan orang, dan mendorong pertumbuhan ekonomi apabila dimanfaatkan secara berkelanjutan. Untuk menjadikan potensi laut ini benar-benar terlaksana, butuh konsensus dunia untuk menyamakan persepsi ini, terutama di tengah ancaman terhadap kesehatan dan produktivitas laut. Anak-anak nelayan bermain denagn hiu paus di pantai Botutonuo, Kabupaten Bone Bolango. Anak-anak nelayan bermain denagn hiu paus di pantai Botutonuo, Kabupaten Bone Bolango.(KOMPAS.COM/ROSYID AZHAR) Dokumen Rencana Aksi yang dihasilkan oleh Panel Tingkat Tinggi akan dibahas bersama Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Kelautan (United Nations Special Envoy for Ocean) untuk diadopsi PBB pada UN Ocean Conference tahun 2020. Utusan Khusus PBB tentang Kelautan saat ini adalah Peter Thomson, (Mantan Presiden UN General Assembly ke-71). Tujuan umum Panel Tingkat Tinggi ini adalah berkontribusi terhadap pencapaian agenda Sustainable Development Goals 2030. Anggota panel Secara umum, anggota panel terdiri dari Kepala-kepala Pemerintahan/Heads of Government/ Heads of State. Ada 13 negara yang sudah bergabung antara lain Norwegia, Indonesia, Ghana, Guinea, Jamaika, Meksiko, Palau, Portugal, Australia, Jepang, Fiji, Chile dan Namibia. Baca juga: Ditentang di Indonesia, Menteri Susi Dipuji Dunia karena Melawan Illegal Fishing Tiga belas negara ini mewakili lebih dari 60 persen seluruh panjang garis pantai di dunia, yaitu sepanjang 261.444 km. Indonesia dan Norwegia merupakan dua negara dengan garis pantai terpanjang kedua dan ketiga di dunia. Garis pantai terpanjang di dunia dimiliki Kanada yaitu 202.080 kilometer. Garis pantai Indonesia 99.093 kilometer dan Norwegia 83.281 kilometer. Manfaat bagi Indonesia Keikutsertaan Indonesia dalam panel ini sejalan dengan visi Presiden Jokowi menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Kepala Staf Presiden Moeldoko (keenam kiri) dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (keenam kanan) bersilaturahmi dengan nelayan di Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/5/2018). Dalam silaturahmi guna mencari masukan dari nelayan tersebut, Presiden mengajak nelayan meninggalkan cantrang yang dapat merusak ekosistem air laut. Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Kepala Staf Presiden Moeldoko (keenam kiri) dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (keenam kanan) bersilaturahmi dengan nelayan di Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/5/2018). Dalam silaturahmi guna mencari masukan dari nelayan tersebut, Presiden mengajak nelayan meninggalkan cantrang yang dapat merusak ekosistem air laut. (ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A) Dengan garis pantai terpanjang kedua dunia dan luas laut 6.315.222 km2 Indonesia butuh kebijakan pembangunan dan pengelolaan sumber daya kelautan yang belimpah secara berkelanjutan. Jumlah penduduk Indonesia yang secara langsung bertumpu pada laut besar. Lebih dari 50 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir. Sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia bergantung secara langsung kepada rumah tangga nelayan (BPS, 2013). Secara internasional, keikutsertaan ini meningkatkan citra Indonesia dalam bidang kelautan. Kepemimpinan Indonesia dalam pemberantasan pencurian ikan di bawah Presiden telah diakui dunia. Baca juga: Ini yang Diinginkan Jokowi dalam Wujudkan Poros Maritim Dunia Posisi Indonesia sebagai salah satu pelopor bidang kelautan akan semakin kuat dengan partisipasi Indonesia dalam keanggotaan Panel Tingkat Tinggi ini. Keterlibatan Indonesia menjadi sangat penting karena hasil Panel Tingkat Tinggi ini akan jadi kebijakan ekonomi kelautan berkelanjutan di tingkat global. –– ADVERTISEMENT –– PenulisWisnu Nugroho EditorWisnu Nugroho Tag: Norwegia kelautan nelayan perikanan Menteri Susi Kementerian Kelautan dan Perikanan

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Presiden Tunjuk Menteri Susi ke Oslo untuk Ekonomi Kelautan", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/06/19/061900626/presiden-tunjuk-menteri-susi-ke-oslo-untuk-ekonomi-kelautan.
Penulis : Wisnu Nugroho
Editor : Wisnu Nugroho
READ MORE - Presiden Tunjuk Menteri Susi ke Oslo untuk Ekonomi Kelautan

Terungkap, Dua Orang Ini Bantu Tekong Vietnam Melarikan Diri

Konfrensi pers di Mapolres Natuna

MARWAHKEPRI.com, NATUNA – Terungkap sudah, siapa oknum dibalik layar yang membantu kaburnya 6 orang tahanan illegal fishing dari Kejaksaan Natuna. Sebelumnya, nakhoda kapal asal Vietnam tersebut melarikan diri pada lebaran pertama Idul Fitri (15/06/2018).

Atas kejadian ini, pihak Kepolisian, Kejaksaan dan Lanal Ranai bekerjasama melakukan pencarian dan mengungkap otak dibalik larinya ke enam tahanan negara tersebut.
Kendati pencarian terhadap tahanan asal Vietnam belum membuahkan hasil, namun aparat berhasil menggali dan mengamankan dua tersangka yang membantu pelarian.
Saat ini dua orang warga Natuna telah diamankan di Mapolres Natuna. Masing-masing berinisial A (60 tahun) dan ES (25 tahun). Kedua tersangka mempunyai peran tersendiri.
Kapolres Natuna AKBP.Nugroho Dwi Karyanto dalam konprensi pers di Polres Natuna mengatakan, terungkapnya kedua tersangka tidak lepas dari kerjasama Kejaksaan, Polres dan Lanal Ranai.

“Alhamdulillah berkat niat baik dan usaha tulus Polres, Kajari dan dibantu oleh Lanal Ranai berhasil mengungkap kaburnya terdakwa Illegal Fishing. Ternyata meraka kabur dibantu oleh dua orang warga, yang menyediakan pompong dan ojek antar ke pelabuhan”ujar AKBP Nugroho ketika Konfrensi Pers di Mapolres Natuna, Rabu (20/06/2018).

Lanjut Kapolres, tersangka berinisal A, berperan menyediakan persiapan kabur, seperti mobilisasi tahanan, ransum, minyak solar dan mencari pompong untuk kabur. Sehari harinya A berprofesi sebagai tukang ojek di wilayah kota Ranai.
Sementara itu, tersangka ES berperan sebagai penjual pompong kepada A sebesar Rp 4 juta. Padahal, sebelumnya ia melaporkan kehilangan pompong ke Mapolres Natuna. Namun atas laporannya, Polisi melakukan pengembangan.

Aksi membantu tahanan negara ini membuat kedua tersangka ditahan di Mapolres Natuna. Keduanya dikenai pasal 242 dengan ancaman maksimal 7 tahun penjara.
Selain kedua tersangka, Polres Natuna juga mengamankan bukti berupa dua unit hanpone dan uang tunai Rp1,6 juta dan Rp250 ribu dan satu unit sepeda motor.
Kapolres mengatakan, kedua tersangka resmi ditahan sejak Selasa 19 Juni 2018. Masyarakat harus paham, perbuatan mereka melanggar hukum, membantu tahanan negara melarikan diri dari Kejaksaan.

Sementara itu, Kajari Natuna Juli Isnur mengatakan, kejadian tepat dengan hari lebaran Idul Fitri dimana suasana sedang sepi dan libur.
Pihaknya bersama Polres Natuna dan Lanal Ranai sangat serius memberantas kasus Illegal Fishing di Natuna.

“Kami serius tidak main-main dalam menangani kasus Illegal Fishing. Jadi jangan melakukan hal-hal yang salah. Kami tidak kenal hari libur,”terangnya.
Sementara itu, Danlanal Ranai, Kolonel Laut (P) Harry Setyawan mengatakan, pada saat kejadian hingga kini pihaknya terus melakukan pencarian, menyisir pantai hingga ke laut.
Ia juga menghimbau kepada masyarakat dan nelayan pesisir. Apabila melihat ada nelayan asing yang masuk ke wilayahnya segera lapor ke aparat terdekat.

“Saya himbau kepada nelayan pesisir, apabila ada kapal dan nelayan asing segera laporkan, kepada pihak berwajib terdekat,”pintanya.
Selain itu, Lanal juga telah menyiagakan kapal perang di Zona ZEE untuk terus memperketat pengamanan.

Diwaktu yang sama, Ketua DPRD Natuna, Yusripandi menyampaikan apresiasi atas terungkapnya kasus pelarian tahanan Illegal Fishing. Kasus tersebut, menurutnya sangat tidak baik dicontoh oleh masyarakat karena membantu tahanan asing kabur.
“Saya berharap kejadian seperti ini, tidak terulang lagi. Apalagi ada peran serta masyarakat membantu kaburnya para tahan asing. Ini sangat tidak baik buat daerah kita,”ungkapnya.

Selama ini, persepsi di masyarakat selalu menyebutkan tahanan asing kabur mencuri pompong milik nelayan. Namun kali ini, setelah diselidiki ada keterlibatan warga langsung membantu menyediakan sarana untuk para tahanan kabur.
Yusripandi juga berjanji akan memperjuangkan adanya rumah detensi khusus menampung para tahanan Illegal Fishing di Natuna.

“Kita akan kordinasi bersama pemerintah daerah, agar Natuna dibangun rumah khusus untuk menampung para terdakwa Illegal Fishing, agar mereka lebih mudah diawasi”, terangnya.***
Sonang Lubis

http://marwahkepri.com/2018/06/20/terungkap-dua-orang-ini-bantu-tekong-vietnam-melarikan-diri/ 

Berita sebelumnya :

Lagi-lagi Tahanan Illegal Fishing Kejari Natuna Kabur, Ini Reaksi Kapolres

READ MORE - Terungkap, Dua Orang Ini Bantu Tekong Vietnam Melarikan Diri

Kisah dari Dekat Kampung yang Warganya Ditelan Ular

Perahu yang menuju Pulau Ular, yang terletak di selatan Pulau Buton (foto: Bayu Saputra)
TAK jauh dari kampung halaman saya, tepatnya di Pulau Muna, berita tentang seorang wanita tua yang ditelan ular telah menyebar hingga ke mancanegara. Semua media di tanah air sibuk memberitakan. Para peneliti berkomentar tentang lahan perburuan ular yang telah berubah menjadi kebun-kebun. Warga masih dendam dan menyisir semua lubang di dekat kebun. 

Saya memperhatikan pemberitaan Washington Post dua hari lalu. Saya mendapati tiga berita yang menulis reportase itu, satu di antaranya berupa video. Dua berita itu adalah: A Woman Want to Check Her Corn – and was Swallowed by a Phyton, dan satunya lagi berjudul 7 Meter Long Phyton Swallows Indonesian Woman. Ternyata, media paling terkenal di Amerika Serikat itu juga mengutip media Perancis dan Associated Press. 

Saya tertarik dengan kalimat dalam berita yang ditulis Avi Selk. Jurnalis asing punya pandangan agak berbeda sebab melihat peristiwa ini dari kejauhan. Avi Selk mengatakan: 

“Biasanya ular memangsa mamalia berukuran kecil. Menyerang manusia adalah sesuatu yang amat langka ibarat menang lotre. Amat jarang terjadi, sebagaimana sering ditulis Washington Post. Biasanya, informasi yang ada cenderung hoax. Pernah ada foto ular yang menelan babi di Cina, Afrika, dan Asia Tenggara, namun diduga hoax. Tapi peristiwa di Indonesia itu mengejutkan dunia. Ini bukan pertama, sebelumnya peristiwa serupa telah terjadi.”

Bagi jurnalis Amerika ini, peristiwa di Indonesia adalah peristiwa yang mengejutkan. Mungkin saja dia beranggapan bahwa semua ular sudah lama jinak sebagaimana disaksikannya di kebun binatang. Di Indonesia, peristiwa manusia ditelan ular bukanlah yang pertama. Dalam waktu yang tidak terlalu jauh, seorang pekebun di Sulawesi Barat juga ditemukan dalam perut ular. 

Bagi kami yang tinggal di Buton dan Muna, ular menjadi hewan buas yang sering menjadi musuh manusia sehingga diperangi dan dibunuh. Sewaktu kecil, saya beberapa kali melihat ular yang ditangkap, kemudian dikuliti. Kulit ular itu direntang di atas kayu panjang, kemudian orang-orang mulai mengiris demi menyingkirkan daging. Saya pernah ikut mengiris daging ular. Seorang teman berbisik, “Baunya seperti daging ayam yaa?”

BACA: Sufi Besar, Tasawuf, dan Naskah di Pulau Buton

Ibu saya bercerita tentang seorang bocah yang masih keluarga dengan kami di Buton Utara yang hilang dan ditemukan di perut ular. Kata ibu saya, saat perut ular dibelah, bocah itu masih hidup, dan tak lama kemudian tewas karena tulang-tulangnya remuk. Informasi dari ibu saya harus dicek ulang. Biasanya, python akan membelit mangsanya hingga tewas kemudian menelannya.

Kisah lain juga sering saya dengar dari salah seorang paman yang menjadi pekebun di utara Pulau Buton. Letak kebunnya sekitar dua jam menyeberang laut dari kampung tempat ular menelan seorang ibu. Paman saya memiliki kebun di tengah hutan, yang ditanaminya berbagai komoditas. Paman saya cukup cerdik sebab dirinya juga memelihara tiga anjing yang lalu menjadi sahabatnya menjelajahi kebun dan hutan.

Sewaktu kecil, paman bercerita pada saya tentang anjing-anjing itu. Katanya, anjing adalah hewan yang bisa berbicara dengan daun-daun. Kalau paman jalan di tengah hutan, anjing akan menempuh rute yang melingkar. Anjing tak pernah tersesat. “Kalau anjing tersesat, maka dia akan bertanya pada daun apakah di sini ada manusia lewat ataukah tidak.”
Beberapa tahun berikutnya, saya menyadari kalau anjing punya indra penciuman yang tajam. Dia akan bisa membaui manusia di daun-daun. Masih kata paman, anjing selalu paling cepat tahu kalau ada ular atau binatang buas di sekitar. Saat anjing tak henti menyalak, maka biasanya ada sesuatu di situ. 

Selain berkebun, paman juga memelihara ayam di tengah hutan. Sering, anjing menyalak di tengah malam. Paman langsung tahu kalau ada ular yang datang untuk memangsa ayam. Paman akan segera menyalakan lampu srongking, lalu mengambil parang, kemudian mendatangi ular itu lalu menebasnya pada pandangan pertama. “Kalau terlambat, kita yang akan dibunuh,” katanya.

Bagi masyarakat, ular dianggap sebagai hewan jahat yang harus segera dilenyapkan. Anehnya, ketika beberapa tahun lalu saya membaca catatan tentang fabel di Buton dan Muna, saya justru tak pernah menemukan cerita tentang ular sebagai hewan jahat. Demikian pula dalam folklor atau cerita rakyat. Yang banyak muncul sebagai hewan jahat adalah monyet. Saya menduga, monyet dianggap jahat karena sering mencuri di kebun-kebun milik manusia. Sementara ular punya padang perburuan yang jauh di tengah hutan. Makanya, ular sangat jarang disebut dalam fabel.

Saya juga menemukan fakta lain. Ular dianggap identik dengan kesaktian dan keperkasaan. Di masyarakat Buton, ada kisah mistis tentang lelaki sakti bernama La Ode Wuna yang tubuhnya separuh manusia dan separuh ular. Digambarkan dalam beberapa lukisan, tubuh La Ode Wuna seperti Little Mermaid dalam kisah Disney yang atasnya manusia dan bawahnya ikan. Bedanya, sebelah atas tubuh La Ode Wuna adalah manusia dengan cambang dan jenggot serta rambut lebat, bawahnya adalah ular yang bergelung.

Saya tidak bermaksud membela ular itu. Saya hanya bisa berempati bahwa ketika dirinya memangsa manusia, tentu ada argumentasi yang harusnya bisa kita pahami. Pesan penting yang hendak disampaikannya adalah ada ruang hidup yang perlahan terpinggirkan sehingga dirinya kesulitan untuk bertahan. Tindakan memangsa manusia bukan karena dirinya jahat, melainkan cara untuk bertahan hidup. Jika dalam posisi ular itu, apa yang bisa kita lakukan ketika kita sedang lapar dan tak ada satu pun makanan di sekitar kita?

Jika kita berasumsi bahwa alam adalah sesuatu yang seimbang, maka anomali atau keanehan pada ekosistem disebabkan oleh sesuatu yang kini tidak seimbang lagi. Kita harus mengecek ulang bagaimana keseimbangan ekologis bekerja, di mana posisi ular selama sekian tahun dan di mana posisi manusia. Marilah kita melihat data tentang laju deforestasi atau penggundulan hutan yang kian massif, kian menipisnya ruang hidup makhluk di sekitar kita akibat pemukiman dan perkebunan yang kian merambah, hingga siapa saja yang diuntungkan dari kian tergerusnya pohon-pohon di sekitar kita.

Ada sesuatu yang keliru dalam cara kita memahami semesta. Kita manusia terlampau berkuasa sehingga semua lini kehidupan hendak dijajah. Kita tak menyisakan sedikit ruang bagi makhluk lain yang hidup di semesta ini. Kita perlahan membuka hutan, membuka perkampungan, menjadikannya kebun, menggali tanah-tanah demi tambang, lalu menyingkirkan mereka yang selama ini menjadikan hutan sebagai bumi tempat berpijak.

Ular memang berbahaya. Tapi manusia justru jauh lebih berbahaya sebab setiap saat membunuh makhluk lain, membakar hutan, lalu mengkaplingnya sebagai milik sendiri. Dahulu, manusia dan ular tak saling mengganggu. Semua punya ruang hidup. Makanya, kita perlu bertanya, bagaimana pertumbuhan populasi manusia sehingga menyingkirkan ruang-ruang hidup hewan, kemudian bagaimana cara hewan beradaptasi dengan ekologi yang terus berubah.

Seorang kawan ahli ular mengatakan, ular adalah hewan yang hanya menyerang ketika dirinya merasa terancam. Ketika dirinya baik-baik saja, maka dia tidak akan melakukan hal-hal aneh. Ular hanya bergerak berdasarkan insting hewani untuk bertahan hidup. Dalam situasi lapar dan tak ada mangsa di sekitarnya, dia akan segera berburu demi menemukan santapan baru.

Dalam edisi terbaru National Geographic, saya membaca artikel mengenai keseimbangan ekosistem alam. Pulau-pulau kita adalah panggung kehidupan yang menampilkan interaksi rumit antara unsur ekosistem: musim, air, tumbuhan, lebah, dan manusia. Satu unsur mengalami gangguan, maka unsur lain akan berpengaruh.

Dahulu, ular melata di tepi hutan dan pematang sawah. Ular memangsa tikus dan babi, dua hewan yang juga sering mengganggu manusia. Ketika tikus dan babi dibunuh dengan racun, maka ular kehilangan mangsa. Ketika hutan menjadi kebun dan dijarah, kemudian babi dibantai beramai-ramai, maka ular kehilangan mangsa. Padahal bagi ular, mencari mangsa adalah kodrat hewani yang membuatnya bertahan hidup. 

Dalam buku Sapiens: A Brief History of Humankind yang ditulis Noah Yuval Harari disebutkan, pada masa awal berkelana di muka bumi, manusia juga adalah makhluk yang berburu dan meramu. Dalam rantai makanan, manusia sering kali menjadi santapan dari hewan-hewan buas yang sama-sama berusaha untuk survive di alam semesta. 

Hingga akhirnya manusia menemukan api yang kemudian menjadi awal revolusi. Manusia punya cara untuk mengalahkan hewan sebesar apa pun, bisa mengolah hewan menjadi makanan yang empuk. Kemampuan kognitif manusia semakin meningkat, hingga akhirnya memutuskan membentuk perkampungan. Manusia tak lagi berburu, tapi mulai mengembangkan agrikultur. 

Manusia mulai merambah hutan demi membangun perkampungan, setelah itu membuka kebun di hutan-hutan. Hewan mulai didomestikasi. Hutan yang tadinya milik semua makhluk mulai dikapling untuk membangun perkampungan. Manusia buat sertifikat kepemilikan, tanpa peduli hewan yang tinggal di sana. Manusia menjadi satu-satunya pemilik alam semesta.

Modernitas kian membuat manusia jumawa dan merasa diri sebagai satu-satunya pemilik salam semesta. Kearifan yang dahulu dimiliki manusia di berbagai etnik perlahan disingkirkan demi memenuhi hasrat kapitalis dan keserakahan untuk memangsa semua sumber daya. Padahal, dahulu manusia hidup bertetangga dengan alam. Manusia tahu apa yang bisa diambil dan apa yang tidak. Hari ini, kita kehilangan kearifan yang dahulu dimiliki nenek moyang kita, sesuatu yang membuat mereka amat bersahabat dengan alam semesta.  Namun di suku-suku tepi hutan, kearifan itu masih terlihat jejaknya. 

***

Saya teringat satu kisah yang menyentuh hati saya dalam buku Homo Deus: A Brief History of Tomorrow adalah ketika seorang warga Suku Nayaka di selatan India terbunuh oleh seekor gajah. Pemerintah lalu menawarkan kepada penduduk suku lainnya untuk menangkap dan membunuh gajah yang menyebabkan tewasnya seorang warga.

Tapi penduduk malah menolak. Mereka justru mengatakan bisa memahami mengapa gajah itu menewaskan salah satu anggotanya. Antropolog Danny Naveh mencatat pengakuan penduduk suku. Penduduk suku punya versi cerita sendiri. 

Kata mereka, ada dua gajah yang tinggal di hutan itu. Dua gajah itu selalu memulai perjalanan bersama di setiap pagi, kemudian keduanya akan memutari jalan berbeda. Di sore hari, kedua gajah itu akan bertemu di satu titik, untuk kemudian menghabiskan malam bersama. Ritual itu sudah berjalan bertahun-tahun.

Suatu hari, beberapa pejabat pemerintah bersama stafnya, mungkin semacam Departemen Kehutanan, memasuki hutan itu dan menemui seekor gajah yang sedang berjalan. Merasa terancam, seorang staf lalu menembak gajah itu hingga mati. Mungkin juga dia mengincar gading gajah itu yang bernilai mahal. 

Orang-orang itu tidak paham paham bahwa ada gajah lain yang setia menunggu gajah itu. Di sore hari, gajah lainnya menunggu di titik pertemuan, namun gajah satunya tidak datang-datang. Gajah itu berkeliling lalu menemukan bangkai gajah satunya. Dia lalu mengeluarkan suara yang didengar seisi hutan. Dia sedang marah.  Hari-hari berjalan tidak biasa lagi. Gajah itu berjalan seorang diri dan menyeruduk sana-sini. Dia kehilangan harapan hidup. Dia menerjang apa pun di hadapannya, hingga akhirnya dia tanpa sadar telah membunuh seorang manusia.

Ketika pemerintah menawarkan bantuan pada warga suku untuk membunuh gajah itu, warga menolak dengan tegas. Seorang tetua adat malah berkata, “Bagaimana mungkin kami harus marah sama gajah itu, sementara dia dalam keadaan sedih dan getir karena pasangannya telah kalian renggut? Bagaimana perasaanmu ketika kekasih hatimu tiba-tiba saja dibunuh orang lain hanya karena dia dianggap hewan yang seolah tak punya hak hidup di hutan ini?”

Saya merasakan ada banyak tetes-tetes permenungan sesuai membaca kisah ini. Batin saya dibasahi oleh banyak hikmah. Kita manusia hidup di era di mana kita satu-satunya yang menafsirkan sesuatu. Kadang-kadang, kita tak memberikan ruang bagi orang lain, bahkan makhluk lain untuk mendiami bumi ini. Atas nama pengetahuan dan keserakahan kita tak hanya menyingkirkan semua hewan, tapi juga menyingkirkan manusia lainnya.

Kita manusia modern, mengira kitalah satu-satunya pemilik alam semesta. Padahal kita hanya sekrup kecil dari mesin besar bernama alam semesta. Kita kehilangan kepekaan untuk memahami apa saja kenyataan yang terjadi di sekitar kita sebab nurani kita telah lama tumpul oleh hasrat kuasa dan keinginan kita untuk menjadi yang terunggul.

Pada suku-suku seperti Nayaka, kita menemukan cermin untuk melihat diri kita sesungguhnya. Pada suku itu, ada kearifan yang melihat kehidupan tidak sekadar aku dan kamu, tapi juga dia yang berdiam di sana. Pada suku ini, kita menemukan keikhlasan untuk melihat diri sebagai bagian kecil semesta, di mana ada juga bagian-bagian lain di situ yang hidup bersama selama jutaan tahun. 

*** 

SEPEKAN terakhir, warga kampung halaman masih berduka atas tewasnya seorang ibu karena serangan ular phyton. Sepatutnya kita semua bersedih. Tewasnya seorang warga adalah tragedi bagi seluruh manusia. Saatnya menyalakan kewaspadaan agar peristiwa serupa tidak terjadi.

Di mata saya, solusinya adalah bukan memburu semua ular lalu membunuhnya. Solusi itu hanya bekerja dalam jangka pendek. Kalaupun kita melakukannya, dan membuat ular punah, maka alam semesta akan mengalami ketidak-seimbangan. Hilangnya populasi ular bisa berdampak pada tidak terkendalinya populasi tikus dan babi, yang kelak akan membawa bencana bagi umat manusia. Boleh jadi, semua hewan akan punah, dan tersisa kita manusia sebagai the last species on earth. Kemungkinan itu bisa terjadi mengingat kian hilangnya habitat hutan bagi hewan liar, serta semakin populasi manusia yang tidak terkendali lalu merambah semua hutan dan sudut paling liar di muka bumi ini.

Yang bisa kita lakukan adalah memahami posisi semua hewan, menyadari bahwa ruang-ruang hidup mereka telah kita renggut, serta menghargai keberadaan mereka di alam semesta. Hutan harus kembali dihijaukan. Perambahan hutan dikurangi, ekosistem dipelihara agar lestari, eksistensi hewan dihargai dengan cara tidak memasuki wilayah mereka. 

Namun, apakah kita manusia ikhlas untuk membiarkan alam tetap liar sebagaimana adanya, sementara kita tahu bahwa kayu-kayu hutan, komoditas, dan tambang di situ bisa membuat kita kaya raya dan hidup laksana surga?
http://www.timur-angin.com/2018/06/kisah-dari-dekat-kampung-yang-warganya.html?m=1
 

Detik-Detik Wanita Muna Ditelan Ular Piton Bulat-Bulat

Liputan6.com, Muna - Kematian Wa Tiba (54) akibat ditelan ular piton bulat-bulat mengagetkan banyak pihak. Warga setempat bahkan mengerahkan "orang pintar" untuk mencari wanita malang itu karena tak kunjung pulang ke rumah.
Kepala Desa Lawela, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, La Faris, yang memimpin pencarian menuturkan, pada jasad korban ditemukan sejumlah luka. Luka pertama terdapat di bagian kaki yang berbentuk gigitan. Sementara, luka kedua terdapat di kepala.

Melihat posisi jasad saat dikeluarkan dari dalam perut ular, kepala korban diduga ditelan lebih dulu. Sementara dengan posisi parang dan sandal Wa Tiba yang berada di pinggir semak-semak, ia memperkirakan ular tersebut sudah mengintai perempuan itu di balik rerumputan.
"Terus, ada semacam jejak ban terselip di situ," kata La Faris.
Wa Tiba, kata dia, kemungkinan sempat diseret setelah berhasil dilumpuhkan di tengah kebunnya. "Ular berada sekitar 30 meter dari lokasi barang-barang miliknya ditemukan warga. Kondisi lokasi banyak rumput, jadi sempat tak terlihat," tuturnya.
Baca Juga

Sekitar 100 orang dikerahkan untuk mencari Wa Tiba di kebunnya. Berdasarkan petunjuk seorang paranormal, lokasi korban berada sekitar 20 meter dari kebunnya.
"Ternyata memang benar, kami bersyukur tidak jauh dari situ," ujarnyanya.
 
 "Dia tidak banyak bergerak lagi, langsung kami lumpuhkan. Kemudian, kami tarik ke kampung bangkainya karena diduga memang sudah memangsa orang," katanya.
Jarak antara lokasi ular ditemukan dan rumah korban sekitar 1 kilometer. Sebelum masuk ke lokasi korban ditemukan, warga melalui jalan setapak yang ditembuhi semak belukar sekitar 500 meter jauhnya.

Dugaan La Faris didasarkan kejadian yang dialami rekannya. Saat itu, kata dia, korban yang merupakan rekan kantornya digigit ular pada bagian kaki saat sedang melintas.
"Tapi, dia syukur bisa selamat. Saya duga, korban (Wa Tiba) memang digigit kakinya lebih dulu sebelum ditarik ke semak-semak," ujar La Faris.

https://www.liputan6.com/regional/read/3561798/detik-detik-wanita-muna-ditelan-ular-piton-bulat-bulat
READ MORE - Kisah dari Dekat Kampung yang Warganya Ditelan Ular

18 Juni, 2018

KAVLINGAN GRIYA GODO PERMAI BIMA

 Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai 
yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat.
Jarak hanya +  1 Kilo meter  dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.
Harga yang ditawarkan mulai 19 juta sampai 28 juta sesuai luas tanah 160 M2 sampai 222 M2.
Bermina Hubungi Bapak Mukhtar, A.Pi (081342791003) diluar  bima atau Bapak Burhanuddin HA (081353521456) di Bima
 Harga yang ditawarkan sudah termasuk Akte Jual Beli
 Rencana di dalam Kavlingan Griya Godo Permai sudah kami siapkan Lahan 2 Kavling untuk pembangunan Mesjid
Bermina Hubungi Bapak Mukhtar, A.Pi (081342791003) diluar  bima atau Bapak Burhanuddin HA (081353521456) di Bima
READ MORE - KAVLINGAN GRIYA GODO PERMAI BIMA

Ini Penyebab Denda dari Pencuri Ikan Tak Masuk ke Kas Negara

Ketua Forum Hakim Ad Hoc Pengadilan Perikanan Seluruh Indonesia Mohamad Indah Ginting saat ditemui di Allium Hotel, Batam, 19 April 2016. TEMPO/Angelina Anjar Sawitri
Ketua Forum Hakim Ad Hoc Pengadilan Perikanan Seluruh Indonesia Mohamad Indah Ginting saat ditemui di Allium Hotel, Batam, 19 April 2016. TEMPO/Angelina Anjar Sawitri
TEMPO.COBatam - Ketua Forum Hakim Ad Hoc Pengadilan Perikanan Seluruh Indonesia Mohamad Indah Ginting mengatakan denda bagi pelaku pencurian ikan (illegal fishing) yang dijatuhkan oleh pengadilan banyak yang tidak tertagih. Hal itu karena denda tersebut dibebankan kepada nakhoda kapal, bukan perusahaan yang memiliki kapal pencuri ikan.

"Habis putusan, pelaku pulang ke negaranya. Karena itu, denda banyak yang tidak tertagih. Mungkin ratusan miliar dari kasus di seluruh Indonesia, denda itu tidak pernah masuk ke kas negara," ujar Ginting di Allium Hotel, Batam, Selasa, 19 April 2016.

Ginting, yang saat ini menjabat sebagai hakim di Pengadilan Perikanan Jakarta Utara, berujar, di dalam Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, saat ini tidak ada mekanisme untuk menagih denda tersebut. "Kejaksaan seharusnya merundingkan denda ini dengan negara-negara asal para pelaku. Kalau dengan begitu saja, pelaku tidak pernah jera," katanya.


Agar pelaku jera, Ginting menilai, penenggelaman kapal-kapal asing yang mencuri ikan perlu digalakkan. Kebijakan penenggelaman kapal oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti cukup efektif untuk menimbulkan efek jera. "Kalau dulu kan kapal yang dirampas dilelang. Pemenangnya yang punya kapal juga," ujarnya.

Menurut Ginting, kasus pencurian ikan yang masuk ke pengadilan perikanan juga menurun sejak diberlakukannya penenggelaman kapal asing pencuri ikan. Namun dia tidak mengungkapkan berapa jumlah penurunan kasus pencurian ikan tersebut. Ginting hanya berujar, "Tapi memang menurun juga."
ANGELINA ANJAR SAWITRI

https://bisnis.tempo.co/read/763906/ini-penyebab-denda-dari-pencuri-ikan-tak-masuk-ke-kas-negara 
READ MORE - Ini Penyebab Denda dari Pencuri Ikan Tak Masuk ke Kas Negara

16 Juni, 2018

Lagi-lagi Tahanan Illegal Fishing Kejari Natuna Kabur, Ini Reaksi Kapolres

Gambar penangkapan pelaku Illegal Fishing diperairan Natuna oleh TNI AL.
Gambar penangkapan pelaku Illegal Fishing diperairan Natuna oleh TNI AL.
Natuna, LintasKepri.com – Untuk kesekian kalinya, Kejaksaan Negeri (Kejari) Natuna kecolongan, dengan kaburnya tahanan pelaku illegal fishing yang ditanganinya.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Kejari Natuna, Juli Isnur Boy, SH.MH., bahwa terdapat sebanyak enam (6) orang terdakwa Warga Negara Asing (WNA) dengan dakwaan illegal fishing, yang menghilang dari pengawasan Kejari Natuna, pada Jumat (15/06/2018) petang.

Keseluruhan terdakwa asing dengan kasus Illegal fishing itu ditampung di komplek kantor Kejari Natuna. Mereka dikontrol secara berkala setiap hari oleh petugas Kejari.
“Tadi pas apel sore abis maghrib mereka diketahui tidak ada. Setelah dicek ternyata ada enam orang yang tidak ada,” kata Juli Isnur, melalui sambungan telepon, seperti dilansir dari medako.co.id.
img-20180616-wa0003
Kata Juli, jumlah terdakwa illegal fishing yang ditangani Kejari Natuna saat ini, sebanyak 42 orang termasuk terdakwa yang menghilang itu.
“Saat ini lagi proses pencarian. Dalam upaya ini kita berkoordinasi dengan instansi terkait, kita minta dukungan dari Lanal. InshaAllah akan melibatkan sarana dan personil dari TNI AL juga,” terang Juli.

Sementara tim keamanan Kejari Natuna, Anton, menuturkan kronologis menghilangnnya terdakwa itu, mengatakan, bahwa sebelumnya Jumat petang, mereka melaksanakan dua kali apel, apel pertama dilaksanakan pada pukul 17:00 WIB dan apel kedua dilaksanalan pada pukul 18:30 WIB dengan dikomandoi enam orang petugas Kejaksaan.

“Sesuai jadwal kita melaksanakan apel kedua setiap harinya pada pukul 20:00 WIB, tapi karena ada hujan lebat apelnya dipercepat. Pada apel kedua ini kami cek, ternyata tidak ada enam orang,” tutur Anton.

Tim Keamanan Kejari Natuna yang dibantu beberapa personil TNI AL langsung melakukan upaya pencarian ke sejumlah titik.
“Kita sudah dan sedang melakukan pencarian. Kita sudah melakukan pengecekan ke Rudenim, hotel-hotel, pelabuhan-pelabuhan dan tempat hiburan malam yang ada di Ranai. Saat ini tim lagi menyisir gang-gang dan pinggir pantai yang ada di Ranai. Dan kita akan terus mencari,” ujar Anton menjelaskan.

Enam orang terdakwa yang menghilang itu diketahui bernama Hoa, Khanh, Vuong, Tuan, Khaoi dan Cuc.
“Kami belum tahu dakwaan hukumnya berapa lama. Kita masih fokus melakukan pencarian,” katanya lagi.

Sementara itu, Kapolres Natuna AKBP Nugroho Dwi Karyanto, langsung memerintahkan jajarannya untuk membantu pihak Kajari Natuna melakukan pencarian terhadap enam orang warga Asing, pelaku Illegal Fishing yang hilang.
“Kepada jajaran Res Natuna, terutama para Kasat, Kapolsek dan Bhabinkamtibmas, agar back up Kejaksaan untuk mencari pelaku Ilegal Fishing yang melarikan diri. Perketat pelabuhan, koordinasikan dengan aparat desa dan pemilik pompong untuk bekerja sama. Berikan info terkini atas larinya pelaku Illegal Fishing dan Laporkan perkembanganya,” tulis Nugroho disebuah WhatsApp Group News Polres Natuna.
Editor : Erwin Prasetio

https://lintaskepri.com/lagi-lagi-tahanan-illegal-fishing-kejari-natuna-kabur-ini-reaksi-kapolres.html 
READ MORE - Lagi-lagi Tahanan Illegal Fishing Kejari Natuna Kabur, Ini Reaksi Kapolres