26 September, 2009

Pemanasan Global Timbulkan Bencana

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemanasan global menimbulkan bencana besar bagi kesehatan. Negara di kawasan tropis paling rawan terkena dampaknya.Kepedulian terhadap dampak kesehatan itu disuarakan belasan profesional yang tergabung dalam organisasi bidang kesehatan di dunia. Mereka menyatakan keprihatinannya, antara lain melalui publikasi dalam jurnal The Lancet dan British Medical Journal, baru-baru ini.

Keprihatinan itu diutarakan terkait Pertemuan Para Pihak Ke-15 (COP-15) Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNCCC) di Kopenhagen, Denmark, Desember mendatang.

Dalam publikasi itu, para dokter dan profesi kesehatan lain berpandangan, kegagalan mencapai kesepakatan dalam negosiasi perubahan iklim di Kopenhagen akan mendatangkan bencana kesehatan global. Negara-negara tropis yang sebagian besar negara berkembang, dengan kondisi kesehatan yang sudah memprihatinkan, akan menerima akibat yang paling besar.

Berbagai penyakit

Menurut ahli kesehatan masyarakat dari Depkes Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, I Made Jaya, pekan lalu, pemanasan global merupakan akibat dari rangkaian fenomena yang saling kait, antara lain pertambahan penduduk, peningkatan permintaan sumber daya alam, industrialisasi, konsumsi BBM, emisi, peningkatan suhu, mencairnya es, makin tingginya uap air, dan perubahan arah angin muson.

Dia mencontohkan, dengan pemanasan global, amplitudo suhu makin besar. Di siang hari, suhu dapat lebih panas dan lebih dingin di malam hari, tergantung daerahnya. Kondisi itu saja menyebabkan daya tahan tubuh rawan menurun sehingga manusia mudah terjangkit penyakit.

Hal yang lebih mengkhawatirkan, makin merebaknya penyakit akibat perubahan musim. ”Dulu, cacar air biasanya pada September dan Oktober. Masuk musim hujan, pertumbuhan jamur dan virus makin mudah. Namun, kini, sepanjang tahun terdapat kasus itu,” ujarnya.

Kelangkaan sumber air akibat ketidakteraturan musim dan kegagalan manajemen air akan berpengaruh terhadap kelangkaan pangan dan penyakit kurang gizi. Agen penyakit juga gampang bermutasi. Hal ini, misalnya, terlihat dengan kemunculan kasus flu burung dan influenza A (H1N1). Virus corona, misalnya, bermutasi sehingga menyebabkan SARS.

Banyak kawasan menghangat sehingga parasit pembawa penyakit, seperti nyamuk, menyebar ke daerah baru yang tak siap dengan kedatangan pembawa penyakit itu. (BBC/ AFP/ National Geographics/INE)
Source:Kompas

READ MORE - Pemanasan Global Timbulkan Bencana

Perdagangan Karbon Dominasi Negosiasi Mekanisme "Offset" bagi Negara Maju Ditolak

Jakarta, Kompas - Negosiasi global untuk skema penanganan perubahan iklim terseret pada masalah perdagangan karbon, bukan fokus pada upaya menemukan solusi-solusi menghadapi bencana dampak pemanasan global.

Negosiasi global tersebut juga tidak sepenuhnya sejalan dengan komitmen awal menurunkan emisi secara bersama-sama.

”Seperti dilakukan Indonesia dengan menawarkan skema REDD (Pengurangan Emisi melalui Deforestasi dan Degradasi) itu jadinya menyesatkan,” kata Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Siti Maimunah, Jumat (25/9), dalam konferensi pers di Jakarta.

Menurut Maimunah, REDD memiliki skema offset yang bisa digunakan untuk pencapaian netral karbon bagi negara atau suatu perusahaan penghasil emisi. Dengan demikian, negara atau penghasil emisi itu tidak terbebani sepenuhnya untuk mengurangi emisinya.

Maimunah menyampaikan hal tersebut, mewakili Kelompok Masyarakat Sipil Indonesia untuk Keadilan Iklim (CSF), menjelang penyelenggaraan Bangkok Intersessional Meetings on Climate Change, 28 September-8 Oktober 2009, di Bangkok, Thailand. Pertemuan itu merupakan rangkaian persiapan pertemuan PBB mengenai Perubahan Iklim di Copenhagen, Denmark, Desember nanti.

”Kami mendorong agar delegasi Indonesia dalam forum tersebut memiliki arah yang jelas,” ujar Maimunah.

Tanpa mekanisme ”offset”

Pada pertemuan di Bangkok, CSF akan menekan negara-negara maju yang tergabung dalam Annex 1 untuk mewujudkan komitmen menurunkan emisi domestik 40 persen pada tahun 2020. Upaya tersebut dengan syarat tanpa mekanisme offset.

Dukungan dana adaptasi dari negara maju juga dituntut sebagai hibah, bukan utang. Negara- negara Annex 1 juga diwajibkan mendukung pengembangan energi bersih berbasis komunitas di negara-negara berkembang.

Turut hadir pada konferensi pers, Kepala Departemen Advokasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Teguh Surya, Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) Riza Damanik, Koordinator CSF Giorgio Budi Idarto, Puspa Dewi dari Solidaritas Perempuan, dan

Yuriun, selaku wakil dari komunitas masyarakat adat Aceh.

Yuriun akan hadir sebagai perwakilan CSF pada pertemuan di Bangkok. Dia mengatakan, selama ini konsep pemerintah untuk menjaga hutan tidak pernah jelas. Masyarakat adat yang selama ini mampu menjaga kelestarian hutannya, karena hidup tergantung dari hutan tersebut, kerap tersingkir setelah ada pembukaan hutan oleh investor.

Riza Damanik menjelaskan, Pemerintah Indonesia dalam negosiasi global untuk menghadapi perubahan iklim akibat pemanasan global kini masih memiliki tugas berat. Di berbagai forum internasional terkait pembahasan perubahan iklim, delegasi Indonesia selalu lantang meneriakkan berbagai gagasan. Namun, implementasi gagasan itu masih lemah. ”Belum tuntas menyelesaikan persoalan menjaga kelestarian hutan melalui REDD, pemerintah sudah menyuarakan perdagangan karbon atas laut kita. Perdagangan karbon dari laut itu prematur,” ujarmya. (NAW)

Sumber: http://cetak. kompas.com




READ MORE - Perdagangan Karbon Dominasi Negosiasi Mekanisme "Offset" bagi Negara Maju Ditolak

Optimalkan kerja otak

Apakah Anda sering lupa nomor PIN atau password komputer? Hal itu mungkin disebabkan karena perubahan usia dan biasanya hal tersebut dialami oleh seseorang yang sedang memasuki usia 30 tahun. Untuk menghindari kejadian tersebut dan membuat otak tetap bisa bekerja secara optimal meskipun usia bertambah ada beberapa cara sederhana yang bisa Anda lakukan. 

1. Olahraga
Lakukanlah olahraga secara teratur karena bisa mencegah penurunan fungsi otak. Tim peneliti dari Beckman Institute dari University of Illinois, Amerika Serikat mereview beberapa penelitian tentang hubungan olahraga dengan fungsi otak. Mereka menemukan bahwa aerobik bisa meningkatkan kerja otak dan menambah volume jaringan pada otak. Selain aerobik, berjalan juga cukup efektif mengoptimalkan kerja otak.

Tips : Berjalanlah minimal 3 kali dalam satu minggu selama 50 menit. Tidak hanya membuat badan menjadi sehat, kerja otak Anda semakin maksimal.

2. Sikat gigi
Menurut tim dari "British psychiatrists and dentists", kesehatan gigi dan mulut berhubungan langsung dengan kesehatan otak. Hal itu diketahui setelah tim melakukan survei pada orang berusia 20 hingga 59 tahun. Peneliti menemukan gingivitis dan penyakit gigi lain berefek buruk pada fungsi kognitif otak seseorang di kemudian hari.

Tips: Sikat gigi setiap Anda selesai makan. Jangan biarkan sisa makanan menempel di gigi karena bisa memicu lubang pada gigi.

3. Bermain puzzle
Anda bisa menemani anak Anda bermain puzzle atau bermain puzzle sendiri. Dengan menyusun puzzle Anda merangsang kemampuan kognitif otak. Percobaan yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of Alabama yang melibatkan 3.000 lansia pria dan wanita, menunjukkan bahwa setelah bermain puzzle selama 60 hingga 75 menit otak bekerja lebih optimal.

Tips : Saat waktu senggang, bermainlah puzzle atau mengisi teka-teki silang. Kegiatan tersebut bisa memberikan tantangan pada otak Anda. Agar suasana seru, ajaklah pasangan, teman atau anak Anda.

4. Meditasi
Tidak hanya mengurangi stres dan tekanan pada pikiran, meditasi juga meningkatkan kerja lapisan korteks pada otak. Hal itu diketahui dari penelitian yang dilakukan tim dari Massachusetts General Hospital. Penelitian menunjukan seseorang yang sering bermeditasi kerja korteks lebih maksimal dibandingkan yang tidak bermeditasi.

Tips : Meditasi baiknya dilakukan 40 menit setiap hari, tetapi Anda bisa memulainya dengan bermeditasi selama 15 menit sebelum berangkat kerja. Duduk dengan posisi bersila, pejamkan mata, ambil nafas dalam-dalam dan buang secara perlahan.

5. musik/seni
Leonardo da Vinci berpikir dengan cara menyeimbangkan otak kiri (seni–>musik dll) dan otak kanan (pelajaran)… cara ini lebih memaksimal kan kinerja kedua otak sehingga semua menjadi seimbang dan tetap fokus.

6. Pola Makan yang Baik
Berilah otakmu makanan yang mengandung anti oksidan dan omega 3 untuk memaksimalkan daya kerja saraf… sehingga otak mampu meningkatkan kinerjanya sampai kebatas maksimal.

7. Menggali Ingatan
Lihatlah kembali album foto lama atau buku tahunan sekolah anda. Otak anda adalah sebuah mesin ingatan, jadi biarkanlah ia bekerja supaya tidak berkarat. Ketika mendapat informasi yang baru, usahakan untuk membuat kaitan dengan informasi yang lama… Jadikanlah sesuatu yang telah kamu hafal sebagai tempat bergantung dan terus diulang tanpa harus melupakannya. Caranya adalah dengan mengingat informasi secara terus menerus sehingga kita membangun bank memori di otak kita…

8. kreativitas
Kemampuan kreatif seringkali membuat kita dapat mengolah dan mengadaptasi solusi dari satu bidang ke bidang lainnya, dan dari satu pengalaman ke pengalaman yang lainnya… sehingga otak akan terus ter-asah kemampuannya, Mempelajari dan mengulang atau melatih pelajaran dan keahlian yang baru dapat mengubah sistem organisasi di dalam otak… Latihan berkesinambungan membuat daya kerja otak meningkat dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah melatih otaknya… 
for example:


Checked by AVG - www.avg.com 
Version: 8.5.409 / Virus Database: 270.13.112/2391 - Release Date: 09/23/09 18:00:00

READ MORE - Optimalkan kerja otak

18 September, 2009

Paus Humpback Terdampar di Tasikmalaya


Masyarakat pesisir pantai Pasanggrahan Kecamatan Cipatujah, Tasikmalaya Jawa Barat dikejutkan dengan terdamparnya seekor paus raksasa (14/09). Demikian dilaporkan di blog “taselamedia”.


Mamalia yang memiliki panjang 11,75 meter dengan perut berdiameter 4 meter ini diperkirakan berbobot 4 ton dan perkiraan terdampar pada pukul 03.00 WIB dini hari. Dari pengamatan ciri-ciri paus ini adalah humpback whale (Megaptera novaeangliae)


Menurut camat Cipatujah Najmudin Azis SIP, pihaknya sudah berkoordinasi dengan dinas terkait diantaranya Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya untuk memutuskan apakah mamalia tersebut akan dikonsumsi atau di kuburkan.
Berdasarkan hasil penelitian sementara paus tersebut biasa dikonsumsi, hanya saja untuk yang ditemukan terdampar di Cipatujah ini pihaknya menunggu hasil pemeriksaan tim dokter hewan dari kabupaten. “ Nanti kalau berdasarkan hasil penelitian tim dokter , ikan ini layakl untuk di konsumsi, masyarakat sekitar diperbolehkan untuk mengambil dagingnya”, ujar Azis.


Paus raksasa tersebut menjadi tontonan masyarakat yang datang bukan hanya dari Cipatujah saja, melainkan dari Cikalong, Bantarkalong, Karangnunggal bahkan dari kota Tasikmalaya. Tak cukup melihatnya, paus ini justru menjadi rebutan semua orang. Dengan peralatan sederhana seperti golok dan pisau, mereka mencincang dan memotong-motongnya berkeping-keping
Sebelum diperbolehkan mencincangnya, pihak Muspika juga sempat menggelar rapat kecil. Dihadiri oleh pihak Puskesmas dan Kadis Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Tasikmalaya, Ir Maman Dali SP. Tujuan rapat itu katanya, untuk memastikan kondisi ikan tersebut aman dikonsumsi warga. Rapat pun memutuskan ikan tersebut aman. Seperti dikomando saja, warga pun langsung berebut mencincangnya.


Butuh waktu cukup lama untuk membuatnya benar-benar habis tak tersisa. 12 jam. Asep (40) warga kampung Sarakan Desa/Kecamatan Cipatujah kepada Taselamedia mengaku, ikut berebut daging ikan tersebut. “Enak. Lezatnya luar biasa karena banyak mengandung minyak. Rasanya mirip daging sapi atau ayam broiler. Sama sekali enggak bau kok,”katanya. Bagi bagi buruh serabutan seperti dirinya,benar-benar rezeki nomplok. Soalnya, terhitung jarang sekali mendapatkan menu istimewa tersebut. Dan untuk membuatnya jadi istimewa, Asep menggunakan bumbu dendeng seperti bawang putih, bawang merah, ketumbar, lengkuas, gula merah dan garam. Dia yakin, “Dendeng Paus”nya bisa tahan untuk menu Lebaran Idul Fitri mendatang.


Terdamparnya paus di perairan Tasela kemarin, boleh jadi sebuah fenomena langka. Oleh masyarakat paus ini disebut paus naga. Pengetahuan masyarakat tentang paus maupun lumba-lumba memang masih sangat kurang. Hal paling sederhana adalah anggapan bahwa paus atau lumba-lumba yang tergolong mamalia ini, masih sering disamakan dengan ikan. Hal penting lainnya yang utama ialah bagaimana tindakan/penanganan kejadian terdamparnya mamalia raksasa ini.


Putu Liza, seorang peneliti mamalia laut ini menyebutkan bahwa paus dan lumba-lumba (ordo Cetacean) mengarungi lautan (dan sungai2 juga) dengan navigasi sonar. “Jika ada gangguan terhadap sonar mereka, mereka bisa nyasar. Gempa bumi bisa juga membuat gangguan sonar, seperti yang terjadi di Tasmania Australia awal Januari tahun ini” katanya seperti dilaporkan dalam blog tersebut.


Ia menambahkan bahwa banyak paus yang tercatat terdampar di sekitar saat bintik matahari (sun spots) sedang banyak. “Biasanya sekitar 11 tahunan sekali” katanya. Ada pula kecenderungan bila terjadi gangguan alami (sun spot atau gempa), akan menyebabkan jumlah paus yang terdampar banyak/kelompok .” Kemungkinan paus yang terdampar di Tasikmalaya ini mungkin karena sakit, atau gangguan navigasi lainnya” kata peneliti yang sedang menyelesaikan penelitian tentang lumba-lumba di Australia ini.
Sumber dan foto : http://taselamedia.wordpress.com/2009/09/14/ikan-raksasa-terdampar-di-pantai-cipatujah/#comment-62
READ MORE - Paus Humpback Terdampar di Tasikmalaya

13 September, 2009

Selamatkan Terumbu Karang


Terumbu karang di dunia terancam habis karena emisi karbondioksida. Jika dibiarkan 20 tahun mendatang akan hilang.

Sebuah laporan tak mengenakan dilansir Global Coral Reef Monitoring Network pertengahan Desember ahun lalu. Dalam laporan yang disiarkan di Poznan, Polandia itu disebutkan 20 persen terubu karang sudah rusak. Penyebabnya emisi karbondioksida yang terus meningkat terkait pemanansan global (global warning).

“Bila tidak ada perubahan, dalam waktu kurung dari 50 tahun, jumlah karbondioksida di atmosfer akan berlipat,” ujar Carl Gustaf Lundin, pimpinan program kelautan global di Iternasional Union for Conservation of Nature, salah satu organisasi di belakang Global Coral Reef Monitoring Network.

Kalau kecenderungan emisi karbon dioksida saat ini terus berlangsung, banyak terubu karang mungkin akan hilang dalam waktu 20 sampai 40 tahun mendatangkan, dan ini akan memiliki konsekuensi bahaya bagi sebanyak 500 juta orang yang bergantung atas terumbu karang untuk memperoleh nafkah mereka.

Karena karbon ini diserap, samudra akan lebih asam, yang secara serius merusak sangat banyak biota laut dari terumbu karang hingga kumpulan plankton dan dari udang besar hingga rumput laut. Saat ini, perubahan iklim dipandang sebagai ancaman terbesar bagi terumbu karang. Ancaman utama klim, seperti naiknya temperature permukaan air laut, bertambah besar oleh ancaman lain termaksuk pengkapan ikan secara berlebihan, polusi dan spesies pendatang.

“ Laporan itu merinci konsesus kuat ilmiah bahwa perubahan iklim harus dibatasi pada tingkat minimum absolute,” ungkap Clive Wilkinson, Koodinator Global Coral Reef Monitoring Network. Laporan itu juga menyebutkan terumbu karang memiliki peluang lebih tinggi untuk bertahan hidup pada saat perubahan iklim terjadi, jika faktor tekanan lain yang berkaitan dengan kegiatan manusia diperkecil.

Pemanansan global membawa ancaman terhadap terumbu karang Indonesia, yang merupakan jantung kawasan segitiga karang dunia (heart of global coral triangle). Terumbu karang sangat sensitif terhadap panas. Kenaikan satu derajat C pada temperature laut dapat mengakibatkan stres dan pemutihan (bleaching) terumbu karang yang akhirnya akan mati.

Di Indonesia, sekitar 33,17 persen dari total 85.707 km?. Luas kawasan terumbu karang di perairan laut juga mengalami kerusakan dengan kondisi buruk, tambahnya. Sedang kawasan terumbu karang Indonesia sebesar 85.707 KM2, jenis penghalang 50.223 KM2, jenis landas oseanik 1,402 KM2 dan atoll 19.540 KM2.

Terumbu karang di Indonesia ditemui sangat berlimpah dikepulauan bagian timur (meliputi Bali, Flores, Banda dan Sulawesi). Juga terdapat di perairan Sumatera dan Jawa. Indonesia menopang terumbu karang yang bervariasi (terumbu karang tepi, penghalang dan atol).

Tipe terumpu karang yang dominan di Indonesia ialah terumbu karang tipe. terumbu karang tepi. Terumbu karang tipe ini dapat dijumpai sepanjang pesisir Sulawesi, Maluku , Barat dan Utara Papua, Madura, Bali dan sejumlah pulau-pulau kecil di luar Pesisir Barat dan Timur Sumatera 

Tipe Patch reefs (terumbu karang yang mengumpul) paling baik terbentuk dikepulauan seribu, sedangkan terumbu karang penghalang paling baik terbentuk disepanjang tepi Paparan Sunda, bagian Timur Kalimantan dan sekitar Kepulauan Togean ( Sulawesi Tengah). Terdapat pula beberapa atol contohnya ialah Taka Bone Rate di Lut Flores merupakan atoll terbesar ketiga didunia.

Sumber http://www.stopiuufishing.com
READ MORE - Selamatkan Terumbu Karang

10 September, 2009

Indonesia Lebih Aktif Turut Mengelola Perikanan Tuna di Samudera Hinda

Dalam rangka melaksanakan komitmen Indonesia untuk mendukung pengelolaan dan konservasi perikanan tuna secara bertanggung jawab dan berkelanjutan, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan tahunan ke-13 Indian Ocean Tuna Commission (IOTC). 


Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal DKP, Widi A. Pratikto mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan saat mebuka pertemuan tahunan ke-13 IOTC di Bali (30/3). Indonesia resmi menjadi negara full member IOTC ke-27 pada tanggal 20 Juni 2007. MasuknyaIndonesia menjadi full member IOTC merupakan implementasi dari UU No.31 Tahun 2004 Pasal 10 (2)yang mengamanatkan pemerintah Indonesia untuk ikut serta secara aktif dalam keanggotaan badan/lembaga/organisasi regional dan internasional dalam rangka kerjasama pengelolaan perikanan. IOTC merupakan salah satu Regional Fisheries Management Organization (RFMO), yaitu organisasi pengelolaan perikanan regional dibawah FAO, yang diberi mandat untuk melakukan pengelolaan sumberdaya ikan tuna di wilayah Samudra Indonesia. Saat ini dikawasan perikanan Indonesia terdapat 16 jenis ikan tuna yang diatur pengelolaanya oleh IOTC, yaitu: Yellow Fin Tuna, Skipjack, Bigeye Tuna,Albacore Tuna,Southern Bluefine Tuna, Long tail Tuna, Kawakawa, Frigate Tuna, Bullet Tuna,Narrow Barred Spanish Mackerel,Indo Pacific King Mackerel,Indo Pacific Blue Marlin,Black Marlin,Strip Marlin,Indo Pacific Sailfish, dan Swordfish. 
 
Saat ini IOTC memiliki anggota sebanyak27 negara full member dan 3 negara cooperating non-contracting parties, dimana setiap anggota berkewajiban untuk menerapkan keputusan-keputusan IOTC dalam berbagai resolusi dengan sistem hukum nasional. Sebagai anggota ke-27, Indonesia telah melaksanakan beberapa kegiatan antara lain:(1) program revitalisasi perikanan tuna,(2) penyampaian informasi kepada sekretariat IOTC tentang Authorized Vessel dan Active Vesselatau kapal yang aktif dan resmi melakukan penangkapan tuna, (3)penyusunan Peraturan Menteri No PER.03/MEN/2009 tentang Penangkapan Ikan dan/atau Pengangkutan Ikan di Laut Lepas, (4) persiapan penerapan Log Book perikanan,(5) program outer fishing portatau pelabuhan perikanan terluar; dan (6) bersama Australia menyusun Regional Plan of Action (RPOA) to Promote Responsible Fishing Practices (including Combating IUU Fishing) in the Region, yakni rencana aksi dua negara untuk mewujudkan pengelolaan perikanan yang bertanggungjawab termasuk pemberantasan illegal fishing.  
 
 
Sebagai full member IOTC,Indonesiamempunyai peluang dalam memanfaatkan sumberdaya ikan di laut lepas (high seas)dengan kewajiban melakukan kontrol yang efektif terhadap kapal perikanan Indonesia yang melakukan kegiatan di laut lepas. Keragaan armada perikanan Indonesiayang terdaftar di IOTC hingga tahun 2008adalah874 kapal, terdiri dari 871 kapal longline dan 3 kapal purse seinedi Samudera Hindia. Sedangkan jumlah tangkapan dari kapal-kapal Indonesia yang terdaftar di IOTC pada tahun 2007 mencapai 252,227 ton, atau 24,1 % dari 104.673,7 ton tangkapan tuna Indonesia.  
 
Dalam pertemuan tahunan IOTC ke-13 ini akan diikuti oleh anggota IOTC, FAO dan pengamat sekitar 200 orang, Indonesia memiliki momentum untuk memperoleh hal-hal yang positif, yaitu:(1) Aspek nasional, mendukung kebijakan nasional bagi upaya konservasi dan pengelolaan perikanan termasuk upaya pemanfaatan dan pengawasan shared fish stocks, (2) Aspek internasional,memperkuat posisi Indonesia dalam forum organisasi perikanan regional dan internasional, serta menegaskan komitmen Indonesia sebagai negara Pihak pada UNCLOS 1982 dalam kerjasama internasional bagi kegiatan konservasi dan pemanfaatan sumberdaya ikan yang berkelanjutan, (3) Aspek teknis ekonomi, memberikan peluang pemanfaatan sumberdaya shared fish stocks di laut lepas oleh Indonesa, tersedianya bantuan teknis dan finansial dari RFMOs, merupakan pasar dunia produk perikanan Indonesia, serta terhindar dari embargo ekspor produk perikanan Indonesia yang diambil dari wilayah konvensi RFMOs oleh negara-negara anggotaRFMOs, (4) Aspek lingkungan, sebetulnya kelangsungan sumberdaya tuna di Samudra Indonesia termasuk terancam oleh tingginya permintaan tuna di pasar dunia, pertumbuhan yang tinggi jumlah armada tuna di Samudra Hindia, serta maraknya illegal fishing.Dengan demikian maka pada sidang tersebut merupakan forum untuk memperjuangkan menghadapi masalah tersebut.  
 
Oleh karenanya, walaupun pada sidang IOTC ke-12 sebelumnya telah disepakati tentang kewajiban perbaikan statistik pencatatan hasil tangkap dan pengurangan hasil samping penangkapan, serta program transhipment skala besar, namun dalam sidang IOTC ke-13 kali ini harus diperjuangkan sanksi yang tegas bagi pelaku illegal fishing, pengaturan transhipment di laut serta pengawasan di pelabuhan (port state measure).***

READ MORE - Indonesia Lebih Aktif Turut Mengelola Perikanan Tuna di Samudera Hinda

Langkah Maju Pengelolaan Perikanan Indonesia

Dalam upaya mencapai pemanfaatan secara optimal dan berkelanjutan dalam pengelolaan perikanan yang menjamin kelestarian sumber daya ikan dan lingkungan di seluruh Indonesia, Menteri Kelautan dan Perikanan keluarkan Peraturan Menteri nomor PER.01/MEN/2009 tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP-RI). 


Peraturan ini sebagai penyempurnaan dan mengganti Keputusan Menteri Pertanian No.996/Kpts/IK.210/9/1999 tentang Potensi Sumber Daya Ikan dan Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan.Upaya ini adalah merupakan langkah maju dalam menerapkan ketentuan internasional Code of Conduct for Responsible Fisheries, atau Tatanan Pengelolaan Perikanan yang Bertanggungjawab atau Berkelanjutan. Sebagaimana kita ketahui sumberdaya perikanan adalah termasuk sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources). Akan tetapi, bila jumlah yang dieksploitasi lebih besar daripada kemampuan alami untuk kembali, maka sumberdaya tersebut akan berkurang, bahkan bisa habis.

Sederhananya, bila penangkapan ikan lebih banyak dibanding dengan kemampuan ikan memijah, maka wilayah laut tersebut akan miskin. Itulah yang dikenal sebagai kondisi lebih tangkap (over fishing). Sehubungan dengan itu terdapat hitungan Total Allowable Catch (jumlah tangkapan yang diperbolehkan) dan Most Sustainable Yield (jumlah ikan maksimum yang tersedia agar masih bisa lestari).

Untuk menyempurnakan manajemen pemanfaatan perairan itulah maka dilakukan penentuan Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP-RI) di seluruh Indonesia dari 9 WPP menjadi 11 WPP, yakni merupakan wilayah pengelolaan perikanan untuk penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, konservasi, penelitian, dan pengembangan perikanan yang meliputi perairan pedalamanan, perairan kepulauan, laut teritorial, zona tambahan, dan zona ekonomi eksklusif Indonesia.  

Kesebelas wilayah pengelolaan perikanan yaitu: Kesatu, WPP-RI 571 meliputi perairan Selatn Malaka dan Laut Andaman; Kedua, WPP-RI 572 meliputi perairan Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera dan Selat Sunda; Ketiga, WPP-RI 573 meliputi perairan Samudera Hindia sebelah Selatan Jawa hingga sebelah Selatan Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor bagian Barat; Keempat, WPP-RI 711 meliputi perairan Selat Karimata, Laut Natuna, dan Laut China Selatan; Kelima, WPP-RI 712 meliputi perairan Laut Jawa; Keenam, WPP-RI 713 meliputi perairan Selat Makasar, Teluk Bone, Laut Flores, dan Laut Bali; Ketujuh, WPP-RI 714 meliputi perairan Laut Sulawesi dan sebelah Utara Pulau Halmahera; Kedelapan, WPP-RI 715 meliputi perairan Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Seram dan Teluk Berau; Kesembilan, WPP-RI 716 meliputi perairan Laut Sulawesi dan sebelah Utara pulau Halmahera; Kesepuluh, WPP-RI 717 meliputi perairan Teluk Cendrawasih dan Samudera Pasifik; Kesebelas, WPP-RI 718 meliputi perairan Laut Aru, Laut Arafuru, dan Laut Timor bagian Timur.

Setiap WPP pada prinsipnya memiliki karakteristik yang berbeda, dimana WPP di bagian timur umumnya memiliki potensi sumberdaya ikan pelagis besar sehingga armada yang beroperasi relatif lebih besar dibandingkan di WPP bagian barat yang sebagian besar potensi sumberdaya ikannya adalah jenis ikan pelagis kecil. Namun demikian, dilihat dari tingkat kepadatan nelayan, WPP bagian barat relatif lebih padat dibandingkan bagian timur sehingga di WPP banyak terjadi kegiatan illegal fishing karena besarnya potensi sumberdaya ikan yang dimiliki di wilayah tersebut. Oleh karena itu, WPP bagian timur banyak disebut sebagai golden fishing ground, seperti Laut Arafura, Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik.

Nama perairan yang tidak disebut dalam pembagian WPP-RI diatas, tetapi berada di dalam suatu WPP-RI merupakan bagian dari WPP-RI tersebut. Sedangkan WPP-RI yang disebut dalam Peta WPP-RI dan Peta serta diskripsi masing-masing WPP-RI yang memuat kode, wilayah perairan, dan batas dari masing-masing wilayah pengelolaan. Secara khusus untuk kegiatan penangkapan ikan, dalam peraturan ini disebutkan bahwa penentuan daerah penangkapan dalam perizinan usaha perikanan tangkap agar menyesuaikan pada WPP-RI baru dalam kurun waktu paling lambat 3 (tiga) tahun.

Penataan WPP hanya merupakan salah satu faktor essensial untuk menata sumberdaya perairan. Langkah selanjutnya adalah tetap dilakukan pengkajian stok ikan pada setiap WPP. Atas dasar hasil kajian tersebut maka ditetapkan jenis alat tangkap dan jumlahnya yang dapat diizinkan, dan bila perlu waktu penangkapan yang dialokasikan, atau waktu yang dilarang untuk dilakukan penangkapan ikan (open and close system).

Manajemen penangkapan ikan tersebut pada beberapa WPP sudah sangat mendesak untuk dilaksanakan karena indikasi dan fakta lebih tangkap telah nyata terdeteksi. Penerapan kebijakan ini tentu tidak sederhana, karena kenyataan yang ada tidak mudah mengalihkan mata pencaharian nelayan tradisional yang sudah terlanjur banyak. Pemindahan lokasi nelayan juga menghadapi masalah kultural, sosial, dan pemasaran. Di beberapa negara telah dilakukan pembelian terhadap kapal nelayan oleh pemerintah guna dimoratorium, untuk melakukan solusi kelestarian sumberdaya perairan. Yang pasti Code of Conduct for Responsible Fisheries harus kita wujudkan, paling tidak secara bertahap, guna kesejahteraan nelayan dan bangsa kita, baik saat ini maupun pada masa yang akan datang.
Sumber : http://www.stopiuufishing.com

READ MORE - Langkah Maju Pengelolaan Perikanan Indonesia

Pemberantasan Illegal Fishing Perlu Diplomasi

Kalangan DPR memandang maraknya illegal fishing yang dilakukan nelayan asing di wilayah perairan Indonesia telah sangat mengkhawatirkan. Peraturan Pengganti Undang-Undang (Perpu) tidak cukup memberikan solusi terkait masalah itu.


"Itu tidak cukup. Yang penting bagaimana pemerintah Indonesia meminta duta besarnya untuk ikut berperan," tandas anggota Komisi IV DPR.

Menurut Tamsil, pemerintah perlu melakukan pendekatan diplomasi, dengan meminta duta besar asal nelayan asing membantu memberantas pelaku illegal fishing.

Tamsil memaparkan, dalam hal illegal fishing, Indonesia bermasalah dengan Singapura, Thailand, dan Filipina. Thailand misalnya, luas lautan dan jumlah ikan yang diperoleh tidak jarang mereka jual melebihi kapasitas yang sesuai dengan potensi laut yang dimilikinya.

"Itu menunjukkan ada ikan yang mereka ambil dari tempat lain. Mencuri ikan di wilayah Indonesia menjadi hal yang biasa bagi mereka, " ungkapnya.

Lebih lanjut Tamsil mengemukakan, bila melihat kapal-kapal nelayan asing miliki lebih bagus, ketimbang kapal-kapal yang dimiliki polisi pengawas Indonesai.
"Kita tidak bisa mengandalkan peralatan yang kita miliki untuk menangkap mereka," katanya pesimis.

Oleh karenanya, dia mendukung rencana pemerintah mengeluarkan Perpu terkait illegal fishing. Namun demikian, diplomasi pemerintah melalui Departemen Luar Negeri perlu lebih dominan. "Perpu atau Undang-Undang perlu dirancang. Tapi ini lebih kepada peranan pihak luar," imbuh Tamsil.

Soal tertangkapnya oknum nelayan Indonesia, karena mencuri di perairan Australia, Tamsil berkomentar, kalau nelayan-nelayan Indonesia yang mencuri ikan di perairan negara lain tidak terlalu merugikan.

Tamsil menambahkan, selama ini yang memiliki izin saja tidak bisa beroperasi, karena harus mengeluarkan biaya yang lebih besar. Pengeluaran untuk BBM lebih besar ketimbang pendapatan yang diperoleh nelayan. (mca)
 
Sumber : http://www.stopiuufishing.com

READ MORE - Pemberantasan Illegal Fishing Perlu Diplomasi

Wajah Indonesia di Atas Geladak Kapal

Oleh Ahmad Yunus

Ernest Hemingway, seorang novelis, menulis sebuah kisah ciamik tentang pergulatan seorang lelaki tua dan laut. Novel ini mengisahkan tentang gejolak bathin dan fisik manusia tentang makna sebuah perjalanan hidup. Laut memberikan makna yang luas, kehidupan alam sejati. Tanpa aturan. Tanpa tapal batas.

Lelaki tua, yang menjelang kehidupannya akan berakhir, harus menentukan arah hidup. Ke mana ia akan melangkah setelah kematian tiba menjemputnya. Lelaki tua. Kesendirian. Laut lepas. Memberikan ikatan yang kuat. Sekaligus sebuah kegetiran.

Lelaki tua tak mudah menaklukan laut. Ia terlalu kuat. Dan lelaki tua terlalu ringkih. Bahkan, sampan yang ia tumpangi, terlalu rapuh untuk menahan gempuran ombak. Dan gemuruh badai. Laut dengan mudah menelan sampan dan lelaki tua. Namun, laut juga tahu, kisah perjalanan lelaki tua belum berhenti di sana. Bahkan ketika kematian telah menjemputnya.

Ernest hanya menulis dalam bentuk sebuah novel. Saya tidak tahu, apa kisah “The Old Men and The Sea” adalah tentang dirinya. Dimana, ia menemukan inspirasi ketika memulai novel legendaris itu?

Saya teringat pada perjalanan Fadzham Fadlil. Seorang lelaki paruh baya, berkulit gelap karena terbakar matahari, dan menemukan hidupnya di atas laut. Ia melakukan perjalanan dari New York hingga ke Indonesia. Seorang diri dengan kapal layar.

Kisahnya, petualangannya tak jauh-jauh amat seperti kisah Robinson Crusoe. Dan ia sendiri pengagum kisah petualangan itu. Beberapa kali, laut dan badai hampir menghempaskan kapalnya. Dan cuaca dingin mengakibatkan hemothermia tinggi.

Saya mengenal dia di Bandung. Dan sempat menulis kisah perjalanannya untuk Majalah Playboy Indonesia. Bahkan, dia sempat mengajak saya untuk ikut berlayar. Namun, sampai sekarang belum juga terwujud.

Fadzam Fadlil-akrab dipanggil, Sam- melalui pahit manis perjalanannya itu. Ia menutup sepenggal kalimat dalam buku travelingnya. The last but not least, the journeys more important than the destination it self.

Ernest Hemingway dan Fadzham Fadlil, menulis tentang dunia laut, kapal, dan manusia. Sebuah kisah tentang kehidupan. Wajah dari sebuah perjalanan.

Saya, bukan anak yang tumbuh dan dekat dengan laut. Bahkan, gambaran laut dalam benak saya, selalu menakutkan. Dunia yang penuh mitos dan kegetiran. Mungkin, dunia laut hanya cukup dinikmati melalui buku saja. Sambil minum kopi dan kudapan. Namun, perjalanan “Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa” tak bisa menghindari laut. Perjalanan ini akan memakan waktu delapan bulan. Berkeliling Indonesia ke 100 pulau. Naik sepeda motor.

Kami-Saya dan Farid Gaban-melintasi dari satu pulau ke pulau lainnya. Dan singgah untuk melihat secara dekat bagaimana kehidupan manusia di 100 pulau itu. Kapal, sesuatu yang jarang kami tumpangi, akhirnya menjadi ruang yang dekat dengan kehidupan saya. Sebuah ruang komunal bersama. Perjumpaan dengan seribu wajah. Bahasa. Etnisitas. Dan segala tetek bengek lika liku kehidupan dalam kapal.

Kisah ini saya temukan dalam kapal perintis. Kapal pabrikan Jepang berkekuatan 900 ton. Namanya, Terigas. Pengelolanya PT. Mitra Nusantara Raya, sebuah perusahaan pelayaran nasional. Ia melayani pulau-pulau kecil. Dari Bengkulu, Pulau Enggano, Kepulauan Mentawai, Tanjung Pinang, Pulau Terempak, Pulau Midai, Pulau Laut, Pulau Sedanau, Ranai-Natuna, Pulau Subi hingga menyebrang ke Sintete di Kalimantan Barat.

Kapal ini bukan kapal penumpang. Melainkan kapal pengangkut barang. Mulai dari telur, terigu, beras, sabun mandi, minyak goreng, oli, sampai kertas. Namun, entah ide siapa, kapal ini akhirnya menjadi kapal penumpang orang. Di atas geladak kapal terbentang terpal berwarna biru. Mirip acara hajatan di kampung. Penumpang tidur, duduk, berdiri, jongkok, tengkurap, merokok, makan, minum bahkan mungkin pacaran di bawah terpal itu.

Republik ini tak mampu menyediakan sebuah kapal yang nyaman dan bersih. Sekaligus aman, banyak kasus kecelakaan akibat kapal penumpang tenggelam. Kalau lagi banyak muatan, alamak, mendadak geladak kapal seperti pasar. Tua muda. Lelaki perempuan. Anak-anak hingga bayi mungil berserakan macam ikan pindang. Berdesakan dan berebut tempat. Geladak juga penuh dengan dengan barang bawaan penumpang.

Paling menyedihkan adalah perempuan usia muda-tua, ibu menyusui dan tentunya anak-anak. Perempuan tak punya tempat khusus. Mulai dari toilet, kamar mandi, hingga tempat untuk merebahkan badan. Mereka juga sulit untuk naik turun ke atas geladak. Tingginya sekitar satu meter dan sempit. Sisi kiri kanan badan kapal dibatasi pagar besi. Kalau tak hati-hati bisa terkilir atau jatuh ke laut. Jalan sempit ini juga kotor penuh sampah. Terkadang licin akibat muntah penumpang.

Pemandangan terasa pengap. Udara kotor. Banyak debu. Angin laut langsung menerpa wajah. Kalau badai datang, angin terasa kuat dan cukup dingin. Saya tak bisa membayangkan bagaimana nasib orang yang punya penyakit alergi. Atau terbiasa hidup mapan, naik mobil pribadi, ada fasilitas pendingin ruangan, biasa naik pesawat terbang kelas satu, dan kemudian mencoba mencicipi tidur di atas geladak kapal ini.

Makan mie instant setiap hari, minum kopi dalam plastik, mandi dalam bak air yang keruh, buang hajat di toilet berukuran 1 x 1.5 meter persegi, atau makan ransum gratisan; nasi dengan menu kacang goreng dan satu sendok asin teri. Laju kapal ini seperti siput. Kalau gelombang keras, kapal goyang. Bikin mual. Bau muntah orang terasa menempel di hidung. Juga bau pesing yang datang dari mana.

Hiburan selama perjalanan adalah melihat matahari terbenam. Ini satu-satunya yang menarik perhatian. Kalau cuaca bagus, matahari seperti membakar langit. Lambat laun menjadi siluet. Dan meninggalkan warna emas, kuning dan biru kuat. Rasanya teduh melihat ada orang yang mengaji, suaranya terdengar samar-samar. Mendengar adzan Maghrib menjelang senja. Dan melihat orang yang tengah shalat sambil duduk menghadap kiblat.

Kami melewati kondisi seperti ini selama enam malam tujuh hari. Rata-rata untuk menempuh satu pulau ke pulau lainnya sekitar 12 jam. Setiap singgah sekitar dua hingga enam jam. Menurunkan penumpang, barang dagang, isi air bersih hingga menampung penumpang baru. Dua kali mandi dalam kapal. Dua kali berenang di pantai yang jernih.

Sedih dan pahit melihatnya. Pemerintahan Indonesia tak becus menyediakan fasilitas publik yang benar. Mungkin juga tutup mata untuk urusan seperti ini. Dan lebih penting suka mengobarkan perang terhadap terorisme. Begitu juga dengan media yang sama sekali tidak menjalankan jurnalismenya. Dan melihat isu publik, seperti transportasi laut, kurang penting dan relevan.

Tapi warga republik ini tak punya pilihan. Ini satu-satunya transportasi umum. Kapal ini yang membantu mendorong roda geliat kehidupan di pulau-pulau kecil itu. Mengantarkan penumpang untuk melepas rasa rindu dengan keluarganya di rumah. Memutarkan ekonomi lokal.

Selama perjalanan, tak pernah saya melihat penyelenggara negara yang menggunakan kapal perintis ini. Kebanyakan pedagang dan masyarakat biasa saja. Warga yang biasa bertelanjang dada. Dan membiarkan bulu keteknya dilihat orang. Pedagang yang menjajakan barang dagangannya- jualan kerupuk, jeruk, semangka-. Dan ketika laku, si penjual langsung merapal doa, agar si pembeli rejekinya bertambah dan menjadi sholehah.

Dalam geladak saling bercengkrama, menatap, memberikan senyum dan sentuhan dengan cara sendirinya. Tanpa ada yang mengatur dan memimpin. Ada Jawa. Melayu. Tionghoa. Sunda. Acheh. Seperti keluarga besar. Tak ada prasangka ras, perselisihan agama, maupun perbedaan pandangan politik. Kecuali, waspada agar barang bawaan pribadi hilang atau tertukar. Inilah wajah Indonesia di atas geladak kapal. Rasanya seperti sambal. Kalau dirasakan terlalu dalam bisa mencret dan sakit perut.

Orang macam saya juga tak bisa protes. Apalagi mengeluh minta pelayanan khusus. Cukup melihat. Mendengar. Merasakan sedikit mual. Dan menulis dengan senang hati di atas geladak kapal. Diantara lalu lalang dan gemuruh suara orang yang bercengkrama. Dan jerit tangisan seorang bayi kecil yang merengek. Cukup tersenyum melihat wajah Indonesia yang jauh dari Jakarta. ***

Sumber: http://zamrud- khatulistiwa. or.id/?p= 773
READ MORE - Wajah Indonesia di Atas Geladak Kapal