Tampilkan postingan dengan label Tehnologi Perikanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tehnologi Perikanan. Tampilkan semua postingan

03 Februari, 2021

Aplikasi Laut Nusantara Mampu Ketahui Keberadaan 3 Jenis Ikan Mahal Ini

Merdeka.com - XL Axiata dan Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mengembangkan aplikasi Laut Nusantara agar semakin besar manfaatnya bagi nelayan Indonesia.

Hasil pengembangan terakhir berupa fitur baru yang mampu menunjukkan keberadaan tiga jenis ikan dengan nilai ekonomi yang tinggi, yaitu Lemuru Bali, Tuna Mata Besar, dan Cakalang. Fitur ini sudah bisa dimanfaatkan oleh nelayan sejak Januari 2021 ini.

Chief Corporate Affairs Officer XL Axiata, Marwan O Baasir, mengatakan, Fitur terbaru ini bisa memandu nelayan untuk mendapatkan ikan-ikan dengan nilai ekonomi yang tinggi, yang juga dikenal sulit untuk ditangkap.

"Tentu kami berharap fitur baru ini bisa membantu usaha para nelayan untuk meningkatkan pendapatan mereka," jelas Marwan.

Berdasarkan uji coba di sejumlah lokasi yang dilakukan oleh BROL, tingkat ketepatan informasi sebaran Tuna dan Cakalang ini cukup tinggi, yaitu antara 60 persen – 80 persen, tergantung kondisi musim penangkapan ikan.

“Artinya, berdasarkan petunjuk dan informasi yang diberikan, peluang nelayan untuk mendapatkan jenis-jenis ikan tersebut cukup besar,” tambah dia.

Sementara itu menurut Kepala BROL, Dr. Teja Arief Wibawa, fitur baru tersebut bekerja berdasarkan data dari Laboratorium Riset Kelautan yang dikelola oleh BROL. Hasil penelitian menunjukkan, setiap jenis ikan memiliki preferensi atau kesesuaian habitat masing-masing yang berpengaruh pada pola hidup ikan, termasuk migrasi, berkembang biak, juga kebiasaan makan.

Berbekal pengetahuan tersebut, BROL melakukan pemodelan habitat ikan Tuna, Cakalang, dan Lemuru. Kondisi laut yang dijadikan dasar analisis pemodelan tidak hanya kondisi permukaan laut menyangkut suhu dan klorofil-a, tetapi sudah mempertimbangkan kondisi lingkungan pada lapisan renang ikan-ikan tersebut yang mencakup temperatur sub-surface, salinitas, dan arus.

"Tuna dan Cakalang termasuk di antara jenis ikan dengan permintaan pasar yang tinggi. Pada tahun 2017, Indonesia memasok lebih dari 16 persen produksi Tuna dan Cakalang dunia. Karena itu, keduanya dan juga Tongkol oleh menjadi program prioritas bidang perikanan tangkap oleh KKP. Sementara itu, Lemuru merupakan ikan khas dan spesifik di selat Bali, yang juga memiliki nilai ekonomi tinggi," jelasnya.

Dipergunakan 5.000 nelayan

Sejak pertama kali diluncurkan pada 2018, aplikasi Laut Nusantara telah dikenalkan kepada komunitas nelayan di berbagai daerah. XL Axiata dan BROL telah melakukan sosialisasi di 28 kota/kabupaten, bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat.

Total lebih dari 5.400 nelayan telah mengikuti pelatihan dan sosialisasi penggunaan aplikasi Laut Nusantara. Mereka juga mendapatkan bantuan perangkat smartphone yang telah dipasang aplikasi Laut Nusantara dan paket data dari XL Axiata.

Aplikasi Laut Nusantara saat ini telah sampai pada tahap pengembangan Fase 4. Aplikasi ini merupakan aplikasi digital yang ditujukan bagi kalangan nelayanan tradisional yang biasa menggunakan peralatan tradisional dan beroperasi tidak lebih dari 20 mil dari garis pantai.

Selain data-data yang akurat mengenai prakiraan lokasi keberadaan ikan, di aplikasi ini nelayan juga bisa mendapatkan informasi data cuaca laut terkait kecepatan angin dan tinggi gelombang, perhitungan BBM, hingga fitur untuk panggilan darurat. Selain itu, ada juga fitur perbincangan yang bisa nelayan manfaatkan untuk mendapatkan informasi mengenai harga ikan tangkapan di pasar.

[faz]

Sumber : https://m.caping.co.id/news/detailvc/8194725?utm_content=1036277605&utm_campaign=62e3fa86195d709a572f31496c3a3a4bfedb00885fd64fe2f5358dd8489d3668 

 




Pegawai Pelabuhan Perikanan




 
Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempatnya




 



Berminat Hub 081342791003 
  Menyediakan Batik Motif IKan
Untuk Melihat Klik
Yang Berminat Hub 081342791003



Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di 





Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.

Berminat Hub 081342791003

 

 

READ MORE - Aplikasi Laut Nusantara Mampu Ketahui Keberadaan 3 Jenis Ikan Mahal Ini

05 Juli, 2018

Menteri Susi luncurkan perahu bambu buatan anak bangsa, pertama di dunia

Foto: Antara

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meluncurkan perahu berbahan bambu laminasi buatan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)Surabaya. Perahu jenis ini merupakan perahu pertama di dunia.

 "Ini inovasi yang bagus, kita harus coba pakai, dan sebuah pilihan pada saat hutan kita sudah habis. Kayu tidak ada, makin mahal, dan nelayan kita memerlukan kapal-kapal ukuran seperti ini. Jadi sangat bagus," kata Susi di Pantai Kenjeran, dikutip Antara, Senin (2/7).
Susi berharap, perahu ini tidak hanya menjadi prototipe, namun bisa diproduksi untuk digunakan. "Indonesia mampu bikin seperti ini, masa harus impor," imbuhnya.

Rektor ITS Prof. Joni Hermana mengatakan pengembangan perahu bambu laminasi ditujukan untuk memberi bahan alternatif kapal yang murah saat pasokan kayu masih sedikit dan harganya makin mahal.

"Bambu ini bahkan lebih kuat dari pada jati kelas dua. Ini merupakan komitmen ITS adalah menjawab apa yang menjadi kebutuhan dari masyarakat sehingga keberadaan perguruan tinggi seperti ITS terasa oleh masyarakat," jelasnya.


Wakil inventor Beito Deling 001 Heri Supomo menjelaskan, Baito Deling berasal dari Bahasa Jawa, deling yang artinya bambu dan baito berarti perahu. Sedang 001 disematkan sebagai tanda untuk prototipe yang pertama.
Dia pun memulai penelitian sejak 2012 mengenai penggunaan bambu ini. Dia menyebut, bambu laminasi memiliki kekuatan satu setengah lebih tinggi dibanding kayu jati. Selain itu, bambu lebih ekonomis 60 persen dari kayu jati yang digunakan saat ini.

Tak hanya itu, secara konstruksi bambu bisa digunakan sebagai bahan kapal karena semakin kena air, apalagi air asin, bambu akan semakin kuat. "Kapal ini berukuran enam meter, lebar dua meter dan berat 750 kilogram. Muat ikan 1,5 ton. Saya sudah menguji laminasi bambu di laut dan pengetesan. Bambu mampu 25 tahun," kata Heri. [merdeka.com


https://www.infopresiden.com/2018/07/menteri-susi-luncurkan-perahu-bambu.html?m=1

 Berita  Menteri Kelautan dan Perikanan Lainnya

Hub 081342791003
 
READ MORE - Menteri Susi luncurkan perahu bambu buatan anak bangsa, pertama di dunia

23 Maret, 2018

KKP Manfaatkan Limbah Sawit untuk Pakan Ikan

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto.(GATRA/Erry Sudiyanto/re1)
Pekanbaru, Gatra.com – Bunhkil (palm karnel meal/PKM) kelapa sawit menjadi salah satu bahan baku untuk pakan ikan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi porsi penggunaan tepung ikan yang sampai sekarang masih impor.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Kampar, Riau. Selasa (20/3).

Sebagai pakan ikan Institut Pertanian Bogor telah melakukan penelitian bunhkil terhadap komposisi kandungan nutrisi, seperti: kadar protein berkisar 15-18%; mengandung sekitar 10 kandungan asam amino esensial; kadar lemak sebesar 9,5%; serat kasar 25,19%; dan rasio Ca:P adalah 1:2,4. PKM juga mengandung trace mineral mangan (Mn) yang baik.

“Hasil penelitian yang dilakukan PPB menunjukkan penggunaan PKM sawit sebanyak 8% dalam pakan dapat menghasilkan kinerja pertumbuhan yang optimal bagi ikan lele,” kata Slamet dalam rilisnya, di Jakarta, Rabu (21/3).

Lanjut Slamet, di beberapa daerah masih ada kendala dalam penyediaan alternatif bahan baku pakan yang efisien. Sebenarnya bukan karena bahan baku yang langka, tapi lebih pada belum optimalnya sistem logistik pakan, utamanya konektivitas dari sumber bahan baku ke unit usaha pakan mandiri.

“Jalan keluarnya, mempermudah akses sumber bahan baku dengan koperasi induk pakan mandiri yang ada di daerah melaui kemitraan. Ini penting, apalagi ikan yang dibudidayakan sudah sangat adaptif terhadap pakan mandiri. Oleh karenanya, penggunaan bahan protein nabati menjadi alternatif untuk mengurangi porsi penggunaan tepung ikan,” kata Slamet.

Diketahui, di Propinsi Riau bunhkil ketersediaannya sangat melimpah. PKM sawit merupakan produk sampingan dari pembuatan minyak kelapa sawit. Ketersediaan PKM di dalam negeri sangat melimpah, bahkan 94% PKM yang diproduksi justru diekspor. Data Kementerian Perindustrian mencatat bahwa Indonesia sebagai negara penghasil PKM nomor 2 di dunia setelah Malaysia.

Slamet juga menambahkan, protein dari PKM dapat mengurangi penggunaan protein dari tepung ikan, sehingga harga pakan akan menjadi lebih murah.

Ia juga meminta Kepala Daerah untuk memfasilitasi kerjasama antara pabrik pengolah sawit dengan koperasi pakan mandiri dalam hal pemanfaatan PKM kelapa sawit melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Editor: Arief Prasetyo
READ MORE - KKP Manfaatkan Limbah Sawit untuk Pakan Ikan

14 Maret, 2018

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PENGGUNAAN GPS

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PENGGUNAAN GPS -  Saat іnі GPS аdаlаh sistem satelit navigasi уаng paling populer dan paling banyak diaplikasikan dі dunia, baik dі darat, laut, udara, maupun angkasa. Dan dalam mengaflikasinya mempunyai beberapa keuntungan dan kerugian,

Disamping di gunakan pada aplikasi-aplikasi militer, bidang-bidang aplikasi GPS уаng cukup marak saat іnі аntаrа lаіn meliputi survai pemetaan, geodinamika, geodesi, geologi, geofisik, transportasi dan navigasi, pemantauan deformasi, pertanian, kehutanan, dan bаhkаn јugа bidang olahraga dan rekreasi. Dan itu termasuk dalam penggunaan nya.

Tapi mungkіn bеlum banyak уаng tahu ара іtu ѕеbеnаrnуа GPS, 

GPS (Global Positioning System) аdаlаh sistem satelit navigasi dan penentuan posisi уаng dimiliki dan dikelola оlеh Amerika Serikat. 

Sistem іnі didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga-dimensi serta informasi mengenai waktu, secara terus menerus dі seluruh dunia tаnра bergantung waktu dan cuaca, bagi banyak orang secara simultan. 

semakin tinggi tuntutan akan informasi tеntаng posisi, kecepatan, percepatan ataupun waktu уаng teliti menjadikan Saat іnі  GPS ѕudаh banyak digunakan orang dі seluruh dunia dalam berbagai bidang aplikasi уаng menuntut 
Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan GPS
GPS

GPS dараt memberikan informasi posisi dеngаn ketelitian bervariasi dаrі bеbеrара millimeter ѕаmраі dеngаn puluhan meter. Dеngаn GPS kita dараt mengetahui posisi geografis kita (lintang, bujur, dan ketinggian dі аtаѕ permukaan laut), 

jadi dimanapun kita berada dі muka bumi ini, kita dараt mengetahui posisi kita dеngаn tepat.GPS dalam istilah formalnya аdаlаh NAVSTAR GPS, singkatan dаrі Navigation Satellite Timing and Ranging Global Positioning Sistem. GPS terdiri аtаѕ 3 segmen utama, уаіtu 

- segmen angkasa уаng terdiri аtаѕ satelit GPS, 

- segmen sistem kontrol уаng terdiri аtаѕ stasiun-stasiun pemonitor dan pengontrol satelit dan 

- segmen pemakai уаng terdiri аtаѕ pemakai GPS termasuk alat-alat penerima dan pengolah sinyal dan data GPS. 

Dalam penerapannya sinyal-sinyal уаng diterima оlеh GPS kеmudіаn diubah menjadi informasi tеntаng posisi (koordinat dan ketinggian). 

Dalam hal іnі data уаng diperoleh оlеh receiver mаѕіh mengandung unsur-unsur kesalahan аntаrа lаіn 

- kesalahan ephemeris (orbit), 

- bias ionosfir, 

- bias troposfir, 

- efek multipath, 

- cycle slips dan noise. 

Pembahasan Pengertian GPS Serta Kemampuannya,

GPS (Global Positioning System) аdаlаh sistem satelit navigasi dan penentuan posisi уаng dimiliki dan dikelola оlеh Amerika Serikat. 

Secara Simultan , Sistem іnі didesain untuk 

- memberikan posisi dan 

- kecepatan tiga-dimensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinyu dі seluruh dunia tаnра bergantung waktu dan cuaca, bagi banyak orang

Saat іnі GPS ѕudаh banyak digunakan orang dі seluruh dunia dalam berbagai bidang aplikasi уаng menuntut informasi tеntаng posisi, kecepatan, percepatan ataupun waktu уаng teliti. GPS dараt memberikan informasi posisi dеngаn ketelitian bervariasi dаrі bеbеrара millimeter (orde nol) ѕаmраі dеngаn puluhan meter.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PENGGUNAAN GPS

Beberapa kemampuan GPS аntаrа lаіn dараt memberikan informasi tеntаng posisi, kecepatan, dan waktu secara cepat, akurat, murah, dimana ѕаја dі bumi іnі tаnра tergantung cuaca. 

Sejarah GPS

Sejarah GPS dimulai dаrі awal tahun 1960-an dimana pada saat itu  Departemen Pertahanan (Dephan) Amerika Serikat merasa perlu memiliki sistem navigasi уаng akurat, 

Keakuratan tersebut diantaranya dараt berfungsi secara global, dalam segala cuaca, dan tersedia ѕеtіар saat. 

uji coba satelit Navstar 

pelaksanaan uji coba satelit Navstar уаng menjadi generasi pertama dаrі satelit GPS. Hіnggа tahun 1983, Berbagai pendekatan dan teknologi diuji coba ѕаmраі akhirnya pada akhir tahun 1973 Dephan AS menyetujui  dan terus mengembangkannya

masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan mengizinkan penggunaan GPS untuk pesawat sipil ѕеtеlаh terjadi insiden penembakan pesawat Korean Airlines, penerbangan 007 уаng dianggap “nyasar” melintasi perbatasan Uni Soviet. 

Sejak saat itu, GPS mulai disiapkan untuk dipergunakan оlеh kalangan sipil secara internasional, tеrutаmа untuk kalangan penerbangan dan kelautan. 

Lonjakan pesat industri GPS pertama terjadi dі tahun 1991 saat terjadinya Perang Teluk. 

Pada saat itu, Pentagon memesan 10.000 unit dan 3.000 unit perangkat GPS nonmiliter dаrі Trimble Navigation dan Magellan Systems. Pada perkembangan selanjutnya, perangkat GPS terus dikembangkan semakin baik, andal, dan terjangkau harganya.

Keuntungan GPS

Kelebihan GPS untuk Navigasi laut, udara dan darat аdаlаh untuk menentukan posisi,pemetaan,penunjuk arah target уаng dituju dan lain-lain. Salah satu contoh: aplikasi GPS dibidang militer pada umumnya dараt dibagi menjadi bеbеrара bagian misalnya, 

- pemetaan (penentuan posisi titik-titik target tеrutаmа pada masalah topografi angkatan darat, pencitraan, foto udara, dan bеbеrара analisis spasial уаng ditujukan untuk mendukung perencanaan operasi), navigasi, tracking (monitoring atau pemantauan), atau bаhkаn ѕеbаgаі tools penuntun posisi-posisi sasaran peluru kendali, Rover, UAV, dan AUV.
- Navigasi ѕеrіng kali dilakukan оlеh personel militer уаng sedang menempuh perjalanan dаrі ѕuаtu tempat kе tempat-tempat lаіn уаng menjadi targetnya. 

Olеh karena itu, dеngаn mengkombinasikan peta, kompas, dan GPS (receiver), maka proses navigasi menjadi lebih mudah dan menyenangkan bagi siapapun. 

Dеmіkіаn рulа bagi personel militer уаng bergerak dеngаn menggunakan platform (kendaraan), bіlа menggunakan peta (terutama dijital) dan GPS (receiver), navigasinya menjadi jauh lebih mudah, menyenangkan, dan cepat.

Kekurangan GPS

Penggunaan GPS untuk mengetahui posisi уаng mengandalkan setidaknya tiga satelit іnі tіdаk selamanya akurat. Terkadang, dibutuhkan satu satelit untuk memperbaiki sinyal уаng diterima. kеmudіаn  ketidak akuratan posisi уаng ditunjukkan. 

GPS іnі dipengaruhi оlеh posisi satelit уаng berubah dan adanya proses sinyal уаng ditunda. Kecepatan sinyal GPS іnі јugа seringkali berubah karena dipengaruhi оlеh kondisi atmosfer уаng ada. Sеlаіn itu, sinyal GPS јugа mudah terifensi dеngаn gelombang electromagnetic lainnya.

Perlu di garis Bawahi bahwa GPS аdаlаh satu-satunya sistem navigasi ataupun sistem penentuan posisi dalam bеbеrара abad іnі уаng memiliki kemampuan handal seperti itu. Bahkan dengan Kemajuan Zaman saat Ini teknologi GPS terus Berkembang.

Kemajuan GPS antara Lain ;

- Ketelitian dan kecermatan dаrі GPS dараt mencapai bеbеrара mm 

- untuk ketelitian posisinya, bеbеrара cm/s 

- untuk ketelitian kecepatannya dan bеbеrара nanodetik untuk ketelitian waktunya. 

Ketelitian posisi уаng diperoleh аkаn tergantung pada bеbеrара faktor уаіtu metode penentuan posisi, geometri satelit, tingkat ketelitian data, dan metode pengolahan datanya.Perkembangan GPS. 

BACA JUGA

Cоntоh alat-alat navigasi digunakan dі kapal : 


2. GPS 

3. SONAR 



6. RADIO 

7. RADAR 

8. PERUM 


READ MORE - KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PENGGUNAAN GPS

05 Maret, 2018

Bedanya Fish Jelly dengan Jelly Fish apa ya?

Fish jelly adl lumatan daging ikan yg digunakan sbg bahan baku utk pembuatan produk olahan ikan, al : bakso, nugget, kaki naga, sosis dsb. 

Nah, kalo jelly fish itu adalah hewan laut yg disebut ubur ubur. Beda banget kan!!
 

Lihat 
 
READ MORE - Bedanya Fish Jelly dengan Jelly Fish apa ya?

01 Maret, 2018

PENDETEKSIAN KADAR FORMALIN PADA DAGING IKAN TUNA (Thunnus sp.) MENGGUNAKAN SENSOR MQ 3 dan MQ 137

Ikan merupakan sumber bahan pangan yang bermutu tinggi, terutama karena banyak mengandung protein yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Namun demikian, ikan merupakan bahan pangan yang mudah mengalami kerusakan atau kemunduran mutu (perishable food) terutama pada daerah tropis. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan pendinginan agar suhu ikan tetap rendah. Kondisi suhu yang rendah mengakibatkan pertumbuhan bakteri pembusuk dan proses-proses biokimia yang berlangsung menjadi lebih lambat. Bahan yang sering digunakan untuk mempertahankan suhu ikan tetap rendah adalah es, tetapi daya tahan es yang terbatas dan adanya tambahan biaya untuk pembelian es maka penggunaan es sering diabaikan. Oleh karena itu penyalahgunaan bahan kimia berbahaya sebagai pengawet ikan masih saja terjadi hingga saat ini.

Salah satu bahan kimia yang sering digunakan sebagai pengawet ikan adalah formalin (larutan formaldehid dalam air dengan kadar 10-40%). Penggunaan formalin dimaksudkan untuk memperpanjang umur simpan, karena senyawa ini bersifat anti mikroba yang efektif dalam membunuh bakteri. Formalin merupakan bahan kimia berbahaya yang dilarang penggunaannya untuk bahan tambahan makanan (MenKes No. 033 Tahun 2012) karena dapat menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel/jaringan) serta kematian.

Hingga saat ini metode untuk mendeteksi kandungan formalin pada bahan makanan telah banyak dikembangkan baik secara kualitatif maupun kuantitatif, diantaranya menggunakan spektrofotometer ultra violet (UV), metode Nash, Gas Chromatography dan metode Schiff. Beberapa metode tersebut cukup sensitive tetapi memerlukan waktu analisis yang cukup lama dan tidak ekonomis karena biaya pengujian yang relatif mahal. Sementara itu, pengujian formalin dengan menggunakan tes kit masih memiliki beberapa kelemahan. Hasil pengujian menggunakan tes kit berupa perubahan warna pada larutan uji jika sampel mengandung formalin. Metode ini meskipun relative cepat tetapi harus merusak bahan yang diuji dan adanya kesulitan dalam pendeteksian warna yang ditimbulkan khususnya pada konsentrasi rendah. Beberapa metode tersebut pada prakteknya sulit dilakukan sehingga perlu pengembangan metode baru.

LRMPHP telah melakukan penelitian pendeteksian formalin pada daging ikan tuna (Thunnus sp.) menggunakan sensor MQ 3 dan MQ 137. Bahan utama kedua sensor ini adalah SnO2 yang memiliki konduktifitas rendah pada udara bersih. Konduktifitas sensor akan meningkat seiring dengan kenaikan konsentrasi gas. Diagram modul sensor gas yang digunakan untuk mendeteksi kadar formalin ditunjukkan pada Gambar 1.

  Gambar 1. Diagram modul sensor gas
Pengujian formalin dilakukan pada daging fillet ikan tuna seberat 50 gr yang sebelumnya direndam selama 10 menit menggunakan larutan formalin dengan kosentrasi 0,025%, 0,05%, 0,075% dan 0,1%. Analisis data statistik dilakukan menggunakan Minitab dan data diolah menggunakan analisis korelasi sederhana Pearson dengan tingkat signifikan p=0,05. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai pembacaan sensor MQ 3 dan MQ 137 mengalami kenaikan seiring bertambahnya konsentrasi larutan formalin yang digunakan untuk merendam daging ikan tuna. Berdasarkan uji korelasi sederhana disimpulkan bahwa sensor MQ 3 dan MQ 137 dapat digunakan untuk mendeteksi kadar formalin pada daging ikan tuna.
Sumber: Prosiding Semnaskan-UGM XIV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan 2017

http://www.mekanisasikp.web.id/2018/01/pendeteksian-kadar-formalin-pada-daging.html 
READ MORE - PENDETEKSIAN KADAR FORMALIN PADA DAGING IKAN TUNA (Thunnus sp.) MENGGUNAKAN SENSOR MQ 3 dan MQ 137

Penentuan Posisi Optimal Pembekuan Ikan Dalam Freezer

Ikan merupakan salah satu bahan pangan yang penting bagi manusia karena kandungan gizinya yang tinggi. Sebagaimana produk hayati lainnya, ikan merupakan bahan pangan yang cepat mengalami kerusakan (highly perishable food). Suhu merupakan faktor penting yang dapat mempercepat proses kerusakan, serta menurunkan mutu dan kesegaran ikan. Mutu dan kesegaran ikan dapat dipertahankan jika ditangani dengan hati-hati, cepat, bersih dan disimpan pada suhu rendah. Salah satu upaya penanganan pascapanen suhu rendah yang dapat dilakukan yaitu dengan cara pembekuan.

Ada berbagai peralatan pembekuan ikan yang selama ini digunakan, salah satunya yaitu alat pembeku komersial yang lazim dikenal sebagai freezer. Penggunaan freezer sangat populer, baik untuk skala rumah tangga, industri maupun untuk kegiatan penelitian. Pada kegiatan penelitian misalnya, freezer digunakan untuk menyimpan sampel atau produk yang memerlukan pengujian atau proses lebih lanjut. Salah satu titik kritis yang terjadi pada proses ini adalah ketidakseragaman suhu antar posisi pada ruang penyimpanan beku serta perbedaan suhu real time dengan dengan suhu setting. Akibatnya produk yang disimpan dapat mengalami kemunduran mutu, padahal diharapkan produk yang disimpan memiliki kualitas sebagaimana pada saat awal dimasukkan ke dalam freezer, serta memiliki kualitas yang seragam meskipun diletakkan pada posisi yang berbeda tergantung ketersediaan slot pada freezer

Penelitian tentang tingkat keseragaman suhu ruang freezer dan penentuan posisi optimal untuk pembekuan dan penyimpanan ikan telah dilakukan oleh LRMPHP. Peralatan yang digunakan meliputi chestfreezer dengan kapasitas 1050 L, termometer 4 channel merk Lutron seri TM-946 dengan probe merk Krisbow seri KW0600301 dan termohigrometer merk Krisbow seri KW06-561. Rangkaian penelitian meliputi pengaturan data logger suhu, perekaman kelembapan lingkungan selama percobaan berlangsung, pengujian dengan beban kosong dan pengujian dengan menggunakan beban. Pengukuran suhu dilakukan pada 4 titik sebagai perlakuan (T1: bagian tengah kiri freezer, T2: bagian tengah atas freezer, T3: bagian tengah bawah freezer, T4: bagian tengah kanan freezer) di dalam ruang freezer yang mewakili bentuk tiga dimensi bangun ruang, dengan menggunakan variasi dua suhu setting tertinggi (knop 5 dan knop 7). 
Skema pengukuran suhu tampak depan (a) chestfreezer, (b) termometer T1, T2, T3, T4, posisi probe

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelembapan udara berkisar antara 44,95 – 48,59%, dengan rata-rata untuk masing-masing suhu setting (knop 5 dan knop 7) sebesar 46,57% dan 46,57%. Hasil uji-t menunjukkan bahwa kelembapan udara tidak berbeda nyata antar suhu setting. Rata-rata suhu saat pengujian beban kosong berturut-turut untuk probe T1, T2, T3 dan T4 sebesar -14,35 oC, -13,07 oC,-18,45 oC dan -14,10 oC untuk knop 5; dan -15,20 oC, -13,93 oC, -19,30 oC dan -15,20 oC untuk knop 7. Rata-rata suhu saat pengujian dengan beban berturut-turut untuk probe T1, T2, T3 dan T4 sebesar -7,12 oC, -7,15 oC, -13,72 oC, -9,42 oC untuk knop 5; dan -7,75 oC, -7,78 oC, -14,50 oC, -10,12 oC untuk knop 7. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perbedaan posisi memberikan pengaruh yang berbeda nyata, baik untuk pengujian beban kosong maupun pengujian dengan beban. Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa posisi T3 merupakan perlakuan yang terbaik (suhu paling rendah pada semua setting suhu) dan berbeda nyata dengan 3 perlakuan lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ruang penyimpanan/ruang pembekuan pada freezer yang diuji coba memiliki suhu yang tidak seragam. Hasil pengujian baik tanpa beban maupun dengan beban menunjukkan bahwa posisi yang baik untuk meletakkan sampel dengan deviasi terendah antara suhu yang diukur dan suhu setting yaitu
Sumber : Prosiding Semnaskan-UGM XIV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan 2016
READ MORE - Penentuan Posisi Optimal Pembekuan Ikan Dalam Freezer

Peti Ikan Segar Berpendingin Roda Tiga untuk Pedagang Ikan Keliling

Ikan merupakan produk pangan yang mudah rusak, karena proses pembusukan terjadi segera setelah ikan mati. Pembusukan ikan adalah faktor utama penyebab terjadinya penurunan mutu ikan segar. Aktivitas pembusukan secara kimiawi dan enzimatis dapat diperlambat dengan menerapkan sistem rantai dingin. Penanganan ikan segar selama transportasi dan penyimpanan sebaiknya dilakukan pada suhu di bawah 5 0C. 

Tempat penyimpanan ikan yang digunakan oleh pedagang ikan keliling umumnya menggunakan kotak stirofom yang ditambahkan es sebagai pendingin kemudian diletakkan di atas sepeda motor. Penggunaan bongkahan es yang besar dan kasar serta tajam dapat menyebabkan kerusakan fisik ikan akibat gesekan yang terjadi antara es dengan permukaan ikan selama kegiatan transportasi. Selain itu penambahan es dapat mengurangi kapasitas peti serta menambah bobot sehingga dapat mengganggu keseimbangan berkendaraan karena kapasitas angkut sepeda motor terbatas. 

Untuk mengatasi hal itu, LRMPHP telah mengembangkan sespan berpendingin untuk pedagang ikan keliling yang mampu mempertahankan suhu dan mutu kesegaran ikan selama proses penjualan ikan eceran oleh pedagang ikan keliling. Peti berpendingin tersebut terbuat dari bahan Polyurethane berukuran 81 x 53 x 83 cm (PxLxT) yang dikonstruksikan dengan menambahkan sebuah roda pada peti pada bagian samping sebelah kiri sepeda motor (Gambar 1). Sistem pendingin mengadopsi sistem pendingin chest freezer merk Modena tipe MD 15 dengan spesifikasi kompresor Panasonic 123 Watt.
Gambar 1. Peti insulasi berpendingin roda tiga yang didesain LRMPHP
Peti insulasi berpendingin roda tiga dengan kapasitas hingga 90 kg di atas telah diuji coba oleh pedagang ikan keliling di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Hasilnya menunjukkan bahwa peti ikan berpendingin tersebut dapat mempertahankan suhu ikan di bawah 3 0C pada saat dilakukan penjualan ikan secara eceran selama 3,8 jam. Suhu peti pada uji coba dalam kondisi kosong selama 120 menit mencapai 11,1 0C - 15,5 0C. Nilai organoleptik ikan setelah kegiatan transportasi adalah 7,1 - 7,3, sedangkan nilai TPC adalah 23 x 103 - 24 x103 koloni/g. Nilai TPC dan organoleptik ikan setelah transportasi memenuhi standar mutu ikan segar (SNI), hal ini menunjukkan bahwa peti ikan segar berpendingin dapat mempertahankan mutu ikan segar selama proses penjualan ikan secara eceran. 
Sumber : Jurnal Pasca Panen dan Bioteknologi KP, Vol 10 No. 1 (2015)
Ikan merupakan produk pangan yang mudah rusak, karena proses pembusukan terjadi segera setelah ikan mati. Pembusukan ikan adalah faktor utama penyebab terjadinya penurunan mutu ikan segar. Aktivitas pembusukan secara kimiawi dan enzimatis dapat diperlambat dengan menerapkan sistem rantai dingin. Penanganan ikan segar selama transportasi dan penyimpanan sebaiknya dilakukan pada suhu di bawah 5 0C. Tempat penyimpanan ikan yang digunakan oleh pedagang ikan keliling umumnya menggunakan kotak stirofom yang ditambahkan es sebagai pendingin kemudian diletakkan di atas sepeda motor. Penggunaan bongkahan es yang besar dan kasar serta tajam dapat menyebabkan kerusakan fisik ikan akibat gesekan yang terjadi antara es dengan permukaan ikan selama kegiatan transportasi. Selain itu penambahan es dapat mengurangi kapasitas peti serta menambah bobot sehingga dapat mengganggu keseimbangan berkendaraan karena kapasitas angkut sepeda motor terbatas. Untuk mengatasi hal itu, LRMPHP telah mengembangkan sespan berpendingin untuk pedagang ikan keliling yang mampu mempertahankan suhu dan mutu kesegaran ikan selama proses penjualan ikan eceran oleh pedagang ikan keliling. Peti berpendingin tersebut terbuat dari bahan Polyurethane berukuran 81 x 53 x 83 cm (PxLxT) yang dikonstruksikan dengan menambahkan sebuah roda pada peti pada bagian samping sebelah kiri sepeda motor (Gambar 1). Sistem pendingin mengadopsi sistem pendingin chest freezer merk Modena tipe MD 15 dengan spesifikasi kompresor Panasonic 123 Watt. Gambar 1. Peti insulasi berpendingin roda tiga yang didesain LRMPHP Peti insulasi berpendingin roda tiga dengan kapasitas hingga 90 kg di atas telah diuji coba oleh pedagang ikan keliling di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Hasilnya menunjukkan bahwa peti ikan berpendingin tersebut dapat mempertahankan suhu ikan di bawah 3 0C pada saat dilakukan penjualan ikan secara eceran selama 3,8 jam. Suhu peti pada uji coba dalam kondisi kosong selama 120 menit mencapai 11,1 0C - 15,5 0C. Nilai organoleptik ikan setelah kegiatan transportasi adalah 7,1 - 7,3, sedangkan nilai TPC adalah 23 x 103 - 24 x103 koloni/g. Nilai TPC dan organoleptik ikan setelah transportasi memenuhi standar mutu ikan segar (SNI), hal ini menunjukkan bahwa peti ikan segar berpendingin dapat mempertahankan mutu ikan segar selama proses penjualan ikan secara eceran. Sumber : Jurnal Pasca Panen dan Bioteknologi KP, Vol 10 No. 1 (2015) 
READ MORE - Peti Ikan Segar Berpendingin Roda Tiga untuk Pedagang Ikan Keliling

Perancangan Sistem Termal Evaporator Tipe Shell and Tube untuk Aplikasi RSW pada Kapal 10–15 GT

Turunnya mutu ikan hasil tangkapan setelah proses penanganan dan transportasi di kapal saat ini masih tinggi. Seperti halnya mutu hasil tangkapan ikan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng Kabupaten Gunung Kidul akibat proses penanganan ikan di atas kapal yang kurang baik. Salah satu penyebab turunnya mutu ikan tersebut adalah metode pendinginan yang digunakan saat ini masih menggunakan es balok. Es banyak digunakan sebagai media pendingin karena mudah digunakan dan memiliki kapasitas pendinginan yang besar. Namun penggunaan es balok memiliki kekurangan antara lain ikan di bagian bawah palka rusak karena tertekan oleh ikan di bagian atasnya. Selain itu juga bongkahan es yang tajam dapat merobek kulit/perut ikan, kondisi ini diperparah dengan adanya guncangan di kapal. Ketersediaan es balok juga kadang terbatas dan sulit didapat.

Sistem pendingin ikan yang umum digunakan di PPP Sadeng adalah sistem pendingin palka dengan es. Rata - rata kapal motor 10 - 15 GT di PPP Sadeng memiliki 3 buah palka, dan masing - masing palka mampu menampung es balok sekitar 45 - 60 buah es balok. Dengan berat es per balok sekitar 50 kg maka es yang dibawa sekitar 2,5 - 3 ton/trip dengan lama penangkapan sekitar 5-12 hari. Penggunaan es dengan jumlah tersebut juga menambah berat kapal dan mengurangi kapasitas volume palkah untuk ikan dan menambah kebutuhan bahan bakar selama penangkapan ikan.

Kapal ikan 12 GT dengan 3 palka di PPP Sadeng Gunung Kidul
Salah satu alternatif upaya peningkatan penanganan ikan di kapal adalah penerapan system refrigerasi di atas kapal untuk meningkatkan kemampuan simpan ikan hasil tangkapan nelayan. Sistem pendinginan refrigerasi yang banyak digunakan saat ini adalah sistem pendinginan kompresi uap dan sistem pendinginan absorpsi uap. Salah satu teknologi refrigerasi untuk penanganan ikan di kapal yang tepat saat ini adalah refrigerated sea water (RSW) pada pendinginan dengan suhu sekitar 0 ºC. Sistem RSW memiliki beberapa kelebihan seperti potensi kerusakan fisik yang relatif kecil, penurunan suhu yang cepat, serta suhu yang lebih stabil dan merata. Salah satu komponen penting sistem RSW yang berfungsi untuk pendinginan air RSW adalah evaporator.

Perancangan evaporator yang tepat di kapal diperlukan sehingga efisien serta mudah dalam pemasangan dan penggunaan/perawatan. Salah satu tipe evaporator yang sesuai untuk RSW kapal dari performansi datanya adalah evaporator dry expansion tipe liquid chiller konstruksi shell and tube horisontal, dengan pertimbangan luas permukaan yang dibutuhkan kecil (cocok untuk ruang kecil di kapal 10-15 GT), penempatan evaporator horizontal terhadap kapal, koefisien perpindahan panasnya besar dan konstruksi lebih sederhana serta perawatan cukup mudah, murah, dapat dilakukan secara kimiawi.

Penelitian perancangan  termal evaporator tipe shell&tube untuk aplikasi RSW di kapal berukuran 10-15 GT di PPP Sadeng Kabupaten Gunung Kidul dengan kapasitas sampai 1,3 ton ikan telah dilakukan oleh LRMPHP. Target perancangan meliputi perhitungan/analisis dan penentuan spesifikasi evaporator tipe shell&tube yaitu luasan permukaan perpindahan panas, jumlah pass, diameter dan panjang shell, serta diameter, panjang, dan bahan pipa. Perancangan evaporator dilakukan dengan menggunakan metode Kern. Hasil rancangan didapatkan beban pendinginan dengan unsur utama ikan dan air laut RSW sebesar 4,52 kW. Siklus refrigerasi menggunakan sistem kompresi uap refrigeran R22 dengan evaporator shell&tube, dengan target suhu air RSW adalah -1 0C maka suhu evaporasi diatur -8 0C. Hasil rancangan evaporator berupa shell&tube 4 pass dengan luas permukaan perpindahan panas 1,015 m2, diameter shell 150 mm dengan panjang 85 mm, serta pipa diameter 15,875 mm sejumlah 24 buah berbahan tembaga.

Sumber : Prosiding Semnaskan-UGM XIV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan 2017
http://www.mekanisasikp.web.id/2018/02/perancangan-sistem-termal-evaporator.html 
READ MORE - Perancangan Sistem Termal Evaporator Tipe Shell and Tube untuk Aplikasi RSW pada Kapal 10–15 GT

10 Desember, 2017

Mutu Tepung Ikan Rucah Pada Berbagai Proses Pengolahan

Ikan rucah merupakan hasil samping pengolahan utama ikan maupun dari hasil tangkapan sampingan yang dipandang tidak memiliki nilai ekonomis, sehingga cenderung tidak diproses dan dibuang oleh pengolah atau nelayan. Jenis ikan ini memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan untuk diproses menjadi suatu produk dalam rangka pemanfaatan hasil samping, penerapan konsep zero waste dan peningkatan nilai tambah. Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memanfaatkan ikan rucah sebagai bahan baku tepung ikan.

Tepung ikan merupakan produk hasil pengeringan dan penggilingan dari ikan atau hasil samping pengolahan ikan tanpa penambahan material apapun. Proses pengolahan tepung ikan sangat beragam, tergantung pada komposisi kimia dan ketersediaan teknologi yang ada. Proses pengolahan tepung ikan secara umum dibagi menjadi dua metode yaitu metode kering dan metode basah berdasarkan kandungan lemak ikan, dimana pada metode basah dilakukan dengan cara perebusan. Penelitian pengolahan tepung ikan dengan proses perebusan yang dilanjutkan dengan pengepresan, pengeringan dan penggilingan telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Beberapa penelitian lain juga menggunakan proses pengukusan dan presto sebagai proses utama untuk pembuatan tepung ikan. Perbedaan proses pengolahan tersebut diduga mempengaruhi kualitas mutu tepung ikan yang dihasilkan.

Kajian mutu tepung ikan berdasarkan perbedaan proses pengolahan ini telah dilakukan oleh beberapa penelitian terdahulu, namun belum memberikan informasi mutu tepung ikan secara lengkap sebagaimana tercantum dalam standar mutu tepung ikan SNI 01-2715-1996. Oleh karena itu, LRMPHP melakukan penelitian tentang mutu tepung ikan rucah pada berbagai proses pengolahan. Bahan utama penelitian berupa ikan rucah, dicuci menggunakan air lalu diolah dengan tiga macam perlakuan, yaitu perebusan selama 30 menit, pengukusan selama 30 menit dan presto selama 15 menit. Selanjutnya dilakukan proses penirisan dan penghalusan dengan menggunakan grinder. Material dalam kondisi lumat kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama 2-3 hari hingga kering (estimasi kadar air < 10%), selanjutnya dilakukan proses penepungan dengan menggunakan blender. Tepung ikan yang diperoleh dianalisis dengan parameter pengujian kimia, mikrobiologi dan organoleptik sesuai Standar Nasional Indonesia SNI 01-2715- 1996.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa kestabilan suhu selama proses dapat tercapai pada perlakuan perebusan dengan rendemen akhir tertinggi pada perlakuan pengukusan, yaitu sebesar 23.04%. Seluruh perlakuan memberikan nilai kadar protein di atas 50% dan kadar lemak di bawah 14% (memenuhi persyaratan SNI). Hasil pengujian mikrobiologi terhadap tepung ikan rucah menunjukkan negatif Salmonella untuk semua perlakuan sehingga memenuhi persyaratan SNI. Perlakuan perebusan mempunyai nilai tertinggi untuk parameter kenampakan dan tekstur pada pengujian organoleptik. Secara umum, perlakuan perebusan memberikan mutu tepung ikan rucah terbaik, dengan kadar air, protein, serat, abu, lemak, kalsium, fosfor dan NaCl berturut-turut sebesar 5,62%, 58,02%, 1,46%, 15,79%, 13,39%, 4,36%, 4,13%, dan 0,36%.
READ MORE - Mutu Tepung Ikan Rucah Pada Berbagai Proses Pengolahan