Tampilkan postingan dengan label Danau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Danau. Tampilkan semua postingan

25 Februari, 2016

Lima Ton Ikan di Danau Maninjau Mati Mendadak

Petani menepikan perahunya di antara ikan-ikan yang mati di Danau Maninjau, Nagari Bayur, Kab.Agam, Sumatera Barat, 20 Februari 2016.

Petani menepikan perahunya di antara ikan-ikan yang mati di Danau Maninjau, Nagari Bayur, Kab.Agam, Sumatera Barat, 20 Februari 2016. (Antara/Iggoy El Fitra)


Lubuk Basung - Sebanyak lima ton ekor ikan keramba jaring apung milik petani di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mati mendadak akibat kekurangan oksigen setelah angin kencang melanda daerah itu sejak Rabu (17/2).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Agam, Ermanto di Lubuk Basung, Sabtu, mengatakan, lima ton ikan jenis nila dan mas ini tersebar di Nagari Bayur, Maninjau, dan Duo Koto.

"Ikan yang mati dengan ukuran siap panen beras dari 30 unit keramba jaring apung (KJA). Ikan ini mati semenjak Jumat (19/2) pagi akibat kekurangan oksigen setelah angin kencang melanda daerah itu semenjak beberapa hari lalu," tambahnya.

Dengan kematian ini, petani mengalami kerugian sekitar Rp 18 juta.
Agar kerugian petani tidak begitu banyak, ia mengimbau kepada petani segera memanen ikan yang sudah besar, mengurangi memberikan pakan ikan, memindahkan ikan ke kolam dan lainnya.

Lalu, mengatur jarak antara KJA dengan KJA lain sekitar 10 meter dan selalu sediakan pompa air untuk menambah oksigen.
Selain itu, petani harus jeda untuk beberapa bulan untuk melakukan aktivitas lain, agar kondisi air menjadi normal.

"Apabila kondisi perairan tidak memungkinkan, segera melakukan panen dini, sehingga tidak mengalami kerugian yang cukup besar," ujarnya.
Sebelumnya, DKP Agam akan memberikan surat edaran kepada petani agar mengurangi padat tebar bibit ikan dengan tujuan agar petani tidak mengalami kerugian cukup besar.

Ia mengatakan, lima ton ini merupakan kematian ikan di Danau Maninjau pertama pada 2016. Sementara pada 2015 sekitar 175 ton ikan KJA di Danau Maninjau mati mendadak dengan kerugian sekitar Rp 3 miliar.

Pada 2014 sebanyak 1.087,38 ton, pada 2013 sebanyak delapan ton, pada 2012 sebanyak 300 ton, pada 2011 sebanyak 500 ton dan 2010 sebanyak 500 ton.
Salah seorang petani KJA di Danau Maninjau, Soni mengatakan ikan KJA miliknya mati sekitar 350 kilogram yang tersebar di lima dari 18 petak KJA.
"Sebelum mati mendadak, ikan tersebut mengapung mencari oksigen ke permungkaan," ujarnya.

Agar tidak mengalami kerugian, pihaknya memanen ikan dini yang sudah siap panen, mengurangi pemberian makan dan lainnya.

http://www.beritasatu.com/ekonomi/350455-lima-ton-ikan-di-danau-maninjau-mati-mendadak.html
READ MORE - Lima Ton Ikan di Danau Maninjau Mati Mendadak

26 Juli, 2014

Siasat Budaya Menjaga Toba

Oleh: : Ahmad Arif

KOMPAS/AHMAD ARIF

Penambangan batuan karst di kaki Gunung Pusuk Buhit, Kecamatan
Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Senin (19/5). Penetapan
Toba sebagai Geopark Nasional, dan rencana untuk mengusulkannya sebagai
Taman Bumi atau Geopark Global, seharusnya diikuti dengan pengembangan
ekonomi yang ramah lingkungan.

TAMAN bumi merupakan pengakuan UNESCO atas bentang alam terpilih. Danau
Toba di Sumatera Utara, kini dalam daftar yang akan diusulkan, setelah
Kaldera Batur di Bali diakui dunia. Namun, taman bumi sebenarnya proses.
Tujuan akhirnya menjaga mutu alam Toba dan kemakmuran masyarakatnya.

Setelah Kaldera Batur ditetapkan sebagai anggota Jaringan Taman Bumi
Global (Global Geopark Network) oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu
Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada 20
September 2012, Pemerintah Indonesia seperti demam taman bumi atau geopark.

Menurut situs resmi UNESCO, sejak 1999 hingga Maret 2014, taman bumi di
dunia terdapat di 100 lokasi di 32 negara. Indonesia baru memiliki satu
taman bumi yang diakui UNESCO sejak 2012, yaitu Batur Global Geopark
(BGG), taman bumi kedua di Asia Tenggara setelah Langkawi di Malaysia.

Taman bumi merupakan konsep konservasi kawasan yang digagas UNESCO di
bawah koordinasi The International Network of Geoparks (INoG). Kawasan
dikonservasi untuk alasan geologi, nilai arkeologi, ekologi, ataupun
budayanya.

Kini, sejumlah kawasan di Indonesia diusulkan mendapat pengakuan serupa.
Tahun ini yang diusulkan adalah hutan fosil Merangin (Jambi), Gunung
Sewu (Jawa Timur) dan tahun berikut diusulkan Danau Toba. Sebelumnya,
Toba ditetapkan sebagai Taman Bumi Nasional oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, beberapa bulan lalu.

Tak seorang pun bisa mengingkari, Nusantara diberkahi sederet bentang
alam menawan. Para penjelajah dan penjajah dari Barat telah lama
mengakui keelokan alam Nusantara itu dengan menyematkan berbagai istilah
seperti ”mooi indie” hingga zamrud khatulistiwa. Selain pemandangannya,
bentang alam itu punya riwayat menarik dan kaya dengan keragaman budaya.

Namun, belajar dari Geopark Batur, penetapan oleh UNESCO tak membawa
dampak berarti. Bahkan penambangan batuan lava dan pasir, yang merupakan
kekhasan Kaldera Batur, sulit diatasi.

”Kita sering salah memahami geopark sebagai tujuan akhir, sehingga
begitu suatu kawasan ditetapkan sebagai geopark, mengira otomatis akan
dapat untung banyak. Tak ada dana yang digelontorkan UNESCO terhadap
geopark. Mereka hanya memasukkan bentang alam kita dalam jaringan
global,” kata Indyo Pratomo, geolog dari Museum Geologi-Bandung.

Taman bumi, menurut Indyo, merupakan proses agar kita lebih menjaga
alam. ”Perusakan kawasan yang telah ditetapkan sebagai Geopark Global
justru bisa jadi kampanye negatif. ”Bayangkan, jika ada turis datang
dari negara lain karena mendapat informasi dari UNESCO soal keindahan
Kaldera Batur, lalu saat di sana dia menemukan bentang alam yang
dirusak,” kata dia.

Karena itu, rencana mengusulkan Kaldera Toba sebagai Geopark Global,
harus diikuti penyiapan masyarakat. Hal terpenting dari taman bumi
adalah, membangun kesiapan rakyat untuk terlibat aktif menggali kekayaan
budaya, menjaga alam, dan mempromosikan Kaldera Toba. ”Kalau dari segi
keunikan bentang alam geologinya, Toba tak perlu diragukan lagi. Namun,
bagaimana dengan manusianya?” kata Indyo.

Alam dan budaya

Dengan panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer, Toba merupakan
danau vulkanik terluas di dunia. Danau itu terbentuk dari letusan
raksasa (supervolcano) sekitar 74.000 tahun lampau. Dampak letusan
gunung api terkuat dalam 2 juta tahun terakhir ini disebut banyak ahli
nyaris menamatkan umat manusia, salah satunya oleh antropolog Stanley H
Ambrose dari University of Illinois.

Letusan hebat itu juga mengosongkan dapur magma di perut Toba. Kubah
gunung itu runtuh, menciptakan lubang dalam. Batuan lalu menutup lubang
itu di dasar dan tebing pejal mengelilinginya, menjebak air hujan. Danau
Toba pun terbentuk.

Namun, magma yang tersisa di bawah Danau Toba mendesak naik perlahan,
mendorong bebatuan padat yang menyumbat jalan ke atas. Melalui proses
ribuan tahun, penyumbat itu terdorong ke atas. Penyumbat itulah Pulau
Samosir.

Bukti-bukti pengangkatan Pulau Samosir itu tercetak pada fosil ganggang
(diatomae) yang bisa ditemui nyaris di seluruh pulau itu. Bebatuan di
tepi Danau Sidihoni, danau di atas danau di ketinggian 1.314 mdpl atau
919 meter dari ketinggian permukaan Danau Toba, juga mengandung lapisan
endapan yang menguatkan dugaan Samosir pernah ada di dasar kaldera.

”Riwayat geologi Toba yang ajaib dan keindahan bentang alam luar biasa
itu tak ada artinya kalau warga sekitar tak paham dan merusaknya,” kata
Indyo. Setelah ditetapkan sebagai taman bumi nasional, pengembangan
ekonomi kawasan itu harus lebih ramah lingkungan.

Sebagai bentang alam kaya sumber daya, Toba lama dipadati penduduk.
Sebagaimana juga dialami bentang alam lain di Nusantara, tantangan
terbesar Toba adalah dominannya pendekatan pembangunan ekstraktif.
”Penurunan mutu lingkungan Toba jadi masalah utama danau ini,” kata
Mangaliat Simarmata, Ketua Earth Society for Danau Toba.

Pembabatan hutan terus dilakukan. Sisa vegetasi sekitar Toba, menurut
Badan Lingkungan Hidup Sumut, tinggal 12 persen. Kerusakan ekologi
sekitar Toba terjadi seiring penurunan mutu air danau. Bahkan, air Danau
Toba tak layak konsumsi karena pencemaran limbah domestik, perikanan
berupa keramba jaring apung dan limbah peternakan.

Upaya menjadikan Toba sebagai Taman Bumi Global harus jadi titik balik
memahami danau itu. Jika warga memahami Toba lebih baik, kesadaran
menjaga lingkungan akan menguat. ”Kedahsyatan Toba sudah dikenal para
geolog atau vulkanolog luar negeri, tetapi belum banyak dimengerti
masyarakat kita. Tantangan kini adalah menarasikan Toba agar dimengerti
masyarakat,” kata Irwansyah Harahap, antropolog dari Universitas
Sumatera Utara, yang turut aktif berkampanye konservasi alam dan budaya
Toba.

Keberadaan taman bumi juga bisa menjadi titik balik untuk lebih memahami
dan menghargai kebudayaan yang ribuan tahun berkembang di Toba. Jadi,
taman bumi bisa menjadi strategi kebudayaan demi menghidupkan lagi
kesadaran masyarakat Toba agar menjaga kekayaan alam dan budaya yang
terabaikan.

http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000007411020
READ MORE - Siasat Budaya Menjaga Toba

08 Januari, 2014

Menikmati Keindahan Danau Sentani dan Kota Jayapura

Bersama keluarga berkunjung ke Kota Sentani dan Kota Jayapura Papua pada tanggal 29 Desember 2013.

 Latar Belakang Danau Sentani diambil dari Di Ifar Gunung Situs Tugu Mac Arthur
 Latar Belakang Kota Sentani diambil dari Di Ifar Gunung Situs Tugu Mac Arthur








Mukhtar, A.Pi - Salsabilla Rahmadani Putri - Larantika Angriati Putri - Kerismiaty

 Keindahan Kota Jayapura dari atas Gunung pemancar TVRI








READ MORE - Menikmati Keindahan Danau Sentani dan Kota Jayapura

08 Juni, 2011

Situ Patengan, Danau di Tengah Kebun Teh

Oleh Olenka Priyadarsani

Siapa bilang berlibur harus pergi jauh dan mengeluarkan uang banyak? Saya sangat yakin bahwa esensi berlibur adalah keluar dari rutinitas sehari-hari yang menjemukan dan melakukan sesuatu yang lain. Jadi Anda bisa berlibur di mana saja: berkeliling dunia atau suatu tempat yang tak terlalu jauh dari rumah.

Situ Patengan (atau Patenggang) di Ciwidey, Bandung Selatan, dapat dijadikan salah satu pilihan destinasi akhir pekan bagi Anda yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Jaraknya, 185 km dari Jakarta melalui tol Cipularang.


Suasana di Situ Patengan. Foto: Olenka Priyadarsani

Terletak di ketinggian sekitar 1600 m di atas permukaan laut, danau ini dikelilingi kebun teh Rancabali. Anda tidak hanya dapat menyaksikan danau yang tenang, tapi juga menikmati hijaunya kebun teh dengan topografi memesona.

Nama danau ini berasal dari kata pateang-teangan yang berarti saling mencari. Alkisah, dahulu kala dua insan manusia bernama Ki Santang jatuh cinta kepada Dewi Rengganis yang sangat cantik. Setelah berpisah sekian lama, mereka bertemu kembali di daerah yang kini disebut Batu Cinta.

Ketika berkunjung ke sana baru-baru ini, saya benar-benar takjub dengan pemandangan di sana. Saya tak menyangka Situ Patengan ternyata seindah itu — sebab tempat ini tidaklah seterkenal objek wisata lain di sekitar Bandung.

Untuk memasuki lokasi danau, Anda harus membayar tiket masuk Rp 6 ribu per orang dan Rp 11.500 per mobil. Tidak terlalu mahal bukan?

Dari gerbang tiket menuju lokasi danau, Anda akan melalui jalan yang membelah kebun teh. Pemandangannya sungguh luar biasa. Sebuah danau membentang di tengah hamparan kebun teh dan di tengah-tengah danau, terdapat sebuah pulau kecil.

Jika ingin mengunjungi Batu Cinta (tempat Ki Santang bertemu Dewi Rengganis), Anda dan rombongan bisa menggunakan perahu dayung dengan ongkos Rp 130 ribu pp — yang bisa ditawar hingga setengah harga.

Perjalanan ke lokasi Batu Cinta membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Di lokasi ini, Anda dapat mendaki bukit di belakangnya, memasuki kebun teh dan mengambil gambar di situ. Ada pula sebuah tempat yang lebih tinggi dari sekelilingnya, sehingga Anda bisa leluasa mengambil gambar sekeliling danau.

Waktu terbaik untuk datang ke Situ Patengan adalah pagi hari, saat langit masih berwarna biru bersih. Perpaduan biru langit dan hijau kebun teh menghasilkan pemandangan yang tak terlupakan.

Jadi, berlibur tidak mesti pergi jauh dan mahal, bukan?

http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/116-situ-patengan-danau-di-tengah-kebun-teh
READ MORE - Situ Patengan, Danau di Tengah Kebun Teh

09 Maret, 2011

15 Tahun Lagi Danau Limboto Lenyap

Penulis: Aris Prasetyo | Editor: A. Wisnubrata

KOMPAS/Aris Prasetyo Danau Limboto, di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, dilihat dari Benteng Otanaha, pada Kamis (24/2). Kedalaman danau menurun drastis dari 14 meter pada tahun 1932 menjadi tiga meter pada tahun ini. Revitalisasi danau mendesak dilakukan.

GORONTALO, KOMPAS.com — Diperkirakan dalam kurun waktu 15 tahun lagi Danau Limboto di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, akan lenyap. Penyebabnya adalah pendangkalan yang terus-menerus terjadi setiap tahun. Kini, kedalaman danau hanya 3 meter saja atau menurun dari 14 meter pada tahun 1932.

Kepala Bidang Lingkungan Hidup pada Balai Lingkungan Hidup, Riset, dan Teknologi Informasi Provinsi Gorontalo Rugaya Biki mengatakan hal itu, Kamis (3/3/2011) di Gorontalo. Luasan danau juga berkurang drastis dari 7.000 hektar pada tahun 1932 menjadi 3.000 hektar saja pada tahun ini. Penyebab terbesar pendangkalan adalah endapan lumpur yang masuk ke dalam danau.

”Jika tidak ada perlakuan terhadap danau tersebut, kami prediksikan 15 tahun lagi danau akan lenyap atau rata dengan permukaan darat. Padahal, danau ini sangat vital perannya sebagai tangkapan air hujan untuk mencegah banjir di Gorontalo,” kata Rugaya.

Rugaya mengatakan, pendangkalan danau dipengaruhi matinya sebagian besar sumber mata air 23 sungai dan anak sungai yang bermuara di Danau Limboto. Akibatnya, saat terjadi hujan tanah di dasar sungai tergerus hujan dan terbawa ke danau. Dari 23 sungai dan anak sungai itu, hanya tiga sungai yang masih normal.

Kepala Balai Lingkungan Hidup, Riset, dan Teknologi Informasi Provinsi Gorontalo Rauf A Hatu mengatakan, tanggung jawab pemulihan danau tidak semata-mata ada di tangan pemerintah, perlu keterlibatan masyarakat dan lembaga nonpemerintah yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Apalagi, pemulihan danau membutuhkan waktu yang panjang dan dana besar .

http://sains.kompas.com/read/2011/03/03/16163664/15.Tahun.Lagi.Danau.Limboto.Lenyap.

READ MORE - 15 Tahun Lagi Danau Limboto Lenyap

05 Januari, 2011

Danau Sentani Tercemar Limbah Domestik

Liputan6.com, Jakarta:* Pembuangan limbah sawit dan kegiatan
penambangan disebut-sebut mendominasi pencemaran lingkungan selama 2010.
Rupanya, tak hanya sungai-sungai di Indonesia yang dipastikan tercemar
akibat aktivitas perkebunan sawit dan penambangan. "Lima danau juga tercemar
limbah," kata Kepala Departemen Advokasi Eksekutif Nasional Wahana
Lingkungan Hidup (Walhi) Mukri Friatna di Jakarta, awal Januari 2011.

Kelima danau yang tercemar itu adalah Danau Sentani di Jayapura, Provinsi
Papua, tercemar limbah domestik, Danau Universitas Hasanuddin di Makassar,
Provinsi Sulawesi Selatan, yang tercemar limbah logam berat, dan Situ
Rawabadung di Jakarta Timur yang dipastikan tercemar mercuri. Selain itu
Danau Sembuluh di Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalimantan Tengah, juga
tercemar limbah minyak kelapa sawit (CPO) dan Danau Penantian di Muaraenim,
Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, tercemar limbah Pembangkit Listrik
Tenaga Uap.

Pencemaran air danau tersebut dilihat dari tingginya tingkat BOD (*Biological
Oxygen Demand*), COD (*Chemical Oxygen Demand*), dan keasaman air (PH) yang
melampaui baku mutu yang ditetapkan. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.
907/Menkes/SK/VII/2002, tingkat keasaman air (PH) harus antara 6,5 hingga
8,5. Nilai ini sama dengan yang telah ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia
(WHO) yaitu air bisa diminum jika PH 6,5 hingga 8,5.

Walhi mendata selama 2010 telah terjadi 75 kali pencemaran yang
mengakibatkan 65 sungai dan lima lokasi perairan laut tercemar. Pencemaran
air di danau, Mukri menambahkan, menyebabkan masyarakat setempat tak bisa
lagi memanfaatkan air danau untuk kebutuhan sehari-hari. Baik untuk konsumsi
maupun sumber nafkah dalam membudidayakan ikan.

Selain lima danau tersebut, sejumlah sungai juga turut tercemar selama 2010.
Misalnya Sungai Batota di Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur dan 18
sungai lainnya di sejumlah daerah tercemar limbah tambang batubara. Selain
itu, lima sungai tercemar tambang emas, Sungai Rembang dan Indralaya di Ogan
Ilir, Provinsi Sumsel tercemar minyak, Sungai Nuangan di Manado, Sulawesi
Utara, tercemar limbah B3, dan Sungai Bali di Kotabaru, Kaltim, tercemar
bijih besi, serta Sungai Ulu Muntok di Bangka, Provinsi Bangka-Belitung,
tercemar timah.

Sebanyak 21 sungai, 18 di antaranya di wilayah Sumatra dan lainnya di
Provinsi Kalimantan Barat dipastikan tercemar limbah sawit. Dan 22 sungai
lainnya juga tercemar limbah industri dan campuran


http://berita.liputan6.com/sosbud/201101/314305/Danau.Sentani.Tercemar.Limbah.Domestik
READ MORE - Danau Sentani Tercemar Limbah Domestik

16 November, 2010

Danau Toba di Udara

Danau Toba di Udara diambil pada tanggal 21 Oktoeber 2010 di atas pesawat Wings Air


Danau toba sendiri merupakan danau vulkanik yang terjadi saat ada ledakan gunung berapi pada 69.000 - 77.000 tahun lalu, diperkirakan juga sebagai salah satu ledakan gunung berapi terbesar di dunia.
Setelah ledakan tersebut, terciptalah kaledra (cekungan pada tanah sesudah letusan vulkanik) yang kemudian terisi oleh air dan kita ketahui sebagai danau toba sekarang.
Ditengah danau toba juga terdapat pulau kecil yang juga disebut pulau samosir.

Kalau kawan sekalian mau pergi melihat danau toba, disarankan untuk singgah ke kota parapat. Dari sana bisa melihat keindahan danau toba yang lebih jelas. Parapat juga termasuk salah satu kota pariwisata di sumatera utara. Jadi jangan khawatir untuk urusan akomodasi, perhotelan, dan sejenisnya. :) Mudah mudahan disana tersedia. Dan juga nantinya dari parapat, akses menuju kedaerah wisata toba lain disekitarnya lebih mudah, karena ada kapal, ferry, atau sejenisnya yang siap untuk mengangkut.

Mayoritas etnis penduduk di sekitar daerah danau toba adalah batak. Pada umumnya masyarakat disana bermatapencaharian sebagai petani, pedagang, dan nelayan. Sy pribadi sebenarnya cukup kagum dengan danau toba dan potensi alamnya terlepas dari fakta yang bilang bahwa jumlah turis sudah menurun disana akibat kurang perhatian dan perawatan dari pihak yang bertanggungjawab.
Apapun itu danau toba memang akan jadi tanggung jawab kita bersama dan wajib untuk dilestarikan.





READ MORE - Danau Toba di Udara

Danau Toba

Bertamansah ke Danau Toba Tanggal 22 Oktober 2010


Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Danau ini merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir.

Danau Toba sejak lama menjadi daerah tujuan wisata penting di Sumatera Utara selain Bukit Lawang dan Nias, menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.








READ MORE - Danau Toba

22 Juli, 2009

Sejumlah Danau di Indonesia Terancam Hilang

Jakarta,(ANTARA News) -Keberadaan sejumlah danau di Indonesia sudah mengkhawatirkan, di antaranya Danau Tempe di Sulawesi Selatan dan Danau Limboto di Gorontalo yang terancam hilang.

"Misalnya laju sedimentasi Danau Tempe yang mencapai 1-3 cm per tahun akan mengakibatkan danau ini menghilang di musim kering pada tahun 2018," kata Deputi Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup, Masnellyarti Hilman, yang mendampingi Menteri Lingkungan Hidup (LH) Rachmat Witoelar dalam jumpa pers tentang danau di Jakarta, Selasa.

Sedangkan Danau Limboto yang pada 1972-2002 laju penyusutan luasnya mencapai 50 hektare per tahun dan laju sedimentasi sampai 1,5-50 cm per tahun akan berubah menjadi kawasan rawa dan hanya menjadi danau legenda pada 2034, ujarnya.

"Jika kerusakan lahannya tidak segera direhabilitasi dan limbah domestik yang dibuang ke dalamnya tidak dikendalikan, danau ini akan sangat mengkhawatirkan. Apa lagi Danau Limboto bahkan sudah dikapling-kapling oleh masyarakat," katanya.

Sedangkan di Danau Maninjau di Sumatera Barat terjadi kematian massal ikan seberat 13.413 ton dan menyebabkan kerugian Rp150 miliar pada akhir 2008 akibat semakin banyaknya keramba ikan jaring apung yang mencemari danau, ujarnya.

Pencemaran danau, menurut dia, kebanyakan disebabkan sisa pakan ikan dan limbah domestik dari pemukiman yang masuk ke danau sehingga air danau tidak lagi memenuhi baku mutu air kelas dua dan menyebabkan terjadinya eutropikasi seperti "blooming" eceng gondok.

Selain itu, lanjut Nelly, sejumlah danau juga mengalami masalah dalam fungsinya sebagai daerah tangkapan air akibat kerusakan hutan di sekitarnya yang menyebabkan sedimentasi di dasar danau.

Misalnya Danau Rawa Pening di Jawa Tengah yang vegetasi hutannya tinggal 3,9 persen dan lahan kritisnya sampai 24 persen serta Danau Toba di Sumut yang vegetasinya tinggal 12 persen dan lahan kritisnya 23 persen.

Bahkan Danau Rinjani, Sentarum, dan Danau Dendam sudah tak ada lagi vegetasi di sekitarnya.

Sementara itu, Menteri LH Rachmat Witoelar mengatakan, untuk mewujudkan langkah pengendalian pencemaran dan kerusakan danau, pihaknya akan menyelenggarakan Konferensi Nasional Danau Indonesia (KNDI) pada 13-15 Agustus di Bali.(*)

READ MORE - Sejumlah Danau di Indonesia Terancam Hilang