28 Januari, 2024

El Nino Tingkatkan Konflik Buaya dan Manusia di Sulawesi Tenggara

 oleh di 26 January 2024

  • Memasuki pekan kedua di awal tahun 2024, BKSDA Sultra menerima empat laporan kemunculan buaya di sekitar pemukiman warga. Satu diantaranya memangsa bocah perempuan yang dilaporkan tewas.
  • Tahun 2022 dan 2023 merupakan periode dengan angka konflik buaya dan manusia tertinggi di Sultra, dengan tren penyerangan buaya yang menewaskan manusia terjadi di bulan Juli dan Desember.
  • Meningkatnya suhu panas bumi dan fragmentasi hutan diduga menjadi penyebab utama buaya meninggalkan habitatnya, berpindah mendekati pemukiman warga.
  • Pemerintah diharapkan sesegera mungkin menentukan mitigasi untuk mencegah bertambahnya korban serangan buaya di tahun 2024 dan tahun-tahun seterusnya, mengingat perubahan iklim masih diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

 

Isak tangis berselimut duka menyambut satu regu BASARNAS yang memulangkan temuan jasad seorang bocah perempuan berumur sembilan tahun ke rumah orang tuanya di Desa Lemoambo, Kecamatan Kusambi, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), pada pagi buta di pekan kedua Januari. Sore hari sebelumnya, bocah itu dilaporkan dimangsa buaya ketika sedang bermain-main di sungai bersama saudara dan teman-teman sebayanya.

Beberapa jam sebelum kejadian naas itu terjadi, satu tim BKSDA Sultra di Kendari yang beranggotakan lima orang petugas diberangkatkan menggunakan kendaraan mobil  operasional menempuh perjalanan satu jam lebih ke Desa Ambesea, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, usai mendapat laporan dari kepala desa setempat, yang menerima aduan warganya kembali melihat kemunculan buaya mendekati pemukiman.

“Tim rescue kami sudah ke lokasi di desa Ambesea untuk melakukan monitoring dulu, kalau memungkinkan, yaa kita melakukan evakuasi,” kata Prianto, Kepala Konservasi Wilayah II BKSDA Sultra.

Prianto tidak habis pikir, belum genap sebulan di awal tahun 2024, pihaknya telah menerima empat laporan kemunculan buaya di sekitar pemukiman warga, yang tersebar di berbagai kabupaten Sultra. “Apa penyebabnya, nanti kemudian,” ujarnya.

Abdul Manan, Pakar Konservasi Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari mengatakan penting untuk mencari tahu penyebab mengapa tren buaya menyerang manusia meningkat di periode Juli dan Desember dalam kurun dua tahun terakhir, pasca pandemi Covid 19.

“Ibarat gunung es, masalahnya kita harus melihat ke dalam air,” ujar Manan.

baca : Konflik Manusia dengan Buaya Sering Terjadi di Sumatera Barat, Peneliti Ingatkan Polanya

 

Air sungai yang keruh menyulitkan tim BASARNAS mencari jasad bocah perempuan yang diterkam buaya di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, memasuki pertengahan Januari 2024. Foto : BASARNAS Kendari

 

Dalam studi yang dilakukan Amy Newsom, Zita Sebesvari, dan Ine Dorresteijn, berjudul Climate change influences the risk of physically harmful human-wildlife interaction, yang dipublikasikan Biological Conservation, Oktober 2023, menyebutkan jika laporan tentang meningkatnya interaksi berbahaya antara manusia dengan satwa mengindikasikan bahwa perubahan iklim mungkin bertindak sebagai pembesar risiko untuk konfrontasi ini, namun dampaknya terhadap interaksi manusia–satwa liar masih belum diketahui secara pasti dalam wacana ilmiah.

Mereka menganalisis 331 laporan media di 44 negara mengenai konflik manusia dan satwa liar yang disebabkan oleh perubahan iklim itu menunjukan bahwa perubahan iklim dapat meningkatkan konflik fisik melibatkan satwa liar dan manusia. Satwa liar yang dimaksud berupa spesies berbisa, spesies karnivora darat dan air, serta hewan bertubuh besar.

Dari analisis itu, diidentifikasi empat tren dari perubahan iklim yang berdampak pada risiko korban jiwa manusia, yaitu: meningkatnya persaingan sumber daya antar manusia dan satwa liar akibat kekeringan; perluasan wilayah jelajah satwa berbahaya akibat suhu rata-rata yang lebih tinggi; perpindahan sementara satwa liar akibat kejadian cuaca ekstrem; dan perubahan pola perilaku sementara satwa liar akibat suhu rata-rata yang lebih tinggi.

“Peran perubahan iklim penting untuk dikaji mendalam, supaya ada solusi,” kata Manan.

Di Sulawesi Tenggara, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kendari memonitoring terjadi penurunan curah hujan dari total 2500mm di tahun 2022 menjadi 500mm di tahun 2023. Ini signifikan meningkatkan suhu panas bumi sebanyak 2 derajat celcius, yang sebelumnya suhu rata-rata di Sultra 32 derajat celcius naik menjadi 34 derajat celcius.

“Ini akibat dari El Nino yang cukup kuat mempengaruhi Sulawesi Tenggara,” kata Faizal Habibie, Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Kendari.

baca juga : Konflik Buaya dengan Manusia Makin Mengerikan di Maluku Utara

 

Petugas BKSDA mengevakuasi Buaya Muara (Crocodylus porosus) sepanjang 4 meter lebih yang ditangkap warga saat masuk ke area perkebunan warga di Kecamatan Lasalimu, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, Oktober 2023. Foto : BKSDA Sultra

El Nino adalah fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur, yang menyebabkan pergeseran pusat pertumbuhan awan dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudra Pasifik Tengah dan Timur. Akibatnya, curah hujan di Indonesia menurun.

El Nino membuat suhu permukaan air laut di perairan Laut Banda yang sebagian besar di wilayah Sultra menurun, sehingga suplai energi dari laut berkurang untuk membentuk awan-awan hujan. Sementara di daratan juga tidak cukup kuat untuk melepas–menguapkan energi panas ke udara untuk membentuk awan-awan hujan, ditambah lagi faktor atmosfer di bagian atas Sulawesi Tenggara dan sekitarnya cenderung lebih kering. Kondisi itu dirasakan di periode Agustus–September–Oktober yang hampir setiap hari terlihat cuaca cerah di langit.

“Ibarat air dalam panci yang tidak akan menguap lantaran tidak ada pengapian dari tungku,” kata Habibie.

BMKG Kendari mencatat pada Juli dan Desember di tahun 2022 suhu maksimum rata-rata mencapai 31,6 derajat celcius dan 34,5 derajat celcius. Pada Juli dan Desember 2023 suhu maksimum rata-rata 32,4 derajat celcius dan 35,7 derajat celcius.

BKSDA Sultra telah menerima laporan–mengevakuasi 10 ekor buaya di tahun 2022, dan delapan ekor di tahun 2023. Semuanya jenis Buaya Muara  (Crocodylus porosus) yang tersebar di berbagai wilayah Sultra. Dari sebaran itu, BASARNAS Kendari telah melakukan enam operasi evakuasi korban tewas diterkam buaya di tahun 2022, dan empat operasi evakuasi korban tewas diterkam buaya di tahun 2023.

Dalam kurun dua tahun itu, Konawe Selatan menempati urutan teratas konflik buaya dan manusia dengan jumlah total korban jiwa sebanyak 4 orang. Situasi membahayakan itu terjadi di periode waktu yang sama setiap tahun, yaitu pada Juli dan Desember.

Menurut Manan, sebagai langkah awal perlu dilakukan studi melibatkan akademisi perguruan tinggi untuk mencari tahu penyebab utama konflik buaya dengan manusia.

Dia menduga tata kelola lahan ratusan pertambangan yang tersebar di 14 kabupaten/kota oleh pemerintah dinilai buruk–menjadi penyebab terjadinya ketidakseimbangan alam yang berdampak pada hilangnya prinsip ekologi–harmoni antara manusia dengan satwa liar sudah tidak ada lagi sehingga mendorong hewan liar menjadi reaktif menyerang manusia.

Aktivitas menambang di kala musim hujan menyebabkan erosi yang melarutkan lumpur menyebabkan sungai menjadi keruh, berkorelasi pada berkurangnya hewan air yang menjadi sumber pakan utama buaya menjadi berkurang. Akibatnya, buaya berpindah tempat ke habitat air yang masih bersih untuk mencari makan sampai mendekat ke pemukiman warga. Dan di ekosistem yang baru itu, buaya akan lebih kejam untuk mempertahankan habitat barunya. Sementara, Juli dan Desember merupakan periode musim hujan tahunan.

baca juga : Buaya Badas Hitam, Satwa Liar Dilindungi Ikon Kutai Timur

 

Petugas BKSDA mengevakuasi Buaya Muara (Crocodylus porosus) sepanjang 4 meter lebih yang ditangkap warga saat masuk ke area perkebunan warga di Kecamatan Lasalimu, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, Oktober 2023. Foto : BKSDA Sultra

 

Fragmentasi di habitat buaya

“Salah satu yang menjadi penyebabnya meningkatnya serangan buaya ke manusia adalah adanya fragmentasi terhadap habitat buaya,” kata Prianto.

Fragmentasi habitat merupakan suatu proses perubahan lingkungan yang memiliki peran penting terhadap evolusi dan biologi konservasi. Seperti yang terjadi pada habitat buaya yang tersebar di beberapa wilayah Sultra, mengakibatkan sumber pangan pakan berkurang – buaya secara alami berpindah tempat mencari habitat baru yang lingkungannya masih terjaga dengan baik.

BKSDA Sultra telah mengidentifikasi berbagai aktivitas manusia yang diduga menjadi penyebab terjadinya fragmentasi habitat buaya, diantaranya: pembukaan hutan untuk tambang nikel, pembuatan hutan mangrove menjadi tambak ikan, dan perburuan ikan di sungai menggunakan potas dan setrum. Prianto mencontohkan bahwa pihaknya telah beberapa kali menerima laporan kemunculan buaya di sekitar area tambang nikel yang berdekatan dengan hutan mangrove.

Prianto memprediksi buaya banyak bermunculan dari air naik ke darat ketika musim bertelur–buaya mencari habitat yang tepat untuk menyimpan telurnya. “Itu biasanya saat memasuki musim hujan seperti sekarang.”

Prediksi itu tidak meleset, sesuai dengan bertambahnya laporan warga mendapati buaya semakin mendekati pemukiman pada periode Desember 2023 sampai dengan Januari 2004. Selama dua pekan awal di Januari, BKSDA Sultra telah menerima empat laporan dari berbagai wilayah. Situasi ini belum pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Namun katanya, sekarang hujan sudah tidak bisa diprediksi–berdasarkan informasi yang diperoleh musim hujan diperkirakan bergeser dimulai akhir Desember sampai Maret. Dia khawatir akan jumlah buaya berpindah tempat mencari habitat baru di sekitar pemukiman terus meningkat dalam beberapa bulan kedepan.

Dia berharap, pemerintah sesegera mungkin menentukan mitigasi untuk mencegah bertambahnya korban serangan buaya di tahun 2024 dan tahun-tahun seterusnya, mengingat perubahan iklim masih diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Prianto menyebut langkah mitigasi yang untuk sementara bisa dilakukan adalah mengedukasi masyarakat untuk mengurangi aktivitas di sekitar habitat buaya, utamanya di malam hari.

baca juga : Video: Saat Buaya Berusaha Memangsa Belut Listrik

 

Papan peringatan kepada masyarakat dan pengunjung untuk waspada beraktivitas di di sekitar danau yang menjadi habitat buaya dan salah satu sumber tangkapan ikan nelayan air tawar di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara Foto : Riza Salman/Mongabay Indonesia

 Manan mengimbau kepada para nelayan di sekitar habitat buaya untuk tidak ke sungai sementara waktu di bulan Juli dan Desember.

Sementara Edi Wulele, Kepala Desa Ambesea, masih diliputi rasa khawatir akan serangan susulan buaya ke warganya, yang marak terjadi dalam kurun tiga tahun belakangan ini pasca Pandemi Corona. Korban terakhir merupakan seorang ibu rumah tangga berumur 30 tahun, diterkam sore hari ketika hendak membersihkan diri di sungai usai menyemprotkan cairan pembasmi hama di kebun jagungnya yang berada di bantaran sungai tersebut, di pertengahan Desember 2023 lalu.

Konflik antara dan buaya terjadi ketika di area bantaran sungai dijadikan area perkebunan oleh warga setempat. Sebelumnya, buaya dan manusia hidup harmonis di Ambesea, buaya tidak pernah memangsa manusia.

“Yaa kejadiannya seperti itu, disebabkan adanya perambahan hutan. Air habitat mereka (buaya) yang dulunya jernih sudah tercemar, keruh,” ungkap Wulele. (***)

 Artikel yang diterbitkan oleh   https://www.mongabay.co.id/2024/01/26/el-nino-tingkatkan-konflik-buaya-dan-manusia-di-sulawesi-tenggara/?dc_data=19306737_huawei20-browser-indonesia&utm_source=taboola&utm_medium=taboola_news&ui=HHUI-485e8ac09cf8986b62114b6236de6fac4dfd95ac6a33b4461347d0ed5914670b

 

 


 

Lihat Artikel Ikan dan Satwa Lainnya



Pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan



 
Cari Kos Kosan di Kota Kendari ini tempatnya


 

Topi KKP

Berminat Hub 081342791003 
 
 
  Menyediakan Batik Motif IKan
Untuk Melihat Klik
Yang Berminat Hub 081342791003



Miliki Kavling tanah di Pusat Pemerintahan Kabupaten Bima di 


Investasi Kavling Tanah Perumahan di Griya Godo Permai yang merupakan Daerah Pengembangan Ibu Kota Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jarak hanya + 1 Kilo meter dari Kantor Bupati Kab. Bima dan dari jalan utama hanya + 500 Meter.
Berminat Hub 081342791003

 

 

Tidak ada komentar: