19 Mei, 2011

BEBERAPA JENIS IKAN AIR TAWAR JAWA BARAT TERANCAM LANGKA DAN PUNAH


“Indonesia merupakan negara yang berada di pusat keanekaragaman hayati dunia, termasuk kedalam segitiga karang dunia (Coral Triangle Initiative), namun berdasarkan hasil kajian sudah mengalami degradasi kuantitas dan kualitas keanekaragaman hayati lautnya” ujar Syamsul Bahri Lubis, A. Pi, MM Kasubdit Konservasi Jenis Ikan Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam pemaparanya pada Workshop Konservasi Jenis Ikan yang diadakan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat tanggal 10-11 Mei 2011.

Meningkatnya kebutuhan manusia dan tekanan terhadap lingkungan khususnya sumberdaya ikan, mengakibatkan terjadinya penurunan populasi beberapa biota perairan. Hal ini menyebabkan beberapa biota perairan menjadi langka dan terancam punah. Kondisi seperti ini pun terjadi di wilayah perairan laut dan sungai di Jawa Barat. Mengutip apa yang disampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat, Ir H Ahmad Hadadi, M. Si, bahwa degradasi sumber daya pesisir dan Laut serta PU, dan konflik pemanfaatan dan kewenangan memberikan dampak terancam punahnya ikan endemik serta jenis-jenis ikan lainnya yang ada di pesisir dan laut serta wilayah perairan umum. Berdasarkan informasi yang berkembang dalam workshop jenis ikan di Bandung, jenis-jenis ikan seperti ikan kancra, paray, kehkel, dan genggehek mulai langka ditemukan di perairan umum Jawa Barat. Seperti juga yang dilansir koran Kompas yang disampaikan Enclave dalam pemaparanya bahwa beberapa jenis ikan di sungai Citarum mulai punah. Untuk mengatasi penurunan populasi yang terus menerus dan mengantisipasi atau jangan sampai terlambat dalam penyelamatan jenis ikan ini dimasa yang akan datang, maka perlu dilakukan upaya konservasi jenis-jenis ikan tersebut, yaitu dengan penetapan status perlindungan jenis ikan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 03 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penetapan Status Perlindungan harus dilakukan melalui berbagai tahapan, yaitu usulan insiatif (orang perseorangan, kelompok masyarakat, lembaga penelitian, LSM, lembaga pendidikan dan lembaga pemerintah), verifikasi usulan (Tim verifikasi Dirjen KP3K), analisis kebijakan (Dirjen KP3K), rekomendasi ilmiah (LIPI) dan penetapan status oleh menteri. Seperti yang disampaikan Syamsul Lubis Bahri, bahwa tujuan workshop konservasi jenis ikan ini adalah untuk menginventarisasi jenis-jenis ikan endemik, langka, terancam punah, reproduksi rendah dan mengalami penurunan populasi di perairan Jawa Barat. Sehingga diharapkan adanya rumusan daftar spesies yang menjadi prioritas untuk ditindaklanjuti status pelindungannya.

Untuk mendukung upaya konservasi jenis ikan seperti yang dikemukakan Prof. Rahardjo Dosen FPIK IPB, diperlukan beberapa data dasar meliputi: nama spesies dan ciri morfologis, distribusi dan struktur populasi, reproduksi dan pertumbuhan, lingkungan, dan interaksi biotik. Oleh karena itu pengetahuan dan penelitian di bidang Iktiologi (biologi laut) memainkan peranan penting dalam mengantisipasi dan meminimalkan kepunahan keanekaragaman jenis ikan akibat perubahan iklim global dan faktor destruktif. Namun kita tidak harus menunggu untuk menyelamatkan sumberdaya ikan di negara kita, prinsip save it-use it-study it perlu diterapkan dalam upaya konservasi jenis ikan.


http://diskanlut.jabarprov.go.id/?mod=detilBerita&idMenuKiri=334&idBerita=72

Tidak ada komentar: