21 Desember, 2009

Perempuan dan Jejak Perubahan Iklim

Oleh *Khalisah Khalid*

Dalam studi lapangan di Desa Ilir, Indramayu, Jawa Barat, terungkap, sebagai buruh tani, Ibu Wati hanya bisa membawa pulang upah Rp 700.000 dalam 25 hari kerja saat masa panen dari pemilik lahan. Beberapa tahun belakangan, masa panen hanya bisa dinikmati satu tahun sekali dari semula dua kali akibat banjir dan kekeringan yang datang bergantian. Padahal, itulah penghasilan yang bisa didapat karena pendapatan suami sebagai nelayan tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Kisah perempuan ini sekaligus memaparkan fakta perubahan iklim bukanlah proses yang netral jender. Meski perubahan iklim dirasakan semua orang, pengaruhnya bisa berbeda pada laki-laki dan perempuan karena perbedaan pengalaman yang dikonstruksikan kepada keduanya

*Perubahan*

Karena itu, perubahan iklim kemudian melahirkan bentuk ketidakadilan lain kepada perempuan, selain warisan bentuk ketidakadilan dari model pembangunan yang melakukan pendekatan patriarkhis. Salah satunya berupa beban ganda akibat dampak perubahan iklim. Pada 2006, Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan 40 miliar jam waktu dihabiskan perempuan di seluruh dunia untuk mencari air.

Bentuk ketidakadilan lain adalah pengabaian semua pengalaman pribadi, termasuk yang diungkapkan dalam pola komunikasi yang khas dan pengetahuan perempuan tentang relasi tubuhnya dengan kekayaan alam, baik individu maupun kolektif, yang dipengaruhi kelas, etnisitas, usia, seksualitas, status perkawinan, wilayah hidup yang membuat perempuan memiliki keragaman pengalaman, peran, fungsi, dan posisi dalam mengelola kekayaan alamnya. Revolusi Hijau menjadi satu bukti pembangunan dunia berwajah patriarkhal, menjauhkan akses dan kontrol perempuan terhadap tanah dan alamnya.

*Negosiasi*

Putaran negosiasi perubahan iklim terus berjalan dengan alot dalam Pertemuan Para Pihak Ke-15 (COP-15) di Kopenhagen, Desember. Delegasi Indonesia dalam pertemuan climate hearing menyatakan pesimistis proses negosiasi bisa menguntungkan Indonesia di tengah negara industri, khususnya Amerika Serikat, yang terus bersiasat menghindar dari tanggung jawab dan pembahasan soal mekanisme pendanaan berbasis pasar dan utang luar negeri, termasuk mekanisme reduksi emisi akibat deforestasi dan degradasi hutan (REDD).

Pertanyaannya, bagaimana perundingan perubahan iklim jika ditarik pada entitas makhluk bumi bernama perempuan? Putaran negosiasi dalam COP-15 iklim lebih banyak berdebat soal mekanisme pendanaan berbasis pasar dan utang daripada membahas bagaimana seluruh makhluk bumi harus diselamatkan dari dampak perubahan iklim.

Perundingan tersebut jauh dari pembahasan mengenai kebutuhan spesifik perempuan. Tidak heran jika Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) tidak melihat Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai institusi negara yang penting untuk dilibatkan dalam upaya penanganan perubahan iklim. Akibatnya, hampir seluruh perumusan peta jalan perubahan iklim tidak melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan. Hasilnya, proses yang dibangun jauh dari kebutuhan spesifik perempuan dan tidak lebih hanya menempatkan perempuan sebagai obyek kebijakan.

Dalam sarasehan perubahan iklim yang dilaksanakan Civil Society Forum untuk keadilan iklim terungkap bahwa di banyak tempat, seperti di Nusa Tenggara Timur, perempuanlah yang lebih mengetahui kebutuhan pangan atau konsumsi keluarganya karena perannya sebagai pengelola bibit dan benih.

Maria Hartiningsih dalam Fokus, ”Jejak Samar Chico Mendes” (Kompas, 20 November 2009), menuliskan, pasar karbon tidak menyentuh nilai ribuan spesies tanaman dan keragaman hayati hutan. Bahkan, pasar karbon juga tidak menyentuh nilai jejak pengetahuan dan pengalaman perempuan dalam hutannya.

Pasar karbon menegasikan esensi posisi dan peran perempuan dalam pengelolaan hutannya, antara lain dengan mengecilkan perempuan sebagai penjaga pangan (food gathering) yang melanggengkan reproduksi sosial perempuan dalam komunitasnya.

*Kontrol*

Selain akses dan kontrol yang dihilangkan, pasar juga tidak menghitung nilai kelembagaan perempuan dalam pengurusan kekayaan alam dan sumber-sumber kehidupan, termasuk di dalamnya aktivitas ritual keseharian perempuan dan beragam bentuk solidaritas antarperempuan. Sesederhana apa pun, ritual dan solidaritas itu merupakan bagian dari kelembagaan perempuan, bagian dari cara bertahan hidup di tengah krisis.

Karena itu, menjadi sangat relevan jika perempuan aktivis dunia menyerukan menolak mekanisme REDD sebagai jalan penanganan perubahan iklim karena REDD sangat jauh dari pemenuhan keadilan bagi perempuan dalam pengelolaan kekayaan alamnya.

*Khalisah Khalid* *Dewan Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia; Gender Working Group Friends of the Earth International
*


--
Khalisah Khalid
Mobile Phone : +62813 11187 498
Email : sangperempuan@ gmail.com
YM : aliencantik@ yahoo.com
READ MORE - Perempuan dan Jejak Perubahan Iklim

Melacak Sirip Hiu dari Sup Hingga Samudra

Tiap tahun jutaan sirip hiu diperdagangkan di pasar-pasar di China untuk memenuhi permintaan akan sup sirip hiu, yang dianggap sebagai salah satu kenikmatan kuliner. Tapi sejauh ini belum pernah diketahui hiu dari daerah mana dan jenis apa yang terancam akibat perdagangan ini. Berkat dilakukannya riset DNA, para peneliti mampu melacak asal sirip hiu yang dijual di pasaran Hong Kong sampai ke tempat hiu-hiu itu hidup. Ilmuwan menemukan bahwa sebagian dari sirip hiu itu diambil dari jenis hiu martil yang hidup berkilo-kilometer jauhnya dari Hong Kong dan populasinya tergolong terancam.

Penemuan ini menekankan pentingnya melindungi hiu-hiu dari perdagangan internasional. Pasalnya, sekitar 73 juta hiu dibunuh tiap tahun demi masakan yang disebut lezat ini, dimana 1 sampai 3 juta hiu yang dibunuh adalah hiu martil. Menurut Ellen Pikitch, profesor ilmu kelautan dari Universitas Stony Brook, New York, hiu-hiu martil diincar karena ukuran siripnya yang besar, dan 1 kg sirip bisa dijual seharga 120 dollar AS.

“Perdagangan sirip hiu telah terjadi bertahun-tahun secara gelap,” kata Demian Chapman, peneliti dari Institut Ilmu Pelestarian Laut, Universitas Stony Brook. “Hasil kerja kami menunjukkan bahwa perdagangan sirip hiu martil berasal dari seluruh penjuru dunia, maka itu penanganannya juga harus dilacak dan dikelola secara global.”

Chapman dan para mitranya memakai teknik yang disebut ‘identifikasi stok genetika’ (GSI) untuk meneliti contoh DNA dari 62 sirip hiu martil yang didapatkan dari pasaran di Hong Kong. Dengan melihat urutan DNA mitokondrial dari tiap sirip – yaitu bagian kode genetika yang diturunkan dari induk dan bisa dilacak untuk menentukan daerah kelahiran hiu – para peneliti bisa mencocokkan 57 dari 62 sirip tersebut pada suatu lokasi di Samudra Indo-Pasifik.

Tim peneliti juga menganalisa urutan mitokondrial dari 177 hiu martil yang telah dipotong siripnya di Samudra Atlantis bagian barat dan membuktikan bahwa spesies itu berasal dari tiga kelompok menurut asalnya, yaitu: dari utara (Atlantik dan Teluk Mexico), tengah (Belize dan Panama), selatan (Brazil). Hasil pelacakan menunjukkan 21 persen sirip hiu di Hong Kong berasal dari Atlantik bagian barat. Hiu martil yang telah diambil siripnya di area ini sejak 2006 sudah termasuk kelompok terancam menurut Serikat Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Bahkan spesies daerah pesisir ini sepertinya telah hilang dari bagian barat Samudra Atlantik Utara dan Teluk Mexico.

“DNA dari hiu martil memiliki tanda DNA populasi yang kuat, sehingga kita bisa melacak asal-usul geografis sebagian besar sirip yang dijual di pasaran,” kata Mahmood Shivji, direktur dari Institut Riset Guy Harvey, di Florida yang telah menerbitkan karya tulis mengenai topik ini. “Dari sudut pandang yang lebih luar, pengujian sirip lewat forensik DNA bisa menjadi alat untuk menentukan area perlindungan dan untuk memastikan hiu tidak punah di area tertentu akibat diburu secara berlebihan.”

Perlindungan hiu martil akan dipertimbangkan pada Konvensi mengenai Perdagangan Internasional Spesies yang Terancam (CITES), Maret 2010, di Qatar.

Amerika telah mengusulkan bagi CITES untuk mendaftar hiu martil dan lima spesies hiu lainnya pada Lampiran II, yang akan mencanangkan perizinan dan pengawasan untuk seluruh perdagangan spesies ini di seluruh perbatasan internasional. Dengan mengetahui spesies dan asal-usul dari sirip yang diperdagangkan maka pengelolaan dan usaha perlindungan bisa dialokasikan dengan efektif. Temuan ini diterbitkan lewat internet, Selasa (1/12), dalam jurnal “Endangered Species Research”.

Sumber: http://sains.kompas.com

READ MORE - Melacak Sirip Hiu dari Sup Hingga Samudra

19 Desember, 2009

FADEL AJAK DUNIA SELAMATKAN LAUT

Indonesia menjadi pengagas dan penyelenggara kegiatan the oceans day bersama lembaga kelautan internasional, yang dilaksanakan parallel dengan event COP 15 UNFCCC di Copenhagen. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Dr. Fadel Muhammad berkesempatan menyampaikan butir-butir pemikiran akan pentingnya dimensi kelautan dalam negosiasi perubahan iklim bersama-sama dengan Hon Hilary Benn MP, Menteri Lingkungan Hidup, Pangan dan Pedesaan (DEFRA) Inggris. di kantor European Environment Agency, Copenhagen (14/12).

Dalam kesempatan tersebut, Fadel menegaskan agar seluruh mitra kelautan di dunia perlu bersama-sama menyelamatkan laut dan juga menyelamatkan masyarakat dan komunitas yang tinggal di wilayah pesisir, pulau-pulau dan kepulauan, karena dampak perubahan iklim terhadap laut dan pesisir telah nyata dengan adanya kenaikan paras air laut, pemutihan terumbu karang dan pengasaman laut. Lebih lanjut Fadel menjelaskan bahwa Indonesia sangat berkomitmen dalam menanggulangi dampak perubahan iklim melalui upaya pelestarian dan konservasi ekosistem laut, pesisir dan pulau-pulau kecil. Komitmen Indonesia telah mendapat apresiasi dari dunia internasional dengan ditunjukannya Indonesia sebagai Sekretariat Regional Coral Triangle Initiative (CTI) yang bertempat di Manado, Sulawei Utara dan Indonesia juga terpilih sebagai Ketua Dewan Menteri CTI yang merupakan prakarsa enam Negara; Indonesia, Philippina, Malaysia, Timor Leste, Solomon Island dan Papua New Guinea.

Fadel juga mengutip kebijakan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) yang dilakukan oleh Indonesia. Sesuai dengan pidato Presiden SBY pada pertemuan G-20, target yang disampaikan adalah penurunan emisi 26 persen sampai 2020 dengan upaya dan prakarsa sendiri, serta 41 persen apabila ada dukungan internasional sampai dengan 2020. Dunia internasional harus menempatkan pengarustamakan dimensi kelautan dalam perubahan iklim global sebagai amanat Deklarasi Kelautan Manado, tegas Fadel. Hal ini selaras dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim dan sangat berkepentingan terhadap keberadaan mitra dan tersedianya dukungan berbagai upaya adaptasi dan mitigasi serta alih teknologi dalam program adaptasi dampak perubahan iklim.

Kegiatan the ocean day dibuka secara resmi oleh Pangeran dari Monaco H.S.H Prince Albert II, dan diawali dengan penyampaian laporan dan pengantar dari Direktur Eksekutif European Environment Agency Prof Jacqueline McGlade, Co-Chair dan Kepala Sekretariat Global Forum on Oceans, Coasts, and Islands Universitas Delaware Dr Biliana Cicin-Sain. Kegiatan the oceans day yang mengangkat tema pengarustamaan kelautan, pesisir dan pulau-pulau kecil dalam perubahan iklim (The Importance of Oceans, Coasts, and Small Island Developing States in the Climate Regime) dihadiri sebanyak 150 peserta dari 39 negara yang terdiri dari para pakar, pengambil kebijakan dan pengamat kelautan dari seluruh dunia, hadir untuk mendiskusikan berbagai isu kelautan, pesisir dan pulau-pulau kecil yang mendesak untuk segera ditangani dalam kerangka perubahan iklim.

Rangkaian acara the Ocean Day diakhiri dengan Panel 6 (Perspectives from World Leaders and Reception) yang dimoderatori oleh Dr. Gellwynn Jusuf, Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Gellwynn bertindak memperkenalkan tokoh-tokoh kunci kelautan dari beberapa badan-badan internasional kelautan yang mempunyai peran kunci dalam memberikan dampak upaya penurunan emisi karbon di atmosfer, antara lain dari UNEP, Bank Dunia, Uni Eropa dan Amerika Serikat.Tunjukkan semua





Jakarta, 16 Desember 2009

Kepala Pusat Data, Statistik dan Informasi
READ MORE - FADEL AJAK DUNIA SELAMATKAN LAUT

PEMANASAN GLOBAL : efek dan solusinya [

Baru saja Konferensi Tingkat Tinggi mengenai perubahan iklim di Kopenhagen, Denmark berakhir. Entah kesepakatan apalagi yang bisa dicapai oleh Para Pemimpin kita. Sebuah "planet darurat-krisis yang mengancam kelangsungan hidup peradaban kita dan habitat Bumi"-sebagaimana mantan Wakil Presiden AS Al Gore menggambarkan pemanasan global. Sebagian besar kelompok lingkungan hidup mengabarkan pesan yang sama. Begitu juga dengan para wartawan dan ilmuwan..

Bahkan, pada pertemuan tahunan 2008 untuk pemenang Hadiah Nobel di Lindau, Jerman, setengah partisipan penghargaan prestisius tersebut pada diskusi panel perubahan iklim membantah teori tersebut sebagai apa yang disebut konsensus tentang pemanasan global.

Anda mungkin telah mendengar peringatan mengerikan ini berkali-kali. Karbon dioksida (CO2) dari manusia akibat penggunaan bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas alam semakin menumpuk di atmosfer. Karbon dioksida adalah gas yang menyebabkan efek rumah kaca karena panas terjebak dan tidak bisa keluar dari atmosfer bumi sehingga suhu bumi semakin memanas. Al Gore memperingatkan bahwa pemanasan global disebabkan oleh emisi karbon dioksida, dapat meningkatkan permukaan air laut sebesar 20 kaki dan dapat menimbulkan badai yang mematikan.

Beberapa ilmuwan tidak mendukung teori ini dan prediksi lainnya yang menakutkan seperti Al Gore dan sekutu-sekutunya berulang kali gembar-gemborkan sebagai "konsensus ilmiah." Pemanasan global adalah nyata dan emisi karbon dioksida yang berkontribusi untuk itu, tetapi ini bukan krisis. Pemanasan global di abad ke-21 cenderung sederhana, bahkan bisa jadi menguntungkan di beberapa tempat.Bahkan dalam kasus terburuk, umat manusia akan jauh lebih baik tahun 2100 daripada sekarang ini. Demikian pendapat para ilmuwan tersebut.

Gas rumah kaca tetap dapat tinggal di atmosfer selama bertahun - tahun mulai dari dekade ke ratusan dan ribuan tahun. Tidak peduli apa yang kita lakukan, pemanasan global akan memiliki pengaruh di Bumi. Berikut adalah 5 efek mematikan dari pemanasan global.

5. Penyebaran penyakit

Ketika negara-negara bagian utara bumi semakin hangat, penyakit dan serangga bermigrasi ke utara, membawa wabah dan penyakit dengan mereka. Bahkan beberapa ilmuwan bahkan percaya bahwa di beberapa negara berkat pemanasan global, malaria belum sepenuhnya bisa diberantas.

4.Perairan hangat dan seringnya frekuensi badai

Ketika suhu laut naik, kemungkinan badai timbul akan lebih sering dan kuat. Kita lihat hal ini terjadi pada pada tahun 2004 dan 2005, dimana sejumlah badai besar menghantam beberapa negara.

3. Peningkatan probabilitas dan intensitas kekeringan dan gelombang panas

Meskipun beberapa daerah di bumi akan menjadi lebih basah akibat pemanasan global, daerah lain akan mengalami kekeringan serius dan gelombang panas. Afrika akan menerima yang terburuk, dimana kekeringan lebih parah juga bisa terjadi di Eropa.. Air sudah menjadi barang sangat langka di Afrika, dan sesuai dengan Panel Antar pemerintah tentang Perubahan Iklim, pemanasan global akan memperburuk kondisi dan dapat memicu konflik dan perang.

2.Konsekuensi ekonomi

Sebagian besar efek antropogenik pemanasan global tidak akan baik. Dan efek ini mengacu pada satu hal untuk negara-negara di dunia: konsekuensi ekonomi. Badai menyebabkan kerugian miliaran dolar akibat kerusakan, biaya perawatan dan lainnya semakin memperburuk keadaan.

1. Es di kutub mencair

Es di kedua kutub mencair merupakan indikasi empat bahaya lainnya yang mungkin timbul.

Pertama, Hal tersebut akan meningkatkan permukaan air laut. Ada 5..773.000 kilometer kubik air es , gletser, dan salju permanen. Menurut National Snow and Ice Data Center, jika semua gletser meleleh hari ini, air laut akan meningkat sekitar 230 meter. Untungnya, itu tidak akan terjadi semua dalam waktu bersamaan! Tapi permukaan laut akan tetap naik, perlahan namun pasti.

Kedua, topi es mencair akan mempengaruhi ekosistem global tidak seimbang dan ketika mereka meleleh mereka akan menghilangkan garam laut, atau membuat air laut berkurang kadar keasinannya atau desalinisasi. Desalinisasi ini akan membuat "kacau" arus laut. Ketidakteraturannya akan mendinginkan daerah sekitar timur laut Amerika dan Eropa Barat. Untungnya, hal tersebut malah yang akan memperlambat beberapa efek lain dari pemanasan global di daerah itu!

Ketiga, suhu meningkat dan mengubah lanskap dalam lingkaran artic akan membahayakan beberapa jenis binatang. Hanya yang paling dapat beradaptasi akan bertahan hidup.

Keempat, pemanasan global dapat menghilangkan bola salju dengan topi es. Topi es berwarna putih, dan memantulkan panas sinar matahari kembali ke ruang angkasa, lebih lanjut lagi mengenai hal tersebut jika topi es mencair, satu-satunya reflektor adalah lautan. Kita ketahui bersama warna laut adalah gelap dan warna gelap menyerap panas sinar matahari lebih banyak,sehingga pemanasan bumi semakin maksimal.

Jadi apa solusinya? Apakah kita hanya akan berdiam diri? Apakah ada efek positif dari pemanasan global? Bagaimana dengan semua wacana tentang solusi dari pemanasan global?. Beberapa solusi berikut mungkin dapat dikritisi teman - teman milis sekalian :

1.) Hilangkan semua subsidi untuk penggunaan bahan bakar.

Subsidi untuk energi fosil adalah beban jutaan dolar bagi pembayar pajak yang sementara itu menghasilkan manfaat yang minimal. Meskipun program ini mungkin relatif kecil mengingat ukuran pasar energi dalam negeri, mereka melayani hanya sebagian orang. Potensi ancaman pemanasan global, apakah itu nyata atau tidak, hanya satu jalan untuk menghilangkan program-program subsidi ini yaitu Perjanjian internasional yang bertujuan untuk mengakhiri subsidi energi dengan target mengikat yang akan memberi hasil signifikan bagi pengurangan emisi. Contohnya seperti Protokol Kyoto, yang memaksa "diet energi" pada para negara peserta.

2.) Mencabut Program Asuransi Banjir.

Banyak keprihatinan terhadap akibat membahayakan dari pemanasan global di AS berkaitan dengan kenaikan permukaan laut dan banjir yang akan terjadi. Namun, banyak potensi investasi berada di daerah-daerah rawan banjir dengan perlindungan dari Program Asuransi Federal dari Pemerintah AS. Program ini mendorong pembangunan di daerah-daerah rentan dengan bertindak semacam "moral hazard", para investor mengambil resiko yang lebih besar karena pemerintah menyatakan akan membantu menanggung risiko itu. Reformasi terjadap program tersebut adalah jawaban lebih realistis dari isu pemanasan global.

3.) Reformasi Air Traffic Control Systems.

Permintaan yang lebih besar untuk perjalanan udara berarti lebih banyak penerbangan, yang berarti lebih besar penggunaan bahan bakar dan meningkatkan emisi. Namun, pemerintah saat ini masih mengacu pada sistem pengendalian lalu lintas udara, yang didasarkan pada era 1920-an yaitu System Beacon yang dapat menghalangi inovasi yang dapat mengurangi penggunaan bahan bakar dan emisi. Sebagai aturan umum, semakin pendek penerbangan, semakin sedikit bahan bakar akan dikonsumsi. Namun, baik maskapai maupun pilot memiliki kebebasan untuk memilih rute yang paling langsung dan ekonomis. Memberi pilot kebebasan untuk memetakan rute tentu saja adalah yang menarik dan diinginkan di mata industri penerbangan, dan dampak terhadap lingkungan akan luar biasa. Karena itu suatu reformasi menyangku lalu lintas udara perlu dilakukan untuk mengurangi emisi akibat lalu lintas udara yang kian padat di era globalisasi ini.

4.) Memfasilitasi Kompetisi Penyedia Listrik Swasta yang murah.

Dengan menolak model peraturan pemerintah pusat yang memonopoli energi listrik dan memungkinkan pemasok listrik swasta sebagai suplier listrik murah untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, energi limbah dan emisi yang terkait akan berkurang jauh, pemerintah dalam hal ini cukup sebagai regulator saja. Pengurangan limbah ini akan membuktikan manfaat ekonomis bahkan jika emisi itu sendiri tidak menimbulkan masalah.

5.) Mengurangi Hambatan peraturan pembangunan energi nuklir.

Tidak ada teknologi lain selain nuklir yang terbukti mampu memberikan energi bebas emisi pada skala yang dibutuhkan untuk membuat pengurangan signifikan dalam emisi karbon. Masalahnya adalah bahwa berkat para aktivis lingkungan anti-nuklir pada 1970-an, dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk membangun sebuah pabrik nuklir. Hal ini mendorong pengembangan dan biaya konstruksi sampai tingkat tidak ekonomis dan kompetitif dengan membangun bentuk pembangkit listrik dengan bahan bakar seperti batubara dan gas alam. Menurut lembaga energi nuklir, dibutuhkan 10 tahun dari konsep untuk operasi untuk membangun pabrik nuklir, dan hanya empat di antaranya adalah konstruksi, sisanya izin pengembangan aplikasi (2 tahun) dan pengambilan keputusan oleh Komisi Pengatur Nuklir (4 tahun).

Yah, mari kita memupuk harapan untuk dunia yang lebih baik bagi seluruh umat manusia, kita bisa mulai mencegah pemanasan global dari sekarang, dari apa yang kita miliki dan mulai dari diri kita. Tidak akan pernah terlambat untuk melakukan perbuatan baik.

READ MORE - PEMANASAN GLOBAL : efek dan solusinya [