13 Juni, 2008

Sianida yang Meracuni Ikan Hias

Dengan luas lautan yang lebih dari 5,8 juta kilometer persegi, Indonesia menjadi surga bagi berjuta-juta jenis biota laut. Ditaksir, setidaknya ada 2.000 spesies ikan hias yang beranak-pinak. Jumlah itu sepertiga dari spesies ikan dunia. Kualitas dan keindahan ikan hias asal Indonesia tidak diragukan lagi.


Makin eksotik dan susah ditangkap, semakin mahal harga ikannya. Hampir 100 persen pasar ikan hias adalah pasar ekspor dengan Singapura, Hongkong, Amerika, dan Kanada sebagai negara tujuan. Pasar yang luas menjadikan perburuan ikan hias seakan tak pernah sepi. Demi menggenjot hasil para nelayan pun kerap menempuh jalan pintas.


Banyak nelayan menangkap ikan hias menggunakan racun seperti potasium dan sodium sianida atau yang biasa potas. Penggunaan racun sianida untuk menangkap ikan dilarang undang-undang. Selain berisiko mematikan ikan buruan, juga merusak terumbu karang dan ekosistem sekitar. Sayangnya, racun dianggap satu-satunya alat ampuh.


Rata-rata nelayan pengguna sianida terjebak mata rantai perdagangan ikan hias. Ikan-ikan itu biasanya disetor ke broker atau pengepul. Broker ini lalu menjual ikan-ikan itu ke eksportir dengan keuntungan yang berlipat. Namun para nelayan tetap saja hidup serba pas-pasan. Apalagi di tengah harga sianida yang semakin mahal.

Kerusakan 75 persen terumbu karang di Indonesia diyakini akibat semprotan maut sianida serta penangkapan ikan dengan bom. Sekali semprot bisa merusak karang bermeter-meter. Padahal seorang nelayan menghabiskan setengah kilogram sianida dalam sehari. (
://www.liputan6.com). Vicar

Tidak ada komentar: