03 Juli, 2015

Agenda Poros Maritim Jangan Lupakan Sosialogi Masyarakat Pesisir

  Di tengah gencar-gencarnya pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim, masih disayangkan ketika faktor sosialogi masyarakat belum diperhatikan sepenuhnya. Padahal ketika bangsa ini mulai menyiapkan infrastuktur guna memperbaiki sarana dan prasarana untuk mendorong majunya bidang kemaritiman Indonesia, salah satu yang jangan samapai terlewatkan adalah membangun mental pada masyarakatnya. Tanpa terkecuali masyarakat yang secara geografis sangat dekat dengan daerah pesisir, hal ini guna merubah paradigma bahwa;

”Daerah Pesisir adalah daerah tertinggal, begitu pula dengan kualitas orang-orangnya jauh dibawah dari orang-orang yang berkehidupan jauh dari daerah pesisir.

Padahal ketika bangsa ini menjadi Poros Maritim, kebanyakan aktivitas akan berlangsung didaerah yang dekat dengan laut. Masyarakat pesisirlah yang pertama kali merasakan dampak dari aktivitas kemaritiman bangsa ini, jangan sampai ketika bangsa ini sudah memiliki sarana dan prasarana kemaritiman akan tetapi masyarakatnya hanya menjadi jongos-jongos asing.
Foto Selfi Susanti dirumah baca dimana ia belajar

 "Selfi Susanti anak perempuan berumur 8 tahun, di usia nya saat ini, ia sedang begembira bersama teman-teman sekolahnya", akan tetapi karena keterbatasan dan keadaan hal tersebut tidak begitu saja ia rasakan. "Diusianya saat ini dia tidak bersekolah, keadaan ibunya yang menggalami gangguan jiwa serta kabar bapaknya yang tidak jelas kemana? Membuatnya harus menerima keadaan tersebut. Ia hidup bersama neneknya, yang setiap paginya bekerja memungut rosok dan siangnya sampai sore dia ngupas kerang hijau dirumah tetangga".
           
Bersama kawan-kawan yang berada di sekitar daerah semarang Kami mengagas komunitas Asa Edu. Komunitas Asa Edu merupakan komunitas yang bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat pesisir yang secara khususnya yakni menyediakan taman baca bagi masayarakat pesisir.
Rumah nenek Selfi di tambak mulyo

Walau ia tidak bersekolah ia masih bisa untuk belajar membaca dan menulis karena setiap minggu pagi dia aktif mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh  Komunitas Asa Edu Project yang bekerjasama dengan remaja setempat.
         
"Dia rajin mas, ikut senam, tapi dia gak punya sepatu buat senam mas. Minta tolong mas diusahin supaya dia bisa sekolah seperti kayak temen-temennya, karna ia berhak menerimanya." Kata Mas Udin seorang remaja setempat.
             
Hal ini hanya sedikit cerita dari kehidupan masyarakat-masyarakat pesisir yang terjadi di Tambak Mulyo (dulu: Tambak Lorok) RW 15 RT 1, Kota Semarang berdekatan dengan Pelabuhan Tanjung Emas. Mungkin masih banyak nasib Selfi-selfi lainnya, masih banyak masyarakat pesisir dari usia dini hingga remaja yang belum mendapatkan pendidikan karena faktor mental dan ekonomi serta nasib para nelayan yang tidak memiliki gaji pensiunan atau jaminan guna mencukupi kehidupan mereka dihari tua nanti".
         
Bagi yang ingin memberikan bantuan bisa melaui Asa Edu dan APMI (Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia), kami  siap menyalurkan bantuan untuk membangun masyarakat pesisir khususnya didaerah rumah selfi yakni di Tambak Mulyo (Tambak Lorok) Semarang.
             
Kami berhadap agenda poros maritim dapat lebih substansial yakni dengan memperhatikan kondisi keadanaan masyarakat pesisir. Pasalnya kebijakan yang dilakukan pemerintah saat ini masih jauh dari kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut disampaikan karena penekanan poros maritim saat ini masih fokus dalam pembangunan secara fisik bukan secara sosial kemasyarakatan.

oleh  Hendra Wiguna (Mahasiswa FPIK UNDIP, APMI Semarang dan Asa Edu Project)

3 komentar:

yarkhasy amir mengatakan...

Tercerahkan gan

syah putra mengatakan...

Jangan Lupa ikuti juga blog saya ya pak http://www.putraperikananaceh.cf

syah putra mengatakan...

Jangan lupa ikuti blog saya juga ya pak http://www.putraperikananaceh.cf