24 Januari, 2015

Perjalanan Hidup Basri, A.Pi, M.Si

Ketika membaca berita tentang Bribka taupik di media banjir hadiah, belas kasihan dan pujian krn sebagai aparat dia hidup miskin dan sangat sederhana tinggal di rumah bekas kandang sapi. Teringat memori masa lalu.awal cerita ketika tammat kuliah di jkt tahun 1997 saya mencoba mendaftar PNS di dirjen Perikanan Departemen Pertanian. 
 
Sekarang sudah menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan. Setelah mengikuti rangkaian test dinyatakan lulus masuk CPNS. Sambil tunggu Sk pengangkatan bekerja di perusahaan swasta nasional di Tanjung priok jakarta dan mengawali karier menjadi perwira masinis 1 di Km.Anumurti 02, Kemudian KKM(Kepala Kamar Mesin)anumurti 02, kkm anumurti 07 dan terakhir KKM anumurti 03. 
Di awal tahun 1998 menerima surat panggilan Sk pengangkatan CPNS saat itu bimbang menentukan 2 pilihan akan jadi PNS atau tetap di swasta yg saat itu gaji jauh lebih besar di bandingkan PNS. Dalam kebimbangan saya mencoba melaksanakan sholat istikhara memohon pada Allah untuk menentukan 2 pilihan. Akhirnya saya menerima pilihan untuk jadi PNS dengan segalah konsekwensi. Dan mengawali karier jadi teknisi pada proyek pengembangan Pelabuhan perikanan sorong Papua. Gaji pertama saat itu hanya Rp.190.000,- itupun saya mulai terima 1 tahun kemudian. 
 
 Disinilah saya merasakan betapa menderita jadi PNS krn harus bekerja 1 tahun tanpa di gaji tapi kemudian di rafel tahun berikut. Beruntung gaji saat di swasta masih ada itupun juga sebagian saya berikan pada org tua. Sisa gaji diswasta hanya bertahan 2 bulan hidup krn harga kebutuhan di papua jauh lebih tinggi dan masih di pengaruhi gaya hidup boros saat masih bekerja di swasata dulu. Tibalah waktunya masa krisis dimulai uang persedian habis minta bantuan org tua tidak mungkin krn ada perasaan malu membebaninya lagi. Tidak makan mati dan tetap harus bekerja mengabdi pada Negara. 

Dalam kebimbangan itu mulai berpikir bagaimana saya harus bertahan hidup dalam keadaan seperti itu dan tetap menjaga diri dari kehinaan dan belas kasihan org lain. Pantang juga bagi saya untuk meminta2 dan menjadi belas kasihan org lain karena bagiku itu adalah aib terbesar dalam hidup ini. Saya berpikir tidaklah berubah nasib kalau bukan kita sendiri merubahnya. Akhirnya saya memutuskan untuk harus kerja sampingan selepas tugas atau saat saat sengang. Mulai dari berdagang drum bekas, oli bekas, bisnis ikan kering, bisnis kepiting, kerang kerangan, hasil hasil laut lainya, mutiara, jual pakaian ke kapal, jual arloji bahkan perna jadi tukang ojek dan istri buka kios kecil pinggir jalan. 

Perna juga menjadi penghubung antara perusaan ikan dan pembeli ikan sampingan dari kapal dan alhamdulilah dapt upa dari pedang ikan dan dapat juaga upa dari peusahaan, perna juga menjadi konsultan di perusaan untuk memberikan arahan dan bimbingan perusaan tentang pengurusan dokumen perikanan yg benar tapi belakang hari saya undur diri saat mulai menjabat krn takut ada komplik kepentingan dengan jabatan yg saya laksanakan.Mengenang itu terkadang air mata tak terasa menetes.

Perasaan malu dan gengsi di buang jauh. Dan akhirnyapun berhasil membeli 1 unit rumah buat org tua dan berturut turut akhirnya bisa membeli 4 buah rumah sederhana untuk menjaga diri dari kehinaan dan kemiskinan. Pada hal saat itu sebagai PNS belum memiliki jabatan dan masih status staf. Masih ingat kata teman kantor saat itu mengatakan wajarlah kalau pak basri bisa beli apa apa krn dia bekerja keras. Di tengah terlena saya sebagai PNS dan bisnismen di papua mulai berpikir sudah cukuplah sekalipun saat itu saya lagi menujuh puncak sukses dalam usaha. Saatnya saya fokus untuk mengejar dan mengembangkan karier jadi PNS dan mengabdikan diri sepenuhnya pada bangsa ini. Akhirnya setelah hampir 9 tahun di papua akhirnya minta mutasi ke pusat dan mulai mengawali karier jadi Kasubag TU di pangkaln PSDKp Bitung tahun (2006-2010), Kepala Stasiun PSDKP Tual (2010-2013), dan terakhir Kepala Stasiun PSDKP belawan (2013-sampai sekarang).
  


Tidak ada komentar: