18 Juni, 2009

Global Warming Picu Kematian Prematur

Permukaan Laut RI Naik 17 Cm
 
Jakarta---Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi warning kepada negara-negara di dunia soal bahaya perubahaan iklim (climate change). Menurut organisasi di bawah payung PBB itu, dampak climate change tidak lagi jangka panjang, melainkan sudah terjadi saat ini. Untuk Indonesia, pada 2017 diperkirakan permukaan laut akan naik hingga 17 cm.

  Persoalan itulah yang melatarbelakangi seminar regional dampak perubahan iklim terhadap kesehatan yang digelar Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia dan WHO di Hotel Shangri-La, Jakarta, kemarin. Seminar itu dihadiri berbagai instansi pemerintahan dan perwakilan dari sejumlah negara. 

  Enviromental Health Advisor WHO Sharad Adhkary mengatakan, tak ada satupun negara di dunia ini yang akan terhindari dampak climate change. Karena itu, sedini mungkin dampak itu harus dikikis. ’’Pertemuan ini akan merumuskan berbagai solusi yang bakal kita tempuh,’’ terangnya. 

  Wakil Dubes Prancis Jean Yves Roux mengatakan, ironisnya banyak yang tidak menyadari akibat buruk perubahan iklim itu. ’’Orang berpikir itu akan terjadi pada masa mendatang. Padahal, sekarang sudah terjadi. Karena itu, jalan satu-satunya adalah mencegah perluasan dampak,’’ terangnya.

  Direktur Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Wan Alkadri menambahkan, dampak buruk perubahan iklim bisa dicermati dengan meningkatnya suhu saat ini. Peningkatan suhu yang sekitar 1-3 derajat itu dinilai amat rentan terutama bagi lansia maupun penderita jantung. ’’Itu baru efek tidak langsung,’’ ujarnya.

  Imbas langsungnya malah cukup luas. Menurutnya, saat ini telah terjadi perubahan iklim di daerah selatan dengan menurunnya curah hujan. Akibatnya, terjadi kemarau panjang dan kekeringan di berbagai daerah. Sebaliknya, di daerah utara curah hujan turun cukup tinggi. Alhasil, daerah di sepanjang utara kerap langganan banjir. Dampak yang terjadi juga cukup besar.

  ’’Mereka yang harusnya tidak perlu terkena bencana itu, jadi korban. Bahkan ada yang meninggal. Inilah yang kami sebut dengan kematian tinggi,’’ terangnya. Perubahan iklim juga mengakibatkan tingginya angka kematian, kesakitan, dan terjadinya kecacatan.
 Bukan hanya itu. Pola perubahan iklim praktis berpengaruh kepada musim bercocok tanam di Indonesia. Jika perubahan itu terjadi terus menerus, dikhawatirkan negara ini akan kekurangan pangan. Ujung-ujungnya problem malnutrisi meningkat.

  Karena itu, Indonesia harus bergerak cepat menangani persoalan itu. Apalagi, pada 2017 diperkirakan permukaan air laut di Indonesia bakal naik 17 cm. ’’Masalah ini sangat merugikan. Terutama, bagi daerah perkotaan miskin dan dekat dengan pantai,’’ ujarnya. 
 Itulah sebabnya, perwakilan dari berbagai negara diundang. Tujuannya, saling bertukar strategi menghadapi masalah global tersebut.(kit/oki)

Tidak ada komentar: